GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 146: CERITA MELIAN


__ADS_3

    Setelah semuanya dirasa cukup, Jamil berpamitan pulang. Tentu untuk mengajak Melian kembali ke rumahnya. Saat di rumah keluarga Irul, tentu Jamil dan Juminem belum bisa meluapkan rasa rindunya kepada Melian yang hilang seminggu. Dan tentu juga belum bisa bercerita. Karena hal itu tabu untuk diceritakan di depan keluarga Irul. Bahkan Irul sendiri juga merahasiakan peristiwa gaib yang dialaminya. Bahkan juga, Cik Indra yang tentu semula sangat mengkhawatirkan Irul, tapi karena berada di hadapan keluarga Irul, tentu ia juga tidak bisa meminta kepada Irul untuk menceritakan semuanya. Perjalanan yang diselimuti rasa senang sepanjang jalan Pantura antara Lasem - Juwana.


    "Wee ..., lha .... Ini nanti Cik Indra pulangnya bagaimana?" tanya Juminem yang masih berpelukan dengan Melian, karena saking rindunya, yang duduk di jok tengah.


    "Tidak usah pulang .... Tidur di Juwana saja, nemani Mas Irul ...." sahut Jamil yang tentu menggoda Irul.


    "Iih ..., tidak boleh Pak Jamil .... Kami belum nikahan ...." sahut Cik Indra yang tentu tidak mau dikatakan sebagai wanita murahan. Walau saat itu di dalam mobil ia duduk bersama Irul di kursi belakang, dan tentu juga melepas rindu. Apalagi sudah ditembung oleh bapaknya Irul, maka Cik Indra sudah mantap dan yakin akan jadi istrinya Irul.


    "Tidur sama saya saja, Cik ...." sahut Melian yang tentunya juga kangen dengan Cik Indra.


    "Kalau pulang malam apa tidak ada bus ...?" tanya Cik Indra.


    "Walah ..., yo tidak ada to, Cik .... Pulang besok pagi saja, biar diantar Mas Tarno sama Mas Irul ...." sahut Jamil yang paham tentang jam perjalanan bus Surabaya - Semarang. Maklum, kala itu pulang dari rumah keluarga Irul sudah agak sore, sehingga kalau pulang ke Semarang pasti sudah kemalaman dan tidak dapat bus.


    "Tidak ada travel, ya ...?" tanya Cik Indra.


    "Kota kecil seperti Juwana itu siapa yang mau naik travel? Tidak ada, Cik ...." jawab Jamil yang tentu menunjukkan sulitnya transportasi di Juwana kala itu.


    "Ya, sudah ..., pulang besok pagi saja." kata Cik Indra yang tentu juga ragu-ragu.


    "Apa saya antar pulang malam ini, Cik?" timpal Mas Tarno yang menyetir mobil.


    "Jangan ..., Mas Tarno .... Kasihan Mas Tarno capek bolak-balik nyetir jauh. Besok saja, biar malam ini bisa istirahat." jawab Indra yang tentu juga kasihan dengan Mas Tarno kecapaian.


    Mas Tarno mengiyakan. Demikian juga Jamil yang berhak mengatur dan yang dianut oleh para karyawannya. Tentu Melian merasa senang, karena akan tidur bersama Cik Indra di rumahnya.


    Bersamaan dengan terbenamnya matahari di langit barat, Mas Tarno masuk ke pelataran rumah Jamil yang ada di Kampung Naga. Mereka turun dengan perasaan lega dan senang. Terutaman Juminem dan Jamil yang sangat khawatir dengan hilangnya Melian.


    Melian yang mengenakan daster milik adiknya Mas Irul, langsung berlari untuk mandi dan berganti. Tidak nyaman baginya memakai pakaian wanitu yang dianggap mirip mak-mak itu. Tentunya ia lebih suka mengenakan kaos oblong dan celana kulot. Lebih praktis dan enak dikenakan.


    Cik Indra dipinjami kaos oblong milik Mas Irul. Tentu kebesaran. Sehingga kelihatan kowor-kowor. Maklum, Cik Indra tidak siap pakaian ganti. Makanya kalau dilihat jadi kurang menarik. Seksinya hilang.


    Juminem langsung memesan nasi gandul, untuk makan malam sekeluarga ditambah Mas Irul, Cik Indra dan Mas Tarno. Malam itu mereka makan bersama. Tentu terasa nikmat, karena dalam suasana yang sangat senang.


    "Nanti mobilnya kamu bawa pulang lagi, Mas Tarno .... Besok subuh langsung kemari untuk mengantarkan Cik Indra." kata Pak Jamil di sela-sela makan bersama itu.


