GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 25: KERINDUAN PADA CUCU


__ADS_3

    Peristiwa tragis ledakan api yang terjadi di krematorium, yang mengakibatkan pasangan suami sitri famili Babah Ho jadi terbakar itu sudah berlalu. Namun peristiwa itu justru menyisakan bekas luka yang sangat mengerikan. sekujur tubuh suami istri tersebut sudah tidak lagi terlihat bagus, tidak terlihat cantik. Tetapi justru menakutkan. Karena sekujur tubuhnya muncul keloit kerut-kerut tidak karuan yang berwarna hitam menjijikkan. Mulai dari pucuk kepala hingga telapak kaki. Bahkan rambut yang terbakar itu tidak tumbuh lagi, hanya kulit kepala yang berkerut-kerut seperti kulit jeruk purut yang kering dan kisut.


    Tentu hal itu justru menambah penderitaan tersendiri bagi dua orang tersebut. Sang suami, yang dulu badannya gemuk putih, dan tentu bersih rapi, kini dia tidak bisa lagi pamer tubuhnya. Malu dengan keadaannya yang menjadi jelek, menjijikkan dan menakutkan itu. Karena saking malunya, laki-laki itu tidak mau keluar rumah. Takut dilihat orang.


    Demikian juga yang perempuan. Kalau dulu ia bisa pamer kecantikan, menganggap dirinya mulus, kulitnya halus, tidak punya cacat, dirinya terlihat sempurna, segala-galanya ada. Kini, ia merasa sangat menderita. Ia merasa sangat tak berguna. Ia merasa hidupnya sangat sia-sia. Ia malu dengan keadaan tubuhnya yang sangat mengerikan, sangat menjijikkan, dan sangat menakutkan. Seluruh tubuhnya meninggalkan bekas luka bakar yang sangat menyedihkan. Tentu ia malu dilihat orang. Sama seperti suaminya, ia tidak mau keluar rumah.


    Namun selain suami dan istri itu yang tentu sedih dengan keadaan tubuhnya yang menjadi cacat, tetapi anak-anaknya juga menanggung beban malu. Di sekolah teman-temannya mengejek. Anak-anaknya dibuli. Orang tuanya dikatakan seperti monster yang menakutkan. Pasti anak-anaknya yang masih sekolah itu juga malu dan tidak mau berangkat sekolah karena takut akan diejek teman-temannya.


    Terlepas dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan yang terjadi pada keluarga Babah Ho, kini Babah Ho hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Pasti semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Secara perlahan Babah Ho maupun istrinya mulai menata kehidupannya lagi. Mereka berdua sudah mulai sering ke kiosnya. Meski yang meladeni kebanyakan adalah pembantunya. Yang penting kios itu mulai jalan untuk melayani para pelanggan. Dan secara berangsur, kios Babah Ho mulai ramai kembali.


    Setelah kepulangannya dari Semarang karena harus ikut dalam upacara pembakaran jenazah familinya, dan sudah merasa lebih lega, Babah Ho mulai teringat dengan nasib cucunya, Melian. Ya, kemarin-kemarin saat disibukkan dengan kesusahan yang bertubi-tubi, tentu Babah Ho tidak mengurusi cucunya. Apalagi dia tahu kalau Melian sudah diajak orang. Pasti tidak menjadi persoalan dalam hidupnya, dan justru meringankan beban dirinya saat harus mengurusi kematian yang berturut-turut.


    Tentu setelah rumahnya sepi, Babah Ho kembali teringat dan rindu pada cucunya. Meski ibunya sudah tidak ada lagi, dan setelah seminggu lebih tidak tahu kabar berita tentang cucunya,


    Demikian juga istrinya, yang oleh orang-orang dipanggil Cik Jun itu, kini justru bingung menanyakan cucunya. Maka ia menyuruh salah satu pembantu yang melayani di kiosnya untuk mencari Melian yang dibawa oleh Jamil dan Juminem, yang katanya rumahnya di daerah Sarang. Tentu sang nenek ingin ketemu cucunya yang kini sudah tidak punya ayah dan ibu tersebut.


