GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 51: DI PUNCAK GUNUNG BUGEL


__ADS_3

    Lao Sam, sebuah kota pelabuhan di pantai utara Jawa yang langsung menghadap ke Laut Cina Selatan, menjadi tempat persinggahan bagi saudagar-saudagar Cina yang membawa berbagai barang dagangan. Akhirnya, tempat itu menjadi ramai dan sangat terkenal. Orang-orang Cina yang datang di tempat itu pun kemudian tinggal dan menetap. Tempat yang disebut-sebut oleh saudagar-saudagar Cina dengan kata Lao Sam itu selanjutnya oleh warga setempat, oleh penduduk asli yang kesulitan mengucapkan bahasa Hokian, mereka menyebut dengan kata La - Sem. Hingga hari ini tempat itu disebut "Lasem". Itulah asal muasal kota Lasem.


    Ya, Lasem merupakan salah satu dari tiga tempat terbesar yang pada masa abad ke empat belas hingga abad lima belas menjadi tujuan imigran dari Cina ke Pulau Jawa. Selain Lasem, dua wilayah lainnya adalah Sampotoalang, yang sekarang disebut dengan nama Semarang, dan Ujung Galuh yang sekarang bernama Surabaya. Namun diantara tiga kota pelabuhan itu, yang paling besar adalah Lasem. Oleh sebab itulah, pada masa itu Lasem menjadi tempat tinggal yang banyak dihuni oleh orang-orang Cina.


    Itulah sebabnya, di Lasem banyak peninggalan Cina, seperti kelenteng, bangunan-bangunan dengan arsitek Cina, bahkan juga ada batik Lasem yang motifnya merupakan percampuran pengaruh Tionghoa dan Jawa. Dan yang paling besar adalah kuburan Cina yang ada di Gunung Bugel atau yang disebut Bukit Lasem. Bong Cina Gunung Bugel yang ada di Bukit Lasem, merupakan kuburan Cina terbesar di Jawa, bahkan di Indonesia.


    Menurut kepercayaan orang Cina, orang yang meninggal itu hanya fisiknya. Tetapi jiwa dan ruh yang disebut sebagai sukma orang itu masih hidup. Maka untuk memberikan tempat terbaik bagi orang meninggal tersebut, dibuatlah bangunan-bangunan makam yang bagus dan indah. Selain itu, bongpai yang dibangun itu pun dihadapkan ke arah laut, konon katanya agar bisa melihat ke arah tanah leluhurnya yang ada di Cina daratan. Itulah sebabnya bongpai yang dibangun rata-rata menghadap ke arah laut, dan diletakkan di puncak gunung atau bukit.


    Mobil carry station warna hijau sudah sampai di Bukit Lasem, di lereng sisi barat Gunung Bugel. Sang sopir yang juga teman Jamil, memarkirkan di area pinggir kuburan.


    Jamil yang turun duluan. Lantas membukakan pintu untuk istrinya yang membopong Melian yang sudah tidur sejak mobil berjalan. Demikian juga Nenek Amak, yang turun belakangan. Lantas mereka bersiap untuk naik ke area pekuburan.


    "Mas Jamil ..., saya tidak ikut naik, ya .... Mau tidur saja di mobil." kata spir itu kepada Jamil, yang memilih ingin tidur di tempat parkiran.


    "O, ya .... Kami naik dulu, ya ...." sahut Jamil.


    Jamil mengganti istrinya untuk membopong Melian. Langsung saja bocah cantik itu disandarkan ke bahu dengan kepala yang menggeletak di pundak bapaknya. Tentu sangat nyaman. Apalagi diajak jalan mendaki bukit. Rasanya pasti seperti diayun yang menyebabkan tidur Melian semakin nyenyak.


    "Lewat sini, Nek .... Hati-hati, jalannya agak naik ...." kata Juminem pada Nenek Amak.


    "Iya ...." sahut si nenek.


    "Tempatnya agak jauh ...." kata Juminem lagi.


    "Iya .... Tempat ini namanya Gunung Bugel .... Ada cerita unik tentang tempat ini." kata nenek itu.


    "Cerita apa, Nek?" tanya Juminem sambil terus berjalan.

