GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 231: DEKAT MELEKAT


__ADS_3

    Kini Melian hanya tinggal menunggu wisuda. Sehingga punya banyak waktu luang, bahkan boleh dikatakan Melian saat ini menganggur. Tetapi yang namanya Melian, tidak ada yang namanya menganggur. Bahkan jika boleh dikatakan, waktu satu hari dua puluh empat jam itu masih kurang baginya. Banyak kegiatan dan tentunya sibuk mengurusi anak-anak di Kampung Transformer. Setidaknya mengajar baca tulis. Yang jelas sudah tidak punya beban lagi untuk memikirkan kuliah. Melian sudah dinyatakan lulus. Sehingga waktunya tertuang bersama anak-anak para pemulung.


    Kedekatan Melian dengan para warga sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka sudah menjadi satu kesatuan yang sangat sulit untuk dibedakan antara orang-orang yang bekerja sebagai pemulung, para volunteer maupun orang-orang luar yang belajar di Kampung Transformer. Bahkan juga para wisatawan yang berdatangan ke tempat itu. Bahkan Melian juga ikut terlibat dalam mencari dan mengelola rongsok.


    Memang, yang namanya ilmu pengetahuan itu tidak hanya dari guru atau dosen saja. Ilmu itu tidak hanya diperoleh dari sekolah atau kampus saja. Ada pepatah dari Minang yang mengatakan, "Alam takambang jadi guru", artinya bahwa hamparan alam raya ini bisa kita jadikan pelajaran untuk kehidupan.


    Tanah Minang memang terkenal dengan alamnya yang indah dan hijau. Pemandangan alam yang menyegarkan mata, seperti pegunungan, sawah, kebun, sungai, bukit, dan lembah, sangat indah dan menawan untuk dipandang mata, dan semuanya itu terhampar di Ranah Minang. Dari aneka bentukan alam yang beraneka ragam inilah, orang Minang mengikuti falsafah yang dikenal dengan “Alam takambang jadi guru.”


    Memang, sebenarnya segala sesuatu yang ada di alam ini, baik itu gunung, bukit, lembah, sungai, ladang dan sawah, yang berbeda fungsi dan perannya, saling berhubungan walau tidak saling mengikat, saling berlawanan namun juga tidak saling melenyapkan, dan saling mengelompok tetapi tidak saling meleburkan. Semua bentukan alam itu nampak dengan eksistensinya masing-masing dalam suatu harmonisasi alam yang indah. Semuanya punya peran dan fungsi masing-masing, namun tetap menjadi satu kesatuan yang dinamis sesuai dengan dialektika alam yang mereka namakan bakarano bakajadian atau yang dikenal dengan istilah bersebab dan beakibat.


    Contohnya seperti sungai dan sawah. Sungai yang menyediakan air berlimpah, memberikan kemakmuran bagi tanaman padi yang menghijau di sawah. Jika saja sungai itu mengalami kekeringan, maka para petani akan mengalami musim paceklik karena tidak bisa panen. Demikian juga jika sungai itu mengalami banjir yang tidak karuan, maka padi nan menghijau yang terbentang luas di sawah, akan hanyut tersapu banjir. Oleh sebab itulah, manusia harus bisa menghamonisasi antara hutan dan sungai. Jika hutan ditebangi atau gundul, maka air hujan tidak akan tertahan oleh rerimbunan tumbuhan, maka sungai tidak sanggup menampung luapan air hujan itu, maka terjadilah banjir yang akan merugikan semua orang. Namun jika hutan itu terus terjaga, di musim kemarau yang kering pun, air sungai tetap tersedia dari simpanan air hujan yang tertahan oleh akar-akar tetumbuhan, yang keluar sebagai mata air. Dengan musim kemarau yang sangat terik pun, manusia tidak akan kekurangan air. Sawah para petani pun akan tetap subur menghijau, yang artinya rakyat akan sejahtera.


    Demikian pula yang dilakukan oleh Melian. Menurutnya. ilmu pengetahuan itu tidak hanya ada di sekolahan atau kampus. Tidak harus berguru dengan dosen atau profesor. Terkadang, justri ketia ia bercengkrama dengan anak-anak pemulung, ia mendapatkan ilmu yang baru. Bahkan di Kampung Transformer yang ia kembangkan bersama para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, dan dari berbagai kelompok akademika, justru memberikan banyak ilmu yang sangat kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin dari ilmu manajemen, Melian sudah memperoleh banyak pengetahuan dari dosen-dosennya. Tetapi ketika harus belajar bagaimana cara memasak ikan hasil tangkapan di sungai,ini bukan urusan kampus megah. Melainkan urusan Bu Bejo yang setiap hari bergumul dengan masakan-masakan di dapur.


