
Begitu bangun pagi, Melian langsung berkeliling ke Kampung Transformer. Ia mengamati seluruh kampung yang kini menjadi ikon pariwisata tersebut. Tempat yang banyak dikunjungi orang, untuk menyaksikan keindahan perubahan dari kampung kumuh menjadi kampung yang artistik. Indah dan menarik. Bahkan setiap hari, sekitar seribu orang berdatangan ke tempat itu. Setidaknya hanya jalan-jalan. Tetapi banyak juga yang menikmati wisata kuliner pinggir sungai. Dan tentunya, juga ada yang berbelanja barang-barang kerajinan yang terbuat dari rongsokan yang sudah didaur ulang.
Kata-kata Irul semalam saat ditelepon, "Mbok itu, karya tulisnya Melian menulis kampung kumuh yang kamu bina saja .... Kan menarik ...." Kata-kata Irul itu rupanya sudah membius pikiran Melian. Ya, kenapa tidak menulis yang saat ini sudah dihadapi saja? Otak Melian yang brilian langsung tercuat. Makanya, begitu beranjak dari tempat tidurnya, Melian langsung keluar, dan jalan-jalan mengelilingi kampung yang sudah dirombaknya.
"Pagi, Cik Melian ...." sapa seorang anak perempuan berkisaran seputluh tahun.
"Pagi, Sayang .... Mau ke mana?" sahut Melian yang balas bertanya.
"Mau cari inspirasi ...." jawab anak itu.
Melian tersenyum. Tentu karena mendengar kata-kata anak itu, mencari inspirasi. Yah, sama dengan dirinya yang juga akan mencari inspirasi. Tetapi siapa yang mengajari anak sekecil itu dengan bahasa mencari inspirasi?
"Inspirasi apa?" tanya Melian penasaran.
"Untuk membuat pusisi." jawab anak kecil itu.
"Ooo ...." Melian tersenyum. Senang menyaksikan niat belajar bocah itu.
Ya, para sukarelawan yang masuk ke Kampung Transformer itu memang dari berbagai mahasiswa yang berlatar belakang macam-macam disiplin ilmu. Ada yang dari teknik, ada yang dari fisip, dan juga banyak dari kesenian. Tidak hanya seni arsitektur atau desain interior eksterior, seni rupa, tetapi juga seni drama dan seni musik. Mereka bebas mengajarkan konsep-konsep hidupnya sesuai disiplin ilmu masing-masing. Yang penting ada harmonisasi dalam kehidupan di kampung itu.
"Cik Melian mau ke mana?" gadis kecil itu balik bertanya.
"Cari inspirasi ...." jawab Melian yang tentu tersenyum meyakinkan pada gadis itu.
"Sama .... Pasti Cik Melian dapat tugas dari dosennya." kata anak kecil itu.
"Iya .... Sudah, sana silahkan cari inspirasi. Duduk saja di pinggir sungai, pasti nanti ada ide." kata Melian yang kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Cik Melian ...." warga lain yang ditemuinya juga memanggil menyapa.
"Ya .... Semangat ya ...." jawab Melian.
"Pagi, Cik ...." salam dari warga yang lain.
"Pagi, Pak ...." jawab Melian.
Ya, meski pagi belum sempurna, warga Kampung Transformer ini sudah pada bangun. Dan tentunya sudah sibuk dengan profesinya. Yaitu sebagai pemulung. Mereka melakukan pekerjaannnya jauh sebelum matahari terbit. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong gang, memungut barang-barang bekas yang sudah dibuang oleh orang lain. Mereka mengais rezeki dari tempat sampah. Tidak seperti para pejabat yang kerjanya enak. Duduk di kursi empuk bayarannya setumpuk.
Namun kini, setelah kampung mereka yang dulunya kumuh, dan disulap oleh para relawan yang bekerja bersama warga kumuh itu, menjadi sebuah kampung yang banyak dikunjungi wisatawan, bukannya Melian mengajak warga ini menjadi santai, ternyata Melian justru mengajak mereka semakin rajin dalam mengais rezeki. Tentunya, hasilnya juga untuk mereka semua.
