GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
EPISODE 253: MENGAPA HARUS TERJADI?


__ADS_3

    Melian benar-benar terpukul dengan peristiwa kematian Pak Endang. Kematian yang tidak disangka-sangka, kematian yang terjadi dihadapannya. Apalagi saat itu, Melian sedang dalam keadaan bahagia, yang mestinya harus bersenang-senang. Setelah di wisuda, mestinya Melian akan diajak makan bersama oleh keluarga beserta dengan Pak Endang. Namun kenyataannya, hari bahagia itu berubah menjadi hari yang menyedihkan. Karena sebenarnya, Melian sedang mengharap cintanya Pak Endang yang bisa berpadu dengan asmara Melian, hari itu juga akan dirayakan bersama dengan keluarganya. Namun kenyataan berkehendak lain. Pak Endang tiba-tiba saja harus menghembuskan nafas yang terakhir, tanpa ada sebab apapun. Pak Endang harus berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Tentu suasana gembira itu berubah menjadi duka.


    Akhirnya Melian beserta keluarganya tidak langsung pulang ke Pati. Tetapi ia pergi ke Bandung terlebih dahulu, bahkan turut bersama dengan jenazah Pak Endang yang ada di dalam ambulan. Dan pastinya sambil terus menangis. Sedangkan mobil taruna yang disopiri Irul, yang ditumpangi oleh Jamil dan Juminem, ikut bersama dalam iring-iringan pelayat yang mengantarkan pemakaman Pak Endang.


    Ya, memang waktu itu jenazah Pak Endang terlebih dahulu disemayamkan di gedung Prodi Manajemen Bisnis. Tentu pora dosen dan mahasiswa memberikan penghormatan yang terakhir kepada Pak Endang di gedung itu. Tidak hanya dari Prodi Manajemen Bisnis saja yang pada berdatangan memberi penghormatan jenazah Pak Endang, tetapi hampir seluruh dosen di universitas itu. Termasuk Pak Rektor yang memberi sambutan di situ. Dan bahkan, Pak Rektor baru tahu, kalau ternyata Pak Endang adalah pacarnya Melian, lulusan terbaik dan tercepat itu. Pasti berita itu disampaikan oleh para dosen di Prodi Manajemen Bisnis. Maka saat Pak Rektor selesai memberi sambutan, ia langsung menemui Melian yang menangis terus-terusan di sisi peti mati Pak Endang. Pak Rektor memegang kedua pundak Melian, dan memberi nasehat, agar Melian tabah.


    "Semoga Tuhan akan mengirimkan ganti yang terbaik, seperti halnya Pak Endang." begitu kata rektor itu kepada Melian.


    Melian tidak menjawab. Ia hanya sanggup menundukkan kepala, sambil berkali-kali mengusap air matanya.


    Tentu, semua orang yang melayat di situ, baru tahu kalau ternyata Melian adalah pacar Pak Endang. Demikian juga Putri, yang sempat datang dan memeluk Melian. Tetapi Melian juga tidak menggubris perlakuan mantan sahabatnya itu.


    Iring-iringan mobil dari halaman kampus Manajemen Bisnis itu, seperti mengular yang mengikuti sirine ambulan yang melaju paling depan. Mereka akan ke Bandung untuk melayat di tempatnya Pak Endang yang sudah dipersiapkan tempat pemakamannya. Tentu para dosen teman-temannya Pak Endang, maupun para karyawan di perguruan tinggi itu di Universitas tempatnya Pak Endang mengajar, semuanya ikut melayat dan mengantarkan jenazah Pak Endang.


    Hingga akhirnya, sore hari, mobil ambulan itu sampai di rumah orang tua Pak Endang, dan langsung membawa perlengkapan, serta keluarga untuk menuju tempat pemakaman. Para tetangga yang melayat pun turut mengantarkan jenazah Pak Endang ke pemakaman hingga selesai.


