
Setelah mendapatkan pertolongan dari para warga, dan tentu menceritakan kisahnya, Irul dan Melian diantar oleh warga, diboncengkan dua buah sepeda motor beriringan, menuju rumah Irul. Tidak jauh dari tempat pemakaman Gunung Bugel, yaitu di Desa Babagan sebelah selatan Pasar Lasem. Jaraknya sekitar empat kilometar. Hanya beberapa menit saja, dua sepeda motor itu sudah sampai di depan rumah kampung model gebyok yang terbuat dari kayu. Pintu dari kayu jati sepasang masih tertutup. Lantainya hanya plesteran pasir semen. Belum mengenal keramik. Ya, rumahnya orang tua Irul. Kampung yang sepi di siang hari, karena warganya pada ke ladang bercocok tanam.
"Assalamualaikum ...." Irul yang turun dari motor langsung memberi salam kepada keluarganya di depan pintu rumahnya, dan mendorong pintu itu untuk dibuka.
"Waalaikumussalam ...." terdengar jawaban suara perempuan dari dalam rumah.
Seorang wanita yang hampir tua keluar dari pintu. Wanita ini adalah ibunya Irul. Tentu kaget dengan kedatangan anaknya yang tenpa memberi tahu terlebih dahulu.
"Wealah ..., Irul ...!" kata ibunya yang langsung memeluk dan menciumi anaknya. Memang sudah sangat lama Irul tidak pulang kampung. "Piye kabarmu, Nang ...? Wis entuk bojo po durung ...?" tanya ibunya.
Irul yang ditanyai langsung tertawa. Tentu geli dengan pertanyaan ibunya, karena setiap kali pulang yang ditanyakan selalu masalah istri.
"Hehehe .... Belum, Mak ...." sahut Irul.
"Wealah ..., lha piye, to Nang .... Lha ini siapa perempuan cantik yang kamu ajak ini ...?" tanya ibunya yang tentu curiga dengan anaknya, datang-datang membawa perempuan cantik.
"O, iya .... Mas, pinarak dulu .... Ini rumah orang tua kami. Yang tinggal di sini cuman Mak-e sama Pek-e .... Adik-adik saya sudah menikah dan sudah berumah sendiri, meski masih satu kampung .... Monggo, pinarak dulu ...." kata Irul kepada dua orang yang mengantarnya.
"Ndak usah Mas .... Kami langsung pulang saja. Pokoknya kami sudah ngantar selamat sampai rumah .... Nyuwun pamit, nggih ...." kata dua orang yang memboncengkan Irul dan Melian.
"Ngaten ...? Nggih, maturnuwun .... Maaf, ini untuk beli bensin." kata Irul sambil memberi salam tempel kepada orang yang mengantarnya.
"Maturnuwun nggih, Mas ...." ibunya Irul ikut berterimakasih.
"Terima kasih, Mas ...." Melian juga ikut berterima kasih.
Dua motor itu pun memutar dan kembali ke kampungnya. Sungguh masyarakat yang baik dan bersimpati dengan orang lain. Mau menolong tanpa pamrih. Bahkan mengantarkan sampai rumahnya.
"Wealah, Nang .... Ini tadi dari mana to, kalian ini ...? Terus anak perempuan ini siapa, kok kamu ajak kemari? Ko nek digoleki pakne, piye ...? Wis, ayo masuk dulu ...." tanya ibunya Irul yang langsung menyuruh masuk anak dan tamunya.
"Ini Melian, Mak .... Anaknya Cik Lan .... Cucunya Babah Ho tempat kerja saya dulu itu, lho, di Pasar Lasem .... Ini tadi dari bong Cino Gunung Bugel .... Melian kangen sama mamahnya, Mak .... Ya, sebut saja ziarah ...." kata Irul yang berbohong, untuk menenangkan pikiran ibunya, agar tidak bertanya-tanya.
__ADS_1
"Oalah .......... Jadi kamu ini tadi dari kuburan, to ...?! Wis kono ..., cuci kaki dulu .... Ora ilok ..., ko kubur ojo yak-yakan sik ...." kata ibunya yang begitu tahu kalau anaknya dari kubur langsung menyuruh anaknya cuci kaki.
