
Saat Jamil dan Juminem berada di depan teras rumah Babah Ho, sebenarnya ada hal aneh yang terjadi. Saudara-saudara Cik Lan, keluarga Babah Ho, pada saat melihat Juminem dan Jamil yang berdiri di depan rumah Babah Ho, memang seakan melihat pengemis. Juminem dan Jamil benar-benar terlihat seperti layaknya gembel dengan pakaian compang-camping. Demikian juga bayi yang diletakkan di atas lantai dengan alas kain selendang yang sangat lusuh yang penuh tambalan. Bayi itu terlihat kurus dan jelek, serta menjijikkan. Pantas orang-orang yang ada di situ langsung mengusir Jamil dan Juminem dengan kasar.
Itu yang terjadi. Entah apa yang menyebabkan pandangan orang-orang itu bisa berubah. Pasti ada kekuatan di luar nalar yang tidak bisa dipercaya. Yang pasti, semua itu terjadi tanpa disadari baik oleh keluarga Babah Ho maupun Jamil dan Juminem.
Hari itu, acara penguburan Cik Lan memang sudah selesai. Keluarga Babah Ho, famili yang rumahnya jauh masih berniat untuk menginap beberapa hari lagi di rumah Babah Ho di Lasem. Tentu karena mereka akan kecapaian kalau terusan pulang, sementara perjalanannya sangat jauh dan lama. Ya, memang keluarga atau kerabat Babah Ho ini menyebar di berbagai daerah, seperti Semarang, Kudus, Solo, Bandung, Jakarta. Bahkan ada juga yang tinggal di luar Jawa, seperti Riau, Palembang, Pontianak serta berbagai daerah lain. Tentu yang berasal dari kota-kota yang jauh akan menginap lagi untuk beberapa hari, sambil membahas berbagai bisnisnya. Namun yang tinggal tidak jauh, seperti Kudus, Semarang dan Solo, mereka langsung pulang.
Benar, keluarga yang dekat, yang dari Kudus itu berpamitan lebih dulu. Ada empat orang. Suami istri dan dua anaknya yang masih sekolah dasar. Mereka naik mobil pribadi, sang ayah yang menyetir. Mobil sedan bagus warna hitam masih baru. Tentu karena saudara Babah Ho yang tinggal di Kudus ini merupakan salah satu pedagang tekstil terbesar di Kota Kretek. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan rumah Babah Ho. Tentu keluarga yang lain melepas pandang dengan melambaikan tangan.
Namun baru saja mereka menurunkan tangan, tiba-tiba ....
"Ee ..., ee ..., eee ...." mereka berteriak, bahkan ada yang berlari mengejar.
Ya, mobil itu tidak membelok ke kanan untuk menuju Kudus, tetapi berbelok ke arah timur, jalan menuju Surabaya. Tentunya orang-orang yang berada di halaman rumah Babah Ho, bahkan ada yang di jalan depan rumah, meneriaki saudaranya yang naik mobil tersebut, ingin menyampaikan kalau beloknya keliru.
"Alah, paling-paling dia mau piknik dulu ke Tuban .... Atau paling-paling mau ke Tanjung Kodok ...." kata salah seorang yang tadi ikut berteriak.
"O, iya .... Paling-paling mau piknik dulu ...." sahut yang lain.
Akhirnya mereka balik ke teras. Membiarkan saja saudaranya yang dari Kudus itu berbelok ke arah lain. Mereka kembali menata barang masing-masing.
Selanjutnya, saudara Babah Ho yang dari Semarang juga berpamitan pulang. Suami, istri dan satu anak remaja laki-laki. Mungkin sudah sekolah SMA. Mereka bertiga masuk mobil. Yang menyetir anaknya. Orang kota, anak laki-laki remaja pasti sudah terbiasa untuk menyetir mobil.
"Dadah .... Dada ...."
