GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 52: MAKAM TAK TERAWAT


__ADS_3

    Akhirnya Jamil sampai juga di puncak Gunung Bugel tersebut, dimana Nenek Amak yang membawa Melian sudah berada di sebuah bongpai kuno tidak terawat. Tentu ia ingin menyelamatkan anaknya yang dibawa Nenek Amak itu. Yang pasti karena Jamil sangat khawatir dengan peristiwa aneh yang terjadi di kubur Cik Lan itu. Ia khawatir kalau Melian yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, diculik dan dibawa kabur oleh Nenek Amak. Maka Jamil yang sudah sampai disitu langsung mendekat dan ingin merebut kembali anaknya.


    Namun tiba-tiba, tanpa menoleh ke belakang, Nenek Amak mengangkat tangan kirinya ke belakang seperti layangnya orang menyetop kendaraan. Nenek Amak mencegah Jamil untuk mendekat ke dirinya. Ia tidak menghendaki ada orang lain yang mengganggu dirinya saat menyatukan konsentrasi ritual gaib yang dijalani.


    Jamil berhenti. Ia menuruti tangan Nenek Mamak yang mencegah dirinya untuk mendekat. Ia langsung berhenti, dan tentu menghela napas berkali-kali. Tentu saking capeknya saat berlari mendaki puncak Gunung Bugel di Bukit Lasem itu. Larinya memang sudah sangat kencang, tetapi tetap saja kalah sama Nenek Amak yang melayang dibawa cahaya.


    Juminem yang terengah-engah tidak kuat berlari, bahkan jalannya saja tertatih-tatih, akhirnya sampai juga ke puncak bukit.


    "Kang .... Hah ..., hah ..., hah .... Aku tidak kuat, Kang ...." Juminem sambat pada suaminya.


    Jamil tidak menjawab. Diam saja. Bahkan tidak menoleh ke istrinya. Hanya tangannya yang terangkat ke belakang untuk meminta istrinya berhenti. Persis seperti yang dilakukan oleh sang nenek tadi.


    "Kang ...! Anak kita bagaimana ...?!" Juminem bertanya kencang pada suaminya. Tentu ia ingin agar suaminya segera merebut Melian dari sang nenek yang membawanya.


    Jamil masih tidak menjawab. Tapi kali ini telunjuk jari tangannya ditutupkan ke bibir. Artinya Jamil menyuruh Juminem untuk diam.


    Namun bagi Juminem yang sudah terlanjur sangat menyayangi bayinya, ia tidak rela menyaksikan Melian yang dibawa Nenek Amak itu terjepit ke bongpai yang terbuat dari batu yang dipahat. Maka tanpa menghiraukan suaminya, Juminem langsung berlari menubruk Nenek Amak yang sedang bersimpuh itu, untuk merebut anaknya yang dipepetkan dengan dinding bongpai.


    Lagi-lagi, hal aneh terjadi. Juminem yang berniat menubruk itu, tiba-tiba tubuhnya terpental ke belakang. Entah siapa yang mendorong, tetapi tubuh Juminem seakan dilempar menjauhi tempat bongpai tersebut.


    Jamil yang menyaksikan itu terkejut. Kaget melihat tubuh istrinya yang melayang ke belakang. Spontan gerak refleknya ingin menyelamatkan istrinya. Maka ia langsung berusaha menangkap tubuh instrinya yang melayang tersebut.


    "Bruuuhgk ...!!!"


    Jamil dan istrinya tersungkur ke tanah. Pasti Jamil yang berlari menangkap istrinya, tidak kuat menerima tubuh yang melayang itu. Dua orang jatuh bertindihan. Jamil yang berada di bawah dan tertindih tubuh istrinya, langsung meringis kesakitan.


    "Haduh, Kang .... Sakit ...." kata Juminem sambil memegangi pinggangnya.


    "Saya lebih sakit, Jum .... Tubuhmu menghantam diriku .... Ini kepalaku terbentur." sahut Jamil yang tentu lebih kesakitan.


    "Maaf, Kang ...." Juminem tersenyum.


    "Orang sudah disuruh berhenti .... Disuruh diam, kok malah nubruk saja ...." Jamil tentu jengkel dengan istrinya.

__ADS_1


    "Iya, maaf .... Saya kan sangat khawatir, Kang ...." kata Juminem yang kemudian bangun dari atas tubuh suaminya. Demikian juga Jamil, merangkak bangkit dengan tubuh yang terasa sakit semua.


    Mereka berdua terdiam di tempat jatuhnya, dan lantas memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nenek Amak. Ya, Nenek Amak masih bersimpuh di bongpai batu tak terawat itu. Kepalanya masih terantuk pada bagian tengah bongpai, bagian lehernya seakan tertarik, bersamaan dengan tangan Melian yang mengebakan gelang giok. Ya, tentu leher itu tertarik, karena sebenarnya yang ditarik oleh bongpai itu adalah liontin giok yang menggantung di kalung yang melingkar di lehernya. Dua benda itu, gelang dan liontin dari giok yang dikenakan oleh Melian dan Nenek Amak berpadu menjadi satu dan seakan tersedot ke nisan batu yang sangat besar itu.


