
Siang itu, ada laki-laki setengah baya datang ke outlet kerajinan kuningan Bima Sakti. Orang berpakaian rapi dengan mencangklong tas besar itu tengak-tengok, melongok ke sana kemari. Seakan mencari seseorang.
"Mau beli apa, Mas?" Mbak Ika yang menjaga toko itu langsung bertanya.
"Anu ..., mau tanya .... Apa benar ini perusahaan kerajinan kuningan Bima Sakti?" tanya laki-laki yang lumayan ganteng dan gagah itu.
"Iya, benar .... Memang mau membeli apa? Atau mau pesan apa?" tanya Mbak Ika yang ada di toko itu.
"Kalau pabriknya di mana, ya?" tanya laki-laki itu kembali.
"Pabriknya, ya di sini .... Tapi di belakang. Ini yang di depan tokonya. Memang mau pesan apa?" jawab Mbak Ika dan tentu bertanya apa yang akan di pesan, seperti pelanggan-pelanggan lain yang selalu masuk ke dalam kalau mau pesan barang.
"Tidak mau pesan .... Tapi saya mau ketemu Mas Jamil .... Katanya kerja di sini ...." kata laki-laki itu.
"Oo .... Mencari Pak Jamil? Silakan duduk dulu, saya panggilkan sebentar." kata Mbak Ika yang langsung melangkah ke arah belakang. Lantas terdengar teriakan wanita muda itu memanggil Jamil, "Pak Jamil .... Ada yang mencari ...!"
Tidak lama kemudian, dari samping toko yang memajang kerajinan kuningan itu, Jamil keluar. Tentu dengan pakaian yang agak kotor, karena Jamil baru saja ikut membantu mengamplas barang-barang psanan. Seperti biasa, jika banyak pesanan, pasti Jamil ikut membantu mengerjakannya. Ia tidak mau hanya pasrah pada karyawan, khawatir kalau sampai jatuh waktu pesanan belum selesai. Maka ia selalu membantu apa saja yang butuh bantuan. Dan pasti tidak hanya Jamil, tetapi semua karyawan melakukan hal itu.
"Weeeh, Mas Irul ...." kata Jamil saat melihat siapa yang mencarinya. Ia pun langsung menyalami tamunya itu.
"Betul, Mas Jamil .... Sengaja saya mencari Sampeyan .... Ee, ternyata gampang mencari tempat ini. Semua orang tahu, sangat terkenal ...." jawab Irul yang langsung menjabat tangan Jamil. Sebenarnya ingin memeluk, tetapi karena kaos yang dikenakan oleh Jamil sangat kotor, maka tidak jadi dipeluk.
"Mari, silakan masuk ...." kata Jamil yang menyambut akrab tamunya itu. Lantas ia meminta bantuan Ika, karyawan yang berjaga di toko, "Mbak Ika ..., tolong Mas Irul diajak masuk, dan diambilkan minuman."
"Iya, Pak ...." jawab Ika yang langsung membawa teh botol ke dalam, menyuguhkan ke Mas Irul yang sudah duduk di kursi ruang tamu pembeli. Sama seperti yang dilakukan kalau ada pelanggan yang menunggu bosnya.
"Ini minumnya, Mas .... Silahkan diminum dahulu, sambil nunggu Bapak ganti pakaian ...." kata Ika yang sudah tahu yang biasa dilakukan oleh bosnya, kalau akan menemui tamu jika pakaiannya kotor.
Pasti Irul berpikiran, kalau Jamil pasti karyawan di tempat itu. Pekerja pabrik seperti teman-teman yang pernah ia temui. Kuli yang selalu berkotor dengan pekerjaannya. Tetapi yang ia suka, begitu ia datang langsung disambut oleh karyawan, bahkan disuruh menunggu di tempat yang bagus dan nyaman, yang langsung berhadapan meja besar dan kursi hitam besar. Pasti itu tempat duduknya bos pemilik perusahaan itu. Apalagi haus saat perjalanan mencari alamat Bima Sakti, langsung digelontor dengan teh botol yang baru dikeluarkan dari kulkas. Dingin dan segar. "Sungguh nyaman tempat kerja Mas Jamil ini ...." begitu yang terbersit di benak Irul.