    Keluarga Pak Endang, ibunya dan bapaknya, serta adik-adiknya Pak Endang, memang belum pernah tahu dan belum pernah bertemu dengan Melian. Tetapi dari foto yang dikirim oleh Pak Endang kepada keluarganya, dari cerita yang disampaikan oleh Pak Endang kepada bapak dan ibunya, yang menyampaikan kalau Melian adalah pacarnya, kalau Melian adalah kekasihnya, kalau Melian adalah calon istrinya, maka keluarga Pak Endang juga sangat sedih dan kasihan menyaksikan Milian yang terus-terusan menangis. Tentu keluarga Pak Endang juga sudah merasa bahwa kalau Melian nantinya akan menjadi bagian dari keluarganya. Maka ketika menyaksikan Melian yang sangat berduka itu, ketika menyaksikan Melian yang terus-terusan menangis itu, maka keluarga Pak Endang, baik itu ibunya, baik itu bapaknya, maupun saudara-saudaranya, tidak sanggup menyaksikan kesedihan Melian. Bahkan sang Ibu, memeluk erat Melian terus-menerus, tidak ingin melepaskan Melian, seakan Melian sudah jadi menantunya. Mereka ingin Melian dijadikan anak sebagai ganti dari Pak Endang yang sudah tiada.


    Tidak hanya keluarga Pak Endang dan saudara-saudaranya saja yang bersimpati kepada Melian. Bahkan para dosen senior, teman-teman Pak Endang yang ikut melayat di rumah duka yang ada di Bandung itu, mereka pun mengelus kepala atau pundak Melian dan memberi nasehat kepada Melian agar Melian tabah dan mendoakan agar Melian kelak akan mendapatkan jodoh laki-laki yang baik seperti Pak Endang.


    Tentu tidak hanya Melian atau keluarga dari Pak Endang saja yang bersedih, tidak hanya ibunya Pak Endang yang menangis terus-terusan, tidak hanya Melian yang menangis sampai tidak bisa lagi mengeluarkan air mata, tetapi Juminem, ibunya Melian juga menangis. Tentu Juminem sangat sedih, karena laki-laki yang ganteng, yang gagah dan pintar itu, apalagi profesinya sebagai seorang dosen yang sudah digadang-gadang untuk menjadi menantunya, ternyata Pak Endang justru meninggal di hadapan Juminem. Pak Endang justru meninggal ketika pertama kali bertemu dengan keluarga Melian. Tentu walaupun Pak Endang belum pernah melamar atau belum pernah menanyakan kepada keluarganya, tetapi Juminem, Jamil maupun Irul, sangat sedih, sangat terpukul, dan sangat kehilangan. Karena calon menantu itu hanya sebentar saja dilihatnya, dan setelah itu calon menantu itu sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

__ADS_1


    Setelah selesai acara pemakaman, pihak keluarga Pak Endang meminta kepada keluarga Jamil untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Tentu orang tuanya Pak Endang masih menghendaki Melian sebagai calon menantunya itu ikut bergabung dengan keluarganya untuk beberapa hari. Ya, seperti adat yang dilakukan oleh orang-orang Sunda dengan keyakinan adat istiadatnya, saat ada kematian dengan berpedoman syariat agama Islam yang diyakininya, maka untuk mengirim doa-doa bagi orang yang meninggal, mereka mengadakan acara tahlilan, mereka mengadakan acara kirim doa bagi arwah yang telah meninggal, dan lamanya adalah tiga malam berturut-turut.


    Maka pihak keluarga Pak Endang, terutama ayah dan ibu dari Pak Endang, menghendaki agar Melian sebagai pacarnya Pak Endang, agar bisa mengirimkan doa bersama dengan wanita yang sudah dipilih oleh Pak Endang untuk diajak berumah tangga itu, berkenan untuk memberikan doa-doa pada tiga malam itu. Ya, Melian diminta tinggal untuk ikut acara tahlilan sampai tiga malam.