__ADS_1


    "Gunung Bugel ini .... Tempat yang menunjukkan kesaktian orang Cina. Konon ceritanya ada pemuda Cina yang mengembara ke Lasem, namanya Tan Liong. Pemuda ini gagah perkasa dan sangat sakti. Ia menelusuri keindahan hutan yang ada di Lasem, menelusup hingga sampai ke tengah hutan. Namun saat ia kembali ke pesisir, ia menemui gadis pujaannya bersama laki-laki lain. Tan Liong itu marah, dan terjadilah perkelahian antara dirinya dengan laki-laki yang menggandeng kekasihnya itu. Perkelahian semakin sengit. Adu kesaktian pun kian menjadi. Sang gadis yang menjadi rebutan itu bingung. Akhirnya ia bunuh diri. Melihat wanita pujaannya sudah meninggal, Tan Liong semakin marah. Ia mengerahkan seluruh kesaktiannya untuk melawan musuhnya itu. Akhirnya, laki-laki yang merebut kekasihnya itu jatuh tersungkur bersimbah darah. Untuk melengkapi kemarahannya itu, Tan Liong menaruh mayat kekasihnya dan laki-laki yang sudah merebutnya itu ke dalam kapal, lantas dengan kesaktiannya kapal itu ditendangnya hingga terlempar jauh ke arah selatan dan terjatuh menjadi gunung yang mengubur dua mayat tadi. Tempat inilah yang oleh warga masyarakat sini selanjutnya dinamakan Gunung Bugel, karena bentuknya yang menyerupai bugel atau potongan kayu untuk membuat kapal di daerah pesisir." Nenek Amak menceritakan kisah terjadinya pekuburan Cina di Gunung Bugel. Tentu untuk menghilangkan rasa capek dalam perjalannya, agar bisa tidak terasa perjalanan yang mendaki itu.


    "Walah ..., ceritanya kok ngeri begitu, Nek ...." sahut Juminem yang tentu baru tahu kalau kiburan Cina itu punya sejarah.


    "Itu yang menceritakan orang tua saya dahulu .... Yaa ..., sebagai instropeksi kalau kita punya kekasih itu harus setia ...." jawab si nenek.


    "Iya, Nek .... Kita sudah sampai, Nek .... Ini kuburan Cik Lan." kata Juminem yang berhenti di bongpai yang masih terlihat baru.


    Sang Nenek ikut berhenti. Terdiam sambil mengamati kuburan yang ada di depannya. Cukup lama nenek itu memandangi makam Cik Lan. Mungkin membaca tulisan-tulisan dengan huruf Hanzi atau tulisan Cina. Entah apa artinya.


    Jamil yang membopong Melian, ikut mengamati makam itu. Meskipun ia juga tidak paham apa maksud tulisan yang tertera pada bongpai itu. Tetapi Jamil merasakan ada energi lain yang berbeda. Entah itu berasal dari mana, tetapi yang jelas ada hawa panas yang memancar dari kuburan Cik Lan. Tetapi Jamil tidak mau mengatakan hawa panas itu, ia tetap diam.


    "Namanya Giok Lan .... Tidak ada tidak ada hubungan apa-apa dengan ayahku. Apa mungkin nama ayahku disembunyikan?" kata Nenek Amak yang pandangannya jauh menerawang ke atas.


    "Terus ..., bagaimana, Nek?" tanya Juminem.


    "Tetapi saya merasakan, ada kekuatan aneh yang muncul dari dalam kubur ini .... Wanita ini pasti bukan anak orang sembarangan." kata si nenek yang seakan ingin menyampaikan kalau nenek moyangnya adalah orang-orang sakti.


    "Nama bagi orang Tiongkok ada maknanya. Biasanya dari keturunan-keturunan tertentu, orang-orang Cina memberikan nama kepada anak-anaknya untuk tanda. Yah, seperti halnya keturunan keraton kalau di Jawa. Termasuk keluarga orang tua nenek." jelas sang nenek. Mungkin kalau menemukan gelar kebesaran dalam nama itu, ia bisa memastikan kekerabatannya.