Tidak lama kemudian, Jamil muncul di ruang itu. Kaos yang tadi kotor sudah berganti. Sudah mengenakan baju yang rapi. Jamil langsung duduk di kursi tamu, berhadapan dengan Irul.
Dan bersamaan dengan itu, perempuan yang berjaga di toko tadi, sudah menyajikan cangkir teh hangat di hadapan Jamil.
"Sungguh enak sekali jadi karyawan di perusahaan kuningan ini ...." lagi-lagi Irul menyangka Jamil adalah bagian dari karyawan di tempat itu, makanya ia perpikir betapa enaknya karyawan di sini.
"Pak, tadi ada telepon dari Jepara, minta barang pesanannya diantar minggu depan ...." kata perempuan itu sambil meletakkan minuman Jamil.
"Ya, tolong nama barang pesanannya dicek, langsung di pisahkan, agar tahu apa saja yang masih kurang ...." jawab Jamil.
"Siap, Pak .... Nanti Mbak Sri langsung saya minta untuk memilah sesuai catatan saya." kata Ika yang langsung menuju ke toko kembali, tentu menyiapkan catatan pesanan.
"Dari Lasem jam berapa? Kemarin saya cari tidak ketemu ...." tanya Jamil pada Irul.
"Tadi pagi, Mas Jamil .... Naik bus kecil, jadi agak lama ...." jawab Irul, sambil menghabiskan teh botolnya.
"Sudah sarapan apa belum?" tanya Jamil lagi.
"Hehe .... Belum, Mas ...." jawab Irul malu-malu kucing.
"Walah .... Yo wis, ayo sarapan dahulu ...." ajak Jamil pada Irul.
"Lha nanti kalau dicari bos-nya Mas Jamil, gimana? Kan Mas Jamil masih kerja?" tanya Irul.
"Tidak apa-apa, nanti saya minta izin sama Mbak Ika ...." kata Jamil yang langsung berdiri menarik tangan Irul.
Tentu Irul yang diajak tidak sanggup untuk menolak. Bagaimana mungkin mau menolak kalau perutnya sudah keroncongan. Maka Irul pun langsung beranjak berdiri, mengikuti ajakan Jamil.
"Mbak Ika ..., saya keluar sebentar, ngantar Mas Irul sarapan .... Tolong kalau ada yang mencari suruh nunggu sebentar." kata Jamil yang berpamitan pada penjaga toko itu.
__ADS_1
"Ya, Pak ...." sahut perempuan muda yang ada di toko itu.
Jamil langsung menyetater sepeda motor, memberikan helm ciduk kepada Irul. Lantas melajukan kendaraannya ke warung nasi gandul. Masakan khas Kota Pati.
"Nah, ini namanya nasi gandul, Mas Irul ...." kata Jamil kepada Irul, yang sudah diajak duduk di warung.
"Iya, Mas Jamil ...." sahut Irul yang baru pertama kali ini akan makan masakan yang bernama nasi gandul.
"Nasi gandul dua, Bu ...." kata Jamil memesan.
"Pakai apa?" tanya perempuan penjual nasi gandul itu.
"Dikasih empal .... Diguntingi kecil-kecil .... Minumnya teh ...." kata Jamil menyampaikan pesanan.
"Monggo ...." kata bakul nasi gandul itu menyerahkan pesanannya. Sepiring untuk Irul, dan sepiring lagi untuk Jamil.
"Ayo, Mas Irul .... Ini, tambah tempe gorengnya .... Enak ini tempenya. Kriuk-kriuk empuk." kata Jamil yang sudah mengambil tempe goreng.
"Iya, Mas Jamil .... Terimakasih ...." jawab Irul yang juga mengambil tempe goreng yang biasa digoreng hingga kering seperti keripik.
"Enak, kan ...? Di Lasem tidak ada nasi gandul .... Adanya sayur docang .... Ayo tambah lagi ...." kata Jamil yang tentu mencoba memberi servis yang baik kepada tamunya. Bagaimanapun juga, Jamil pernah berhutang budi pada orang itu yang setiap waktu mengantarkan sembako untuk keluarganya. Itu kenangan di masa sulit dulu.
"Iya, Mas Jamil .... Terimakasih ...." sahut Irul disela-sela menikmati makan.
