GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 90: SEKOLAH DI KOTA BESAR


__ADS_3

    "Mak ..., sebentar lagi Melian lulus SMP. Saya pengin sekolah di Semarang ...." kata Melian saat menunggu kepulangan bapaknya di teras rumah, tentu duduk di kursi teras bersama ibunya.


    "Iya .... Nanti bilang Pak-e." jawab Juminem yang tentu menuruti apa saja keinginan anaknya. Lantas lanjut ibunya bertanya, "Kenapa di Semarang? Kok tidak ke Surabaya?" tanya ibunya.


    "Kemarin kata teman-teman Pak-e yang pada datang ke pabrik, di Semarang banyak sekolah yang sebagian besar muridnya terdiri dari anak-anak keturunan Tionghoa. Jadi saya pengin ke sana. Melian ingin sekolah bersama anak-anak ketuunan Tionghoa, ingin tahu budaya mereka, Mak ...." jawab Melian.


    "Di Surabaya juga banyak ...." sahut Juminem.


    "Kok Mak-e tahu? Memang Mak-e pernah ke Surabaya?" tanya Melian.


    "Hehe .... Belum ...." Juminem nyengenges pada anaknya.


    "Ach ..., Mak-e ...." Melian cemberut, jengkel.


    "Tapi mungkin saja .... Karena Surabaya itu lebih besar dari Semarang .... Pabriknya banyak ...." sahut Juminem.


    Saat mereka asyik ngobrol, sepeda motor bebek datang masuk ke halaman rumah, dan langsung dinaikkan ke teras. Jamil pulang dari pabrik. Tentu langsung disambut oleh anaknya.


    "Pak-e pulang ...." kata Melian yang langsung menuju ke bapaknya yang sedang menyetandarkan kendaraan.


    "Awas, knalpotnya panas!" kata Jamil memperingatkan anaknya yang langsung berusaha meraih bapaknya.


    "Pak-e ...." kata Melian yang langsung memegang lengan bapaknya.


    "Ada apa, Sayang .... Pak-e lagi pulang kok sudah diseret-seret ...." kata Jamil yang langsung merangkul anak kesayangannya.


    "Pak ..., besok kalau Melian sudah lulus SMP boleh nggak melanjutkan sekolah SMA di Semarang?" kata Melian yang memanja pada bapaknya.


    "Boleh saja .... Kamu mau sekolah di mana saja silahkan .... Yang penting Melian harus jadi anak pintar, biar bisa mengembangkan usaha Pak-e yang lebih besar." jawab bapaknya.


    "Asyik .... Terima kasih ya, Pak ...." kata Melian yang langsung memberikan pipinya untuk dicium oleh bapaknya.


    "Muach .... Dah, sana .... Pak-e mau nyapu halaman rumah." kata Jamil yang sudah mencium pipi anaknya yang sangat cantik itu. Bahkan Jamil menganggap Melian itu gadis remaja paling cantik di Kampung Naga.


    "Halaman sudah disapu sama Melian, Kang .... Tinggal itu di belakang, ada pisang pipit yang sudah mau masak, tolong dipotong. Bisa dibuat pisang goreng. Kalau terlalu masak digoreng tidak enak." kata Juminem yang memberi tahu ke suaminya.


    "Wealah .... Pinter tenan anak gadis Pak-e .... Ya, Pak-e mau ambil pisang di kebun belakang ...." kata Jamil yang langsung mengambil sabit yang diselipkan di belakang rumah.


    Ya, memang di belakang rumah kuno itu masih ada lahan yang ditumbuhi pisang. Bukan hanya satu jenis pisang pipit saja, tetapi juga ada pisang tawi dan pisang tanduk yang memang buahnya sangat besar-besar. Pohon-pohon pisang itu berbuah terus, silih berganti. Entah tanahnya yang subur atau lahannya yang dapat sinar matahari secara penuh. Tetapi Jamil lebih percaya, bahwa hasil buah pisang itu adalah rezeki yang diberikan oleh Tuhan untuk selalu disyukuri. Dan yang pasti, Jamil tidak menjual hasil panen pisangnya itu, melainkan dibagi-bagikan kepada para tetangga maupun dibawa ke pabrik untuk camilan para karyawan.