    "Bagaimana kalau nama gelar kebesaran itu disembunyikan agar tidak diketahui musuhnya? Kata Nenek, dulu ayah Nenek punya musuh hingga menghanguskan Kampung Naga ...." Jamil memberi pemikiran lain, yang mungkin itu bisa terjadi.


    "Bisa juga ...." sahut sang nenek.


    "Ma ..., Ma ..., Ma ...." bersamaan itu, Melian terbangun dari pelukan bapaknya, lantas memanggil-panggil mamanya.


    "Eee ..., anak emak sudah bangun .... Ayo, sini ikut emak ...." kata Juminem yang langsung meminta Melian dari bopongan suaminya.

__ADS_1


    "Ma ..., Ma ..... Ma ..., Ma ...." kata Melian sambil menjulurkan tangannya, menunjuk-tunjuk ke kuburan ibunya.


    "Ada apa, Sayang ...?" tanya Juminem yang tentu tidak tahu maksudnya.


    "Ma ..., Ma ..... Ma ..., Ma ...." lagi-lagi Melian menunjuk-tunjuk ke kuburan ibunya, dan kini tubuhnya mulai memberosot ingin turun ke tanah.


    "Anak itu mau turun .... Mungkin ia ingin menyentuh kubur ibunya .... Sini, biar Nenek Amak yang pegangi ...." kata sang nenek yang langsung memegang tubuh Melian.


    Namun, saat Nenek Amak yang berjongkok memegangi tubuh Melian dan mencoba menuntun bocah itu ke kubur ibunya, tiba-tiba gelang giok yang dikenakan oleh Melian mengenai liontin giok yang menggantung dari kalung Nenek Amak. Pada saat gelang giok Melian bersentuhan dengan liontin giok Nenek Amak, tiba-tiba keluar sinar putih menyilaukan mata. Sinar putih itu memancar dari gelang dan liontin seakan seperti sinar laser yang menyorot pada sebuah bongpai tua tidak terawat.


    Tentu Juminem dan Jamil sangat terkejut dengan kejadian itu. Sangat aneh dan menakutkan.


    "Ma ..., Ma ....!! Ma ..., Ma ...!!" Melian kelihatannya juga kaget. Ia terjingkat sambil tangannya menunjuk-tunjuk ke arah cahaya itu menuju.


    "Yah .... Ketemu sekarang ...." gumam Nenek Amak yang langsung mengikuti arah berkas sinar putih menyilaukan tersebut. Lantas Nenek Amak membopong Melian dan langsung melayang, seakan berjalan melintasi sinar itu hingga sampai di bongpai yang menjadi sumber dari sinar tersebut.


    Juminem dan Jamil terpana melihat kejadian itu. Bingung dengan apa yang dilihatnya, antara sadar dan heran.


    "Kang ..., anak kita dibawa terbang nenek itu, Kang ...." tentu Juminem jadi khawatir dengan nasib anaknya.


    "Iya, Jum .... Ayo kita kejar ...!!" sahut Jamil yang langsung mengajak lari istrinya untuk mengejar nenek tua yang bisa terbang seperti nenek sihir yang naik sapu.


    Tentu Juminem terengah-engah kehabisan napas. Jamil larinya terlalu kencang. Istrinya pasti tidak kuat. Lantas Jamil melepas tangan istrinya, ia meninggalkan Juminem. Tentu karena ia ingin segera menangkap si nenek tua yang disangka menculik anaknya tersebut.


    "Kang ...!! Kang ...!! Tunggu, Kang ...!!" Juminem berteriak memanggil suaminya agar tidak meninggalkan dirinya.


    "Saya harus mengejar nenek itu, Jum ...!!! Untuk menyelamatkan anak kita ....!! Kamu menyusul pelan-pelan saja ...." sahut Jamil yang tetap berlari kencang.

__ADS_1


    Namun Jamil tetap kalah cepat dengan si nenek yang tidak menapakkan kaki di tanah, tetapi seperti tersedot oleh cahaya putih yang memancar dari bertemunya liontin dan gelang giok yang dipakai oleh nenek cucu itu. Dan tentu melayangnya nenek yang membopong tubuh melian itu sangat cepat seperti kilat.


    Jamil tidak sanggup mengejar nenek tua itu.


__ADS_2