GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 200: KEMBALI KULIAH


__ADS_3

    Liburan semester Melian sudah hampir usai. Melian sudah SMS-an dengan Putri, akan kembali ke Jakarta. Tentu akan bersiap kembali untuk kuliah. Setidaknya ia akan membersihkan kamar asramanya terlebih dahulu, setelah ditinggal hampir sebulan, setidaknya menghilangkan bau pengap di kamarnya.


    Kali ini, Melian tidak naik pesawat terbang, tetapi ingin mencoba naik kereta api. Ya, Melian naik kereta cepat Argo Bromo dari Stasiun Tawang Semarang menuju Stasiun Gambir Jakarta. Berangkat jam dua belas siang dan sampai di Jakarta sekitar jam lima sore.


    Suatu keuntungan tersendiri saat naik kereta api di siang hari, yaitu bisa menyaksikan pemandangan di kanan kiri. Karena suasana masih terang dan leluasa. Beda kalau naik kereta malam hari. Paling-paling langsung tidur. Tidak bisa menikmati pemandangan kanan kiri. Suasananya gelap. Jadi tidak kelihatan sama sekali pemandangan yang ada di luar kereta.


    Siang itu pun Melian tidak tidur. Ia benar-benar ingin menyaksikan pemandangan yang dilalui kereta. Mulai dari naik hingga saat berhenti nanti. Yang pertama kali ia lihat, saat kereta mulai berjalan meninggalkan Stasiun Tawang, adalah rumah-rumah di sekitar rel kereta api. Yah, hati Melian tergetar ketika harus menyaksikan betapa banyaknya rumah kumuh yang berjejer di pinggir rel. Rumah yang hanya terbuat dari emplek-emplek kardus, rumah yang tidak layak huni. Tidak hanya satu dua rumah, tetapi sangat banyak jumlahnya. Rumah yang pantas hanya disebut sebagai gubug tersebut. Itu menandakan bagaimana kehidupan masyarakat yang sebenarnya, yang jauh berada di bawah kata sejahtera.


    Tidak sekadar menyaksikan gubug-gubug yang kumuh saja, tetapi Melian juga menyaksikan bagaimana penghuninya, yang pada berdiri di dekat rel, saat ada kereta lewat. Melian menyaksikan anak-anak yang berdiri di pinggir rel dan mengamati kereta yang lewat. Sungguh kasihan kondisi anak-anak itu. Dari pakaian yang dikenakan, rata-rata mereka hanya mengenakan celana kolor yang sudah tidak layak pakai. Kotor dan jijik. Mingkin sudah seminggu lebih tidak pernah dicuci. Bahkan kalau didekati, pasti baunya pesing. Satu dua anak mengenakan kaos yang juga terlihat kotor. Bahkan kaosnya sudah pada robek bagian ketiak dan lehernya. Rata-rata anak-anak itu bertubuh kurus, walau perutnya buncit. Tapi yang pasti bukan karena banyak makan, melainkan karena perutnya cacingan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Melian sangat trenyuh menyaksikan hal itu.


    Melian juga menyaksikan beberapa orang yang sudah lebih dewasa, tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Dengan pakaian compang-camping, serta topi butut, tangan kirinya memegangi bagor yang menggantung di punggungnya. Ada juga yang menyangklong keranjang. Sedangkan tangan kanannya memegangi ganco, semacam alat pengambil barang yang terbuat dari batang besi yang ditekung melengkung, dengan ujung lancip serta diberi gagang pegangan pada bongkotnya. Ya, mereka mencari barang-barang bekas. Mereka adalah pemulung yang mengumpulkan plastik atau kardus-kardus bekas, yang nantinya akan dijual ke pengepul barang-barang bekas. Tentu Melian sangat terharu menyaksikan kondisi warga masyarakat yang seperti itu. Muncul dalam hatinya, kapan bangsa ini akan terentas dari kemiskinan? Lantas, siapa yang sanggup mengubah kondisi ini?


    Kereta mulai berjalan cepat. Semakin cepat dan terus melaju semakin kencang. Itulah kereta cepat yang dinaiki oleh Melian. Pemandangan pun cepat berubah. Potret kemiskinan sudah berlalu. Kini Melian disuguhi pemandangan sawah yang menghijau serta lahan pertanian yang cukup luas dengan aneka tanaman yang tumbuh tak terbilang. Segar hati Melian bisa menyaksikan kemakmuran negeri ini. Negeri yang sering disebut sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta lan raharja. Negeri yang murah sandang murah pangan.


    Selanjutnya, kereta api ekspres yang sudah melintasi beberapa stasiun kecil tanpa berhenti itu, sudah sampai di daerah pinggir pantai. Melian menyaksikan keindahan laut biru. Melian terbuai oleh alunan ombak yang mendayu-dayu, seakan melambai-lambai memanggil orang yang memandangnya. Dan tentunya, keindahan itu masih dihiasi oleh perahu-perahu nelayan yang bergoyang-goyang, seakan menari di atas gelombang samudera biru. Mereka mencari nafkah dengan menangkap ikan-ikan yang terhampar di lautan luas. Lagi-lagi, hati Melian merasa terhibur menyaksikan keindahan alam raya.


    Kini kereta itu sudah melintas di kawasan hutan rimbun. Hijau menggelap, karena bagian tengahnya tidak mampu diterpa oleh sinar matahari, saking rimbunnya dedaunan yang menutup di atasnya. Udara segar tercium dari kawasan hutan itu. Daerah penghasil oksigen yang tak terperi. Tanpa harus mengeluargan biaya untuk mendatangkan oksigen. Hanya proses fotosintesa dari daun-daun hijau itu saja yang sudah bermurah membagikan ogsigen kepada manusia. Dan pasti suasana hutan nan menghijau itu membuat teduh di hati, membuat tenteram dan nyaman. Hingga akhirnya, mata Melian pun tak kuasa... untuk bertahan menyaksikan keindahan alam itu, Ia sudah terlelap, terbuai dalam mimpi yang indah.