    Seperti halnya hari itu, ketika ia ditanya oleh anak-anak saat bersama-sama belajar di Gubug Pasinaon.


    "Kak ..., kalau kita mau bikin pembangkit listrik tenaga air itu bagaimana?" tanya seorang anak yang berusia sekitar dua belas tahun. Meski hanya belajar di Gubug Pasinaon, mereka sudah menerima banyak buku bacaan, hasil sumbangan dari berbagai dermawan. Tentunya, salah satu dari buku bacaan itu ada yang membahas masalah pembangkit listrik tenaga air.


    "Kenapa kamu berfikir seperti itu?" Melian balik bertanya, yang tentunya ingin tahu alasan anak yang bertanya itu. Walau sebenarnya Melian juga belum paham bagaimana cara membuat pembangkit listrik tenaga air.


    "Begini, Kakak .... Di samping kita ini ada sungai yang airnya berlimpah setiap saat. Apakah itu tidak mungkin kalau kita manfaatkan sebagai pembangkit listrik? Jika saja kita bisa memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah ini, pasti tempat kita akan lebih makmur." jelas anak laki-laki itu.


    Melian terkejut dengan pemikiran anak kecil itu, yang sudah sanggup berfikir jauh ke depan, berbicara tentang pemanfaatan sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat. Sungguh sebuah pemikiran tingkat tinggi yang mestinya dimiliki oleh para mahasiswa atau pejabat-pejabat negara yang harusnya memajukan bangsa. Sayang dan sangat disayangkan, banyak anak pintar yang tidak berkesempatan untuk mengenyam pendidikan yang baik.


    "Ya .... Inilah kekayaan bangsa kita. Kekayaan yang dimiliki Indonesia, kekayaan yang tersebar banyak di sekitar kita, tetapi belum termanfaatkan. Inilah tugas kita, untuk bisa mengelola, mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam sebaik mungkin." jawab Melian yang langsung mengajak anak-anak asuhannya agar bisa berfikir kritis dan kreatif.

__ADS_1


    "Iya, Kak .... Tetapi yang jadi masalah bagi kami adalah tidak paham dan tidak punya keterampilan untuk mengolah sumber daya alam yang sebenarnya tersebar sangat banyak di sekitar kita. Terus terang kami ingin bisa melakukan banyak hal, sayangnya kami tidak cukup ilmu untuk itu semua." kata anak itu lagi, yang sebenarnya adalah menuntut diberi ilmu yang lebih.


    Melian terdiam sejenak. Mencari jawaban yang paling bisa diterima oleh pikiran anak-anak. Bukan konsep di awang-awang. Tetapi fakta yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.


    "Benar ...." kata Melian. Selanjutnya mencoba memberi gambaran. "Begini .... Tentunya kalian masih ingat, dulu pemukiman di sini seperti apa? Hanya kardus-kardus yang dibuat gubug. Kotor dan kumuh. Namun, setelah ada kakak-kakak sukarelawan yang pada membantu menata tempat ini, kampung kita sekarang jadi bagus, tertata, dan indah. Itu artinya, kita butuh orang yang bisa menggerakkan, butuh orang yang bisa mengajak, dan butuh orang yang mau bekerja. Ada niat di sana. Para relawan menggerakkan. Pak Bejo dengan teman-temannya mengajak. Kita semua bekerja. Jadilah apa yang kita inginkan. Nah ..., sekarang kita pengin membuat pembangit listrik tenaga air. Airnya sudah ada dan berlimpah. Niatan kamu untuk membuat itu sudah ada. Sekarang tinggal siapa yang akan mengajari kita untuk membuatnya, menciptakan alat pembangkit listrik itu?" kata Melian menjelaskan kepada anak-anak.


    "Kak Akbar ...!" sahut anak yang punya ide untuk membuat pembangkit listrik itu.


    "Ya, ayo kita cari Kak Akbar ...." sahut yang lain mulai semangat.


    Beberapa anak langsung berlari ke rumah antik. Biasanya di sana para sukarelawan berkumpul untuk menuangkan ide-ide. Dan benar. Kak Akbar ada di sana. Anak-anak yang menjemputnya itu langsung mengajaknya ke Gubug Pasinaon, tempat yang biasa digunakan anak-anak untuk belajar. Tentu Akbar, yang mahasiswa dari ITB itu pun langsung beranjak mengikuti ajakan anak-anak.


    "Ada apa ...?" tanya Akbar kepada Melian, setelah sampai di Gubug Pasinaon.