    Ya, memang pada bongpai yang terbuat dari batu besar yang dipahat itu, di bagian tengah dinding batu yang melengkuk menghadap ke arah laut terdapat semacam cekungan, seperti mangkuk yang menempel di batu itu. Di tengah cekungan itu terdapat lingkaran semacam lubang agak dalam, tetapi tidak menembus batu. Rupanya dari lubang itu sinar putih yang memancar tadi dan menyedot Nenek Amak bersama Melian. Dan kini, lubang itu pula yang seakan menyedot liontin dan gelang giok yang dikenakan oleh Nenek Amak dan Melian. Makanya leher dan lengan kedua orang itu seakan ditarik masuk ke dalam batu. Cahaya putih itu masih terus menyeret benda yang dikenakan oleh Nenek Amak maupun Melian, neskipun cahaya itu sudah tidak seperti tadi saat menarik tubuh dua orang pemakai perhiasan batu giok tersebut.


    Jamil dan Juminem tertegun menyaksikan semua itu. Mereka berdua hanya mampu melihat, matanya tak berkedip. Tetapi mereka tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Maka, Jamil dan Juminem hanya bisa diam dan tak berani berucap sepatah kata pun. Bahkan untuk menghembuskan nafas saja, ia sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan suara.


    Dan disaat itu ....


    "Jamil ...!!! Juminem ...!!!" Nenek Amak berteriak memanggil Jamil dan Juminem.


    Jamil bingung mau berbuat apa. Tentu juga karena rasa takut. Meski dipanggil Nenek Amak, ia tidak berani mendekat. Begitu juga Juminem, yang tentu lebih takut.


    "Jamil ..., Jamil ......!!! Juminem ..., Juminem ......!!!" kembali Nenek Amak berteriak-teriak memanggil Jamil dan Juminem, pastinya ia ingin dua orang itu segera mendekat.


    Bersamaan itu, Angin kencang berputar di tempat bongpai tua tersebut. Angin terus berputar dan semakin kencang, seperti siklon. Akibatnya, daun-daun kering, ranting-ranting kecil, serta rumput semak yang berserakan, ikut berputar dibawa oleh angin ribut itu. Tidak berhenti, dan terus berputar semakin kencang, dan sangat dahsyat. Hingga seakan angin itu akan mengangkat tubuh Nenek Amak yang juga memegangi Melian.


    Jamil yang tahu situasi semakin gawat, ia langsung berlari menerobos angin yang berputar kencang itu, dan langsung menubruk tubuh Nenek Amak, membantu bertahan dari putaran angin beliung itu. Demikian juga Juminem. Sambil terhuyung-huyung melawan kencangnya hempasan angin, Juminem mendekat ke tempat itu. Begitu sampai di tempat itu, Juminem langsung menubruh Melian. Ia mendekap anaknya.


    Setelah istrinya berhasil mendekap anaknya, tangan kiri Jamil langsung memeluk istrinya, sedangkan tangan kanannya memeluk Nenek Amak. Mereka berempat saling berpelukan, untuk mempertahankan diri dari hembusan angin beliung yang terus berputar kencang. Tubuh mereka dipepetkan pada cekungan batu bongpai untuk berlindung dari kekuatan angin yang meniup tempat itu. Bahkan setelah empat orang ini saling mempertahankan diri untuk bertahan, angin itu justru berputar semakin kuat dan semakin kencang, hingga terdengar dsirnya angin yang bersiutan menakutkan.


    Dan dipuncak kencangnya putaran angin yang bagaikan tornado itu, tiba-tiba bongpai yang mereka tempati terangkat oleh angin. Bongpai yang terbuat dari batu besar yang dipahat itu pun naik ke atas seperti dicabut atau diangkat oleh kekuasaan yang maha dahsyat. Tidak hanya batu bongpai itu saja yang terangkat, ternyata dari dalam tanah pekuburan keluar peti mati aneh. Ya, peti mati yang terbuat dari batuan warna hijau mengkilap.


    Setelah bongpai itu terangkat ke atas, tiba-tiba saja angin tornado itu pun berhenti. Tenang rasa hati Jamil serta Juminem. Kekhawatirannya berkurang. Yang muncul kini adalah keheranan. Heran menyaksikan kejadian aneh yang baru saja dilihatnya. Batu bongpai sebesar mobil bak terbuka terangkat oleh putara angin. Dan ternyata, yang lebih mengherankan lagi, di bawah batu besar tersebut ada batuan berwarna hijau dengan bentuk menyerupai peti mati yang sangat indah.


    Ya ..., itu batu giok. Batu giok yang dipahat menjadi peti mati. Peti mati yang terbuat dari batu giok besar itu sangat bening dan mengkilap. Sungguh luar biasa. Hingga bagian dalamnya terlihat, ada sosok manusia dengan pakaian adat Tiongkok yang tergeletak di dalamnya.


