
Gunung Lasem atau yang disebut dengan Pegunungan Ngargapura merupakan pegunungan yang terdapat di bagian tengah Kabupaten Rembang, membujur mulai dari pegunungan Kapur Utara di bagian selatan hingga ke pesisir pantai utara Laut Jawa. Gunung dengan ketinggian delapan ratus meter dari permukaan laut ini sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masyarakat Lasem menyebut tempat ini dengan nama Gunung Bugel. Konon katanya bentuknya menyerupai bugel kapal yang terbalik.
Tersebutlah seorang tokoh pada masa lampau yang bernama Oei Ing Kiat. Oei Ing Kiat adalah anak dari juru mudi kapal armada Laksamana Cheng Ho. Oei Ing Kiat merupakan saudagar kaya raya beragama Islam yang bermukim di Lasem. Ia sangat baik dan dermawan serta peduli kepada rakyat kecil. Tidak hanya bergaul dengan kelompok orang-orang Tionghoa, tetapi juga akrab dengan masyarakat pribumi. Terutama tokoh-tokoh muslim.
Oei Ing Kiat diangkat menjadi Adipati Lasem pada tahun 1727, bergelar Tumenggung Widyaningrat. Meski keturunan Tionghoa, tapi Oei Ing Kiat mendapatkan dukungan dari penduduk pribumi. Adipati Lasem yang satu ini merupakan tokoh keturunan Tionghoa, namun dia menjadi tokoh muslim di Lasem. Itulah yang membuat rakyat Lasem mendukung perjuangannya. Oei Ing Kiat yang oleh masyarakat Lasem lebih dikenal dengan panggilan Tumenggung Widyaningrat, berhasil memimpin Lasem dengan penuh keadilan, sehingga masyarakatnya merasa sangat diayomi. Oei Ing Kiat merupakan sosok pemimpin dermawan, adil, gigih melawan penjajah dan menjadi seorang muslim yang taat. Ketika memimpin Lasem, adipati yang berjuluk Tumenggung Widyaningrat ini berhasil menyatukan kekuatan antara kaum Tionghoa dengan masyarakat pribumi kala itu.
Semasa hidupnya, Oei Ing Kiat sangat dekat dengan Raden Panji Margono dan Kiai Baidlawi. Mereka membicarakan masalah penjajahan Belanda. Terutama setelah terjadi peristiwa Geger Angke di Batavia, pembakaran daerah pacinan di Batavia oleh Kompeni Belanda pada tahun 1740, banyak imigran Tionghoa yang datang ke Lasem untuk mengungsi. Tumenggung Widyaningrat sudah memperkirakan bahwa serangan Belanda tersebut akan merambat ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena Kompeni Belanda akan mengejar orang-orang Cina yang melarikan diri.
Dan dugaan Tumenggung Widyaningrat itu ternyata benar. Belanda mulai bergerak ke arah timur bagian utara Jawa. Pasukan Kompeni Belanda menyerang kota-kota di Pantai Utara Jawa. Termasuk sampai ke daerah Lasem. Berkobarlah pemberontakan melawan Kompeni Belanda oleh gabungan pasukan Jawa-Tionghoa dari rakyat Lasem. Mereka mengangkat tiga pemimpin pejuang, yaitu Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat atau yang lebih dikenal dengan julukan Tumenggung Widyaningrat, dan Tan Kee Wie. Pasukan pejuang dari Lasem ini dikenal dengan sebutan "Laskar Dampo Awang".
Dampu Awang berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari kata dang dan puhawang yang artinya nakhoda yang dihormati. Julukan Dampu Awang diberikan kepada orang yang mempunyai semangat besar untuk menjaga, melindungi, dan memajukan maritim. Dulunya, pertama kali julukan Dampo Awang ini diberikan kepada Sie Ba Ha, oleh rakyat Lasem dipanggil Sibaha. Sie Ba Ha ini merupakan keturunan dari Kie Seng Dhang, pelaut dari Yunan. Sie Ba Ha ini adalah saudara perempuan dari Sie Ma Ha. Selanjutnya Sie Ma Ha menjadi ratu yang terkenal, yaitu Ratu Shima penguasa Kerajaan Kalingga. Sedangkan adiknya menjadi Laksamana Laut yang tidak terkalahkan oleh siapapun. Julukan Dampo Awang pertama kali inilah yang diberikan kepada nahkoda hebat yang sangat ditakuti dan disegani oleh semua kerajaan, yaitu Sibaha.
Selanjutnya, karena kegigihan dan kekuatan dalam menjaga perairan Lasem dan sekitarnya, maka Oei Ing Kiat atau yang oleh rakyatnya lebih dikenal dengan julukan Tumenggung Widyaningrat, maka Adipati Lasem, Tumenggung Widyaningrat mendapatkan gelar Dampu Awang tersebut sebagai kehormatan mengamankan perariran Rembang, Lasem hingga Tuban. Maka pasukannya disebut dengan Laskar Dampo Awang.
Pasukan Laskar Dampo Awang dari Lasem ini sangat perkasa. Pada mulanya berhasil mengusir penjajah Kolonial Belanda dan menguasai Kota Rembang. Namun saat Laskar Dampo Awang Lasem menyerang Jepara, mereka mengalami kekalahan dan dipukul mundur oleh Belanda.
Saat mendengar berita dari para pejuang yang kembali ke Lasem yang mengabarkan kalau Raden Panji Margono dan Tan Kee Wie gugur di medan perang ketika melawan Belanda, Oei Ing Kiat sangat marah. Ia langsung maju ke medan laga memimpin Pasukan Laskar Dampo Awang dan rakyat Lasem melawan Belanda. Namun sayang, Tumenggung Widyaningrat alias Oei Ing Kiat tertembak dan gugur dalam peperangan melawan kompeni Belanda. Jenazah beliau dimakamkan di puncak Gunung Bugel. Kuburan inilah yang selanjutnya dikenal dengan makam Dampo Awang.