    Juminem pun selalu setuju dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, selama itu memang untuk melakukan kebaikan. Maka, setelah pisang itu diambil oleh suaminya, tidak dibawa masuk ke rumah,, melainkan dipotong-potong di halaman rumah. Lantas Juminem hanya mengambil sesisir saja untuk digoreng. Sedangkan yang lain, langsung dibagi-bagikan ke tetangganya. Tentu para tetangga senang diberi pisang pipit. Lumayan, bisa direbus atau digoreng.


    Malam itu, di meja makan sudah tersedia pisang goreng. Tidak banyak. Hanya beberapa butir. Juminem sengaja menggoreng lima buah pisang, yang dirajang kemudian dijereng, lantas dicelup pada tepung krispi, lantas dimasukkan ke penggorengan. Bentuknya seperti kopas atau jemari tangan. Juminem menamai pisang gorengnya itu dengan istilah pisang goreng kipas. Dengan bumbu tepung krispi, rasanya manis sedap dan kres. Persis seperti yang dijual di supermarket. Jamil yang senang jika dibuatkan pisang goreng semacam ini.


    Malam itu, mereka menikmati pisang goreng dan makan malam bersama. Tentu sambil ngobrol. Itulah kenikmatan makan malam bersama keluarga. Bisa saling curhat maupun bercerita.


    "Kenapa Melian milihnya pingin sekolah SMA di Semarang? Kok tidak di Pati saja?" tanya Jamil saat makan malam.


    "Iih ..., Pak-e itu kuno .... Pati nggak maju-maju, Pak .... Melian pengin sekolah yang di kota ...." jawab anaknya.


    "Memangnya SMA di Semarang bagaimana?" tanya Jamil yang memang tidak mudeng masalah persekolahan. Masalahnya dia dulu hanya lulusan SMP. Itu saja orang tuanya sudah merasa berat untuk membiayai.


    "Ya kalau di kota besar, pengalaman kita lebih banyak, Pak .... Kata teman-teman Pak-e, pelanggan yang dari Semarang itu cerita kalau sekolah di Semarang, Melian bisa memilih sekolah yang banyak anak dari keturunan Tionghoa. Jadi kita bisa berkomunikasi untuk kelompok anak-anak yang orang tuanya sebagian besar pedagang atau pengusaha." kata Melian yang rupanya sudah terpengaruh oleh tamu-tamu orang keturunan yang datang ke pabrik bapaknya.


    "Kenapa tidak pengin jadi pegawai saja ...? Kata orang-orang, pegawai negeri itu enak .... Gajinya besar kerjanya leha-leha." kata bapaknya yang tentu juga ingin anaknya menjadi pegawai negeri.


    "Pak ..., kalau ingin jadi orang kaya jangan jadi pegawai ..., tetapi harus jadi pengusaha. Pak-e lihat kan, tamu-tamunya Pak-e yang dari luar kota, mobilnya bagus-bagus .... Itu karena mereka pengusaha, Pak ...." sergah Melian yang memprotes pendapat bapaknya.

__ADS_1


    "Ooo ..., begitu, ya?" kata bapaknya yang tentu tidak paham beda antara pegawai dan pengusaha. Yang ia lihat, kalau pegawai itu kerjanya enak dan bayarannya besar. Maklum, Jamil hanya tahu bagaimana bekerja sebagai buruh. Dan pengalaman menjadi buruh penggalian batu kapur dulu, ia rasakan sebagai pekerjaan yang sangat berat dengan bayaran yang sangat kecil. Sangat jauh berbeda dengan yang ia lihat pada pegawai-pegawai kantoran yang kerjaannya hanya duduk-duduk saja.


    "Makanya ..., kalau pengin kaya ya jadi pengusaha." sahut Melian yang tentu sangat menggebu ingin sekolah di luar kota.


    "Lah, kalau sekolah di Pati apa tidak bisa jadi pengusaha?" tanya bapaknya lagi.


    "Ya bisa, Pak .... Tapi komunitasnya hanya pengusaha likal dan kecil-kecil .... Contohnya ha Pak-e ini .... Begitu ada bule datang, Pak-e langsung bingung. Nah, Melian penginya bisa kenal dengan anak para pengusaha besar, punya teman dari anak-anak pengusaha yang hebat. Kita bisa belajar dari mereka, kita bisa ambil pengalaman dari orang-orang itu .... Sehingga nanti kalau ketemu dengan para pengusaha besar tidak kaget .... Gitu, Pak-e ...." jelas Melian pada bapaknya, yang tentu Melian ini sudah pernah diomongi oleh anak-anak dari pelanggan bapaknya yang datang ke toko.