Melian mulai dapat ide. Melian mulai dapat inspirasi untuk dituangkan dalam tulisannya, dalam skripsi. Melian langsung mengamati seluruh aktivitas warga. Kemudian langsung diketik dalam komputernya. Sebuah penelitian kualitatif yang mengungkap masalah ekonomi rakyat kecil. Kehidupan perekonomian di kampung pemulung. Siang malam Melian menuangkan hasil pengamatannya tersebut. Tiga bulan lamanya Melian menuangkan hasil observasi di kampung pemulung itu. Yang tentu didukung dengan data-data lapangan yang benar-benar valid.
__ADS_1
*******
Pagi itu, sekitar jam sembilan, di ruang sidang ujian skripsi Program Studi Manajemen Bisnis, Melian menghadapi para dosen penguji. Tiga orang penguji yang semuanya laki-laki. Para penguji ini mengenakan jas dan berdasi. Terlihat sangar dan menakutkan. Di meja panjang, para penguji ini duduk berjejer, terlihat serius, membuka satu persatu halaman demi halaman skripsi milik Melian. Ketiganya mengenakan kacamata baca. Pasti ingin mencari celah kelemahan skripsi mahasiswanya.
Melian yang bersiap di meja tersendiri, mengenakan jas almamater warna biru muda. Dalamnya mengenakan baju putih lengan panjang, dan juga mengenakan dasi. Ia bersiap memaparkan powerpoint untuk menjelaskan skripsinya.
"Saudara Melian, biasanya dalam ujian skripsi, kami memang melaksanakan secara tertutup. Namun karena permintaan dari banyak mahasiswa yang ingin menyaksikan pemaparan Anda, dan juga seizin dari Ketua Program Studi, maka kami ingin membuka sidang pendadaran ujian skripsi ini secara terbuka. Apakah saudara Melian bisa menerimanya?" tanya pimpinan sidang ujian skripsi itu.
"Siap, saya bisa menerimanya." jawab Melian yang mau tidak mau harus siap untuk menerima. Apalagi saat itu ruangan sudah penuh sesak para mahasiswa yang ingin menyaksikan Melian ujian skripsi.
"Baiklah saudara Melian, jika Anda tidak keberatan, silakan memulai paparan ...." kata pimpinan juri, dari tiga orang penguji tersebut.
"Terima kasih, Pak .... Dewan penguji skripsi yang terhormat, perkenalkan, nama saya Melian, Mahasiswa Manajemen Bisnis. Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan skripsi saya dengan judul: Manajemen Ekonomi Kerakyatan Dalam Perspektif Kelompok Warga Pemulung di Bantaran Sungai Ciliwung." begitu kata Melian membuka perkataannya, sambil menunjukkan powerpoint di layar LCD.
Selanjutnya, Melian menampilkan paparan ke duanya. Sebuah foto perkampungan kumuh, dengan gubug-gubug dari kardus, serta terlihat anak-anak warga pemulung dengan pakaian compang-camping yang sangat memprihatinkan.
"Ini adalah permasalahan serius bagi bangsa Indonesia. Sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada, pejabat yang peduli dengan masalah ini. Padahal Undang-undang Dasar kita, mengamanatkan untuk menyejahterakan bangsa. Jika terjadi semacam ini, di mana letak kesalahannya? Apakah pemerintah, atau para pemulung yang memang pantas untuk tinggal di tempat kumuh semacam ini?" kata Melian yang memaparkan permasalahannya.
Tiga orang dosen itu bisik-bisik, tentu mulai mengkritisi skripsi Melian.
"Menurut George R. Terry, manajemen merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaaan sebuah perusahaan. Baik itu perusahaan besar, apalagi usaha kecil yang masuk dalam kelompok mikro dan ekonomi lemah. Oleh karena itu perlu diperhatikan apa fungsi dari manajemen tersebut. Selanjutnya Terry mengungkapkan fungsi dari manajemen yang dikenal sebagai POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Dalam penelitan saya tentang Manajemen Ekonomi Kerakyatan Dalam Perspektif Kelompok Warga Pemulung di Bantaran Sungai Ciliwung, saya akan mengungkapkan, bagaimana jika para pemulung itu menerapkan teori manajemen dalam mengelola bisnisnya." lanjut Melian yang mulai mengungkapkan kegiatan para pemulung.
"Ini semua adalah hasil dari sebuah proses manajemen. Bukan sekedar menghasilkan keuntungan bisnis yang berupa profit uang, tetapi yang lebih tinggi nilainya adalah benefit dari sebuah kampung yang menjadi terkenal." kata Melian yang mengakhiri paparannya.