Malam Jumat Kliwon, tepat di tengah malam, di langit Gunung Bugel ada berkas cahaya yang sangat terang, seperti obor api yang terbang dari langit. Arahnya dari barat daya. Semacam meteor yang jatuh ke bumi, namun terlihat sangat jelas dan besar. Melintas sangat cepat, dan jatuh di puncak Gunung Bugel. Seketika itu, di tengah malam yang gelap gulita, di puncak Gunung Bugel berubah menjadi terang dan mengeluarkan kabut berwarna jingga. Seperti halnya warna langit di senja hari yang konon akan datang Candikala. Kabut jingga itu terus bergulung, seakan menyelimuti puncak Gunung Bugel. Bukan api dengan asap kebakaran, tetapi cahaya jingga yang menakutkan.
"Tong ..., tong ..., tong ..., tong ..., tong ..., tong ..., tong ..., tong ..., tong ... !!!"
Seketika itu, terdengar suara kentongan, alat komunikasi tradisional yang terbuat dari bambu, mengabarkan kepada masyarakat jika ada bahaya. Orang-orang yang masih terjaga langsung berlari keluar, mencari asal suara kentongan yang dipukul bertalu-talu itu. Namun asal suara kentongan itu semakin banyak. Terdengar dari mana-mana dan semakin riuh. Maka orang-orang yang terlelap dalam tidur pun kaget dan terbangun. Lantas mereka ikut berlarian ke luar rumah.
"Ada ndaru ...!!!"
__ADS_1
"Ada bintang jatuh ...!!!"
"Ada yang ketiban wahyu ...!!!"
"We lha .... Ndaru kusumo ...."
"Wahyu tejaningrat ...."
"Lhah, pilihan presiden kan sudah selesai, to ...."
"Iya, dulu katanya salah satu calon ada yang ngalap berkah di makamnya Tumenggung Widyaningrat ...."
"Lha ini kan sebentar lagi ada pilihan bupati atau wali kota ...."
"Ya, setidaknya lurah ...."
"Kalau pilihan RT ditawar-tawarkan kok tidak ada yang mau, ya .... Hehe ...."
"Kira-kira dimana sumber cahaya ndaru itu?"
"Kelihatannya di makam Dampo Awang ...."
"Tidak ...! Cahaya itu mengelilingi puncak bukit, ya .... Coba dilihat kabut jingga itu ...!"
"Iya .... Menyinari seluruh puncak bukit ...."
__ADS_1
"Ada apa ya, kira-kira ...?"
"Kalau pertanda akan ada bencanam gimana?"
"Ih, ngeri .... Aku takut ...."
"Jangan lah .... Kita sudah menjalankan ibadah sebaik mungkin, kok ...."
"Semoga saja itu peristiwa baik ...."
"Aamiiiinn ...."
Orang-orang warga kampung yang menyaksikan kejadian aneh di puncak Gunung Bugel itu pun terus pada berpendapat macam-macam. Tentu banyak yang menyangka kalau cahaya jingga yang menyelimuti puncak pemakaman itu adalah pertanda turunnya wahyu, yang oleh masyarakat Jawa disebut dengan istilah "ndaru" yang artinya bintang terang.
Biasanya kalau ada orang yang ingin mencalonkan diri jadi pejabat, entah itu presiden, anggota dewan, bupati, bahkan sampai lurah, banyak yang pada berdatangan ke makam Tumenggung Widyaningrat, meminta keinginannya dikabulkan. Dan sebagai pertanda dari terkabulkannya apa yang minta, adalah dengan turunnya ndaru di makam itu. Namun terkadang yang bersangkutan tidak tahu, karena saking kusuknya dalam berdoa. Justru orang yang dari jauh bisa melihat cahaya yang turun tersebut.
Biasanya, kalau itu ndaru, hanya melintas sekejap dan setelahnya sudah hilang tidak kelihatan lagi. Namun kali ini, cahaya jingga itu bukan sinar terang sembarangan. Cahaya itu sangat terang dan besar. Bahkan menyala dalam waktu yang sangat lama. Hingga orang-orang dari berbagai penjuru bisa melihatnya. Bahkan anak-anak pun juga bisa menyaksikan.
Ada yang aneh pada turunnya ndaru kali ini. Apakah ini pertanda bahwa yang diminta oleh orang ini jabatan yang sangat besar dan tinggi? Atau sebagai pertanda akan ada peristiwa penting yang terjadi? Atau ini pertanda bencana?
Tidak ada yang tahu itu sebenarnya cahaya apa. Tidak ada yang berani mendaki ke puncak bukit untuk menyaksikan dari dekat. Bahkan tidak ada yang berani menginjak ke tanah pemakaman Gunung Bugel. Semuanya ketakutan. Mereka hanya berani menyaksikan dari kejauhan. Bahkan ada yang hanya berani mengintip dari jendela rumah. Tentu sambil menerka-terka, apa sebenarnya yang terjadi di puncak Gunung Bugel tersebut.
Hingga terdengar keluruk ayam jantan. Pertanda pagi akan segera tiba. Semburat merah mulai menghias langit timur. Cahaya jingga di puncak Gunung Bugel itu baru menghilang. Tersapu oleh datangnya sinar mantari pagi.
Apa sebenarnya cahaya jingga itu? Benarkah ini suatu pertanda akan datang malapetaka? Ataukah justru ini akan lahir seorang pemimpin yang adil bijaksana, seperti yang pernah dilakukan oleh Ratu Shima, ratu yang paling adil dan jujur dari Kerajaan Kalingga itu?
__ADS_1