    Namun pastinya, Jamil tidak tega untuk melepas anaknya sendirian di rumah orang yang belum dia kenal. Jamil juga tidak ingin anaknya menjadi beban bagi keluarga Pak Endang yang sudah ditinggalkan. Oleh sebab itulah Jamil bersama juminem dan Irul, tetap ingin bersama dengan Melian menunggu sampai tiga malam acara pengiriman doa untuk arwah Pak Endang. Melian pun setuju dengan apa yang direncanakan oleh bapaknya. Akhirnya mereka tinggal di penginapan dekat dengan rumah keluarga Pak Endang selama tiga malam berturut-turut. Mereka ikut mengirimkan doa.


*******


    Kesedihan Melian adalah kesedihan Jamil juga. Dan tentu juga kesedihan Juminem. Apalagi Irul, laki-laki yang sudah menjaganya sejak kecil. Namun apa boleh dikata, ketika semua adalah suratan Ilahi. Ketika semua adalah takdir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Maka Melian harus ikhlas, Melian harus tabah untuk kembali menjalani hidup seperti layaknya. Memang Melian belum bisa melepas bayang-bayang Pak Endang. Tetapi ia tidak boleh larut dalam kesedihan.


    "Yang tabah ya, Melian .... Tuhan pasti akan memberikan jodoh untukmu yang terbaik ...." kata Irul yang menghibur milihan saat ia duduk sendirian dan melamun di rumah Engkong.


    Setelah pulang dari Bandung dan singgah di Jakarta untuk mengambil barang-barang Melian yang ada di rumah singgah di Kampung Transformer, lantas mereka terus pulang ke kampung halamannya. Melian hanya sebentar saja berada di rumah orang tuanya yang ada di Kampung Naga. Setelah itu, Melian ikut Irul pergi ke Lasem. Pilihan Melian, ia ingin tidur di rumah engkongnya. Ya, Melian memang lebih suka dan senang serta merasa tentram jika ia tidur di rumah Engkongnya yang ada di Lasem. Tentu Juminem dan Jamil juga tidak keberatan. Walau rasa kangennya belum hilang, namun bapak ibunya itu tidak mau memaksa Melian. Apalagi alasannya jelas, ingin tidur di rumah Engkong. Rumah itu yang menjadi sejarah bagi dirinya.


    Karena melamun, maka saat Irul datang pun Melian tidak tahu. Tentu Melian masih membayangkan nasibnya dan juga nasib Pak Endang. Bahkan ia juga teringat dengan nasib Akbar. Bahkan Melian juga ingat, setiap orang setiap laki-laki yang mendekati dirinya, selalu mengalami nasib sial.


    "Mas Irul ..., coba duduk sini deh .... Duduk dekat dengan saya ...." kata Melian kepada Irul yang baru saja datang dan menegur Melian yang terus-terusan terlihat murung dan bersedih itu.


    "Ada apa, Melian ....?" begitu sahut Irul yang sudah duduk di samping Melian, pada kursi panjang yang terbuat dari kayu itu, yang ada di teras rumah Engkong. Dingklik itu sudah lama ada. Umurnya lebih tua dari Melian. Tetapi memang masih kuat dan bagus. Pasti bahannya dari kayu yang tua.


    "Mas Irul merasa nggak, apa yang saya alami itu tragis ...." kata Melian pada Irul.

__ADS_1


    "Tragis bagaimana ...?" tanya Irul yang tentu tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Melian.


    "Begini, Mas Irul .... Boleh saya cerita ya, Mas .... Mungkin ini terlalu berat buat saya, tetapi pengalaman ini memang benar-benar fakta yang saya alami. Kenyataan yang saya hadapi terlalu berat buat saya, Mas Irul." kata Melian terputus.


    "Maksud Melian apa ya? Kehidupan yang seperti apa ...? Kenyataannya yang saya lihat Melian itu gadis yang sukses, gadis cerdas, gadis pintar, gadis yang sudah mendapatkan segala macam penghargaan, bahkan saya melihat sendiri ketika Rektor pimpinan Universitas Melian memberikan apresiasi terbaik kepada Melian. Masih kurang apa, Sayang ...?" begitu kata Irul yang tentu sambil mengelus rambut Milian yang terurai.