    "Yaa .... Kalau keinginan Melian mau jadi pengusaha yang besar, pengusaha yang sukses, Pak-e selalu mendukung. Jangan seperti Pak-e dan Mak-e yang hanya lulusan SMP, itu saja sekolah di desa. Jadi ya tidak punya pengalaman apa-apa .... Dan Pak-e yang jelas ingin Melian bisa bahasa Inggris seperti Pak Jumari itu, sehingga kalau ada tamu dari luar negeri ada yang bisa mengajak bicara, bisa ngasih tahu ke Pak-e, apa artinya yang dibicarakan oleh tamu-tamu itu. Ya, Me ...." kata bapaknya yang tentu juga penuh harap pada anaknya.


    "Iya, Pak ...." jawab Melian yang tentu juga menerima usulan bapaknya.


    "Lha, terus .... kalau Melian sekolah di luar kota, Mak-e sama siapa?" tanya Juminem yang takut kehilangan anaknya.


    "Hehehe .... Nanti Mak-e ikut Pak-e ke pabrik. Nemani Mbak Ika jaga toko." kata Melian menghibur ibunya.


    "Yah ..., sepi deh, rumah kita ...." sahut Juminem.


    "Nanti tiap bulan Me Me pulang, Mak .... Paling tidak minta uang .... Hehehe ...." jawab anaknya.


    "Uh, sebulan itu lama, Melian .... Mak-e mesti kangen." kata Juminem lagi, yang sudah membayangkan kesunyiannya tanpa anak.


    "Eh, Pak ..., apa besok kalau Melian di Semarang, saya dibelikan telepon genggam, biar bisa teleponan sama Mak-e .... Hehe ...." kata Melian mencoba merayu bapaknya.


    "Handphone itu harganya mahal, Me ...." sahut Jamil memberi tahu anaknya.


    "Iya, Pak .... Nanti kalau kangen Mak-e atau Pak-e telepon saja di wartel. Kalau di Semarang pasti banyak wartel." kata Melian yang tahu sifat bapaknya.


*******


    Benar, setelah kelulusan SMP, Melian mendaftar sekolah di sebuah SMA yang terkenal di Semarang. SMA swasta yang muridnya sebagian besar berasal dari anak-anak keturunan Tionghoa. Sebagian besar muridnya bermata sipit dan berkulit putih. Namanya SMA Nasional. Sekolah yang sudah sangat tua, berdiri beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Dulu namanya Tiong hoa hwi scholl, sekolah untuk anak-anak Tionghoa. Namun sekarang tidak hanya anak-anak keturunan Tionghoa saja yang sekolah di situ. Semua suku dan ras ada di sekolah itu.


    Jamil, Juminem dan Melian, masuk ke pintu gerbang sekolah yang dituju. Sekolah di Kampung Pecinan. Suasana sekolah yang megah. Gedungnya bertingkat tiga dan besar. Bangunannya melingkar saling berhadapan mengelilingi halamannya luas. Halaman itu semuanya sudah diplester dengan semen. Halus dan rata. Halaman sekolah itu yang biasanya digunakan untuk upacara dan sebagai sarana olah raga. Tampak di bagian kanan dan kirinya ada tiang dari besi untuk memasang ring basket. Kemudian di pinggir sisi selatan di tengahnya terdapat tiang bendera yang sangat tinggi. Di situ Sang Merah Putih berkibar. Di sisi bagian barat terdapat bangunan kantin, terlihat ada meja dan kursi tempat makan. Dan di tempat itu sedang ada beberapa anak sekolah yang sedang makan. Di teras-teras ruang kelas, ditanami bunga-bunga dalam pot. Terlihat asri dan menyegarkan. Sangat bagus untuk sebuah sekolah di kota besar.


