GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 250: SAMPAI JAKARTA


__ADS_3

    Seperti yang sudah dijanjikan, bahwa pada saat wisuda nanti, orang tua Melian bersama Irul, akan datang ke Jakarta untuk menyaksikan Melian diwisuda.


    Hari Minggu sore, Jamil bersama Juminem dan Irul, sudah berangkat dari Pati menuju Jakarta. Jamil bersama Juminem dan Irul, mengendarai kendaraan sendiri, mengendarai mobilnya Jamil. Tentu nanti menyetirnya akan bergantian antara Jamil dan Irul. Mereka berangkat menuju Jakarta melintasi Pantura. Tentu perjalanan dari Pati menuju Jakarta membutuhkan waktu yang sangat lama. Beruntunglah waktu itu sudah ada jalan tol yang tentu akan memperlancar perjalanan.


    Jamil, Irul dan Juminem berangkat ke Jakarta, menuju ke tempat Melian berada, yaitu di Kampung Transformer, seperti yang sudah dipesankan oleh Melian. Namun menyetir ke Jakarta ini adalah pengalaman yang pertama bagi Irul maupun Jamil. Tentu untuk menyetir mobil melintasi Jalan Pantura menuju Jakarta, mereka selalu waspada dan hati-hati. Ya tentu karena mereka baru pertama kali membawa mobilnya sendiri dengan menyetir sendiri ke Jakarta.


    Saat Jamil menyetir, Irul yang berkali-kali menelepon Melian meminta petunjuk arah jalan, agar tidak kesasar. Demikian sebaliknya, jika yang menyetir Irul, maka Jamil pun berkali-kali menelepon Melian untuk meminta petunjuk jalan. Tentunya agar bisa sampai di tempat Melian dengan tidak tersasar.


    Ya, memang pengalaman ke Jakarta yang belum pernah dilakukan oleh seseorang, akan menyebabkan dia bingung dengan jalan-jalan yang sangat bagus, sangat megah, sangat luas, tetapi jalannya juga sangat banyak jumlahnya. Itulah sebabnya, Jamil maupun Irul selalu komunikasi dengan Melian. Maka Irul, Jamil dan Juminem tidak tersasar di jalanannya.


    Hari masih terlalu pagi. Bahkan sebelum matahari terbit, mereka sudah sampai di kampung yang dinamakan dengan sebutan Kampung Transformer. Ya, kampung yang dibangun oleh Melian bersama dengan teman-teman volunteer dari perguruan tinggi lainnya, yang pernah mendapatkan penghargaan, bahkan Melian pernah masuk dalam berita-berita televisi.


    Pagi itu, kebetulan yang menyetir adalah Irul. Ia langsung menghentikan kendaraan di lapangan yang biasa digunakan untuk parkir di Kampung Transformer. Pasti meski masih pagi, di tempat ia berhenti, sudah ada beberapa orang yang mendorong gerobak yang sudah penuh dengan barang-barang rongsokan. Irul pun yakin, inilah tempatnya. Tempat Melian membangun perkampungan kumuh milik para pemulung, menjadi sebuah perkampungan yang tertata dan menarik.


    Kemudian, setelah menghentikan mobilnya, dan turun dari mobil itu. Demikian juga Jamil yang ikut keluar, untuk meluruskan punggungnya. Menggeliatkan badan.


    Lantas Irul menelepon Melian. Namun sayang, beberapa kali ditelepon, HP itu tidak diangkat.


    "Mungkin Melian masih tertidur ...." begitu kata Irul yang tidak pernah marah pada Melian.


    Namun sebentar kemudian, HP Jamil berbunyi. Melian menghubungi bapaknya.


    "Halo ..., Pak .... Pak-e sudah sampai mana?" tanya Melian saat menelepon bapaknya.


    "Walah ..., Nduk ..... Ini saya sudah sampai di tempat parkiran .... Ini lho, yang di depan ada lapangan, terus ada gerbang tulisannya Kampung Transformer." jawab Jamil yang sudah keluar dari mobilnya dan sudah sempat menyaksikan lingkungan itu.


    "Iya, Mel .... Ini sudah sampai sampai di tempat parkiran yang ada di depan .... Ini ada orang-orang pada bawa gerobak rongsokan ...." Irul ikut menyaut di HP Pak Jamil.


    "Tolong, Ndik .... Kamu keluar sebentar, saya belum tahu tempatnya." kata Jamil yang menelepon Melian.


    "Oh, iya, Pak .... Sebentar, Pak .... Pak-e sama Mak-e dan Mas Irul di situ dulu. Saya akan segera ke sana, akan menyusul. Pak-e sama Mak-e diam di situ dulu .... Sebentar lagi Melian akan sampai situ."


    "Ya ..., ya ..., Nduk .... Saya tunggu, Nduk ...." begitu sahut Jamil yang kemudian mematikan HP menunggu anaknya.


    "Mau ketemu siapa, Pak ...?" tiba-tiba ada seorang pemulung setengah baya yang menghampiri Jamil dan Irul, bertanya kepadanya.