    Tanpa bertanya apa-apa, laki-laki muda yang membantu melayani pembeli di kios Babah Ho itu langsung berangkat dengan mengendarai motor yang biasa digunakan untuk mengantarkan belanja pesanan pelanggan. Laki-laki yang kira-kira berusia dua puluh dua tahun itu, yang oleh orang-orang sering dipanggil Mas Irul, langsung menuju kampung yang ditunjukkan oleh para pelanggan yang tahu daerah tersebut. Ya, Mas Irul akan mencari rumah Jamil.


    Tidak susah untuk mencari rumah Jamil. Orang sekampung tahu semua. Itulah keakraban masyarakat pedesaan. Meski jarak rumahnya sangat jauh, mereka tahu para tetangganya. Semua orang tahu. Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai saudara atau famili. Ya, itu kelebihan yang dimiliki oleh orang kampung. Rasa kekeluargaan dan keakrabannya sangat kuat. Selain itu, saling membantu dan saling menolong adalah sifat yang perlu dicontoh. Rasa empati antar sesama sangat luar biasa. Maka sekali tanya, pasti langsung ketemu.


    "Pak, numpang tanya .... Rumah Mas Jamil suaminya Mbak Juminem itu mana, ya ...?" tanya Mas Irul saat baru saja masuk kampung, meski rumah-rumah penduduk masih jauh. Ya, Mas Irul menghentikan motornya dan langsung bertanya di batas kampung.


    "Oo ..., Kang Jamil .... Sana terus .... Masih lumayan agak jauh. Memang mau apa?" tanya laki-laki separo baya yang ditanyai.


    "Ada perlu dengan Kang Jamil .... Disuruh Babah Ho ...." jawab Mas Irul yang sudah mematikan mesin motor.


    "Kalau begitu saya mbonceng .... Nanti saya antarkan ke rumah Kang Jamil." sahut orang itu.


    "Ya, terima kasih .... Monggo ...." kata Mas Irul yang langsung menyetarter kendaraannya lagi.


    Laki-laki itu langsung membonceng Mas Irul, untuk menunjukkan rumah Jamil. Lumayan tidak jalan kaki dari ladang sampai rumah Jamil.

__ADS_1


    "Terus saja .... Lurus, mengikuti jalan ini terus ...." kata laki-laki yang membonceng.


    "Iya, Pak ...." sahut Irul yang tentu tidak bisa mengendarai motornya secara kencang, karena jalan masuk kampung itu hanya diuruk dengan pecahan-pecahan batu kapur yang memang banyak terdapat di daerah itu.


    "Memang mencari Kang Jamil mau disuruh apa, Mas ...?" tanya bapak yang diboncengkan itu.


    "Disuruh ngantar cucunya Babah Ho .... Engkong sama Emak kangen." jawab Irul.


    "Oooo .... Jadi anak kecil yang dimomong Juminem itu cucunya Babah Ho ...?" Kata bapak itu sembari bertanya.


    "Iya .... Namanya Melian, ibunya sudah meninggal minggu kemarin itu. Bapaknya juga sudah meninggal tertembak saat demo." jawab Irul, tentu sambil konsentrasi menyetir kendaraannya.


    "Walah, kasihan sekali .... Anak masih kecil segitu sudah yatim piatu ...." sahut bapak itu.


    "Ini ke kanan apa kiri, Pak ...?" tanya Irul saat ada perempatan jalan.


    "Lurus saja, Mas .... Pelan-pelan."  jawab sang bapak itu.


    "Hop ..., hop ..., ho .... Berhenti sini." kata si Bapak itu.


    Irul langsung menghentikan kendaraannya, agak menepi ke samping kiri. Dia sudah sampai di perkampungan. Memang kampung yang masih kurang mendapatkan sentuhan pembangunan sarana jalan. Semua jalannya terlihat putih kekuningan, karena hanya terbuat dari rumukan batu kapur yang dipakai untuk mengeraskan jalan.