"Saya kemarin ke pasar mencari Mas Irul .... Tapi katanya Sampeyan libur, kiosnya tidak buka .... Makanya saya menitipkan surat ke tetangga kios Sampeyan ...." kata Jamil yang bercakap disela makan.
"Iya, Kang .... Saya sudah tidak sanggup lagi menjaga kios itu .... Saudara Babah Ho yang menguasai kios itu galak. Saya sering kena marah .... Makanya kalau boleh, nanti saya dipertemukan dengan bos-nya Mas Jamil, saya minta tolong diizinkan kerja di tempatnya Mas Jamil saja ...." kata Irul yang terlihat sangat berharap untuk kerja di tempat Jamil.
"Kerja itu di mana-mana berat .... Tidak ada kerja yang enak .... Kamu lihat sendiri, tadi saya glaprut kotor semua, itu karena kerja .... Apa kamu sanggup kerja berat seperti saya?" tanya Jamil menyelidik.
"Tapi suasana kerja juga berpengaruh, Mas Jamil. Walau enak kalau dimarah-marahi terus juga tidak nyaman. Walau kotor kalau nyaman dan akrab, pasti lebih terasa enak ...." sahut Irul.
"Iya, Mas Jamil .... Kabarnya Mbak Juminem bagaimana, Mas?" tanya Irul ingin tahu keadaan Juminem.
"Baik-baik saja .... Dia di rumah, ngurusi pekerjaan rumah dan merawat anaknya." jawab Jamil.
"Mas Jamil sudah punya anak? Berapa, Mas ...?" tanya Irul.
"Ya, Melian itu anak saya .... Anaknya Cik Lan yang dulu saya rawat itu .... Itu, yang kemarin kamu lihat di pasar ...." jawab Jamil.
"Alhamdulillah, Mas Jamil .... Anak itu sehat dan tumbuh cantik. Saya ikut senang, tentunya ...." kata Irul yang tentu ikut senang.
"Nanti kita ke rumah .... Melian pengin ketemu kamu ...." kata Jamil yang tentu mau mempertemukan Melian dengan Irul, orang kepercayaan engkongnya.
"Iya, Mas Jamil .... Yang penting saya dapat kerjaan dulu ...." sahut Irul.
"Ngomong-ngomong Mas Irul sudah punya momongan berapa?" tanya Jamil ingin tahu.
"Walah ..., momongan apa, Mas ...? Jodoh saja belum ketemu, Mas ...." sahut Irul yang ternyata belum punya istri.
"Waduh ..., kebutulan ini ...." tiba-tiba Jamil menyaut.
"Kebetulan bagaimana, mas?" tanya Irul penasaran.
"Ya, nanti .... Waktunya akan tiba .... Ayo, kita balik ke pabrik .... Katanya mau kerja." kata Jamil yang langsung mengajak Irul untuk kembali ke tempat kerja. Maklum di pabrik masih harus banyak menyelesaikan pekerjaan.
Setelah membayar, lantas Jamil kembali memboncengkan Irul menuju ke pabriknya. Dan setiba di pabrik.
"Mbak Ika .... Tolong ambilkan kaos karyawan .... Kasihkan ke Mas Irul, dan langsung disuruh membantu Mbak Sri, packing." kata Jamil pada Ika, yang ngurusi berbagai pekerjaan di depan.
__ADS_1
"Iya, Pak ...." jawab Ika yang langsung mengambilkan kaos karyawan untuk tamu yang baru datang itu.
"Ikut Mbak Ika, Mas .... Kalau mau kerja di sini pakai kaos seragam karyawan .... Nanti Mbak Ika yang mengantar ke tempat kerja kamu. Saya akan kembali kerja di belakang." kata Jamil pada Irul, yang langsung disuruh mengikuti karyawan perempuan itu.
Tentu Irul bingung. Belum ketemu bosnya, belum mengajukan lamaran, bahkan juga belum wawancara, kok langsung diberi kaos untuk kerja.
"Mas, ini kaosnya. Silahkan ganti di kamar mandi itu. Saya tunggu, nanti akan saya tunjukkan ke tempat kerjanya." kata Ika kepada Irul.
"Ya, Mbak .... Terima kasih .... Tapi saya belum ketemu sama bosnya, kok sudah disuruh kerja?" tanya Irul yang menerima kaos dari tangan perempuan penjaga toko itu.