    Benar-benar luar biasa. Sebuah batu giok yang sangat besar itu digunakan untuk mengubur orang yang sudah meninggal. Pastilah orang ini sangat hebat dan bukan orang sembarangan.


    "Baba ...! Baba ...!" teriak Nenek Amak.


    Nenek Amak langsung mendekap peti mati dari batu giok tersebut. Tentu langsung menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


    Beruntung Jamil sangat sigap. Begitu Nenek Amak melepaskan Melian, Jamil langsung menangkap bayinya itu. Tepat didekapan, tubuh kecil itu langsung dipeluknya. Demikian juga Juminem, yang tadi sangat khawatir, kini ikut memeluk anaknya yang sudah didekap oleh suaminya.


    "Baba ...! Baba ...! Baba ...! Baba ...!" Nenek Amak terus berteriak, sambil menangis sejadi-jadinya, meratapi orang yang tertidur dalam peti dari batu giok itu.


    Jamil baru menyadari, kalau apa yang diucapkan Nenek Amak itu adalah memanggil-panggil ayahnya. Baba dalam bahasa Tiongkok daratan berarti bapak atau ayah. Itu artinya orang yang seakan tertidur dalam peti mati yang terbuat dari batu giok itu adalah ayahnya. Mungkin ini, orang yang disebut-sebut sebagai Tan Liong itu, yang ternyata adalah ayah dari Nenek Amak.


    Jamil menyerahkan anaknya kepada Juminem. Ia turun ke tanah, mau membantu Nenek Amak. Jamil terlebih dahulu menurunkan istrinya yang sudah membopong anaknya. Ya, bongpai itu memang terangkat setinggi peti mati yang keluar dari dalam tanah kuburan itu.


    Lantas Jamil berlari ingin mengangkat Nenek Amak yang masih histeris menangis. Namun, belum sempat Jamil membantu Nenek Amak, tiba-tiba saja peti mati dari batu giok itu kembali turun ke lubang kuburan. Nenek Amak yang memeluk peti mati batu giok itu tidak mau melepaskan. Ia justru masuk ke dalam peti, menjadi satu dalam luang peti tersebut bersama dengan mayat yang ada di dalamnya.


    "Meliaaaan .....!!!" teriak nenek tua itu yang sudah berada dalam peti dari giok.


    "Bruuukght ....!!" dan saat itu pula, bongpai yang tadi terangkat tiba-tiba turun dan menutup tempat itu lagi secara sempurna, tanpa ada bekas tanah yang terbuka maupun tercecer. Seakan di tempat itu tidak pernah terjadi apa-apa.


    Beruntung Jamil sudah menurunkan istri dan anaknya. Beruntung pula dirinya tidak ikut masuk ke lubang kubur untuk mengangkat Nenek Amak. Tentu Jamil dan Juminem kaget menyaksikan itu semua. Dan yang paling menyedihkan, Nenek Amak yang masuk ke dalam peti mati yang terbuat dari batu giok indah tersebut, tertimbun bongpai yang kembali menutup kuburan itu.


    "Nenek Amaaaak ...!!!" Juminem menjerit sejadi-jadinya, menangisi Nenek Amak yang hilang tertimbun tanah kuburan.


    Jamil berlari ke bongpai, berusaha menggapai. Tetapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Jamil pun bersimpuh tertunduk sedih, meratapi nasib Nenek Amak yang ikut terkubur. Kepalanya terantuk pada batu nisan itu.


    Juminem yang membopong anaknya, menghampiri suaminya yang suduh sujud di nisan itu.


    "Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ....!" Melian beretriak memanggil-panggil. Mungkin ia memanggil Nenek Amak yang sudah terkubur dalam pemakaman itu.


    "Klunting ..., ting ..., ting ..., tingngng ....Klutik."


    Tiba-tiba, dari cekungan pada batubongpai yang terpahat berbentuk mangkok itu, dari lubangnya jatuh kalung dengan liontin giok berukir naga yang dikenakan oleh Nenek Amak, berputar di depan tempat Melian yang didirikan oleh ibunya pada batu bongpai. Aneh, liontin giok yang berukir naga itu melenting ke atas beserta kalungnya yang terbuat dari emas murni, lantas jatuh melingkar di lehar Melian.


    "Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ....!" Melian tersenyum girang sambil memegangi liontin giok berukir naga tersebut.


    Jamil dan Juminem saling pandang. Mungkin inilah makan leluhur Melian yang sesungguhnya. Dan gelang giok serta liontin giok yang berukir naga itu adalah simbol keluarga leluhur Melian.


    Untuk menghormati arwah leluhur anaknya, Jamil dan Juminem membersihkan bongpai itu, agar terlihat lebih indah dan tidak kotor. Mereka tidak hanya membersihkan rumput-rumputnya saja, tetapi juga membersihkan bongpai yang terbuat dari batu utuh tersebut.

__ADS_1


__ADS_2