"Plok ..., plok ..., plok ...." tepuk tangan meriah terdengar dalam ruangan sidang pendadaran tersebut. Tidak hanya tiga orang dosen penguji saja, tetapi ternyata di belakang dosen penguji itu ada banyak dosen yang lain yang ikut menyaksikan paparan Melian. Termasuk sejumlah mahasiswa yang ingin tahu hasil penelitian Melian. Tentu semua yang ada dalam ruangan itu mengapresiasi paparan Melian yang sangat luar biasa. Paparan penelitian yang sanggup menyulap kampung kumuh menjadi Kampung Transformer.
"Terima kasih, Saudara Melian. Ini adalah paparan yang luar biasa. Kami bertiga sangat bangga punya mahasiswa seperti Anda. Tidak hanya dewan penguji saja, tapi jika menoleh ke belakang kami, ternyata dosen satu jurusan, termasuk Bapak Kepala Prodi juga hadir menyaksikan presentasi Anda." kata pimpinan sidang pendadaran itu, yang tentu sangat bangga dengan Melian.
"Saudara Melian, sebenarnya tidak ada hal yang ingin kami tanyakan. Skripsi Anda ini sangat sempurna. Luar biasa. Namun saya tetap akan bertanya. Apa sebenarnya yang paling sulit dalam memanaj warga pemulung di sana?" tanya penguji yang satunya.
"Terima kasih, Bapak .... Saya tidak akan menjawab pertanyaan Bapak dengan pikiran saya. Kebetulan ada warga Kampung Transformer yang dari tadi pagi ikut menemani saya. Dan beliau merupakan salah satu pengelola kampung itu. Biarlah jawaban beliau ini yang mewakili warga pemulung secara umum. Silahkan Pak Bejo, mohon pertanyaan Bapak Penguji ini dijelaskan." kata Melian yang langsung meminta laki-laki setengah baya yang mengenakan pakaian rapi meski tidak baru, bahkan juga mengenakan sepatu meski tidak kinclong, diminta untuk menjawab pertanyaan sang dosen.
"Maaf, Bapak-bapak .... Mohon izin memberi jawaban. Maaf saya hanya seorang pemulung, bahasanya tidak karuan." kata Pak Bejo, salah satu pemulung yang sudah merasakan perubahan dalam hidupnya.
"Iya, silahkan maju ke depan sini, Pak. Biar para pengunjung sidang mendengar semuanya." kata dosen yang mengajukan pertanyaan.
"Ke mari, Pak .... Sini, dekat saya." kata Melian agar laki-laki itu mendekat ke dirinya.
"Silahkan, Pak .... Apa sulitnya mengelola pemulung?" tanya dosen itu menandaskan kepada Pak Bejo.
"Iya, Pak .... Kenalkan nama saya Bejo, pemulung di bantaran Sungai Ciliwung. Jadi terus terang, Pak .... Kami ini orang bodoh. Pikiran kami terlalu sederhana, yang penting bisa cari rezeki, bisa makan. Sudah, itu kehidupan kami. Makanya kami berterima kasih kepada Neng Melian, karena sudah mengubah hidup kami. Kami ini orang miskin yang bodoh, karena tidak bersekolah. Kami hampir semua tidak bisa baca tulis. Karena kami tidak ada yang bersekolah. Bahkan anak-anak kami juga tidak pada bersekolah. Pokoknya kami ini bodoh. Karena bodoh, maka kami tidak bisa apa-apa. Bisanya hanya cari barang-barang rongsok. Terus terang kami sangat berterima kasih kepada Melian dan teman-teman mahasiswa yang lain, yang sudah membantu kami, membangkitkan semangat hidup kami, dan juga mengajari kami untuk berwira usaha. Terutama anak-anak kami sekarang bisa bersekolah, walau hanya di Gubug Pasinaon. Yang penting bisa membaca dan menulis. Itu sudah menghidupkan kami." kata Pak Bejo.
__ADS_1
"Plok ..., plok ..., plok ...." tepuk tangan meriah kembali terdengar dalam ruangan sidang pendadaran tersebut. Kali ini memberi apresiasi kepada Pak Bejo, seorang pemulung sebagai nara sumber yang langsung ikut terlibat dalam sidang pendadaran ujian skripsi Melian.
