GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 135: RAPORT MELIAN


__ADS_3

    Sudah satu semester Melian sekalah SMA di Semarang. Tentunya hasil sekolah Melian kini akan disampaikan kepada orang tuanya. Yaitu melalui pembagian raport. Namun anaknya justru menghilang entah ke mana, sampai kini belum ketemu. Cik Indra yang menyampaikan pengambilan raport itu kepada Mas Irul


    Seperti yang dipesankan oleh Pak Pendeta di klenteng, Jamil dan Juminem ke Semarang tidak sekadar mengambil raport, tetapi juga akan mencari nasib anaknya. Jamil dan Juminem sengaja mengajak Mas Irul. Dan tentu mengajak Mas Tarno yang harus menyetir mobilnya. Kata Cik Indra, setelah pengambilan mereka akan mencari jejak keberadaan Melian yang dikabarkan mengalami kecelakaan saat berboncengan motor dengan temannya. Tentu ditambahi dengan bumbu-bumbu cerita yang seram dan menakutkan. Karena diceritakan oleh teman-teman di sekolah Melian, kalau arwah Melian gentayangan. Muncul di mana-mana, dan menemui teman-temannya tapi tanpa bicara, berwajah pucat, dan menakutkan. Dan yang paling menyeramkan, setiap kali akan ditemui, Melian langsung menghilang.


    Tentu mendengar berita seperti itu Juminem tidak bisa berhenti menangis. Siang malam air matanya dikuras, menangisi nasib anaknya. Entah hidup atau mati, bagi Juminem yang penting jasad Melian bisa ditemukan.


    Bersamaan dengan mencorongnya sinar matahari pagi dari arah timur, Mas Tarno, sopir perusahaan Jamil langsung menjalankan mobilnya, dari Juwana menuju Semarang. Perlahan tapi pasti. Jamil duduk di depan, menemani Mas Tarno yang menyetir. Sedangkan Irul dan Juminem duduk di kursi tengah. Irul yang paling nelangsa, karena harus disandari oleh Juminem yang terus-terusan menangis.


    Mobil itu langsung menuju sekolah Melian. Sebuah SMA swasta yang sangat besar, dengan gedung bertingkat tiga. Sebuah bangunan sekolah yang sangat megah kala itu. Tentu di halaman parkir sekolah sudah ramai orang tua yang mengambilkan raport anaknya. Biasanya, pada kesempatan itu orang tua bisa konsultasi dengan gurunya atau wali kelasnya terkait permasalahan anaknya.


    Sudah satu minggu Melian yang menghilang tidak ketemu. Saat bertemu dengan gurunya, wali kelasnya dan ibu kepala sekolahnya, saat mengambil raport semesteran anaknya, bapak dan ibunya menangis sesenggukan.


    Jamil dan Juminem langsung disuruh masuk ke ruang kepala sekolah. Tentu didampingi oleh wali kelas.


    "Pak Jamil dan Ibu .... Kami turut prihatin atas peristiwa yang menimpa keluarga Bapak .... Namun tentunya ..., kami tidak bisa berbuat apa-apa ...." kata ibu kepala sekolah pada Jamil dan Juminem.


    Lagi-lagi Juminem menangis, mendengar kata-kata ibu kepala sekolah itu, yang tentunya sangat menambah kesedihan Juminem.


    "Yang tabah, Ibu .... Tuhan akan memebrikan yang terbaik." kata ibu wali kelasnya Melian, sambil mengelus pundak Juminem.


    "Terima kasih, Bu ...." kata Juminem yang masih dalam isak tangis.


    "Melian itu anak pintar ..... Anak cerdas .... Nilainya bagus-bagus .... Bahkan Melian masuk rangking .... Ini raportnya. Nilainya semua bagus. Kami yakin, pasti Melian selamat ...." kata ibu wali kelas Melian, yang berusaha menghibur ibunya.


    "Apa Bapak dan Ibu sudah lapor ke polisi?" tanya ibu kepala sekolah.


    "Belum ...." jawab Jamil.

__ADS_1


    "Kami itu kasihan dengan Melian .... Dia sudah banyak menderita .... Dari kecil hidupnya penuh penderitaan. Masih bayi sudah kehilangan bapak dan ibunya, . Hidup dengan kami menderita dan terlunta-lunta, penuh dengan kekurangan .... Baru mau bahagia, kina malah kecelakaan dan belum ditemukan .... Huk ..., huk ..., hu ...." Juminem mengenang kesedihan hidupnya bersama Melian. Tentu membuat hatinya kembali pilu dan menangis.


    "Lhoh ...?! Jadi Melian ini sebenarnya bukan anak Ibu dan Bapak?" tanya ibu kepala sekolah tersebut, yang tentu menduga begitu dari cerita Juminem.


    "Eee ...., itu sebenarnya kami hanya dapat amanah untuk momong .... Dari bayi .... Melian pun sudah menganggap kami ini sebagai orang tuanya. Dan kebetulan waktu pendataan penduduk, oleh Pak Lurah, Melian ini didata sebagai anak kandung kami. Jadi ...., ya kami sudah seperti bapak dan ibunya Melian sendiri." jelas Jamil pada ibu kepala sekolah.