Ika tersenyum. Tentu ingin tertawa. Ternyata sudah bersama ke mana-mana, tetapi orang yang akan ikut kerja itu belum tahu siapa bosnya. Ika tidak menjawab kata-kata laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu.
Irul menurut. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti kaos. Tentu juga sekalian buang air kecil yang sudah lama ditahan.
"Sudah, Mbak ...." kata Irul setelah berganti kaos, dan memasukkan bajunya di dalam tas yang tadi ditinggal di ruang tamu pelanggan.
"Ikut saya, Mas .... Tempat kerjanya ada di samping. Membantu Mbak Sri mengerjakan packing barang." kata perempuan itu yang terus berjalan menuju ruang packing.
"Iya, Mbak .... Pak Bos-nya sedang ke luar kota ya, Mbak?" kata Irul yang terus saja mengikuti langkah perempuan yang mengantarkannya itu.
Ika tetap tidak menjawab. Pasti membiarkan laki-laki itu untuk mencari tahu sendiri.
"Mbak Sri .... Ini dapat teman baru .... Mas Irul, yang mau bantu packing ...." kata Ika yang menunjukkan Irul pada temannya. Dan Ika pun langsung kembali ke bagian depan.
"Ya .... Makasih, Ika .... Ayo, sini, Mas .... Kita kerja bareng ...." kata Mbak Sri yang sudah duduk asyik mengepak barang-barang hasil produksi ke dalam kardus-kardus yang ada cap Bima Sakti.
"Ya, Buk ..., eh ..., Mbak Sri ...." kata Irul yang langsung mengambil kursi pendek dan duduk di sebelah Mbak Sri.
"Panggil saja, Mbak Sri .... Biar terdengar masih muda .... Hehehe .... Mas Irul dari mana?" tanya Mbak Sri.
"Dari Lasem, Mbak ...." jawab Irul, yang tentu masih agak canggung.
"Ooo .... Jauh sekali?" sahut Mbak Sri.
"Iya .... Demi mencari rezeki ...." jawab Irul.
"Tidak usah nglaju .... Jauh .... Nginap di sini saja." kata Mbak Sri yang mencoba menawarkan.
"Belum tahu, nanti .... Kalau boleh tahu, yang punya perusahaan di mana, Mbak?" tanya Irul yang masih ragu-ragu bekerja.
"Yang punya perusahaan ...? Lha, yang bersama Mas Irul tadi ...." jawab Mbak Sri.
"Mbak Ika? Oo .... Yang punya perusahaan ini ternyata perempuan muda yang cantik itu ...." kata Irul.
"Bukan .... Yang pergi sama Sampeyan tadi ...." kata Mbak Sri menyalahkan tebakan Irul.
"Mas Jamil ...?!" tanya Irul penasaran.
"Iya, betul ...!" sahut Mbak Sri membenarkan.
"Hah ...?! Yang benar ...?!" Irul kurang percaya.
"Iya .... Perusahaan Bima Sakti ini milik Pak Jamil .... Kamu harus biasakan diri, jangan panggil Mas ..., tapi panggil Pak Jamil .... Dia yang punya tempat usaha ini ...!" kata Mbak Sri yang mengajari Irul.
"Hah ...?! Ya ampun .... Jadi, ini semua milik Mas, eh ..., Pak Jamil ...?!" lagi-lagi Irul masih bingung. Ia tidak menyangka kalau Jamil yang ia kenal dulu, ternyata sudah berubah drastis. Rumahnya yang dibakar orang-orang biadab, ternyata rezekinya sudah dilancarkan oleh Allah yang lebih besar dan tidak terkira. Tentu Allah mendengardoa-doa orang yang dizolimi.
"Sudah .... Jangan bengong .... Ayo bantu packing .... Nanti kalau tidak beres bisa dimarahi Pak Jamil ...." tegur Mbak Sri yang melihat Irul jadi bengong.
"Iya, Mbak ...." kata Irul yang langsung bekerja cepat. Tentu ini adalah kunci untuk menjadi sukses. Kerja keras dan pantang menyerah. Seperti yang sudah dillakukan oleh Jamil, sehingga bisa menjadi sukses.
__ADS_1