    "Ini .... Anak-anak ingin membuat pembangkit listrik tenaga air .... Tolong Kakak Akbar dijelaskan. Saya gak paham. Hehe ...." kata Melian kepada Akbar yang dianggap paham tentang pembangkit listrik itu.


    "Nah ..., sekarang, kalau kalian ingin mencoba membuat pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran Sungai Ciliwung, kita mulai dengan teknologi sederhana. Kita manfaatkan barang-barang bekas yang ada. Nomor satu, kita butuh roda sepeda bekas. Gambarnya seperti ini. Kemarin Kakak lihat ada yang dapat rongsokan itu. Nanti di sekeliling palek itu akan kita beri kaleng-kaleng bekas untuk diputar oleh arus air. Lantas kita butuh dinamo, kabel dan lampu." jelas Akbar kepada anak-anak sambil menggambarkan modelnya pada papan tulis.


    "Kok kelihatannya sangat sederhana sekali ya, Kak ...? Kalau hanya seperti itu, sebenarnya sangat mudah untuk membuatnya ...." kata anak yang memang ingin mencoba untuk memanfaatkan air sungai yang ada di lingkungannya itu.


    "Memang .... Ini sederhananya. Ayo kita praktekkan. Kita cari roda sepedanya di tumpoukan rongsok. Lantas kita minta tolong Pak Man untuk membuatkan tiang serta memasangi kaleng-kaleng sebagai piranti yang nantinya untuk didorong oleh arus air sungai, agar bisa berputar. Nanti siang saya akan beli dinamo dan kabel serta lampu kecil. Yang penting kalian akan tahu prosedur kerjanya." kata Akbar yang langsung mengajak anak-anak untuk mencari bahannya.


    "Akbar ..., kamu hebat ...." puji Melian pada temannya itu, saat berjalan bersama dengan anak-anak untuk mencari bahan yang dibutuhkan.


    "Melian pastinya lebih hebat .... Mampu memberi semangat kepada anak-anak." balas Akbar, sambil tersenyum memandangi Melian.

__ADS_1


    Gadis putih bermata sipit itu tersipu malu. Pipinya langsung merona memerah. Ada perasaan lain saat Melian menyaksikan senyuman Akbar. Apalagi saat mereka berdua berjalan beriringan, setiap kali Melian menoleh ke arah Akbar, laki-laki itu selalu tersenyum memandanginya.


    "Melian ...." kata Akbar yang mengagetkan Melian yang tengah melayang angannya.


    "Eh, iya .... Ada apa?" tanya Melian sambil tersenyum bingung. Kaget mendengar panggilan yang ditelinganya terasa lembut dan mesra.


    "Melamun, ya ...?" tebak Akbar.


    "Ah ..., enggak .... Ada apa?" Melian lagi-lagi tersipu.


    "Nanti siang saya ada kuliah. Saya minta tolong Melian yang atur anak-anak. Tolong juga pembuatan peralatannya. Bila perlu, nanti Pak Man biar memasang peralatannya di sungai. Nanti saya akan sekalian cari dinamo, kabel dan lampu. Sokor bisa dapat dinamo yang besar, biar nyalanya lampu lebih terang." kata Akbar kepada Melian.


    "Iya .... Akan saya usahakan. Kamu hati-hati di jalan, ya .... Kuliah yang bener, biar cepat lulus." kata Melian balas memesan.


    "Iya .... Terima kasih nasehatnya, Mel. Nanti saya buatkan sket gambar. Semoga Pak Man bisa merangkai bahan-bahannya." kata Akbar berpesan pada Melian.


    Mereka berdua, bersama anak-anak, beramai-ramai mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Pastinya, anak-anak mulai mengacak-acak timbunan rongsokan. Demikian juga Pak Man, yang sudah diajak untuk menentukan pilihan bahan-bahan yang layak untuk digunakan sebagai bahan pembuatan kincir air sederhana.


    Akbar memberi penjelasan-penjelasan dan instruksi kepada Pak Man, yang nantinya akan membuatkan kincir air dari roda bekas itu. Anak-anak yang penasaran, ikut ribut untuk membantu. Mereka semua, ingin tahu bagaimana proses pembuatannya.


    "Mel ..., aku berangkat kuliah dulu, ya ...." Akbar berpamitan pada Melian.


    "Iya .... Cepet kembali, ya ...." sahut Melian. Tentu Melian akan menunggu kehadiran Akbar.


    "Memang kenapa ...?" tanya Akbar, pastinya sambil tersenyum.

__ADS_1


    "Yah, kan ditunggu anak-anak .... Mereka penasaran, ya ...." jawab Melian yang pasti tersenyum malu.


__ADS_2