GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 43: MENYIBAK MISTERI


__ADS_3

    Malam itu, Sang Nenek mengajak berbincang Jamil dan yang tentu juga Juminem. Sembari memangku Melian yang rasanya tidak ingin dilepaskannya.


    "Saya mau tanya .... Bayi ini sebenarnya anak kalian apa bukan?" tanya sang nenek yang terdengar angker menakutkan.


    "Bukan, Nek .... Kami hanya momong ...." jawab Juminem langsung apa adanya, jujur tanpa ditutup-tutupi.


    "Lantas, siapa orang tua anak ini?" tanya sang nenek itu lagi.


    "Anak ini sudah tidak punya orang tua. Katanya ayahnya meninggal ditembak polisi saat berdemo. Ibunya juga sudah meninggal. Bahkan kami ikut ke kubur saat pemakaman ibunya. Orang-orang memanggil ibunya Melian dengan panggilan Cik Lan, begitu Nek ...." jawab Juminem lagi.


    "Kalau kakek dan neneknya masih hidup. Orang memanggilnya Babah Ho. Mereka juragan sembako di Pasar Lasem." Jamil menjelaskan tentang siapa kakek dan neneknya.


    Nenek Oma itu diam. Pandangannya ke atas, terkadang dahinya berkerut, seakan ia sedang mengingat-ingat. Ya, wanita misterius itu pasti punya sesuatu yang dirahasiakan.


    Namun tentunya Jamil juga bingung, kalau mendengar cerita Pak Lurah, atau cerita dari Mas Eko, setiap orang yang datang ingin membeli rumah ini, tidak pernah cocok, tidak pernah diberikan. Tetapi kenapa tiba-tiba rumah ini diberikan kepada Jamil begitu saja, walau saat itu seakan di mata Jamil maupun Juminem, nenek itu mengambil bungkusan uang dalam jumlah yang sangat banyak. Padahal sebenarnya Jamil tidak punya apa-apa. Apakah ini keanehan yang harus selalu dialami oleh dirinya? Jamil tidak bisa berfikir hal-hal yang di luar nalar orang biasa.


    "Rumah kalian saat ini, sebenarnya ada di mana?" tanya sang nenek itu pada Jamil.


    "Kami sudah tidak punya rumah lagi. Kemarin malam, rumah kami terbakar .... Saya tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja api sudah menyala di atap rumah. Saya hanya sempat membangunkan istri dan mengangkat Melian, serta membawa pakaian yang sempat kami ambil. Kami berlari meninggalkan rumah. Seluruh harta benda kami mungkin sudah terbakar. Yang penting saya, istri saya dan anak ini selamat dari amukan api yang membakar rumah." kata Jamil yang menceritakan kisahnya.


    "Hemmm ...." si Nenek Amah memperhatikan cerita Jamil.


    "Beruntung kami ditolong oleh kusir gerobak. Kami disuruh naik gerobak itu, hingga kami tertidur. Tahu-tahu kami sudah berada di teras rumah ini. Saya benar-benar tidak mengira sama sekali, Nek ...." kata Jamil yang tentu dengan rasa agak takut.


    Lagi-lagi, Nenek Amah mengangguk, pertanda bisa menerima cerita Jamil. Sedangkan Juminem hanya mendengarkan saja cerita suaminya. Sementara itu, Melian sudah memejamkan mata di pangkuan sang Nenek Oma.


    "Kamu tahu gelang giok ini?" tiba-tiba sang nenek mengangkat tangan Melian yang sudah tertidur, lantas menunjukkan gelang berwarna hijau itu kebada Jamil dan Juminem.

__ADS_1


    Jamil menggelengkan kepalanya. Pertanda tidak tahu. Memang selama ini Jamil tidak pernah memperhatikan apa-apa yang dikenakan oleh Melian. Kewajibannya hanya bekerja untuk mencari uang agar bisa beli beras dan kebutuhan dapur lainnya. Soal anak, tentu ia pasrah pada Juminem.


