
20 Oktober 1999
Pemilu pertama di era reformasi dilaksanakan secara cepat, yaitu setahun setelah masa reformasi. Tepatnya pada tanggal 7 Juni 1999. Hal itu karena Presiden Habibi yang kala itu memberikan kesempatan kepada Timor Timur untuk menentukan pilihan merdeka dan memisahkan diri dari wilayah kesatuan Republik Indonesia. Tentu keputusan Habibi ini mendapat banyak tentangan dari anggota dewan dan majelis, serta para politikus yang tidak senang.
Pemilu 1999 dapat disebut sebagai pemilu anti tesis dari pemilu-pemilu pada masa Orde Baru. Dimana pada masa Orde Baru pemilu hanya diikuti tiga kontestan partai peserta pemilu, tetapi pada pemilu 1999 ini diikuti oleh empat puluh delapan partai peserta pemilu, yang mengakomodir seluruh spektrum idiologi yang ada di Indonesia. Terutama partai-partai berbasis keagamaan dan nasionalis.
Hasil pemilu 1999, anggota dewan dan parlemen memilih Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia. Gus Dur terkenal dengan pemerintahannya yang kontroversial, yang tercermin pada kebijakan-kebijakannya. Tetapi sebenarnya jika dinalar atau dilogika secara matang, kebijakan-kebijakan Gus Dur itu sangat baik. Contohnya, Gus Dur menegaskan harus ada penghematan anggaran karena saat itu Rupiah lagi dalam kesulitan. Tentu ini sangat logis, karena saat itu bangsa kita masih memiliki banyak hutang pada luar negeri. Kemudian menghapus beberapa departemen atau kementerian, karena dianggap tidak relevan dan justru dipakai sebagai kedok untuk menggelapkan uang negara. Dan yang paling baik disambut oleh rakyat adalah kebijakan ramah Tionghoa, yaitu menganggap orang-orang keturunan Tionghoa yang ada di Indonesaia sebagai bagian dari etnis yang sudah menyatu dengan bangsa. Makanya Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme yang merangkul semua keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang beliau buat. Bahkan orang-orang keturunan Cina, memberi julukan Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa.
Kala itu, orang-orang keturunan Tionghoa yang ada di Indonesaia sangat lega dan tidak lagi menganggap sebagai orang asing minoritas. Mereka sama dalam kedudukannya berbangsa dan bernegara. Sama dalam hak dan perannya sebagai warga negara.
Masalahnya, kasus ini berdampak pada keluarga Jamil. Jamil yang sudah menjalankan usahanya satu tahun lebih, kini kerajinan kuningan yang dikelola itu sudah sukses dan terkenal. Tentu karena usahanya banyak pasanan, maka kini Jamil lebih sering berada di pabrik jika dibandingkan di rumahnya. Juminem pun ikut membantu suaminya dan sering ke pabrik. Demikian juga Melian, anaknya yang masih sekolah SD. Hampir setiap hari berada di toko, walau hanya sekadar bermain bersama Mbak Ika.
Karena Melian sering berada di toko itu, dan terlihat oleh masyarakat yang lalu lalang, lewat atau juga orang-orang yang berbelanja di toko Bima Sakti, dan tahu kalau Melian anak si pemilik perusahaan itu, wajahnya, kulitnya adalah Tionghoa. Melian adalah keturunan Cina. Makanya, orang-orang menganggap bahwa Jamil maupun Juminem adalah keturunan Cina. Maka orang-orang terus memberikan julukan kepada Jamil "Hitaci", yang artinya hitam tapi Cina.
Jamil tidak marah mendengar kata-kata itu, mendengar sebutan Hitaci. Kadang justru sering tertawa sendiri jika ada yang menyebut dirinya keturunan Cina. Sesuatu yang sangat lucu. Tidak ada ciri sama sekali, mulai dari ujung rambut, mata, hidung maupun bagian-bagaian lainnya. Tetapi kenapa orang-orang memanggilnya Hitaci. Bahkan kalau sedang berkelakar dengan istrinya, Jamil justru ikut-ikutan menggoda Juminem yang disebut-sebut orang sebagai keturunan Cina. Tetapi biarlah. Ambil saja hikmah baiknya. Jangan selalu berpikiran negatif.
Dan keuntungan dari sebutan Hitaci pada Jamil yang dianggap sebagai orang keturunan Cina tersebut, membuat nama Jamil jadi dikenal dikalangan para pengusaha-pengusaha keturunan. Jamil pun sering diundang ke berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok pengusaha. Aktivitasnya langsung bertambah banyak. Dan tentu harus sering bepergian untuk mengikuti berbagai acara. Usaha Jamil pun semakin lancar.
