
Setelah penangkapan hantu cekik, dan pembakaran rumah Jamil seisinya, Pak Pin dengan keluarganya meninggalkan balai desa, kembali berpindah ke rumahnya yang ada di ujung timur kampung. Rumah yang menyendiri jauh dari tetangga. Pak Kades memberi pengertian kepada Pak Pin, kalau hantu cekik sudah tidak ada lagi, bahkan yang menangkap hantu cekik juga Pak Pin sendiri, dan balai desa akan digunakan untuk pertemuan. Maka Pak Pin diminta untuk kembali ke rumahnya.
Pak Pin dan keluarganya pun terpaksa harus kembali ke rumahnya yang dulu. Tentu dengan rasa kecewa. Meskipun demikian, mereka pun menuruti apa yang disampaikan Pak Kades. Memang balai desa itu digunakan untuk pertemuan warga setiap bulan.
Tidak masalah. Hantu cekik sudah ditangkap. Bahkan kain putih yang dianggap sebagai pakaian yang dikenakan hantu cekik itu oleh Pak Pin sudah dilemparkan ke dalam api yang membakar rumah Jamil.
"Hemmmm ...." Pak Pin tersenyum mengejek.
"Pak, saya takut tinggal di rumah ini ...." kata dua anaknya yang masih kecil.
"Takut apa ...?" sahut Pak Pin.
"Nanti kalau ada hantu cekik ...." kata anaknya itu lagi.
"Hantu cekik apa ...? Hantu cekiknya sudah ditangkap bapak, lo ya .... Sudah saya bakar ...." jawab Pak Pin tentu sambil membusungkan dada, agar anaknya tahu kalau bapaknya adalah orang yang sudah berhasil menangkap hantu cekik.
Dan cerita itu sudah tersebar ke seluruh kampung, kalau Pak Pin adalah penangkap hantu cekik yang meresahkan warga. Pak Pin adalah laki-laki pemberani yang berhasil mengalahkan hantu cekik. Makanya, setelah peristiwa pembakaran rumah Jamil yang disebut-sebut orang kalau Pak Pin adalah orang yang berjasa menangkap hantu cekik, maka Pak Pin diberi berbagai macam kebutuhan pokok oleh para warga yang merasa berhutang budi. Ada yang mengasih beras, tek, gula, kopi, bahkan ada juga yang mengasih rokok.
Benarkah Pak Pin adalah pahlawan kampung yang sanggup menenteramkan kembali desanya yang diresahkan oleh hantu cekik?
Cerita hantu cekik sudah berlalu.Orang-orang kampung sudah tidak lagi membicarakan hantu cekik. Teror hantu cekik itu sudah tidak ada lagi. Kehidupan masyarakat sudah mulai normal. Mereka sudah kembali tidur di dipan, tidak lagi harus mnggelar tikar untuk tidur dilantai, menghindari hantu cekik yang melayang-layang mencari mangsa. Kini masyarakat pun sudah tidur nyenyak.
"Tolooong ....!! Tolooong ....!!! Tolooong ....!!!"
Kesunyian malam lagi-lagi terpecah oleh jeritan orang minta tolong. Malam-malam yang lalu sudah tenang, kini kembali resah dengan adanya teriakan orang minta tolong.
Orang-orang yang sedang tertidur nyenyak, mulai terbangun. Kaget mendengar teriakan suara minta tolong.
"Tolooong ....!! Tolooong ....!!! Tolooong ....!!!"
Kembali teriakan orang minta tolong itu terdengar lagi. Suara wanita. Ya, ibu-ibu yang menjerit minta pertolongan.
Beberapa orang yang sudah terjaga tidurnya langsung membuka pintu. Memasang telinganya, untuk memastikan asal suara tersebut. Bahkan sudah ada bapak-bapak yang keluar dari rumah, menuju halaman.
"Lek ..., kok ada suara minta tolong, ya ...?" tanya salah seorang bapak yang melihat tetangganya keluar dari rumah.
"Iya, betul .... Saya juga mendengar suara wanita minta tolong .... Dari mana, ya ...?" yang ditanyai berbalik ingin tahu asal suara itu.
"Iya, Lek .... Suara wanita, arahnya dari timur ...." sahut tetangganya lagi.
"Apa coba kita ke timur dulu, cari tahu siapa yang menjerit minta tolong ...." yang satu mengajak.
"Ya, coba kita ke sana .... Bawa senter, Lek ...."
__ADS_1
Memang, setelah hantu cekik itu ditangkap, orang-orang yang tadinya berjaga untuk ronda, kini berhenti. Mereka memilih tidur di rumah daripada lek-lekan di pos ronda. Sehingga kampung itu sudah tidak ada lagi yang berjaga malam.
"Tolooong ....!! Tolooong ....!!! Tolooong ....!!!" suara wanita minta tolong itu terdengar lagi.
"Dari arah timur .... Kelihatannya di rumahnya Pak Pin ...." kata orang lain yang sudah berada di pinggir jalan, yang tentu juga mencari orang yang minta tolong tersebut.
"Ayo kita lihat ke sana ...!"
"Ya, kita lihat apa yang terjadi ...."
Maka, orang-orang yang sudah pada keluar, terutama bapak-bapak dan para remaja laki-laki, langsung bergegas menuju rumah Pak Pin, tempat asal suara wanita minta tolong itu terdengar. Sambil menyorotkan lampu baterai, mereka melintas di jalan setapak menuju rumah di pinggir kampung tersebut.