    "Iya .... Itu sudah dipakai sejak saya bertemu dengan bayi ini ...." kata Juminem yang mengingat gelang berwarna hijau itu.


    "Ini bukan gelang sembarangan." kata sang nenek.


    Memang, setelah diperhatikan oleh Jamil maupun Juminem, gelang yang dikenakan oleh Melian ini tidak seperti gelang-gelang yang umumnya dipakai anak kampung. Kalau anak-anak kampung mengenakan gelang semacam itu, umumnya adalah gelang plastik yang beli di pinggir pasar dengan harga yang murah. Tetapi gelang yang dipakai oleh Melian itu ternyata bukan gelang plastik seperti yang dipakai oleh anak-anak desa. Awalnya, Juminem juga menganggap kalau gelang itu hanyalah gelang plastik murahan.


    Jamil dan Juminem hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda ia kagum dengan gelang yang melingkar di pergelangan tangan anaknya itu.


    "Ini namanya gelang liong. Yaitu gelang giok yang berukir naga. Tidak setiap orang bisa memakai gelang giok yang berukir naga seperti ini. Hanya seorang titisan yang sanggup dan kuat memakainya. Gelang ini hanya ada satu. Dan orang yang sanggup mengenakan gelang giok berukir naga itu hanya ayah saya. Tetapi pagi itu, saat saya melihat bayi ini mengenakan gelang liong, pasti anak ini ada hubungannya dengan ayah saya." kata Nenek Amah tersebut.


    Nenek itu terdiam sejenak. Pandangannya melambung. Ia mengingat peristiwa lama, yang tentu saat ia masih kecil, saat melihat gelang giok berukir naga itu dikenakan oleh ayahnya.


    "Gelang giok itu sebenarnya menjadi satu dengan liontin bandol kalung. Keduanya dipakai oleh ibu saya. Awalnya belum ada ukiran naga. Hanya berupa batu giok yang halus dan mengkilap. Waktu itu, saat perayaan Sin Cia, semuanya serba meriah, ramai dan menyenangkan. Gelang dan liontin itu mestinya dikenakan ibu saya. Tetapi oleh ibu, gelang yang dipakai itu dilepas dari lengannya, lantas dikenakan ke lengan ayah saya. Sedangkan kalung yang melingkar di leher ibu, dilepas juga dan dikenakan ke leher saya. Ini kalungnya, masih saya pakai dan tidak bisa terlepas dari leher saya. Ya, itu semua sebenarnya hadiah dari leluhur kami, sebagai lambang kemakmuran kampung yang dipimpin oleh ayah saya. Di perayaan Sin Cia kala itu ayah mementaskan barongsai liong, tarian barongsai yang dimeriahkan dengan tarian naga. Ya, naga atau liong dipercaya oleh masyarakat Cina melambangkan kekuatan, martabat, kesuburan, dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Penampilan naga memang terlihat menakutkan dan gagah berani. Namun, ia tetap memiliki watak yang penuh kebajikan. Naga bisa membawa keberuntungan dan kesejahteraan untuk masyarakat.  Itulah sebabnya, ayah saya mengembangkan barongsai liong di sini. Karena saking terkenalnya tarian liong-liong itu, maka daerah ini pun dikenal dengan julukan Kampung Naga, bahkan hingga sekarang." kenang sang nenek itu, mengingat masa kecilnya.


    "Sin Cia kali itu membawa cerita sedih. Perayaan barongsai yang semula ramai, berubah menjadi ajang adu kekuatan. Dan tidak disangka-sangka, ternyata muncul api yang langsung membakar Kampung Naga. Semuanya berlarian tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Namun tidak sedikit warga Kampung Naga yang menjadi korban. Liong-liong ciptaan ayah saya terus berputar mengelilingi rumah ini, melindungi kami. Kala itu saya masih kecil. Saya dibopong ayah untuk menyelamatkan diri. Api terus berkobar. Liong itu pun terus melindungi kami, hingga api padam. Dan saat api padam itulah, liong-liong itu rupanya sudah kehabisan tenaga. Mereka roboh mengelilingi rumah ini. Namun ada yang aneh, saat ayah mengacungkan tangannya, tiba-tiba saja liong-liong itu musnah tanpa bekas, menjadi kepulan asap. Dan kepulan asap dari liong-liong itu langsung terbang dan menyatu dengan gelang giok yang dikenakan ayah dan liontin yang ada di kalung saya. Dan saat itu pula, gelang giok yang ada di pergelangan tangan ayah berubah bentuk menjadi seperti naga. Demikian pula lionting yang ada di leher saya juga ada semacam ukiran naga. Itu kisah terbentuknya gelang giok dan lionting yang berukir naga." cerita Nenek Amah itu yang tentu sangat menegangkan bagi Jamil dan Juminem.


