GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 40: MENATAP ASA


__ADS_3

    Jamil dan Juminem masih saja bingung dengan keanehan yang selalu terjadi pada dirinya. Terutama hari itu, pagi itu. Dari pagi sebelum matahari terbit, ia sudah dikagetkan dengan peristiwa berpindahnya tidur tanpa sepengetahuan dirinya. Ia bersama istri dan anaknya yang ditolong orang naik pedati, tidur di atas gerobak, tahu-tahu sudah berpindah di teras orang tanpa terasa sama sekali. Aneh. Bahkan ia tidak sempat melihat kusir pedati itu wajahnya seperti apa, apalagi untuk mengucapkan kata-kata terima kasih.


    Kejadian aneh yang kedua adalah saat ia bertemu pemilik rumah itu. Jamil langsung disuruh membayar rumah itu, karena oleh yang punya rumah katanya Jamil itu yang mau membeli rumahnya. Tentu Jamil bingung karena tidak punya uang. Jangankan uang, pakaian saja Jamil tidak punya, karena pasti sudah terbakar. Jamil hanya sempat mengambil sebagian pakaian Melian dan istrinya. Sedangkan untuk dirinya sendiri, hanya pakaian yang menempel di tubuhnya saja yang ia miliki.


    Tapi, ketika ia dimintai uang untuk mebayar rumah itu, Jamil tidak bisa menjawab apa-apa. Namun sesuatu yang aneh, saat buntalan sarung yang ia pakai untuk membawa pakaian istri dan anaknya itu dibuka oleh pemilik rumah, ternyata dalam buntalan sarung itu ada tas plastik kresek yang berisi uang sangat banyak jumlahnya. Bahkan pemilik rumah mengatakan uangnya sudah cukup untuk membayar ruamah itu. Aneh sekali.


    "Kang .... Ini rumah kita, ya .... Gantinya rumah kita yang terbakar di Sarang, ya ...?" tanya Juminem pada suaminya, yang tentu juga heran.


    "Iya, Jum .... Kita terima saja nasib yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa ...." jawab Jamil.


    "Rumah kita kok bisa terbakar kenapa, Kang ...?" tanya Juminem lagi.


    "Mungkin listriknya konslet, Jum .... Sudahlah rumah kita dulu tidak usah diingat, kita sudah diberi rumah ini ...." kata Jamil yang ingin menenangkan istrinya.


    "Iya, Kang ..., kok kita dapatnya rumah malah lebih bagus dari yang di kampung ...." tentu Juminem langsung berkeliling melihat isi rumahnya. Sambil menggendong Melian, ia memeriksa apa-apa saja yang ada di rumah itu.


    "Jamil yang masih bingung dengan keadaan hidupnya akhir-akhir ini, hanya sanggup terdiap di kursi tamu yang sudah ada di rumah itu. Tentu kursi tamunya lebih bagus dari kursi-kursi kayu di rumahnya yang ia buat sendiri.


    "Ada tivinya juga, Kang ...." kata Juminem yang sudah masuk ke ruang tengah, ya semacam ruang keluarga. Ada televisi yang bertengger di meja bipet, yang juga terdapat gelas serta cangkir hias.


    "Ya ...." sahut suaminya.


    "Kamarnya dua, Kang .... Ada kasurnya bagus ...." kata Juminem lagi.


    "Ya ...." lagi-lagi suaminya menyaut.


    "Kang ..., kamar mandinya di dalam rumah .... Ada pancurannya, tinggal nyentor ...." Juminem yang tentu senang melihat kamar mandi yang bagus, yang dilengkapi bak air serta kran yang langsung mengeluarkan air. Sangat beda dengan kamar mandi yang ada di rumahnya dahulu, yang harus diisi oleh suaminya yang menimba dari sumur.


    "Iyaaa ...." lagi-lagi Jamil hanya mengiyakan dari ruang tamu yang ada di depan.


    "Walah, Kang .... Dapurnya bagus .... Pakai kompor, Kang .... Apa ini yang namanya kompor gas ya, Kang? Ini kok ada kotakan kayak gini ini apa ya, Kang ...? Sini, Kang .... Ini apa?" Juminem menanya ke suaminya, ingin tahu benda-benda apa saja yang ada di dapur itu.


    Tentu Jamil yang dipanggil istrinya, terus bangkit berdiri menemui istrinya.


    "Ada apa ...?" tanya suaminya sesampainya di dapur.


    "Ini lho, Kang .... Ini apa ...?" tanya Juminem sambil menunjukkan barang yang dibingungkan.


    Jamil pun bingung. Ia memegangi barang berbentuk kotak seperti lemari kecil itu. Lantas mencoba membuka barang itu.


    Mereka berdua kaget. Hawa dingin keluar dari kotak yang dibuka itu. Lantas melihat ke dalamnya.