__ADS_1


    "Eh, anu .... Mau ketemu Melian ...." jawab Jamil yang kaget didatangi pemulung itu.


    "Oo .... Neng Melian ...? Dia tinggal di rumah antik .... Mari saya antar ke sana ...." kata pemulung itu, yang ternyata sangat ramah.


    "O, ya .... Terima kasih, Pak ...." sahut Jamil, yang kemudian menurunkan tas dan koper dari dalam mobil, serta mengajak Kuminem juga turun dari mobil.


    Namun belum sempat pemulung itu mengantarkan tamunya, tidak lama kemudian sudah Melian datang ke tempat parkiran itu juga.


    "Lhah, itu Neng Melian datang ...." kata pemulung itu sambil menunjuk ke arah Melian.


    "Oh, iya .... Melian ...!!" Irul langsung berteriak memanggil Melian.


    "Mas Irul .... Pak-e .... Mak-e ...." begitu juga Melian yang langsung berteriak saat melihat Irul  dan orang tuanya. Kemudian Melian memeluk Irul. Tentu yang paling duluan ditemui. Selanjutnya juga memeluk ibunya dan bapaknya.


    "Tamunya Neng Melian, ya ...?" tanya pemulung itu.


    "Iya, Pak Man .... Terima kasih .... Ini orang tua saya, Pak Man .... Besok Selasa mau ikut hadir di wisudanya Melian.


    "Ooo .... Ini orang tua Neng Melian, dari desa?" kaya Pak Man yang tentu tersenyum. Lalu menyalami bapak ibunya Melian serta Iru.


    "Ah, biasa saja ...." kata Pak Man.


    "Ayo ..., ayo ..., ayo .... Kita masuk ke tempat singgah dulu." ajak Melian pada orang tuanya. Tentu Jamil, Juminem dan Irul langsung mengikut. Demikian juga Pak Man yang menyeret gerobaknya, ikut jalan bersama.


    "Walah, Nduk .... Ini kampung yang kamu bangun itu to, Nduk .... Lah kok besar sekali, Nduk ...." kata Jamil yang heran dan takjub melihat kampung yang cukup besar itu, dengan bangunan-bangunan yang antik dan unik tetapi estetik, mempunyai jiwa seni yang bagus dan tertata rapi.


    "Bukan saya yang membangun, Pak .... Tapi Pak Man ini, bersama dengan warga sini yang sudah membuat kampung ini jadi bagus." kata Melian yang tentu tidak mau dikatakan sebagai pembangun.


    "Tapi idenya dari Neng Melian .... Hahaha ...." Pak Man Menyaut.


    "Walah ..., Nduk .... Ini toh yang namanya Kampung Transformer yang kemarin sempat masuk TV itu? Kampung yang memberi kamu hadiah itu." tanya Juminem pada anaknya.


    "Bukan hadiah, Mak .... Tapi penghargaan ...." sahut Melian.


    "Sama saja to, Nduk ...." bantah Juminem.

__ADS_1


    "Wah .... Bagus sekali, Mel ...." kata Irul yang tentu bangga dengan Melian yang sudah membangun Kampung Transformer itu.


    "Iya, Mas Irul .... Ini kampung yang kami bangun bersama teman-teman, semua teman-teman itu mahasiswa-mahasiswa yang menjadi volunteer yang rela bekerja sosial untuk membangun dan mengembangkan kampung ini. Tapi yang paling berperan ya tentu warga kampung sini yang mau diajak maju. Bagaimana mas Irul? Bagus tidak?" tanya Melian pada Irul, yang tentu sudah menggandeng tangannya Irul.


    "Bagus banget, Melian .... Pokoknya ini kalau menurut saya, kampung ini mestinya jadi tujuan wisata kalau bepergian ke Jakarta. Melian, lihat bangunan-bangunannya saja sangat antik, sangat unik, punya jiwa seni .... Nah, apalagi ini berada di tepi sungai yang katanya urat nadinya Jakarta. Katanya sungai ini selalu banjir. Tapi kenyataannya ini justru sungainya kelihatan bagus, kelihatan bersih, kelihatan menarik. Wah ..., ini mestinya di sungai ini ada perahu-perahu kecil itu, Melian. Nah ..., untuk wisata air." Irul yang tentu juga memberi masukan kepada Melian.


    "Iya, ya, Mas Irul .... Untuk menambah daya tarik wisata di sini ya, Mas .... Wah ..., betul juga ya, Mas Irul .... ini kalau misalnya dibuat wisata air, ada perahu-perahu kecil itu, ada perahu yang dari karet itu, atau dari feber yang biasanya bentuknya ada bebek, ada angsa, atau ada binatang-binatang itu, yang bagus-bagus itu. pasti lebih ramai .... Iya, Mas Irul .... Nanti akan saya bicarakan dengan teman-teman untuk dibuat wisata air. Ya ..., semoga saja nanti teman-teman bisa mengadakan perahu-perahu itu, dan pasti anak-anak akan senang untuk berwisata di Sungai Ciliwung yang bagus ini." begitu kata Melian yang tentu juga senang ketika menerima ide dari Irul dan itu tentunya menjadi sebuah rencana wisata yang sangat menarik.