    Menyaksikan gedung yang sangat megah itu, pasti Jamil dan Juminem tertegun. Baru kali ini ia bepergian ke Semarang, masuk sekolah yang megah. Jamil dan Juminem mengikuti langkah anaknya yang sudah bersiap untuk mendaftar. Ada tulisan dan tanda panah tempat pendaftaran. Maka Melian mengikuti tanda panah tersebut, sebagai petunjuk untuk memudahkan bagi calon murid.


    Di sebuah ruangan yang besar, semacam ruang aula, di bagian luar terdapat tulisan "Tempat Pendaftaran Murid Baru". Pintunya tertutup, karena ruangan itu menggunakan AC. Melian membuka pintu dan masuk. Jamil dan Juminem mengikuti anaknya. Jamil kaget, karena ruangannya sangat dingin. Demikian juga Juminem, yang langsung mencari sumber pendingin ruang itu, ingin tahu bentuknya seperti apa.


    "Mari, silahkan duduk ...." kata seorang perempuan setengah baya mengenakan baju blezer. Pasti itu ibu guru yang bertugas menerima pendaftaran.


    Melian langsung duduk di hadapan petugas pendaftar itu, didampingi bapak dan ibunya.


    "Namanya siapa?" tanya petugas itu.


    "Melian ...." jawab Melian.


    "Bawa foto copy ijazah dan NEM?" tanya petugas itu lagi.


    "Bawa .... Ini." kata Melian yang langsung menyodorkan map berisi berkas kelulusannya.


    "Ya ..., tolong ini formulirnya diisi dahulu di meja sana .... Nanti kalau sudah selesai, dilengkapi syarat-syarat ini, urutannya sesuai ini ya .... Terus dimasukkan ke map ini, lalu diserahkan ke petugas penerima berkas itu." jelas petugas yang menerima pendaftaran tersebut menjelaskan kepada Melian.


    "Ya, terima kasih." jawab Melian yang kemudian menuju meja kosong untuk mengisi formulir dan menata berkasnya.


    Juminem mengikuti Melian. Namun Jamil belum beranjak, justru ingin mencari informasi kepada bagian pendaftaran itu.


    "Maaf, Bu Guru, mau tanya .... Kalau sekolah di sini bayarnya berapa, ya?" tanya Jamil kepada petugas yang baru saja menerima anaknya.

__ADS_1


    "Tergantung, Pak .... Yam ada yang besar tapi juga banyak yang sedikit bayarnya. Nanti Bapak wawancara dulu dengan Yayasan. Yang menentukan besarnya uang sumbangan dan SPP perbulan, itu hasil wawancara dengan Yayasan. Nanti kalau berkas anak Bapak sudah diserahkan, Bapak akan diundang wawancara, di sana itu Pak ...." kata petugas pendaftaran itu sambil menunjukkan orang-orang yang sedang wawancara.


    Jamil langsung menengok. Ada tiga meja untuk wawancara. Orang-orang Yayasan itu kebanyakan bermata sipit. Orang tua yang diwawancarai kebanyakan juga bermata sipit. Jamil semakin mantap, jika anaknya sekolah di tempat ini tidak keliru. Melian akan membaur kembali bersama saudara-saudaranya. Jamil tersenyum. Dalam hatinya, ia merasa bangga sudah dipasrahi anak, dan akan mendidik sesuai kodratnya. Kini anaknya sudah besar, sudah dewasa, bisa memilih jalan hidupnya. Jika anaknya ingin sekolah di kota besar, sekolah di tempat yang mungkin bisa menemukan jati dirinya kelak, sekolah yang bisa menemukan keluarganya. Jamil rela dan ikhlas. Melian hanyalah titipan. Yang Kuasa yang berhak menentukan garis hidupnya. Jamil yang merasa hanya orang kecil, hanya buruh, tidak ingin menghalangi anaknya untuk maju dan menggapai cita-cita yang besar.


    "Atas nama Melian .... Pendaftar dengan nama Melian ...." seorang petugas laki-laki memanggil Melian, petugas yang mungkin juga guru, karena mengenakan seragam safari abu-abu yang sama denga petugas-petugas pendaftaran yang lain.


    "Ya, saya ...." sahut Melian yang langsung mendekat ke petugas yang memanggilnya itu.


    "Orang tuanya mana?" tanya petugas itu.


    "Itu." jawab Melian yang langsung menunjuk pada bapak dan ibunya.