    "Oo ..., ini lemari es, Jum .... Kolkas ...." kata Jamil pada istrinya.


    "Wuhalah, Kang .... Di rumah kita ada kolkasnya .... Kita bisa buat es ya, Kang .... Kita bisa minum segar, Kang ...." kata Juminem yang tentu sangat senang.

__ADS_1


    "Iya ..., disyukuri ...." kata Jamil mengingatkan istrinya.


    Tentu, Juminem masih terus berkeliling, melihat segala barang yang ada di dalam rumah itu. Dan yang jelas, ia senang jika semua itu akan menjadi miliknya.


    "Ma ..., ma ... ma ...." Melian yang digendong Juminem ikut bicara. Tangannya sambil menunjuk-tunjuk ke sudut ruang.


    "Apa, Sayang ...? Mak disuruh apa ...?" tanya Juminem kepada Melian.


    "Ma ..., ma ... ma ...." lagi-lagi Melian menunjuk barang yang di pojok belakang ruang keluarga.


    Juminem pun menuju ke tempat yang ditunjuk anaknya, ada dua barang berbentuk kotak seperti meja, yang satu berwarna coklat dan yang satu lagi warnanya hitam, tetapi yang jelas bukan meja.


    "Apa ini ...?" tanya Juminem saat melihat meja kotak pendek. Selanjutnya ia memanggil suaminya, "Kang ..., ini apa ya, Kang ...?" tanya Juminem kepada suaminya, yang tentu ingin tahu apa sebenarnya barang itu.


    "Apa, ya ...?" Jamil pun tentu bingung dengan barang yang ada di pojok itu. Maklum ia belum pernah menjadi orang kaya, tidak tahu barang-barang mewah yang ada di dalam rumah itu. Pasti yang punya dahulu adalah orang kaya yang senang dengan barang-barang meawah itu. Lantas Jamil mencoba membuka kotakan seperti meja tersebut.


    "Walah, Jum ..., ini mesin jahit .... Coba ini lihat ...." kata Jamil setelah membuka meja itu.


    "Weee .... Bagus sekali, Kang .... Ini mesin jahit pakai dinamo, tidak perlu ngobel, Kang .... Halah, senangnya aku ...." kata Juminem yang kegirangan.


    "Ini pasti mahal harganya ya, Jum ...." kata suaminya.


    "Yang ini apa, Kang ...?" kata Juminem sambil menunjuk meja satunya yang berwarna hitam.


    Jamil pun berusaha membuka. Dan akhirnya, ia bisa membukanya.


    "Apa ini ya ...? Ini yang untuk main musik itu, ya ...? Apa ya namanya .... Apa piano gitu, ya ...?" Jamil malah bingung sendiri. Tidak tahu apa namanya. Ia belum pernah melihat barang seperti itu.


    Tiba-tiba, Melian yang digendong Juminem, tanyannya melambai turun menyentuh benda itu.


    "Tung .... Ting ...." benda itu mengeluarkan suara, berbunyi.


    "Iya, Kang .... Ini alat musik .... Mudah-mudahan saja besok anak kita bisa memainkan musik ini ya, Kang ...." kata Juminem yang tentu semakin senang dengan barang itu.


    "Ma ..., ma ... ma ...." Melian pun tersenyum gembira.


    Ya, tentu mereka bertiga sangat senang dengan rumah baru yang ditempatinya itu. Lantas Juminem duduk di tempat makan, ruangan yang berada dekat dengan dapur. Tentu sambil memangku Melian. Demikian juga Jamil, yang mencoba duduk di kursi menghadapi meja makan yang masih kosong itu.


    "Kang saya mau masak .... Bagaimana caranya, Kang ...?" tanya Juminem yang tentu perutnya mulai terasa lapar, dan juga ingin menyuapi anaknya.


    "Kita keluar dulu, Jum .... Kita belanja ...." sahut Jamil pada istrinya.


    "Terus uang yang untuk belanja, Kang ...?" tanya Juminem.


    Jamil merogoh kantongnya. Mengambil dompet yang sempat diselamatkan.

__ADS_1


    "Ada, Jum .... Ini, uang yang tersisa di dompet saya." kata Jamil sambil memberikan uang kepada istrinya.


    Mereka bertiga pun bersama keluar rumah, untuk mencari warung, berbelanja memenuhi kebutuhan pokoknya. Kali ini Jamil yang menggendong Melian. Yang pasti bagi Jamil sekalian mengenalkan diri kepada para tetangga, sambil melihat situasi kampungnya. Bila perlu nanti melaporkan diri ke pihak perangkat desa.


