
"Waah ..., yokonya habis ditata ulang yam Mbak Ika ...? Bersih dan rapi sekali ...." kata Melian yang yang baru saja pulang sekolah dan mampir ke pabrik bapaknya. Tentu diantar oleh tukang becak langganannya.
Memang sekolah Melian tidak begitu jauh dari pusat kerajinan kuningan Bima Sakti yang dipimpin oleh bapaknya. Melian yang terkadang ingin ketemu bapaknya, walau sekadar minta dibelikan soto kemiri, masakan soto khas Kota Pati, maka ia datang ke pabrik menemui bapaknya. Memang di depan pabrik kuningan Bima Sakti, ada penjual soto kemiri, walau hanya di rumah kecil, tapi sangat laris, karena rasanya yang khas dan sangat sedap. Dan tentu yang paling menarik adalah ayam goreng dari ayam kampung yang masih sangat muda, sehingga empuk dan gurih. Harganya pun sangat murah.
"Iya, Cik Melian ...." sahut Mbak Ika penjaga toko kuningan itu.
"Nggak usah pakai Cik ..., Mbak Ika .... Cukup Me ... Me ... atau Melian saja." kata Melian meminta Ika, pegawai bapaknya itu agar tidak memanggil Cik, subutan Mbak untuk warga keturunan Cina.
"Iya ..., iya .... Nona Cantik ...." sahut Ika yang meledeki Melian, dan pasti Melian tidak marah. Karena Melian memang anak yang periang, pemurah dan sangat mudah bergaul dengan siapa saja.
"Lho ..., lho ..., lho .... Malah ditambah-tambahi .... Mbak Ika itu bagaimana, sih .... Cukup panggil saya, Me ... li ... an." sergah Melian lagi.
"Oke, Melian Sayang ...." kata Mbak Ika lagi, yang tentu sambil tersenyum geli menyaksikan tingkah anak gadis kelas tiga SMP.
"Ini tokonya dibersihkan semua ya, Mbak Ika? Kapan bersih-bersihnya?" tenya Melian.
"Tadi pagi .... sesaat sebelum masuk kerja. Para karyawan datang langsung bersih-bersih." jawab Ika si pegawai toko kerajinan kuningan tersebut.
"Kok Pak-e tidak cerita kalau mau kerja bakti?" tanya Melian pada Mbak Ika.
"Mendadak .... Karena di pintu toko itu dilempari orang dengan telur busuk. Baunya tidak karu-karuan, busuk dan sangat menyengat. Para karyawan yang datang langsung mual dan mau muntah. Makanya langsung kerja bakti bersih-bersih, bahkan juga di sabun dan diberi pewangi biar bau busuknya hilang. Nah sekalian bersih-bersih, kita sekalian menata toko." jelas Mbak Ika pada Melian.
"Ooo .... Jadi ada orang yang melempari toko kita ini dengan telur busuk ...?!" tanya Melian.
"Iya .... Tidak cuman satu .... Tapi empat butir telur busuk. Makanya baunya sangat menyengat sekali."
"Siapa yang melempari, Mbak ...?" tanya Melian yang ingin tahu.
"Wah, kalau itu tidak tahu .... Sebenarnya mau dicari sama para karyawan, tetapi Pak Jamil bilah tidak usah ..., tidak dibolehkan." jawab Mbak Ika.
Melian diam. Tetapi sudah tidak memandang Mbak Ika lagi. Ada perubahan pada wajah Melian. Gadis yang biasanya ceria itu, kini wajahnya berubah kaku. Tengkuknya seperti ditarik. Bibirnya juga mecucu. Mata sipitnya semakin menciut, seakan memandang sesuatu. Kini wajah gadis cantik itu seakan menampakkan amarah kepada seseorang. Tapi kepada siapa? Di hadapannya tidak ada orang yang akan dijadikan sasaran kemarahan.
"Sudah, Melian Sayang .... Ayo masuk sini, saya pesankan soto ...." kata Mbak Ika yang tiba-tiba saja merinding melihat Melian. Seakan ada sesuatu yang aneh yang keluar dari diri Melian, yang dirasakan oleh Mbak Ika.
Namun seakan kata-kata Mbak Ika itu tidak didengar oleh Melian. Bahkan Melian terlihat semakin aneh. Diam dan ingin menumpahkan amarah. Dan perasaan aneh dalam hati Ika semakin terasa sekali. Tentu Ika menjadi khawatir dengan keadaan Melian. Maka Ika langsung berlari memanggil pimpinannya, Jamil.
"Pak Jamil ..., ada Melian di depan .... Kelihatannya marah ...." kata Ika pada Jamil.