    "Silahkan ke meja satu, bersama orang tua untuk wawancara dengan yayasan. Ini berkasnya dibawa menghadap." kata petugas laki-laki itu.


    Melian pun langsung mengajak bapak dan ibunya menghadap petugas wawancara di meja satu.


    "Selamat siang, Pak Jamil .... Pak Jamil asalnya dari mana ini?" tanya pewawancara, salah satu pengurus yayasan sekolah. Sudah tua, tutur katanya halus. Matanya sipit, kulitnya putih. Pada wajahnya sudah banyak bercak hitam tanda sudah usia lanjut.


    "Dari Juwana, Pati, Pak ...." jawab Jamil yang tidak mau kalah halusnya.


    "Melian ingin sekolah di sini, sungguh-sungguh?" tanya orang yayasan itu yang menatap tajam Melian.


    "Iya, Pak .... Saya sangat ingin sekolah di sini." jawab Melian polos.


    "Nanti sekolah yang sungguh-sungguh ya ..., biar pintar. Cita-cita kamu apa?" tanya laki-laki tua itu kepada Melian.


    "Ingin jadi pengusaha yang sukses ...." jawab Melian jujur.


    "Saya doakan semoga berhasil ...." kata orang tua itu.


    "Terima kasih, Pak." sahut Melian.


    "Pak Jamil kok jauh-jauh dari Juwana pengin nyekolahkan anaknya di sini?" tanya pewawancara itu kepada Jamil.


    "Anak saya, Pak, yang ingin sekolah di sini. Kebetulan ada kenalan di toko yang menawarkan kepada Melian untuk sekolah di Semarang." jawab Jamil.


    "Pak Jamil kerjanya apa?" tanya orang itu lagi.


    "Hanya bekerja di pabrik kuningan. Apa saja saya kerjakan, Pak." jawab Jamil.


    "Bayaran Pak Jamil berapa per bulannya?" tanya pewawancara itu lagi.


    "Tidak mesti, Pak .... Kalau pas ramai dapat bagian lumayan. Tapi kalau pas sepi seperti saat krismon kemarin itu, bayaran kami juga sedikit. Yang penting bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup." jawab Jamil.


    "Ini untuk sumbangan gedung, Pak Jamil saya kenakan lima juta. Dan untuk SPP Melian, per bulannya sebesar seratus lima puluh ribu. Bagaimana?" kata pengurus yayasan itu.


    "Walah .... Kok besar sekali, Pak? Kemarin di SMP negeri, SPP-nya cuma membayar sepuluh ribu. Kok sekolah di Semarang mahal, ya ...." kata Jamil yang tentu kaget dengan biaya sekolah anaknya.


    Tidak hanya Jamil yang kaget. Tetapi Juminem juga syok ketika mendengar SPP yang sangat besar. Demikian pula Melian, yang baru tahu kalau biaya sekolah di Semarang sangat tinggi.


    "Mbok kami diberi biaya sekolah yang paling murah, Pak .... Toh nanti saya masih bayar biaya kost anak saya juga." kata Jamil yang tentu sangat memelas.


    "Melian benar-benar ingin sekolah di sini?" tanya pewawancara itu lagi kepada Melian.


    "Iya, Pak .... Saya senang sekolah di sini." jawab Melian yang tentu akan kecewa kalau tidak diterima.


    "Baiklah, Pak Jamil .... Ini grit nilai Melian memang bagus .... NEM-nya tinggi. Tapi kami juga butuh biaya untuk membayar guru-guru, harap maklum karena ini sekolah swasta, keuangan kami cuma dari orang tua murid. Melian saya masukkan di kategori C, yang kelompok tengah bawah. Uang sumbangannya tiga setengah juta, SPP-nya delapan puluh ribu per bulan. Ini sudah yang terbaik sesuai nilai ebtanas murni, NEM Melian. Mohon diingat, Pak Jamil .... Masih banyak orang yang dibawah Pak Jamil, juga ingin menyekolahkan anaknya. Kita subsidi silang, yang mampu membantu yang kurang." kata orang yayasan tersebut.

__ADS_1


    Jamil hanya bisa mengangguk. Demi masa depan anaknya, ia harus mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan Melian. Biar pandai, biar berhasil dan sukses, tidak seperti dirinya.


__ADS_2