Dan selanjutnya, ternyata para dosen yang lain ikut mengajukan pertanyaan. Bahkan juga para mahasiswa. Dan yang paling tidak disangka oleh Melian, ternyata Putri juga hadir menyaksikan ujian skripsi Melian. Memang putri tidak terlihat, karena ruangan itu tidak muat, maka yang tidak masuk hanya mendengarkan dari luar ruangan. Dan saat tanya jawab bebas itulah, tiba-tiba Putri muncul memberi apresiasi kepada Melian.
"Baiklah para hadirin ..., sidang terbuka ujian skripsi ini akan kami akhiri. Selanjutnya jika nanti masih ada yang ingin berbincang secara pribadi maupun institusi, mohon setelah sidang skripsi ini saya tutup." begitu kata-kata dosen yang siang itu menjadi pimpinan sidang. Lantas lanjutnya.
"Dengan mempertimbangkan hasil tulisan, hasil paparan, dan hasil wawancara, maka pada hari ini, siang ini, dalam sidang terbuka ..., mestinya tertutup ..., ujian skripsi atas nama mahasiswa Melian, jurusan Manajemen Bisnis, dinyatakan lulus dengan nilai sangat sempurna. A plus ...!" kata dosen pemimpin sidang tersebut.
"Horeeee .......!!!"
"Plok ..., plok ..., plok ...!!"
Suara riuh gembira, serta tepuk tangan meriah terdengar dalam ruangan sidang pendadaran yang kali ini benar-benar penuh sesak oleh pengunjung. Dan mereka langsung berhamburan memberi ucapan selamat kepada Melian.
Begitu mendengar dinyatakan lulus, Melian langsung merangkul dan memeluk Pak Bejo, tokoh pemulung Ciliwung. Tentu Melian sangat berterima kasih pada Pak Bejo yang pastinya sudah membantu segalanya.
Para dosen langsung berdiri, menghampiri Melian, memberi ucapan selamat. Dan tentu juga menyalami Pak Bejo yang masih ada disamping Melian. Lantas teman-temannya juga menyalami Melian. Dan saat Putri memberi ucapan selamat, Melian langsung memeluk dan mencium sahabatnya itu.
"Terima kasih, Putri .... Kamu sadah banyak menyuport saya ...." kata Melian kepada Putri.
Para dosen kaget saat keluar ruang sidang. Terutama Ketua Prodi dan tiga orang dosen penguji.
"Melian ...!!!" teriak Ketua Prodi dengan suara lantang, yang tentu memanggil Melian.
"Saya, Pak ...." Melian langsung berlari menghampiri Ketua Prodi itu yang seakan kurang berkenan dengan Melian.
"Ini apa-apaan ...?!!" tanya Ketua Prodi dan para dosen, sambil menunjuk ke arah beberapa meja yang penuh dengan aneka olahan makanan. Tentu mereka mengira kalau makanan-makanan itu adalah suguhan dari Melian.
"Saya tidak tahu, Pak .... Benar ..., saya tidak membawa ini ...." jawab Melian yang pasti ketakutan, kalau dikira subagai sesuatu yang berbau suap.
"Maaf, Pak .... Ini semua ide dan gagasan dari warga Kampung Transformer. Bukan Melian yang membawa ini. Tapi kami, yang tentu sangat berterima kasih karena sudah diangkat menjadi lebih sejahtera oleh Melian. Sekali lagi maafkan kami, Pak ...." tiba-tiba Pak Bejo yang maju menyampaikan permohonan maaf kepada dosen-dosen di situ.
"Jadi ..., ini hasil olahan warga Kampung Transformer ...?" tanya Ketua Prodi itu.
"Betul, Pak .... Kami membawa kemari secara tulus ikhlas sebagai ucapan rasa syukur kami .... Silakan dicicipi, Pak ...." kata Pak Bejo yang sangat sopan.
"Baiklah, Pak .... Terima kasih, ya .... Semoga rezeki Bapak dan seluruh warga di Kampung Transformer tambah lancar dan usahanya semakin maju. Ayo, kita makan bersama-sama ...!" kata Ketua Prodi itu yang langsung mengajak semua orang yang ada di situ untuk menikmati hasil olahan para pemulung.
Melian tersenyum senang. Tentu langsung menggandeng tangan Pak Bejo.
"Terima kasih, Pak Bejo ...."
__ADS_1