Tiga orang yang masuk mobil sedan warna putih itu berpaimitan, sambil melambaikan tangan. Tentu saudara-saudara yang lain juga menyahut kata "Dada" itu, juga dengan lambaian tangan. Wajah ceria terpancar dari raut muka mereka. Tentu pertemuan bersama, bisa kumpul-kumpul bareng dengan saudara-saudara jauh itu adalah hal yang menyenangkan, meskipun sebenarnya dalam keadaan sedih atau berduka. Tetapi memang, kumpul dengan saudara jauh itu sangat jarang terjadi. Makanya mereka tetap senang, bisa cerita macam-macam, terutama membahas masalah usahanya. Maklum bagi kalangan keluarga Babah Ho, yang rata-rata adalah pedagang, maka yang selalu dibahas adalah perdagangan.
Dasar yang nyetir anak muda, begitu masuk mobil menyetarter kendaraan, gas langsung dibleyer.
"Grouungng .... Gruungruungng ....Grouungng ....!!"
Suara mobil itu menggerung. Tentu karena knalpotnya diganti dengan knalpot brong, maka suaranya besar dan memekakkan telinga.
"Kereeen .......!!!" saudara-saudaranya yang masih muda berteriak memuji sambil mengacungkan jempol.
Memang, anak-anak muda menyaksikan mobil yang dimodif, knalpot brong seperti itu merasa bangga dan mengasyikkan.
Tentu anak muda yang menyetir itu bangga dan tersanjung. Selanjutnya, ia menginjak kopling, lantas memasukkan gigi perseneling. Gas diinjak kencang, kloping dilepas.
"Wuuusszz ...." sedan putih itu melaju kencang, seperti dilemparkan begitu saja.
"Eeee .... Hati-hati ....!!" teriak semua orang yang melihatnya.
"Ciiiiiiiitt .... Dueeeerr .... Bruaaaang ...!!!!" terdengar suara benturan keras.
"Haah ...?!"
"Eeee .... Waduh ...."
"Blaik ...."
"Ada apa ...?!"
Saudara keluarga Babah Ho yang masih berada di jalan depan rumah melepas kepergian saudaranya yang dari Semarang itu langsung kaget. Belum sempat mereka melepas penglihatannya, masih di depan mata mereka, mobil sedan putih ngebrong yang dikendarai saudaranya itu bertabrakkan dengan truk. Persis di pertigaan jalan mau masuk ke jalan raya. Saat mobil sedan itu keluar gang dengan kecepatan tinggi, bersamaan dengan itu ada truk besar bermuatan berat dari arah surabaya yang melintas.
Anak yang menyetir itu sudah berusaha menginjak rem. Namun rupanya yang diinjak bukan rem, melainkan pedal gas. Tentu mobilnya tidak berhenti, melainkan justru seakan terbang dan menubruk badan truk. Dan mobil sedan yang ukurannya pendek itu langsung masuk tepat di kolong truk.
Sopir truk yang tidak menyadari akan terjadi peristiwa itu, ada mobil yang nyelonong, maka dia juga melaju begitu saja. Tentu karena muatan berat, truk itu juga tidak berjalan kencang. Sang sopir baru sadar terjadi kecelakaan saat mendengar suara benturan keras. Namun tentunya, sang sopir yang mebawa truk besar dan bermuatan berat itu tidak mungkin untuk melakukan pengereman secara mendadak. Menghentikan truk berat itu butuh waktu.
__ADS_1
Akibatnya, mobil sedan putih yang masuk ke kolong truk itu terseret hingga dua puluh meter lebih. Tentu mobil sedan putih itu ringsek. Hancur tidak karuan. Bahkan bagian kabin atasnya sudah hilang.
"Kecelakaan ...!! Kecelakaan ...!!" orang-orang yang melihat berteriak-teriak.
"Waduh ....?!"
"Mobil nabrak truk ...!!"