Sontak Jamil berlari ke depan, untuk menemui anaknya yang dikatakan marah oleh Ika. Namun, setelah sampai di ruang toko, ternyata Melian sudah duduk di kursi ruang toko dan tidak apa-apa. Bahkan tersenyum pada bapaknya saat didatangi.
"Halah ..., Mbak Ika itu lho .... Senengnya kok bikin orang deg-degan .... Lha wong si Cantik ku duduk manis gitu, kok ...." kata Jamil yang merasa dibohongi pegawainya.
__ADS_1
"Eh ..., maaf, Pak .... Sudah duduk, to .... Iki mau piye, leh ...." tentu Ika tersipu malu karena apa yang dikatakan sudah tidak sesuai. Tetapi tadi memang kenyataannya seperti itu. Apa mungkin Melian latihan sandiwara?
"Pak-e, Melian mau soto ...." kata Melian saat dihampiri oleh bapaknya.
"Ealah, lha cuman kepengin soto kok ya ndadak ngundang Pak-e ki pile, leh .... Ya sudah, sana pesan." jawab bapaknya.
"Pak-e yang memesankan ...." kata anaknya memanja.
"Ya .... Sama lauknya apa? Sekalian belinya ...." kata Jamil menanyai anaknya.
"Sama pongkrong dan bergedel." jawab Melian yang meminta lauk pongkrong, yaitu ayam bagian punggung ke belakang, sangat enak untuk dititili.
"Minumnya apa?" tanya bapaknya lagi.
"Es teh .... Hehe ...." jawab anaknya sambil nyengenges.
Jamil langsung melangkah, menyeberangi jalan depan tokonya. Masuk ke warung soto kemiri tersebut, dan langsung memesankan makan untuk anak kesayangannya kepada si penjual. Dan nantinya akan diantar oleh penjual soto itu ke toko tempat Melian berada. Dan tentu bakul soto itu sudah terbiasa, karena memang sudah langganan. Jika Jamil bilang pesan untuk anaknya, maka bakul itu akan meladeni sesuai selera Melian, yaitu pedas, kuah banyak, nasi sedikit ditambah jeruk nipis dua iris. Soto pedas masih panas, pasti keringatnya keluar semua.
*******
Di tempat lain, di rumah keluarga kakanya Pak Bos, rumah dimana Pak Bos dan anaknya ikut tinggal pada pakdenya. Sore itu Pak Bos pulang entah dari mana, masuk rumah tanpa salam. Tentu mengagetkan kakak-kakaknya serta kuluarga yang lain. Termasuk yang tinggal di rumah itu tentu anak-anak kakaknya.
"Bau busuk apa ya ini ...?!" yang pertama kali berteriak adalah kakak iparnya, istri dari Pakde. Bau busuk itu dicium oleh bude, saat Pak Bos melintas di ruang keluarga, dimana Bude sedang menonton televisi.
"Ini lho, Pak .... Kok tiba-tiba ada bau busuk yang menyengat di rumah kita ....Mbok tolong dicari ...!" kata Bude.
Serta merta Pakde keluar ke ruang keluarga. Demikian juga anak-anaknya yang tadinya belajar di dalam kamar juga ikut keluar, karena mendengar teriakan ibunya. Tidak ketinggalan, anak Pak Bos yang ragil, yang masih SMA, juga ikut keluar.
"Ada apa, Buk? Kok heboh ...?" tanya anaknya.
"Ini lho, kok ada bau busuk .... Coba kamu cari!" kata ibunya yang langsung menyuruh anaknya mencari.
"Eh, iya ..., benar .... Baunya busuk." sahut anak yang lain.
"Hooh .... Bau apa, ya ...?!" tanya yang lain.
"Dicari sumber baunya ...." kata bapaknya alias Pakde.
"Kayaknya dari dapur .... Apa ada tikus mati, ya ...?!" sahut yang lain.
Dua anak langsung ke dapur. Lantas disusul anak ragil Pak Bos, yang ikut mencari sumber bau busuk itu. Lantas mereka tengak-tengok mencari tikus mati yang menyebarkan bau busuk tersebut. Dan di dapur, yang gandeng dengan tempat makan, bau busuk itu semakin menyengat. Tentu mereka semakin penasaran.
__ADS_1
"Heh ..., heh ..., heh ...! Kalian itu pada ngapain?!" tanya Pak Bos yang duduk di tempat makan, tentu makan karena lapar setelah seharian bepergian entah ke mana.
"Cari tikus mati, Om .... Ini lho, baunya busuk sekali ...." kata anak-anak Pakde.
"Bau busuk apa ...?! Wong tidak ada bau apa-apa gini, kok ...!" bantak Pak Bos yang tetap duduk di tempat makan itu, sambil menikmati mi rebus.