    "Nggih, Pak ...." jawab Mas Tarno yang selalu siap dan tidak mau menolak apa yang diminta oleh pimpinannya tersebut. Bagi Mas Tarno, sudah terlalu banyak hutang budi pada Pak Jamil.

__ADS_1


    "Mas Irul menemani Mas Tarno, sehingga kalau pulang dari Semarang tidak sendirian, biar ada yang diajak ngobrol." Pak Jamil menyuruh Irul.


    "Nggih, Pak ...." jawab Irul yang tentu juga tidak berani menolak.


    "Apa Mas Irul tidur sini sekalian, biar besok tidak usah ampir-ampiran ...." usul Jamil.


    "Iya, Mas Irul .... Biar kita bisa ngobrol malam ini ...." timpal Melian.


    "Iyam betul .... Sekali-sekali ngobrol bareng kita ...." Juminem menambahkan.


    "Saya pulang dulu, Pak .... Mau tidur, biar besok bangunnya tidak kesiangan ...." Mas Tarno menyela ijin pulang.


    "Gitu ...? Yo wis ..., ati-ati ...." sahut Pak Jamil yang kemudian mengikuti Mas Tarno keluar rumah.


    Juminem mencuci piring dan peralatan makannya. Tentu Cik Indra langsung ikut membantu. Tidak sungkan. Tentunya keakraban antara Cik Indra dengan keluarga Pak Jamil dan Juminem tentunya, semakin dekat dan terlihat seperti saudara. Apalagi setelah bapaknya Irul menyatakan ingin mengambil Cik Indra sebagai menantu, tentu rasa persaudaraan itu menjadi lebih kental. Maka mereka pun di dapur tampak akrab dan serasi.


    Irul yang tentunya kecapaian setelah sejak hari Sabtu mencari Melian, dan seharian dia tidak istirahat sama sekali karena harus kumpul dengan keluarganya di rumah orang tuanya, tidak bisa menahan kantuk. Maka saat ia ke ruang depan, dan duduk di kursi tamu, matanya langsung terpejam. Irul sudah tertidur. Pantas Mas Tarno minta izin pulang dengan alasan mau tidur. Ternyata memang kantuk itu sudah menempel pada diri Mas Tarno dan Irul, yang meskipun seperti itu, tetapi mereka ikut pontang-panting capek dan kurang tidur.


    "Mana Mas Irul ...?" tanya Melian yang sudah duduk di ruang keluarga sambil nonton TV.


    "Sudah ngorok .... Itu ..., tidur di kursi depan ...." jawab bapaknya yang tadi saat menutup pintu melihatnya.


    "Ndak papa .... Dia kan capek ...." sahut Cik Indra yang sudah duduk menemani Melian.


    "Eh, Nduk ..., kamu itu kemarin kemana saja ...? Kok sampai seminggu tidak pulang-pulang?" tanya ibunya yang juga sudah duduk di dekat Melian.


    "Sebenarnya saya itu diajak refresing sama teman saya di sekolah .... Tapi habis itu saya tidak tahu apa yang terjadi ...." kata Melian yang mengawali cerita, namun tetap ada yang disembunyakan.


    "Mel ..., teman kamu itu, siapa itu ..., Jonatan ...? Dia mengalami kecelakaan dan meninggal ...." kata Cik Indra mencoba mengingatkan peristiwa itu kepada Melian.


    "Hah ...?! Yang benar, Cik ...?!" Melian kaget.


    "Iya .... Dia mengalami kecelakaan masuk jurang di Bandungan .... Apa tidak bersama kamu ...?" tambah Cik Indra yang mencoba menelisik. Ada yang ganjil pada diri Melian.


    "Saya tidak tahu, Cik .... Setahu saya, memang Jonatan memboncengkan saya .... Mau mengantarkan saya pulang ...." kata Melian menceritakan kisahnya.


    "Terus, Melian diantar sama Jonatan ...?" tanya Cik Indra lagi.

__ADS_1


    "Iya, sih .... Tapi ...." kata Melian yang kelihatan bingung.


    "Kamu jatuh?" tanya Cik Indra yang penasaran.


    "Tidak .... Seingat saya ada nenek dengan pakaian putih yang menghadang saya ...." kata Melian.


    "Terus ...?" tanya Cik Indra yang ingin tahu kelanjutannya.


    Juminem dan Jamil, ikut menyimak apa yang akan diceritakan anaknya. Walau dua orang itu sudah tahu kalau Melian itu punya sesuatu yang aneh, tetapi dia ingin tahu kisah anaknya selama satu minggu menghilang. Nenek dengan pakaian putih yang diceritakan oleh anaknya, pasti sama dengan yang membawa Irul.