"Walah ..., lah kok bisa masuk di bawah truk ...?!"
"Terseret truk ...."
"Yaampun ...."
"Weh ..., parah ....!!
"Waduh ..., bagaimana itu penumpangnya ...?"
Tentu orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu meresa merinding. Ngeri melihatnya. Mobil sedan yang masuk ke kolong bagian tengah truk itu hancur, masih terseret dan tergencet ban belakang.
"Iki mau piye, to?"
"Itu sedan nyelonong dari gang, langsung masuk ke tengah truk ...."
"Walah, mesakke sopire trek .... Pasti disuruh tanggung jawab ...."
"Ya, kasihan sopir truknya .... Pasti ditahan polisi."
Sopir truk dan kernetnya langsung turu, lari ke pos polisi. Tentu melapor dan minta perlindungan agar tidak dikeroyok masa.
Sementara itu, dari gang, saudara dan keluarga Babah Ho sudah berlarian menuju tempat kecelakaan. Mereka sudah ada yang menangis. Bahkan ada yang pingsan saat tahu kalau saudaranya mengalami tabrakan. Mereka langsung berusaha membantu mengeluarkan mobil dari kolong truk.
"Tunggu dulu, biar dilihat polisi." teriak salah seorang yang ada di situ.
"Pak Polisi sudah datang ...." kata yang lainnya.
"Tolong dibantu mengeluarkan korbannya dahulu .... " kata petugas polisi itu meminta bantuan kepada orang-orang yang sudah mendekat.
Tentu yang berani mendekat hanya kaum laki-laki. Sedangkan orang-orang perempuan, hanya menutup mulutnya, takut dan tidak berani mendekat. Bahkan beberapa wanita hanya menutup wajah dan mata dengan tangannya. Ngeri menyaksikan kejadian yang persis berada di depan pasar tersebut.
"Huk ..., huk ..., huu .... Koko ....." suara salah seorang gadis muda, yang tentu gadis itu adalah keluarga dari Babah Ho, saudara dari orang-orang yang ada dalam mobil itu.
Demikian juga keluarga Babah Ho yang lain. Yang perempuan sudah pada mulai menangis. Mereka tidak kuat menyaksikan saudaranya yang tersangkut di bawah truk, terlindas ban belakang truk besar itu.
"Pak, korbannya luka parah ...!! Kelihatannya meninggal ...!!" teriak laki-laki yang mencoba masuk ke kolong truk untuk mencoba menolong korban.
"Hah ..., apa ...?! Sudah meninggal ...?!" tanya polisi kepada laki-laki yang kerjanya sebagai tukang parkir di Pasar Lasem itu, saat disuruh membantu menolong korban.
"Betul, Pak ...." sahut orang itu.
Bersamaan itu, datang mobil kancil polisi, mobil kinjang bak terbuka dengan kursi kayu di belakangnya. Ada empat orang petugas polisi dari Polsek Lasem, turun dari mobil itu. Dua petugas langsung memeriksa mobil yang masih tersangkut di bawah truk. Sedangkan dua polisi yang masih dekat dengan mobil kancil, langsung memanggil bantuan. Tentunya menghubungi Polantas Rembang.
"Korbannya dikeluarkan dulu ...!" kata polisi yang sudah ikut masuk ke kolong truk bersama dengan orang-orang yang berusaha membantu.
"Iya, Pak .... Tapi ini terjepit besi .... Susah untuk mengeluarkan, harus dideret keluar dari bawah truk lebih dahulu ...." kata salah seorang yang mencoba ikut membantu.
"Lha terus bagaimana?" tanya yang lain.
__ADS_1
Dua orang Polantas datang menggunakan mobil sedan dinas polisi lalu lintas, bersamaan orang-orang yang masih mencari cara untuk mengeluarkan. Polantas itu langsung menuju bawah truk, tempat orang-orang bersiap untuk menolong korban.