    Mereka pun terus berjalan perlahan, sambil menyaksikan keindahan kampung itu. Meski suasana msih remang-remang, tetapi kampung itu sudah sibuk dengan aktivitas para penduduknya.


    "Nah ..., sekarang ayo masuk. Pak-e, Mak-e, Mas Irul .... Lihat ke tempat singgah Melian. Di bangunan unik ini .... Tapi jangan kaget, di dalam ada teman-teman Melian. Mereka juga mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan sosial. Tidak usah khawatir, kami di sini semuanya akrab. Kami di sini semuanya baik." kata Melian yang sudah mengajak masuk orang tuanya ke dalam rumah antik itu.


    "Iya .... Percaya, Nduk ...." sahut juminem yang tentu senang dengan anaknya yang sudah bisa membangun kemajuan dari kampung kumuh, kampungnya para pemulung menjadi sebuah kampung yang sangat bagus dan menarik.


    Kemudian mereka berempat masuk ke rumah antik yang dijadikan sebagai tempat singgah para volunteer di Kampung Transformer itu. Melian membawakan tas ibunya, lantas diletakkan di tempat singgahnya.


    Irul terus memandangi bangunan itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, menyaksikan keindahan bangunan rumah antik itu, bangunan yang terbuat dari barang-barang bekas, namun terlihat unik. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum.


     Juminem maupun Jamil yang menyaksikan keindahan kampung dan bangunan yang dihuni oleh para pemulung itu, tentu tidak percaya dengan cerita anaknya.


    "Ini bener, Nduk ..., kalau yang tinggal di sini ini para pemulung?" tanya Juminem yang tentu ingin tahu kebenaran apa yang diceritakan oleh anaknya.


    "Ya benar toh, Mak .... Memang ini namanya Kampung Transformer. Dulunya tempat ini tuh kumuh sekali, Pak, Mak .... Jadi para pemulung itu hanya tinggal di gubuk-gubuk yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Wah itu tentu sangat jelek itu tentu sangat tidak baik Pak, Mak .... Nah ..., waktu itulah kami berpikiran untuk mengubah gubuk gubuk para pemulung itu menjadi bangunan yang bagus, bangunan yang layak huni, dan tentu bangunan yang sehat untuk ditempati." begitu kata Melian menjawab apa yang ditanyakan oleh ibunya.


    "Walah ..., bangunan seperti ini habis duit berapa toh, Nduk? Pasti butuh biaya banyak sekali. Terus uangnya siapa? Uang dari mana?" tentu Juminem masih membayangkan kalau membangun perkampungan para pemulung ini, mengubah perkampungan menjadi bangunan-bangunan yang bagus, pasti butuh uang banyak.


    "Lha, kalau bangunan yang unik ini, Mel ..., apa memang untuk rumah kamu?" tanya Irul yang tentu ingin tahu.


    "Hehe .... Bukan, Mas .... Ini hanya rumah tempat singgah para volunteer, yang konon bangunan ini sebenarnya dipakai untuk tempat peristirahatan orang-orang yang ingin berteduh. Namun para volunteer akhirnya mengubah bangunan itu menjadi sebuah bangunan yang antik yang terbuat dari bahan barang-barang bekas hasil pemulungan dari para pemulung di Kampung Transformer ini dari barang bekas yang ditumpuk-tumpuk, yang didesain dengan sangat unik. Ya, tentu karena para volunteer itu diantaranya terdapat mahasiswa-mahasiswa dari kesenian pastinya mereka mempunyai ide yang bagus dan nyeni. Yah ..., itulah kreativitas dari para seniman yang memang sangat indah dan menarik. Karena teman-teman volunteer itu banyak yang berasal dari tempat yang jauh, maka mereka kemudian menginap di sini. Inilah yang akhirnya tempat ini menjadi tempat singgah teman-teman. Siapapun yang mau tidur di sini dipersilahkan. Bahkan kalau ada turis yang ingin menginap juga boleh." jelas Melian kepada keluaganya.


    "Waah ...., kamu hebat, Mel ...." kata Irul yang memujinya.


    "Oh, ya .... Pak-e, Mak-e, Mas Irul .... Kalau mau istirahat dulu di kamar itu, silahkan .... Tapi mandinya gantian. Nanti sebentar lagi kalau cafenya sudah buka, kita sarapan di sana." kata Melian yang menunjukkan tempat-tempatnya.


    Mereka pun langsung pada gantian ke kamar mandi. Dan pastinya bagi Irul, setelah sarapan. ia langsung istirahat sebentar. Karena semalaman ia tidak tidur, tentu karena menyetir dan juga menemani Pak Jamil untuk melihat jalan. Ia benar-benar kelelahan dan mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2