Ya, memang orang-orang desa kala itu, khususnya orang-orang tua, bila datang dari kubur harus mencuci kaki dan tangan, bahkan cuci muka. Menurut kepercayaan orang-orang desa, ini berkaitan dengan tolak balak dan tolak sawan, yaitu penyakit maupun aura negatif yang terbawa dari kuburan. Tentu menurut ilmu kedokteran, di kuburan itu banyak kuman dan penyakit. Maka membersihkan badan sebenarnya dimaksud untuk menghilangkan kuman-kuman dan kotoran yang terbawa. Tetapi orang desa hanya mengatakan "ora ilok".
"Mak ..., daster-e Minah ada yang di sini, nggak? Biar dibuat ganti untuk Melian .... Itu pakaian Melian kotor semua, tadi jatuh di kuburan." kata Irul yang berbisik pada ibunya, tentu tahu kalau Melian sudah satu minggu belum ganti pakaian. Pasti pakaiannya kotor dan baunya tidak enak.
"Ada .... Sik, tak golekke ning lemari ...." sahut ibunya.
"Sekalian kalau ada celananya ...." bisik Irul lagi.
Ibunya tidak menjawab, tetapi hanya memandangi Irul dengan lirikan yang tidak enak. Lantas membuka lemari mencarikan pakaian yang dikehendaki anaknya. Daster dan pakaian ganti milik adiknya Irul.
"Ini .... Seperti ini .... Mau apa tidak? Lha wong Cina kok disuruh pakai daster kayak gini, apa tidak malu?" kata ibunya sambil menyerahkan daster.
"Mak-e yang memberikan .... Saya malu, Mak ...." sahut Irul yang tersipu.
"Yoooh .... Mulane ndang nduwe bojo, sing ayu koyo putune Babah Ho kuwi ...." tentu ibunya pengin Irul segera menikah. Maklum dua adik perempuannya sudah menikah semua, malah Irul yang anak nomor satu belum menikah. Ibunya langsung menyusul Melian yang sudah menuju jeding di belakang rumah. Memberikan pakaian untuk ganti baju yang kotor.
"Dongakke, Mak .... Ben entuk bojo ayu ...." sahut Irul sambil cengengesan.
Tidak hanya cuci kaki dan cuci tangan, bahkan Melian mandi. Dan setelah selesai mandi dan tentu juga setelah Melian berganti mengenakan daster, mereka duduk di kursi tamu, di ruang depan. Ibunya Irul sudah membuatkan teh hangat, yang tentu juga ada jajanan dari pasar. Lantas mereka ngobrol bersama. Sayang bapaknya Irul masih ada di ladang belum pulang. Nunggu sampai siang, biasanya baru pulang untuk makan dan istirahat siang. Mereka bercerita banyak tentang bagaimana Melian dan Pak Jamil yang diikutinya bekerja. Pasti menceritakan hal yang baik-baik.
"Irul ini, dulu sering menceritakan kamu, Nik .... Apalagi saat kamu hilang .... Saya ikut nangis denger ceritanya ...." kata ibunya Irul yang tentu terkenang dengan cerita Melian masa kecil yang disampaikan oleh anaknya.
"Apa iya, Mak ...? Cerita apa saja, Mak?" tanya Melian yang tentu juga ingin tahu cerita dari ibunya Irul.
"Banyak .... Yang setiap kali ngantar susu ke tempatnya Nonik Melian yang waktu dirawat Mbak Juminem ..., itu kan juga Irul .... Rumahnya di desa, sangat jauh ...." kata ibunya Irul lagi.
"Saya tidak tahu, Mak .... Belum ingat ...." sahut Melian.
"Iya .... Nonik Melian masih bayi .... Pasti belum ingat." tambah ibu itu.
__ADS_1
"Terus ..., cerita apa lagi, Mak?" tanya Melian lagi, yang tentu ingin ngerti tentang Mas Irul yang selalu membantunya.
"Lha, waktu dikabarkan rumah Nik Melian, rumah Mas Jamil itu kebakaran, Irul yang disuruh menyaksikan oleh Babah Ho, engkongnya Nik Melian .... Irul langsung pingsan .... Karena ngertinya, pasti Mas Jamil sekeluarga ikut terbakar ..., termasuk Nik Melian .... Untunglah ternyata Mas Jamil sanggup menyelamatkan keluarganya .... Allah masih meridhoi ...." tanpa terasa ibu itu meneteskan air mata, menangis mengenang cerita kebakaran yang menghanguskan seluruh rumah Jamil.
