GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 34: MENYELAMATKAN DIRI


__ADS_3

    Saat rumahnya dibakar, tentu Jamil kebingungan. Antara sedih, duka dan lara ketika dituduh memelihara hantu cekik. Kini ia bersama istri dan anaknya yang masih tidur dibakar di dalam rumahnya. Pintu depan rumahnya sudah diikat oleh para warga dari luar. Tentu Jamil semakin bingung.


    "Juminem .... Juminem .... Jum ..., bangun ....! Rumah kita kebakaran ...." Jamil langsung membangunkan istrinya. Lantas membopong anaknya.


    "Ada apa, Kang ...?" Juminem yang terlalu pulas tidurnya, bingung saat dibangunkan suaminya.


    "Rumah kita kebakaran .... Ayo cepat keluar ...!" Jamil langsung menyeret istrinya, tentu sambil menyaut barang yang mudah di bawa, terutama pakaian untuk ganti dirinya, istri dan anaknya. Tidak lupa, Jammil mengambil simpanan uangnya yang ditaruh di bawah pakaian dalam lemari. Sedapatnya.


    "Yaampun ..., Kang ...?! Ini ada apa, Kang ...?!" Juminem yang baru sadar, langsung bingung dengan apa yang terjadi.


    Suara kemerotak kayu yang terbakar terdengar di mana-mana. Bagian atap depan yang terbakar pertama kali sudah mulai runtuh. Api langsung terburai ke berbagai arah di ruang depan.


    "Kang .....??!!" Juminem berteriak ketakutan menyaksikan api yang berjatuhan di dalam rumahnya.


    "Ayo cepat kita menyelamatkan diri ...!! Tidak usah melihat ke belakang ...!!" Jamil langsung menyeret lengan istrinya.


    Jamil mengambil jalan lewat pintu belakang. Pintu dapur dekat kamar mandi menuju sumur. Ia berharap tidak ada warga kampung yang berada di belakang rumah. Saat ia keluar bersama anak dan istrinya, pintu belakang itu pun dia tutup kembali. Setidaknya tidak ada yang tahu kalau ia bisa menyelematkan diri lewat pintu belakang


    "Kita bagaimana, Kang ...?!" tanya Juminem yang tentu bingung dengan kondisi rumahnya.


    "Sudah ..., tidak usah tanya .... Yang penting kita terhindar dari kebakaran." jawab Jamil yang berjalan cepat sambil membopong Melian serta mencangking buntalan berisi barang yang bisa diambilnya.


    "Kita ke mana, Kang ...?" tanya Juminem sambil berpegangan tangan suaminya.


    "Pokoknya kita pergi dahulu .... Hindari api agar kita selamat ...." jawab Jamil yang terus melangkah cepat.


    "Iya, Kang ...." jawab Juminem yang terus mengikuti langkah suaminya.


    Tentu Jamil bingung, akan ke mana ia pergi. Tetapi langkahnya tidak berhenti. Yang penting ia bersama anak dan istrinya bisa selamat dari kebakaran. Ia terus melangkah cepat. Melintas diantara pematang ladang dan sawah. Beruntung malam itu cuaca cerah dan sinar bulan cukup terang. Sehingga jalan-jalan kecil pematang itu terlihat jelas. Hingga akhirnya, mereka bertiga sampai di jalan kecil pinggir sawah.


    "Kang ..., saya capek .... Istirahat sebentar ya, Kang ...." kata Juminem yang sudah langsung duduk di tanah pinggir jalan.


    Jamil diam tidak menjawab. Tapi ia ikut berhenti. Tentu kasihan melihat istrinya yang kecapaian. Bahkan dirinya sendiri sebenarnya juga capek. Pasti capek karena berjalan cukup jauh, dari rumahnya hingga keluar kampung yang sangat jauh. Harus melintas ladang dan sawah, melewati pematang dan melompati rintangan.


    "Kita mau ke mana, Kang ...?" tanya Juminem yang masih terus menghela napas-napas panjang karena kelelahan.


    "Entahlah, Jum .... Yang penting kita jalan dahulu, mencari tempat bertedu yang aman ...." jawab suaminya yang tentu kelelahan membopong Melian yang tidur di pundaknya, serta mencangking buntalan barang bawaannya.


    "Kita tidak balik ke rumah, Kang ...?" tanya Juminem yang tentu ingat akan rumahnya dengan berbagai barangnya.


    "Rumah kita sudah hangus, Jum .... Kita sudah tidak punya apa-apa ..." jawab Jamil yang belum mau menceritakan masalahnya kepada istrinya. Takut jika istrinya kaget dan tidak bisa menerima perlakuan para warga tetangganya itu.

__ADS_1


    "Iya, Kang ...." Juminem pasrah menurut pada suaminya.


    "Klontung ..., kluntung ..., kluntung ...." tiba-tiba terdengar suara kluntungan sapi, khas dari kalung sapi yang dipelihara penduduk.