"Walah, baunya menyengat kayak begini kok tidak mencium ...." kata anak yang lain.
"Lhoh, kok sumbernya ada di sini ...?! Coba berdiri dulu, Om .... Mungin ada di bawah meja atau kursi ...." kata yang lain menyuruh Pak Bos itu berdiri.
"Tidak di bawah meja .... Tapi kayaknya dari pakaian Om Bas, deh ...." kata anak yang lain.
"Iya, benar .... Baunya dari tubuh Om Basuki ...."
"Iya, Pak .... Bau busuk itu dari tubuh Bapak ...." kata anaknya yang sudah mencium ke sekujur yubuh bapaknya.
"Hah ...?! Masak, sih ...?! Lha wong saya tidak mencium apa-apa ...." bantah Pak Bos.
Begitu mendengar keributan, maka Pakde dan Bude ikut menuju tempat makan. Ingin tahu bau busuk yang menyengat itu. Mungkin saja tikus yang mati sudah ketemu.
"Mana tikusnya?" tanya ibunya.
"Ini, Bu ...." kata anaknya yang langsung mendekatkan hidung ibunya itu ke tubuh pakliknya tersebut.
"Walah ...! Ini bau apa leh, Bas ....??!!!" teriak Bude yang langsung mual mencium bau busuk dari tubuh adik iparnya tersebut.
Tentu kakaknya yang penasaran juga ikut-ikutan mendekat.
"Hooeekk ...! Hooeekk ....!" perut pakde langsung mual dan muntah-muntah mencium bau busuk tubuh Pak Bos yang sangat menyengat dan membuat perut mual tersebut. Busuknya melebihi bangkai tikus.
"Ini pada ngapain, sih ...?! Kalian itu pada mencium bau apa ...?! Tidak ada bau busuk kok katanya ada tikus mati, pada mual, pada menutup hidung, pada muntah ..... Ini sebenarnya ada apa, hah ...?!!" kata Pak Bos yang kebingungan karena orang serumah bada muntah gara-gara bau busuk.
Ya, lima orang di rumah itu, Pakde, Bude, dua orang anaknya, serta anak Pak Bos, semuanya mencium bau busuk dari tubuh Pak Bos itu. Bau busuk yang sangat menyengat dan menusuk hidung. Tetapi anehnya, Pak Bos sendiri yang tubuhnya mengeluarkan bau busuk justru tidak menciumnya, tidak membaunya. Bahkan Pak Bos tidak mau dan marah kalau dirinya dituduh berbau busuk. Sangat aneh.
Tentu Pakde, Bude serta anak-anaknya menyuruh Pak Bos untuk segera mandi. Bahkan disuruh mencuci pakaiannya sekalian. Agar bau busuknya itu hilang. Bahkan juga disuruh kramas dengan sampo yang banyak, serta disuruh menyabun tubuhnya berkalki-kali untuk menghilangkan bau busuk itu.
Namun, setelah selesai mandi, dan sudah berganti pakaian, ternyata bau busuk itu tetap saja masih menyengat. Bau busuk itu masih saja menempel di tubuh Pak Bos.
"Kok masih bau menyengat seperti ini, Pak ...?!" anaknya yang langsung protes saat ayahnya keluar dari kamar mandi.
"Ya ampun, Bas ..... Kamu itu mandi apa tidak?! Bau busuknya kok tidak hilang ....?! Tidak disabun, ya?!" kata Bude yang tentu marah, karena bau busuk itu masih saja tercium.
__ADS_1
"Pakde ..., Bude ..., Le ..., Nang .... Ini kalian ini sebenarnya ada apa sih ...?! Yang bau busuk itu siapa?! Saya sudah mandi, sudah sabunan, sudah kramasan ..., bahkan saya sabun berkali-kali .... Kok kalian masih saja menuduh saya bau busuk, bau bangkai, bau bacin .... Sebenarnya yang bau itu siapa ...?!!! Ini, lho .... tubuh saya tidak bau busuk ...!! Kalian itu sukanya buat masalah saja ...." berkata demikian, Pak Bos langsung pergi meninggalkan orang-orang itu. Tentu ia marah saat dikatakan berbau busuk.
Entah apa yang terjadi, Pak Bos memang tidak mencium bau busuk apapun. Tetapi keluarganya mencium bau busuk yang keluar dari tubuh Pak Bos itu sangat menyengat. Seperti halnya bau telur busuk yang tadi pagi sudah dilemparkan ke toko kerajinan kuningan Bima Sakti. Telur busuk yang sudah melumuri tubuh Pak Bos tersebut.