"Tolooong .... Tolooong .... Huk ..., huu .., hu ...." suara wanita itu masih meminta tolong dan menangis.
"Pak Pin ...! Pak Pin ...! Ada apa, Pak Pin ...?!" kata orang-orang setelah sampai di depan rumah Pak Pin.
"Tolooong .... Kang ..., Lek ..., Pak .... Huk ..., huu .., hu ....Huu ..., huu ..., huu ...." istri Pak Pin yang membuka pintu itu menangis sejadi-jadinya.
"Hik ..., hii ..., hik ...." dua anaknya juga menangis, berada di pinggir dipan di mana Pak Pin tergeletak di lantai dekat dipan tempat tidur.
"Ada apa, Yu ...? Kenapa ...?" tanya salah seorang yang datang ke situ.
"Suami saya .... Huuhuhu ...." kata istri Pak Pin yang malah semakin menjadi tangisnya.
"Itu .... Suami saya didatangi hantu cekik .... Huhuhuu .... Suami saya dicekik .... Huhuhu ...." kata istri Pak Pin sambil menunjukkan suaminya yang sudah tergeletak di lantai, sudah tidak bernyawa.
"Walah ..., Pak Pin ...!!" orang-orang langsung menghampiri Pak Pin yang tergeletak di lantai tanah rumahnya. Ada yang memegang tangannya, ada yang menyentuh tubuhnya, memastikan kondisi Pak Pin.
"Sudah meninggal ...." kata salah seorang yang berjongkok memegang tangan Pak Pin.
"Coba diangkat, dipindah ke dipan ...." kata salah seorang menyuruh memindah tubuh Pak Pin.
Beberapa orang yang masih muda langsung mengangkat, memindahkan tubuh Pak Pin yang sudah tidak bernyawa.
"Weh, banyak darah ...." teriak salah seorang yang ikut mengangkat.
"Walah ..., lha kok darahnya banyak sekali ...? Ini tadi kenapa ...?" yang lain bingung.
"Lehernya robek ...."
"Seperti bekas gigitan ...."
"Tapi kok dalam dan lebar ...?! Apa mungkin digigit dan dicakar ...?"
__ADS_1
"Jangan-jangan ...?!"
"Walah .... Bu, ini tadi Pak Pin kenapa ...?" tanya salah seorang kepada istri Pak Pin.
"Anu .... Tadi ada hantu cekik .... Bapaknya dikejar-kejar, lantas jatuh di lantai itu .... Dicekik sama hantunya .... Huuhuhuk ...." kata istri Pak Pin yang masih menangis.
"Nah, kan .... Digigit hantu cekik ...."
"Lha kok tidak dilawan?" tanya para tetangga.
"Sudah .... Kami juga ikut memukuli .... Anak-anak juga ikut memukuli .... Tapi hantu cekik itu tetap mencekik leher suami saya .... Huuhuhuk ...." kata istri Pak Pin menceritakan.
"Lha terusm hantu cekiknya sekarang ke mana?" tanya yang lain.
"Itu ...." kata istri Pak Pin sambil menunjuk kain yang tergeletak di sudut rumahnya.
Lantas dua orang pemuda mencoba mendekati kain yang tergeletak itu, mencoba mengamati. Lalu salah satu dari mereka mencoba mengangkat. Kain itu tidak ada apa-apanya. Hanya kotor oleh bercak darah, yang mungkin itu adalah darah Pak Pin yang lehernya terluka.
"Tolong kain itu dimasukkan ke plastik kresek. Jangan dipegang-pegang. Kita serahkan ke polisi, biar diperiksa polisi." kata salah seorang yang terlihat punya pengalaman dalam menangani masalah.
"Pak Pin diserang hantu cekik ...!!"
"Hah ...?! Pak Pin diserang hantu cekik ...?!
"Pak Pin meninggal, diterkam hantu cekik ...!!"
"Lhoh, katanya kemarin hantu cekiknya sudah ditangkap Pak Pin, bahkan sudah dibakar bersama pembakaran rumah Jamil."
"Iya, ada hantu cekik lagi .... Kampung kita diteror hantu cekik lagi ...."
"Ini, pakaian hantu cekiknya sudah tertangkap ..."
Berita tentang Pak Pin dibunuh oleh hantu cekik itu langsung menyebar ke kampung. Pasti orang-orang langsung ingin tahu kejadiannya. Makanya, para lelaki, dan sebagian ibu-ibu yang pemberani, langsung datang ke rumah Pak Pin, ingin melihat kondisinya.
Di luar rumah Pak Pin, orang-orang sudah bertambah banyak. Warga kampung sudah pada berdatangan, tentu ingin menyaksikan peristiwa yang terjadi di rumah Pak Pin.
Pak Kades juga ikut datang, menyaksikan berita itu.
"Tolong kamu ke Polsek. Melaporkan kejadian ini. Kampung kita sudah tidak aman lagi." kata Pak Kades memerintah perangkat desanya, untuk segera melapor ke Polsek.
Malam itu juga, dua orang berboncengan sepeda motor, mengendarai kendaraannya, menerobos gelapnya malam, melapor ke kepolisian. Tentu agar permasalahan di Desa Sarang ditangani oleh yang berwajib.
Malam itu, hantu cekik sudah membalas dendam, mencekik leher Pak Pin, orang yang oleh warga desa dianggap sebagai pahlawan penangkap hantu cekik, kini ia mati mengenaskan dengan leher yang robek diterkam hantu cekik.
__ADS_1