    Jamil dan Juminem langsung memperhatikan asal suara itu. Ternyata, ada gerobak sapi yang datang menuju ke arahnya. Dan setelah sampai di depan Jamil dan Juminem, gerobak sapi itu berhenti.


    "Ini pada mau ke mana ...? Tengah malam begini kok masih berada di sini ...." kata orang yang menjalankan gerogak sapi itu.


    "Tidak tahu, Pak .... Kami tidak punya rumah lagi ...." jawab Jamil yang bingung entah akan pergi ke mana.


    "Ayo, naik gerobak saya .... Ikut saya ke Rembang ...." kata tukang gerobak itu menawarkan tumpangan.


    "Ya, Pak .... Terimakasih ...." jawab Jamil yang langsung mengajak istrinya naik gerobak sapi tersebut di bagian belakang.


    Jamil langsung meletakkan buntalan kain. Lantas menaruh Melian di atasnya. Tentu tangan dan pundaknya terasa pegal setelah membopong Melian sangat jauh dan cukup lama. Walau anaknya masih kecil, tetapi rasa bingung itu yang membuat beban semakin berat.


    Juminem yang kecapaian langsung merabahkan tubuhnya di atas gerobag itu, menaruh kepalanya pada buntalan tempat barang, sambil memeluk Melian. Dan karena capeknya itu, maka Juminem pun langsung tertidur pulas.


    Demikian juga Jamil. Tubuh yang lelah itu tentu minta istirahat. Dengan menyandar pada papan gerobak itu, matanya langsung terpejam.


    Ya, tentu Jamil sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya serta keluarganya. Harapannya untuk membentuk keluarga yang sejahtera musnah sudah. Hasil kerjanya yang digunakan untuk memperbaiki rumah, kini sudah hancur semuanya. Bahkan barang-barang berharga yang menjadi kebanggaannya juga ikut terbakar. Pasti istrinya akan sangat sedih dengan mesin jahitnya yang hancur. Padahal mesin jahit itu merupakan alat untuk mencari uang tambahan. Apalagi televisi yang menjadi hiburan bagi anak istri dan para tetangganya. Tapi semuanya sudah musnah bersama menyalanya api yang berkobar menghancurkan rumahnya. Entah seperti apa sekarang wujud rumahnya yang terbakar itu.


    Jamil sudah tidak bisa berfikir lagi. Mengapa para tetangganya yang disayangi, yang dianggap saudara, yang kalau ada apa-apa mesti datang ke rumahnya, mereka semuanya tega membakar rumahnya. Sungguh keterlaluan.


    Meski sapi itu jalannya pelan, bahkan lebih cepat dari orang yang berjalan, tetapi untuk mengangkut barang, gerobak sapi itu sangat bermanfaat sebagai sarana transportasi yang bisa diandalkan oleh petani. Dan justru pelannya perjalanan gerobak yang ditarik sapi itu, maka membuat tubuh lelah Juminem maupun Jamil tertidur pulas seperti bayi yang diayun oleh orang tuanya. Dan tanpa terasa, gerobak sapi itu sudah sangat jauh berjalan.


*******


    Semburat cahaya merah sudah menerangi langit timur. Pertanda sebentar lagi akan terbit matahari. Bersamaan dengan itu, ayam jantan berkokok bersautan dari berbagai arah. Tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menyaksikan terbitnya matahari di ufuk timur.


    Jamil kaget mendengar suara ayam jantan itu. Ia langsung terbangun dari tidurnya. Ia tergagap saat dirinya sudah tidak berada di atas gerobak sapi yang ditumpangi semalam. Matanya langsung kelabakan, mencari istri dan anaknya. Dan tentu Jamil kembali nyaman, setelah melihat istri dan anaknya yang masih tergeletak di sampingnya, tentu masih beralaskan buntalan pakaian yang ada di dalam kain sarung.


    Tetapi Jamil bingung, setelah ia bangkit berdiri, menengok ke sana kemari mencari gerobak sapi yang ditumpangi itu sudah tidak ada. Selain istri dan anaknya, tidak ada siapa-siapa lagi di tempat itu. Rupanya Jamil sudah diturunkan di teras rumah orang. Entah bagaimana cara tukang gerobak itu menurunkan, hingga dirinya tidak merasakan sama sekali. Hanya saat bangun, Jamil sadar kalau dirinya yang tadi menunggui istri dan anaknya dengan bersandar papan dinding gerobak, kini dengan posisi yang masih sama, Jamil bersandar di dinding teras rumah orang.


    "Jum ..., bangun Jum ...." kata Jamil sambil menepuk tubuh istrinya.


    "Uuch ..., iya, Kang ...." Juminem menggeliat dan bangun.


    "Ma ..., ma ...." kata-kata Melian yang juga terbangun memanggil ibunya.