    "Iya, Mas Irul .... Itu memang benar,  kalau penghargaan-penghargaan, kalau masalah prestasi, saya punya semuanya .... Dan tentunya apa yang saya dapatkan itu adalah seluruh penghargaan yang terbaik yang melibatkan  orang-orang yang ada di dekat saya. Tetapi Mas Irul .... Perlu Mas Irul tahu bahwa saya ini mempunyai gelang giok. Lihat,  ini Mas Irul .... Gelang giok dengan ukiran seekor naga. Gelang ini sudah terpakai di lengan Melian sejak Melian masih kecil. Dan Mas Irul perlu tahu kalau gelang giok yang saya kenakan ini tidak pernah lepas dari tangan saya. Bahkan tidak bisa dilepaskan oleh siapa saja." kata Melian yang sambil menunjukkan gelang giok berukir naga itu, yang melilit di lengannya, diperlihatkan kepada Irul.


    "Ya .... Saya tahu, Melian .... Saya tahu persis tentang gelang giok yang kamu pakai itu. Dan gelang itu tidak ada seorang pun yang tahu, siapa yang memberikan gelang itu kepadamu. Bahkan mamah kamu sendiri, Cik Lan, juga tidak tahu siapa sebenarnya yang memberikan gelang giok itu di lengan kamu." kata Irul kepada Melian, yang tentu Irul ingat betul bahwa gelang itu memang gelang aneh. Bahkan ibunya Melian saja tidak tahu siapa sebenarnya yang sudah memberikan gelang itu kepadanya.


    "Begini, Mas Irul .... Saya merasa aneh dengan kehidupan saya sendiri. Kenapa setiap laki-laki yang mencoba mendekati diriku, selalu saja bernasib apes." kata Melian.


    "Maksud |Melian ...?!" tanya Irul yang ingin tahu.


    "Ya .... Setiap laki-laki yang mencoba berdekatan dengan saya, kenapa selalu meninggal ...? Bahkan banyak yang mati tragis ...." kata Melian yang menyampaikan masalah itu kepada Irul.


    "Benarkah seperti itu, Melian ...?" tanya Irul yang belum tahu siapa yang dimaksud. Karena yang diketahui Irul adalah Pak Endang, dosennya Melian yang menjadi pacarnya.


    "Benar, Mas Irul .... Dulu waktu Melian sekolah di Semarang, Jonatan yang berusaha dekat dengan saya, tiba-tiba juga mengalami kecelakaan. Bahkan waktu kejadian kecelakaan itu malah bersama saya. Jonatan meninggal. Lantas temannya Putri, yang berusaha mendekati saya, mengalami kebakaran di Jakarta. Demikian juga Akbar, yang mulai dekat dengan saya, ia meninggal karena kecelakaan masuk jurang. Ada juga laki-laki yang ngejar-ngejar saya, dia juga meninggal. Dan kemarin, Pak Endang yang justru baru ketemu dengan Pak-e dan Mak-e .... Itu tragis, Mas Irul ...." kesah Melian pada Irul, yang tentu mengisahkan nasib dari laki-laki yang mendekati dirinya.


    Irul terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tapi pikirannya mulai melayang, benarkah itu semua? Apakah ini suatu kebetulan, ataukah ada sesuatu pada diri Melian? Jika benar, apa sebenarnya yang menyebabkan semua ini terjadi?

__ADS_1


    Melian terdiam. Ia hanya memandangi langit yang sudah berwarna merah dan sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Namun tiba-tiba, dari tangan Melian yang terdapat gelang gioknya itu bergetar. Tetapi getaran yang ada pada lengan Melian itu tidak seperti getaran-getaran yang lalu. Tidak seperti saat-saat ketika orang-orang yang dekat dengannya malah meninggal dunia. Tetapi getaran itu seakan-akan mengelus-elus lengan Melian. Getaran itu seakan membelai Melian. Bahkan getaran itu seakan memberikan kemesraan dan kenikmatan kepada Melian.


    Mengapa ini terjadi ...?


__ADS_2