    "Lalu, ibu Nenek bagaimana?" tanya Juminem yang tentu ingin tahu.


    "Yah .... Semua mungkin sudah ditakdirkan sama Yang Maha Kuasa. Ibu saya ikut terbakar dalam perayaan Sin Cia saat itu." kata sang nenek yang tentu langsung bersedih mengenang peristiwa lama tersebut.


    "Maaf, Nek .... Kami ikut bersedih dengan kejadian itu ...." kata Jamil yang tentu sangat bersedih, karena ia ingat rumahnya yang dibakar oleh orang-orang jahat.


    "Terus ..., ayah Nenek sekarang ada di mana?" tanya Juminem lagi.


    "Saya tidak tahu .... Semenjak peristiwa itu, mungkin ayah menjadi frustrasi. Saya dititipkan ke orang lain, ayah saya pergi entah ke mana tidak ada yang tahu. Itulah sebabnya, saat saya melihat anak ini mengenakan gelang giok berukir naga, pasti anak ini ada hubungan erat dengan ayah saya. Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya sudah menemukan saudara saya. Anak ini pasti saudara saya." kata si nenek yang menganggap kalau Melian pasti ada hubungan darah dengannya.

__ADS_1


    "Apakah Nenek ingin mencari tahu keberadaan ayah Nenek?" tanya Jamil.


    "Besok kapan-kapan, tolong saya diantar ke kuburan ibu anak ini .... Atau kalau tidak, saya ingin menemui Babah Ho di Lasem." kata si nenek yang tentu akan meminta bantuan Jamil.


    "Iya, Nek .... Besok Minggu saya libur tidak kerja." kata Jamil menawarkan hari.


    "Jangan besok .... Kampungmu sedang geger .... Lain waktu kalau suasana di kampungmu sudah aman. Sementara waktu kamu jangan bepergian ke luar daerah dulu. Kamu aman di sini." kata si nenek yang menasehati Jamil.


    Tentu Jamil bingung dengan kata-kata sang nenek itu, bagaimana ia tahu keadaan di kampungnya.


    "Nenek mau pulang .... Sana anakmu ditidurkan yang nyenyak. Tolong dijaga baik-baik ...." kata si nenek yang langsung memberikan Melian kepada Juminem.


    "Nenek tidak tidur di sini saja ...? Memang Nenek mau pulang ke mana?" tanya Jamil yang tentu merasa iba dengan nenek itu.


    "Tidak perlu .... Nenek sudah punya rumah sendiri ...." jawab si nenek yang langsung keluar rumah.


    Setelah menidurkan anaknya di kasur, Juminem bergegas keluar, pasti ingin kembali menemui sang nenek.


    "Nenek .... Nenek ...!" JUminem tengak-tengok mencari wanita tua yang sudah semalaman mengobrol dengannya. Tetapi tidak menemukan sang nenek itu.


    "Kang ..., Nenek ke mana?" tanya Juminem pada suaminya.


    "Sudah mau pulang .... Itu baru saja keluar ...." jawab suaminya.


    Juminem pun langsung keluar rumah. Ia tengak-tengok mencari sang nenek. Tetapi nenek itu sudah tidak ada. Sang nenek sudah menghilang.


    "Kang ...! Si Nenek kok sudah tidak ada .... Walah, iki piye leh ...." Juminem bingung mencari si nenek.

__ADS_1


__ADS_2