    "Oo .... Seperti itu ...? Makanya kok di akte kelahiran Melian ini anak kandung dari Bapak dan Ibu ...." lanjut ibu kepala sekolah.


    "Ceritanya sangat panjang ..., dan sangat menyedihkan. Bersyukur kami bisa merawat Melian, Bu .... Dia anak yang baik. Tidak pernah menuntut, meminta ini itu .... Anaknya nrimo .... Menerima apa adanya. Tapi kok akhirnya malah seperti ini ...." tentu Jamil yang mengungkapkan langsung menunduk sedih. Ingin rasanya menangis dan berteriak sekeras-kerasnya.


    "Yang sabar, Pak .... Mungkin ini ujian dari Tuhan ...." ibu wali kelasnya menghibur Jamil.


    "Dulu itu, sebenarnya saya tidak setuju Melian sekolah di Semarang .... Anaknya ngeyel .... Mintanya sekolah di Semarang .... Bapak-e setuju .... Ya, sudah .... Sekarang begini jadinya .... Huk ..., huk ..., hu ...." lagi-lagi, Juminem menangis.


    "Yang sabar, Ibu ...." lagi-lagi, wali kelas itu mengelus pundak Juminem, tentu menenangkannya.


    "Bapak ..., Ibu .... Kami benar-benar ikut kehilangan. Melian anak yang pintar dan baik, anak yang kami banggakan .... Mohon maaf kalau kami sudah terlena, maafkan kami jika kurang dalam pengawasan ...." kata ibu kepala sekolah yang merasa ikut bersalah.


    "Terima kasih, Ibu .... Kami juga mohon maaf anak saya sudah merepotkan ...." balas Jamil.


    "Terus, ini rencana Bapak dan Ibu bagaimana?" tanya ibu kepala sekolah.


    "Kami akan terus berusaha untuk mencarinya. Bagaimanapun juga, Melian itu amanah bagi kami. Kami harus mempertanggungjawabkannya. Akan kami cari sampai ketemu, Bu ...." jawab Jamil.


    "Apa tidak sebaiknya kalau dilaporkan ke polisi?" tanya ibu kepala sekolah itu lagi, yang tentu juga sebagai saran.


    "Rencananya akan kami cari dahulu di tempat kejadian kecelakaan. Jika terpaksa, maka kami akan laporkan ke polisi." sahut Jamil.

__ADS_1


    "Bapak yakin kalau Melian memang mengalami kecelakaan bersama Jonatan?" tanya ibu kepala sekolah itu lagi.


    "Teman-temannya mengatakan begitu. Jadi akan kami coba mencarinya di sana. Siapa tahu ada warga yang tahu kejadiannya." jawab Jamil.


    "Bapak sudah tahu tempat kejadiannya?" tanya ibu kepala sekolah itu lagi.


    "Kami akan diantar oleh Cik Indra .... Teman satu kost Melian. Katanya kejadiannya di Bandungan." jawab jamil meyakinkan ibu kepala sekolahnya.


    "Baiklah, Pak Jamil .... Kami hanya sanggup mendoakan. Semoga Melian cepat ditemukan, dan semoga dalam keadaan selamat." kata ibu kepala sekolah.


    "O, ya ..., Pak, Bu .... Ini raport Melian. Ini lho, Bu ..., Melian itu nilainya bagus-bagus .... Ini, Bu .... Dia rangking satu di kelasnya, Bu .... Pintar, kan .... Anaknya rajin dan tekun ...." kata wali kelasnya yang memberikan raport Melian kepada ibunya. Tentu sambil dibukakan dan ditunjukkan nilai-nilainya.


    "Terima kasih, Bu Guru .... Dari SD dia rangking terus, kok ...." sahut Juminem yang menerima raport anaknya.


    "E, maaf Pak .... Jika nanti sudah ketemu, tolong kami dikabari." tambah ibu kepala sekolah memasan kepada Jamil.


    "Apapun keadaannya, nanti akan kami kabari, Bu ...." jawab Jamil.


    "Terima kasih, Bapak, Ibu .... Sudah mau bekerja sama dengan kami. Doa kami semoga Melian segera ditemukan." kata ibu kepala sekolah itu, untuk mengakhiri pertemuan dengan bapak dan ibunya Melian.


    "Kami juga berterima kasih, mohon maaf dan mohon pamit. Mohon kabarnya juga, jika dari pihak sekolah ada yang mengetahui keberadaan Melian. Kami akan melanjutkan perjalanan mencari Melian." kata Jamil yang langsung berdiri, berpamitan.


    Juminem ikut berdiri, sambil memegang raport Melian. Raport yang menunjukkan kepandaian anaknya. Raport yang menjadi tanda bukti kalau Melian adalah anak pintar.


    Kepala sekolah dan wali kelasnya, mengantarkan sampai di teras depan. Tentu mengantarkan dua orang pasangan suami istri yang diselimuti rasa sedih tersebut. Para guru yang berada di ruang guru ikut berdiri, melepas pamitan Jamil dan Juminem. Tentu dengan rasa sedih. Sedih karena muridnya yang pandai, anak rangking satu, kini hilang misterius.


    Semoga saja Melian ketemu.

__ADS_1


__ADS_2