Tamu-tamu orang keturunan dari berbagai daerah pun sering berdatangan ke perusahaan tempat Jamil membuat kerajinan kuningan. Tentu tamu-tamu itu lebih percaya kalau Jamil memang orang keturunan, setelah melihat Melian dengan mata telanjangnya. Memang tidak bisa dipungkiri, anak itu sudah membuktikan kalau Jamil memang Hitaci. Dan yang pasti, para tamu yang kebanyakan adalah orang-orang keturunan Cina, selalu menyempatkan menanya dan komunikasi dengan Melian. Walau hanya sekadar bertegur sapa. Apalagi Melian memang anak yang ramah dan mudah berkomunikasi. Tentu para tamu itu juga senang menerima sambutan anaknya Jamil.
Namun sebenarnya, dengan banyaknya para tamu dari orang-orang keturunan itu, juga membuat Melian senang. Dalam hati Melian, ia mendapat kesempatan untuk memahami budaya dan tabiat dari orang-orang keturunan, yang nota bene adalah masih satu keturunan dengan dirinya. Dari para tamu bapaknya itu, Melian mengenal kata-kata hitungan uang seperti *Gocap, Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Goban. Termasuk bahasa-bahasa percakapan sehari-hari. Tentu Melian Senang mendapat pengalaman baru tersebut.
__ADS_1
Maklum, ketika tinggal di Kampung Naga, daerah yang dikatakan prural itu, Melian tidak pernah menggunakan bahasa cara orang-orang keturunan Cina. Di Kampung Naga bahasa pergaulannya menggunakan bahasa Indonesia. Demikian juga saat bermain bersama teman-temannya di sekolah. Bahkan di sekolah negeri tempat Melian belajar, tidak ada anak keturunan Cina yang bersekolah di situ. Makanya, ia belum pernah mendengar bahasa-bahasa pergaulan anak-anak keturunan Cina, seperti yang diomongkan oleh tamu-tamu bapaknya.
"Halo, Nonik .... Namanya siapa?" tanya salah seorang tamu.
"Melian ..., Om ...." jawab Melian yang diajak salaman sama tamu agak tua berkulit putih dan matanya sipit tersebut. Sangat pantas kalau jadi kakek Melian.
"Haiya .... Me Me sekolah da mana, ha ...?" tanya orang itu.
Tentu Melian tersenyum. Tetapi juga mendengar agak aneh kata-kata yang diucapkan oleh orang itu. Bahkan agak bingung, karena tidak tahu maksudnya. Namun karena Melian anak cerdas, ia pun sanggup memberikan jawaban.
"Sekolah di SD negeri Kampung Naga, Om ...." jawab Melian yang yakin pertanyaan tamu itu.
Tamu itu tersenyum senang, tentu karena Melian tidak canggung untuk menjawab apa yang ditanyakan.
Di hari lain, terjadi juga hal seperti itu, pada tamu-tamu yang lain yang membawa keluarganya. Pasti anak-anaknya juga ngobrol bersama Melian.
"Kang .... Anak kita kok gampang akrab dengan anaknya tamu-tamu yang datang ke Bima Sakti, ya?" kata Juminem pada saat berbaring berdua bersama suaminya.
"Yaaah ..., namanya juga anak-anak. Kalau punya teman baru yang menyenangkan, pasti dia langsung bisa saling mengisi." jawab Jamil.
"Kulitnya sama ya, Kang ...." kata Juminem lagi.
__ADS_1
"Matanya juga sama-sama sipit ...." timpat Jamil.
"Anak kita juga tidak kalah cantik ya, Kang ...." kata Juminem lagi.
"Ya pastil lah .... Siapa dulu ibunya ...." sahut Jamil yang penginnya memuji Juminem.
"Ibunya kan Cik Lan .... Ya pasti cantik lah ...." kata Juminem yang menyebut kalau ibunya adalah Cik Lan.
"Maksud saya, mak-e yang merawat Melian ...." Jamil mengoreksi kata-katanya yang tentu ditujukan pada Juminem.
"Iiih ..., ya beda, Kang .... Kulit saya hitam, mata saya juga lebar ...." bantah Juminem.
"Tapi ..., tamu-tamu kita .... Mereka menganggap kita ini keturunan Cina .... Hanya gara-gara anak kita, Melian ...." kata Jamil yang menghibur istrinya.
"Iya .... Cina hitam ...." sahut Juminem.
"Hitaci ...." kata Jamil.
"Apa itu, Kang .... Hitaci?" tanya Juminem yang bingung kata-kata suaminya.
"Hitam tapi Cina .... Hehehe ...." jelas Jamil.
__ADS_1
"Citam .... Cina hitam .... Hehehe ...." sahut Juminem.
Itu semua gara-gara Gus Dur, yang diangkat menjadi Bapak Toleransi, Bapak Tionghoa. Jamil dan Juminem yang menjadi bapak dan ibunya anak keturunan Tionghoa, ikut mendapat berkah. Terutama usahanya menjadi lebih maju dan berkembang pesat, hingga dikenal di berbagai kota.