"Coba minggir sebentar, saya akan foto kondisinya lebih dahulu." kata salah satu polisi yang langsung memotret. Tidak hanya memotrot keadaan mobil sedan yang terhimpit di bawah truk, tetapi juga memotret bagian-bagian lain yang dianggap bisa dijadikan barang bukti.
"Ini truknya harus diundurkan sedikit, agar mobil ini bisa ditarik keluar." kata polisi yang lainnya.
"Truknya didorong mundur ...!!!" teriak salah seorang.
"Siaaap ...!!" teriak yang lain yang langsung menempelkan tangannya ke truk bersiap mendorong.
"Satu ....! Dua ...! Tiga ...!!" orang-orang itu secara spontan memberi aba-aba.
"Dorong ...!!!" teriak orang-orang serentak.
"Belum bergerak ...!!"
Truk itu memang belum bergerak. Lantas orang-orang yang menonton langsung menuju truk ikut membantu.
"Ayo ..., ayo ..., ayo ...!!" yang memberi aba-aba mengulangi.
"Satu ....! Dua ...! Tiga ...!!" orang-orang itu kembali memberi aba-aba secara bersama.
"Dorong ...!!!" teriak orang-orang kembali.
"Teruuus ...!!" teriak para pendorong.
"Masih kurang sedikit lagi ...!" teriak polisi yang mengamati bagian bawah.
"Satu ....! Dua ...! Tiga ...!!" kembali orang-orang itu secara spontan memberi aba-aba lagi.
"Dorong lebih kuat ...!!!" teriak orang-orang serentak.
"Hop ..., hop ..., hop ....!!" teriak polisi yang mengamati posisinya.
Ya, truk sudah bergeser menjauh dari mobil yang tadi terlindas. Selanjutnya, beberapa orang langsung menelusup ke bawah truk, mengamati posisi mobil yang masuk bawah truk itu. Salah seorang polisi juga ikut mengamati. Tentu juga ingin memastikan kondisi korban. Bahkan polisi itu mencoba membuka pintu mobil yang sudah penyok terlindas roda truk. Namun pintu yang ditarik-tarik itu tidak bisa dibuka. Kondisinya sudah remuk.
"Coba lewat pintu yang sebelah kiri ...." Polisi itu meminta orang yang ikut membantu untuk membuka pintu yang bagian kiri.
Orang-orang yang ada di sisi kiri langsung mencoba membuka pintu mobil yang juga rusak, tetapi tidak separah bagian kanan yang memang dihantam roda truk. Setengah dipaksa, tentu dilakukan oleh beberapa orang.
"Bisa, Pak ...." pintunya bisa dibuka.
"Keluarkan korbannya ...!" sahut polisi itu.
Tentu orang-orang yang membantu itu langsung berusaha mengeluarkan korban. Darah bercucuran, membasahi jok dan membanjiri bak mobil. Bahkan wajah para korban itu tidak bisa dikenali lagi karena berlumuran darah.
"Diangkat pelan-pelan ...."
"Ditarik ...."
"Awas, hati-hati ...."
Satu persatu korban kecelakaan itu bisa dikeluarkan dari dalam mobil. Tapi semuanya sudah meninggal. Korban sudah diletakkan di pinggir jalan. Berjejer tiga orang, suami istri dan anak. Lantas beberapa orang membuka koran ditutupkan ke korban meninggal tersebut.
Keluarga Babah Ho, saudara serta anak-anak, langsung mengelilingi keluarganya yang meninggal itu. Mereka menangis histeris. Bahkan ada yang tidak sanggup untuk menyaksikan saudaranya yang menjadi korban kecelakaan itu. Ada juga yang langsung menubruk jenazah yang tergeletak di pinggir jalan itu.
Sungguh mengenaskan. Baru saja selesai menguburkan Cik Lan, kini berganti tiga orang saudaranya yang meninggal secara tragis.
__ADS_1