"Gitu, ya, Mak ...? Mas Irul ini orang baik, kok .... Sampai hafal dengan semua keluarga engkong .... Sampai ikut dengan penderitaan yang kami alami ...." kata Melian yang tentu juga sedih jika mendengar cerita keluarganya.
"Iya .... Sayangnya satu .... Irul ini belum mau menikah .... Joko kasep .... Ora payu rabi .... Sudah, itu tok yang saya belum bisa nerima ...." kata ibunya Irul yang tentu jengkel dengan anaknya yang belum menikah.
"Ooo .... Padahal Mas Irul sudah punya pacar yang cantik lho, Mak .... Hehe ...." Melian sudah mulai bisa tertawa. Mungkin tenaganya sudah mulai pulih.
"Apa iya ...?! Yang benar, Nik ...?! Cantiknya seperti Nonik Melian ini ...?!" ibunya Irul sangat bungah mendengar kata-kata Melian tersebut.
"Walah ..., lebih canti dari saya, Mak ...." jawab Melian.
"Yang benar, Rul ..., kamu sudah punya calon?" tanya ibunya pada Irul.
"Halah .... Melian ngarang ...!" sahut Irul yang tidak mau dibilang sudah punya pacar.
"Lho, piye to ...? Yang benar yang mana ini ...?!" ibunya Irul jadi bingung. Tengok Melian tersenyum, tengok Irul juga tersenyum.
"Yang benar ..., Mas Irul sudah punya pacar, Mak .... Namanya Cik Indra .... Orangnya cantik, kerjanya pegawai bank, di Semarang ...." kata Melian menjelaskan lebih detil.
"Iya, Rul? Katanya kalau sudah dapat jodoh mau dilihatkan ke Mak-e sama Pak-e .... Lha kok nggak diajak kemari .... Kapan mau ditemukan sama Mak-e dan Pak-e ...? Cepat diajak kemari, besok saya lamarkan, langsung ijab khabul .... Wis pokoke langsung tak ramek-ramekke ...! Yo ..., cepet, yo ...!" ibunya langsung mendesak.
"Mak-e ki ngomong apa ...? Senangnya kok bikin perkara yang tidak karuan. Itu semua karangan Melian .... Presis Babah Ho, senengnya macok-macokke ...." sergah Irul, karena memang belum pernah ada kata-kata ikatan dengan Cik Indra. Tentu khawatir kalau Cik Indra kecewa dengan keadaannya, orang desa yang tidak punya apa-apa. Jauh berbeda dengan keadaan Cik Indra yang cantik dengan pakaian yang seba bagus, kerja di kota di tempat yang enak. Pasti tidak mungkin baginya untuk mengharap Cik Indra menerima kanyataan hidup seperti Irul ini. Itu pemikiran Irul.
"Cik Indra seneng sama Mas Irul .... Bener ...! Kalau di rumah kost, pasti selalu menanyakan Mas Irul ...." kata Melian yang memang melihat kenyataan kalau Cik Indra mendekati Mas Irul.
Dalam hati, Irul pasti senang bisa mendapat jodoh seperti Cik Indra. Ibaratnya Irul sudah mencapai surga. Seperti petuah yang disampaikan para kyai, nanti di surga, kita akan dilayani oleh bidadari. Alangkah bahagianya Irul jika nanti akan dilayani oleh bidadari Cik Indra.
Namun satu hal yang masih dirahasiakan oleh Irul adalah membawa amanah yang disampaikan oleh Babah Ho selama ia ikut dengannya, yaitu menjaga keluarganya sampai mati. Kini satu-satunya keluarga Babah Ho yang masih ada adalah Melian. Maka Irul akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi penjaga Melian.
__ADS_1
Makanya, saat mendengar berita Melian hilang, bukan hanya Juminem yang sedih. Tetapi Irul menangis setiap malam. Hanya doa dengan linangan air mata yang selalu ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa, agar Melian bisa ditemukan. Mungkin saat ini, kasih sayang Irul kepada Melian lebih besar daripada harapannya untuk mendapatkan Cik Indra.
Itulah beratnya menjalankan amanah dari orang yang sudah tidak ada lagi.