    Jakarta sore hari penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Hiruk pikuk orang-orang sibuk mulai memadati jalanan. Bahkan sebagian orang sudah nekat untuk melanggar aturan lalu lintas. Termasuk saat berada di lintasan kereta api. Palang pintu hampir tak digubris lagi. Banyak yang abai dengan keselamatan. Meski peringatan sudah diberikan, namun kenyataan tidak dipedulikan.


    "Tut ....... Tit .... Tut ....... Tit .... Tut ....... Tit ...." suara alarem di palang pintu, pertanda akan ada kereta yang akan lewat. Palang pintu itu sudah turun dan menutup jalan. Namun masih saja ada kendaraan yang nekat menerobos. Dasar orang-orang tak sabaran.

__ADS_1


    "Toooeeeeeet ...... !!! Toooeeeeeet ...... !!!" masinis kereta ekspres membunyikan suara klakson kereta yang kerasnya memekakkan telinga. Pasti sebagai tanda kalau kereta itu akan segera melintas.


    Melian terjingkat. Kaget mendengar suara klakson yang sangat keras itu. Tergagap dari tidurnya dan langsung bangun. Melian membenarkan posisi tubuhnya. Lantas mengamati ke luar jendela. Yah, dirinya yakin, ini sudah masuk Jakarta. Ciri-cirinya sama saat akan meninggalkan Semarang tadi siang, yaitu banyaknya bangunan-bangunan liar dan kumuh. Ciri dari kota-kota besar. Kota yang katanya menjanjikan kemakmuran bagi penduduknya, tetapi juga menciptakan potret-potret kemiskinan di sana-sini.


    Dan benar, kereta ekspres itu sudah mulai mengurangi kecepatannya. Beberapa orang penumpang sudah mulai berdiri, menata barang-barang bawaannya. Mereka bersiap untuk turun.


    Melian juga berdiri, mengambil tas yang ditaruh di kabin di atasnya. Lantas juga bersiap untuk turun.


    Kereta semakin melambat. Dan akhirnya, kereta api itu sudah merapat di Stasiun Gambir. Berhenti di tujuan akhir. Para penumpang turun. Melian juga turun, lantas keluar stasiun.


    "Taksi ...!" Melian berteriak memanggil taksi.


    "Kemana, Neng ...?" tanya sopir taksi yang sudah bersiap untuk berangkat, sesuai dengan antriannya. Lantas membuka pintu belakang, agar si penumpang langsung naik.


    "Siap, Neng ...." sopir taksi itu langsung melajukan mobilnya.


    "Lewat tol saja, Bang .... Biar hemat waktu ...." kata Melian lagi yang mengarahkan sopir agar lewat tol.


    "Siap, Neng ...." lagi-lagi sopir taksi itu menjawab siap.


    Mobil taksi itu langsung melaju menuju tol. Meski masuk tol, ternyata juga padat merayap. Yah, Jakarta waktu sore memang dihiasi kemacetan-kemacetan. Orang-orang pulang kerja dari berbagai perusahaan, ramai memenuhi jalan. Dan pasti semuanya ingin cepat, ingin segera sampai di rumahnya. Itulah yang sering memicu meningkatnya emosi masyarakat. Orang-orang mudah tersulut kemarahannya. Tensinya tinggi. Persoalan sedikit pun langsung menjadi besar. Apalagi kalau masalahnya terkait dengan ekonomi. Terkait dengan keuangan. Semianya akan langsung menjadi tak terkendali.

__ADS_1


    "Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." HP Melian berdering.


    "Halo, Putri ...." Melian langsung mengangkat panggilan HP yang berasal dari Putri.


    "Sampai mana, Mel ...?" tanya Putri dari panggilan itu.


    "Ini ..., sudah di jalan tol .... Sebentar lagi nyampai ...." jawab Melian yang tentu tenang sudah menerima panggilan dari temannya.


    "Saya tunggu .... Ini saya sudah di asrama ...." jawab Putri dari HP.


    "Iya .... Sebentar lagi .... Mudah-mudahan lancar tidak macet ...." Melian yang menjawab, lantas HP itu mati.


    Dan benar. Tidak begitu lama, taksi yang ditumpangi Melian sudah sampai di tempat tujuan. Taksi itu sudah masuk ke halaman asrama mahasiswa, dan berhenti tepat di depan pintu masuk asrama.


    "Terima kasih, Bang ...." kata Melian sambil membayar ongkos taksinya. Lantas turun dari taksi itu.


    "Kembaliannya, Neng ...." kata sang sopir yang tentu akan mengembalikan sisa pembayaran.


    "Sudah ..., buat Abang saja ...." kata Melian sambil meninggalkan sopir taksi itu.


    Melian langsung masuk ke ruang lobi. Lantas meminta kunci, meskipun Putri sudah ada di dalam kamar, tetapi kuncinya membawa sendiri-sendiri. Lantas masuk ke lift, menuju lamtai sepuluh. Ke kamar asramanya.

__ADS_1


    "Halo ..., Putri ...." sapa Melian yang masuk kamar tanpa memberi tahu Putri.


    "Hai ..., Melian ....!!!" Putri kaget dan berteriak. Lantas memeluk Melian yang baru saja masuk. Mereka pun melepas rindu bersama dengan cerita masing-masing saat berliburan di kampungnya. Pasti banyak cerita yang saling disampaikan. Mesra dan penuh kegembiraan.


__ADS_2