    Rumah yang tiba-tiba menjadi milik Jamil ini memang berada di pinggir jalan besar, meski bukan jalan raya. Cukup ramai dengan lalu-lalang orang-orang yang melintas di depan rumah itu. Suasana kota sudah terlihat dari halaman rumahnya. Orang-orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tentu aktifitas masyarakatnya bukan sebagai petani. Terlihat dari pakaian yang dikenakan, semua terlihat bersih dan rapi. Kalau tidak sebagai pegawai, setidaknya bekerja di pabrik atau sebagai karyawan.


    Dan saat keluar rumah itu, baru disadari oleh Jamil maupun Juminem, kalau ternyata halaman rumahnya sangat luas. Ada pohon mangga dan pohon jambu air yang berada di kanan kiri halaman. Ya, hampir sama dengan kondisi halaman rumahnya yang di desa. Yang membedakan adalah bangunan rumahnya yang tidak seperti rumah-rumah di desa. Bangunannya berupa gedung bagus dan terlihat menarik. Pasti Juminem senang.


    Baru saja melangkah dari teras ke halaman rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang ke rumah itu.


    "Kulonuwun ...." salam laki-laki setengah baya itu.


    "Monggo ....  Silakan masuk, Pak ...." sahut Jamil pada laki-laki itu.


    "Nggih .... Ini saya dapat mandat dari Pak Lurah, untuk kemari menemui Bapak sebagai penghuni rumah yang baru ...." kata laki-laki itu.


    "Iya, Pak .... Silakan duduk dulu ...." sahut Jamil.


    "Di sini saja .... Wong ini saya mampir kok ...." sahut laki-laki setengah baya itu yang langsung duduk di kursi teras. Ya, kursi yang terbuat dari besi dengan anyaman karet yang empuk.


    "Maaf, Pak ..., saya belum sempat keluar ...." kata Jamil.


    "Tidak apa-apa .... Kapan-kapan bisa ke kelurahan. Perkenalkan, saya ini kebetulan yang dipilih warga jadi RT di sini. Kebetulan tadi pagi yang punya rumah sudah datang ke tempat saya, bilang kalau rumahnya sudah dijual dan ditempati orang lain. Makanya saya bergegas kemari." kata laki-laki yang ternyata adalah ketua RT di situ.


    "Nggih, Pak .... Saya hanya menempati, kok ...." kata Jamil.


    "Ooo .... Ya, yang penting tolong rumah ini dirawat yang baik. Dibersihkan tiap hari, agar tidak dihinggapi kuman penyakit." kata Pak RT.


    "Iya, Pak .... Pasti saya akan menjaganya, merawat dan membersihkan rumah ini, ibarat seperti rumah saya asli." kata Jamil yang tentu malu untuk menyebut sebagai rumahnya sendiri, karena ia hanyalah orang miskin yang hanya bekerja sebagai buruh penggali kapur.


    "Bagus .... Ngomong-ngomong ini mau ke mana?" tanya Pak Rt yang tahu kalau Jamil dan istrinya akan pergi.


    "Iya, Pak RT .... Ini kami mau beli bahan masak .... Pasarnya atau kalau belanja ke mana ya, Pak?" tanya Jamil.


    "Ooo .... Ke warung saja .... Itu, di sebelah situ ada kios besar. Segala macam kebutuhan ada. Ya, sudah .... Kalau begitu silahkan belanja, saya juga akan berangkat kerja. Jangan lupa nanti siang menemui Pak Lurah." kata Pak RT yang langsung berdiri meninggalkan teras rumah Jamil.


    Jamil yang membopong Melian, bersama istrinya, juga keluar meninggalkan rumah, menuju toko sembako seperti yang ditunjukkan Pak RT tadi. Dan ternyata benar, hanya berselang beberapa rumah dari tempat tinggalnya. Yang pasti bukan warung, tetapi toko sembako. Segala macam kebutuhan pokok dijual di toko itu. Jamil dan Juminem pun belanja berbagai kebutuhan. Ada beras, minyak goreng, gula, garam, teh, kopi dan yang tidak ketinggalan susu buat Melian. Tidak hanya itu, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan lain seperti sabun, sikat dan odol.


    "Uangnya cukup apa tidak, Jum ...?" tanya Jamil yang khawatir.


    "Mudah-mudahan cukup, Kang ...." sahut Juminem.


    "Apalagi yang harus dibeli ...?" tanya Jamil sebelum mengakhiri belanjanya.


    "Kelihatannya sudah semua, Kang .... Nanti kalau ada yang kurang, saya belanja sendiri kemari juga berani, kok ...." jawab Juminem.

__ADS_1


    Mereka pun pulang dengan belanjaan yang cukup banya. Kini bagian Jamil yang harus membawa barang-barang belanjaan yang berat, sedangkan Juminem lebih senang menggendong Melian.


    Jamil dan Juminem tersenyum. Menatap hidup baru bersama Melian. Semoga saja bahagia selamanya.


__ADS_2