    "Alhamdulillah, Kang .... KIta selamat ...." kata Juminem yang tentu bersyukur karena terhindar dari amukan api rumahnya yang terbakar.

__ADS_1


    "Iya, Jum .... Tuhan masih melindungi kita ...." sahut Jamil.


    "Lhah, kita ada di mana ini, Kang ...? Terus gerobak sapi yang kita naiki tadi malam mana?" tanya Juminem yang tentu bingung.


    "Entahlah, Jum .... Gerobak itu sudah pergi .... Ayo, kita berkemas segera meninggalkan rumah ini. Nanti kalau ketahuan yang punya rumah kita bisa dimarahi." sahut Jamil yang juga bingung dengan kejadiannya.


    Dan mereka pun bergegas untuk pergi meninggalkan teras rumah itu. Namun tiba-tiba, ada orang dari dalam rumah membuka pintu, yang tentunya mengetahui keberadaan Jamil beserta Juminem dan anaknya.


    "Wealah .... Lha kok gasik sekali datangnya ...." kata-kataperempuan tua yang membuka pintu rumah itu.


    "Maaf, Mbah .... Kami sudah mengganggu kenyamanan Simbah ...." kata Jamil yang meminta maaf kepada perempuan yang memang sudah cukup tua itu.


    "Walah .... Tidak apa-apa .... Ayo masuk. Sini lihat rumahnya .... Lumayan kok. Walaupun kecil tapi rapi dan bersih." kata wanita tua.


    "Tapi ..., Mbah ...?!" tentu Jamil bingung.


    "Sudah .... Tidak usah bingung. Masuk saja .... Kemarin sudah ada yang bilang kok, kalau yang mau menempati rumah ini akan datang. Ayo, sini masuk ...." kata wanita tua itu lagi, yang tentu semakin membingungkan Jamil.


    "Tapi, Mbah ...?!" Jamil kembali bingung. Tetapi wanita tua itu sudah menyeret tangannya untuk masuk.


    "Uang tidak usah dipikir .... Yang penting kamu punya rumah." sahut wanita itu.


    Jamil akirnya mengikuti ajakan wanita tua itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Demikian juga Juminem yang membopong Melian. Lantas mereka duduk di kursi tamu, walau tidak baru tapi terlihat bagus.


    "Mbah, kami ini orang kesasar .... Saya tidak tahu ini berada di mana .... Tahu-tahu kami sampai di sini." kata Jamil mengulangi lagi, menjelaskan tentang dirinya, agar nenek itu tahu mungkin bukan Jamil yang diharapkan datang.


    "Halah .... Jangan basa-basi .... Uangmu kamu bungkus sarung segitu banyaknya, kok masih bilang salah orang .... Bagaimana to kalian ini ...? Jadi orang itu jangan terlalu merendah ...." kata wanita itu sambil menepuk-tepuk buntalan sarung yang dibawa oleh Juminem.


    "Walah, Mbah .... Ini, lho ...." kata Jamil yang langsung membuka buntalan kain sarung, yang pasti berisi pakaian untuk salan istri dan anaknya, ingin diperlihatkan kepada nenek itu.


    "Lha ini ...." kata si nenek yang langsung mengambil bungkusan plastik kresek hitam dari dalam buntalan sarung Jamil. Lantas membuka kresek hitam itu yang berisi uang dalam jumlah sangat banyak.


    Aneh. Jamil bingung, dari mana bungkusan plastik kresek hitam itu? Ia merasa tidak pernah menaruh bungkusan kresek dalam sarungnya. Yang ia ingat hanya mengambil pakaian dari lemari sekenanya. Itu saja hanya untuk istri dan anaknya. Tapi siapa yang menaruh bungkusan kresek hitam?


    "Ya, sudah .... Uang ini sudah cukup. Tidak perlu saya hitung. Pokoknya rumah ini mulai sekarang jadi milikmu. Silakan dirawat dan dipelihara sebaik mungkin. Jangan dikotori dan jangan dirusak, ya .... Itu pesan simbah. Rawat anakmu baik-baik, dia yang akan membantumu kelak." kata nenek itu yang sudah berdiri, pastinya akan pergi meninggalkan Jamil bersama anak dan istrinya yang sudah dianggap sebagai pembeli rumahnya.


    "Iya, Mbah ...." kata Juminem yang juga bingung dengan sikap pemilik rumah itu.


    "Yang sabar, Nduk, cah ayu .... Cobaan hidup itu macam-macam ...." kata wanita tua itu sambil menepuk pundak Juminem.


    "Nggih, Mbah ...." jawab Juminem.

__ADS_1


    "Semua yang ada dalam rumah ini sekarang jadi milikmu. Jaga dan rawat baik-baik, ya .... Simbah mau pulang sekarang ...." begitu kata si nenek yang langsung keluar rumah.


    Jamil dan Juminem memperhatikan langkah kaki si nenek, hingga wanita tua itu menghilang menghilang dibalik rumah orang lain.


__ADS_2