    "Ini rumah Mas Jamil, Pak ...?" tanya Irul pada si bapak yang sudah turun dari boncengannya itu.


    "Hehehe .... Ini rumah saya .... Saya turun di sini. Lha .., rumahnya Mas Jamil yang itu. Terima kasih ya ..., sudah diboncengkan .... Monggo pinarak ...." kata si bapak itu, yang ternyata menyuruh berhenti di depan rumahnya. Tetapi memang rumah Jamil sudah dekat, dan langsung ditunjukkan. Bapak itu adalah tetangga dekat Jamil.


    "Oh, nggih ..., Pak .... Maturnuwun." shut Irul yang langsung memajukan kendaraan menuju halaman rumah Jamil.


    Siang itu, tentu rumah Jamil sepi. Pintunya tertutup. Jamil bekerja menggali batu kapur. Sedangkan Juminem ada di dalam rumah sedang tidur bersama anak kesayangannya.


    "Kulanuwun .... Kulonuwun .... Kulonuwun ...." Irul beruluk salam di depan pintu.

__ADS_1


    "Monggo .... Sebentar ...." terdengar suara dari dalam rumah. Suara wanita. Pasti itu suara Juminem.


    Begitu mendengar suara orang mau bertamu, Juminem langsung bangun dari tempat tidur. Lantas membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu.


    "Siapa, Ya ...?" tanya Juminem.


    "Saya yang membantu jualan Babah Ho di Pasar Lasem, ini disuruh Babah Ho kemari untuk ketemu Mas Jamil ...." begitu kata Irul pada Juminem.


    "Walah .... Kang Jamil masih kerja ...." sahut Juminem.


    "Kerjanya jauh?" tanya Irul yang ingin tahu lokasinya, mungkin saja akan disusul.


    "Jauh, leh .... Wong Kang Jamil itu buruh nambang kapur ...." jawab Juminem.


    "Waduh ...?!" Irul terlihat bingung.


    "Memangnya ada apa leh, Mas ...?" tanya Juminem yang tentu juga ingin tahu.


    "Anu .... Babah Ho pengin ketemu cucunya .... Melian disuruh ngajak pulang ...." kata Irul menjelaskan.


    "Oalah .... Suruh ngantar Melian, to .... Ya sudah, nanti sore kalau Kang Jamil sudah pulang saya ajak ngantarkan Melian. Tidak usah khawatir, pokoknya saya antarkan .... Tidak usah bilang-bilang ke polisi ...." kata Juminem menyanggupi untuk mengantarkan Melian ke rumah kakek dan neneknya.


    "Oh, nggih .... Nanti saya sampaikan Babah Ho. Kalau begitu saya langsung pulang. Maturnuwun ...." kata Irul yang langsung berpamitan.


    "Lho ..., nggak minum dulu?" Juminem basa-basi.


    "Tidak .... Terima kasih .... Wong tokonya masih ramai, kok ...." sahut Irul yang sudah mau menuju motornya.


    "Yah sudah .... Hati-hati di jalan, ya ...." kata Juminem memesan pada Irul.


    Seperginya Irul dari halaman rumah Juminem, tentu hati Juminem berubah dengan berbagai macam perasaan yang tidak karuan. Antara ingin menyerahkan Melian kepada kakek neneknya, tetapi juga merasa tidak rela kalau harus memberikan anak cantik itu. Maklum, sudah dua minggu Melian ia dekap dengan penuh kasih sayang. Pasti hati Juminem sudah terlanjur mencintai bayi itu. Apalagi selama bertahun-tahun ia menikah belum dikaruniai momongan. Pasti ia sangat ingin punya anak. Tentunya kehadiran Melian dalam hidupnya adalah obat untuk mengisi kesepian keluarganya selama ini.

__ADS_1


    Tapi ketika ada orang utusan Babah Ho yang datang, meminta Juminem untuk mengantarkan Melian kepada kakek neneknya, Juminem pasti akan kehilangan buah hatinya yang baru saja menghibur hidupnya.


__ADS_2