    "Tapi habis itu, saya tidak tahu lagi Jonatan. Nenek itu membawa saya .... Saya malah disuruh tidur, menginap di gedung yang megah dan mewah oleh nenek itu ...." kenang Melian yang masih teringat.


    "Gedung bagus milik nenek dengan pakaian serba puti?" tanya Cik Indra yang dikatakan oleh Irul sebelum menghilang. Berarti Nenek Jumprit seperti yang dikatakan oleh Mbah Sawal.


    "Iya .... Nenek itu baik banget sama Melian." jawab Melian.


    "Terus, Melian tidur di rumah nenek itu?" tanya Cik Indra lagi, yang penasaran ingin tahu ketemunya dengan Irul.


    "Tidak tahu .... Saya bilang sama nenek itu, kalau saya ingin pulang kangen sama Mamah. Dia menyuruh saya mandi dengan air yang penuh bunga, serta diberi bau dupa .... Katanya biar harum. Kalau ketemu Mamah, dia akan senang ...." peristiwa itu yang terekam dalam ingatannya.


    "Lantas ...?" tanya Cik Indra semakin penasaran.


    "Ada dua pengawal, yang mengantarkan saya ke tempat Mamah ...." kata Melian.


    "Terus ..., Melian ketemu Mamah ...?" tiba-tiba Juminem menanya, teringat saat ia mengajak ziarah Melian, yang saat itu terjadi prahara di puncak Gunung Bugel, dan tahu-tahu Melian pingsan.


    "Iya, Mak .... Tapi tidak seperti yang dulu .... Kemarin itu di tempat Mamah ramai sekali. Ada yang berpakaian raja ..., ada yang mengenakan pakaian-pakaian ala keraton .... Bahkan ada juga yang mengenakan pakaian prajurit .... Yah, orang-orangnya itu seperti di kerajaan yang di filem-filem itu .... Lhah, Melian ..., saat masuk di tempat itu, juga disuruh mengenakan pakaian ala kerajaan. Saya mengenakan pakaian tradisional ala keraton Cina zaman dulu. Pokoknya ribet ...." cerita Melian yang mengenang saat ketemu dengan ibunya.


    "Lhah, terus ..., Melian di sana disuruh ngapain ...?" tanya Cik Indra yang penasaran, dalam hatinya mungkin ini adalah mimpi dari orang yang tidak sadarkan diri.


    "Tidak ngapa-ngapa .... Melian jalan ke mana-mana, dikawal oleh ponggawa keraton. Bahkan Melian ngobrol sama Mamah saja, ditunggui oleh pengawal-pengawal kerajaan. Semua yang Melian lakukan, di situ selalu ada ponggawa kerajaan yang menjaga." kata Melian yang ingat betul selalu dikawal oleh penjaga.


    "Yang saya heran, kok Melian bisa sampai di kuburan Mamah .... Mas Irul kok juga bisa sampai sana ...." Cik Indra mengungkapkan keheranannya. Tentu itu semua tidak masuk akal.


    "Yaa ..., pasti itu para pengawal kerajaan tadi yang membawa kami ke berbagai tempat .... Tapi waktu itu, Cik ..., saya tiba-tiba pingsan, dan ditemukan oleh warga kampung di kuburnya Mamah. Hanya itu saja yang saya tahu. Lhah, waktu saya sadar, saya mencari Mamah tidak ada. Saya berteriak memanggil Mas Irul, ternyata Mas Irul sedang bertapa di bawah pohon beringin. Lalu saya sama Mas Irul dibantu oleh warga masyarakat, bahkan dikasih makan dan diantar ke rumah Mas Irul." Melian menceritakan kisahnya.


    Tentu Juminem dan Jamil terkesima dengan cerita itu. Dua orang ini berpikir, pasti ada sesuatu yang terkait dengan gelang dan liontin dari giok yang berukir naga itu. Walau Juminem dan Kamil sudah tahu banyak hal-hal aneh yang sering terjadi pada diri anaknya, jangankan pindah tempat dari Bandungan ke puncak Gunung Bugel, saat bayi belum bisa jalan saja, ketika diserahkan ke engkongnya, tiba-tiba Melian sudah berada di dalam rumah Jamil.

__ADS_1


    Tetapi bagi Cik Indra, gadis terpelajar yang selalu menggunakan logika, maka mendengar cerita semacam ini, merupakan cerita khayalan yang tidak mungkin terjadi. Itulah bedanya logika dan irasional. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar nalar manusia.


    Akankah Cik Indra percaya dengan penuturan Melian? Bagaimana nanti jika ia mendengar cerita dari Mas Irul? Apakah ia juga meragukan semua peristiwa yang tidak masuk akal itu?


__ADS_2