
Pak Man bersama anak-anak mulai memasang kincir air yang seharian dibuatnya. Tentu anak-anak yang pada penasaran, sangat ingin tahu bagaimana hasil karyanya itu ketika dipasang di sungai. Apakah kincir air yang dubuat dari barang-barang bekas itu bisa berputar?
Beberapa anak laki-laki yang sudah cukup besar langsung membuka kaosnya dan terjun ke sungai. Mereka akan membantu memasang kincir itu. Anak-anak ini sudah biasa terjun ke sungai. Tentunya pandai berenang ataupun bermain air. Jadi tidak masalah kalau mereka ikut menggotong kincir yang terbuat dari roda sepeda bekas itu.
"Tolong tiang yang bagian tengah di ganjal batu dahulu ...!" kata Pak Man menyuruh anak-anak yang berada di dalam sungai.
Tentu anak-anak itu langsung bersama-sama menata kaki-kaki roda yang dibuat kincir tersebut, agar posisinya seimbang dan mudah berputar saat dlalui arus sungai. Memang, Pak Man tidak sepenuhnya mengikuti gambar yang diberikan oleh Akbar. Tadinya dari gambar itu yang menggunakan satu roda saja. Tetapi setelah dipikir oleh Pak Man, jika hanya menggunakan satu roda, kondisinya kurang stabil. Jika terkena arus sungai yang arahnya miring, kirncir yang tipis itu akan roboh. Maka Pak Man menambahkan satu roda lagi yang diberi jarak sekitar lima puluh senti. Antar roda itu diberi penyejajar dan di las. Lantas sumbu roda itu juga disambung dan dilas. Kemudian di setiap roda itu diberi kaleng yang dipotong miring, seperti yang digambarkan oleh Akbar, ditempelkan di bagian dalam kanan kiri bekas roda tersebut, dan juga diberi penguat agar saat arus sungainya deras, kaleng-kaleng yang tujuannya agar didorong air tersebut tidak terlepas. Sedang pada sisi luar roda yang hanya berupa palek dan ruji-ruji itu, diberi karet dari ban bekas yang diiris dan ditempelkan serta diikat kuat dengan benang rayon. Dari karet ban yang ikut berputar inilah nantinya dinamo akan diputar. Prinsipnya sama dengan dinamo sepeda ontel yang digunakan untuk menyalakan lampu sepeda. Jika roda berputar, maka dinamo akan berputar, dan menghasilkan listrik. Pak Man tahu yang dimaksud oleh Akbar. Hanya dalam kincir ini, yang memutar bukan sepeda melainkan arus air sungai.
Kincir itu mulai terpasang. Kincir itu sudah mulai berputar. Kincir itu mulai memberi harapan anak-anak. Semua terlihat senang menyaksikan kincir air sungai yang mulai terlihat menarik itu. Kini tidak hanya anak-anak yang mengerubung kincir yang baru saja dipasang itu. Tetapi beberapa orang tua, yang baru saja pulang membawa barang hasil pulungan, dengan tubuh yang nampak lelah dan haus, mereka ikut tersenyum menyaksikan pekerjaan anak-anak mereka bersama Pak Man tersebut. Seketika itu, letih, lelah dan lesu berubah mejadi bergairah dan bersemangat kembali.
"Man ...!! Itu kincirnya kurang naik sedikit ...! Kalau terlalu masuk ke dalam air, berputarnya kurang kencang ...!" teriak salah seorang warga yang baru saja pulang mencari rongsok, dari atas sungai, memberi tahu kalau kincirnya terlalu masuk ke dalam air.
"Mestinya bagaimana ...?!" tanya Pak Man yang masih berada di dalam sungai.
Akhirnya laki-laki dewasa yang masih kotor itu ikut masuk ke sungai. Membantu membenarkan pemasangan kincir itu.
"Tolong ambilkan potongan bambu yang agak panjang empat batang ...!" orang yang baru terjun ke sungai itu meminta tolong kepada rekannya yang berada di atas.
"Segini ...?!" tanya yang berada di atas, sambil menunjukkan potongan bambu yang diambil.
"Ya .... Turunkan ...! Tolong sekalian carikan kawat, untuk mengikat ...!" teriak yang ada di dalam sungai lagi.
Yang lain mencarikan kawat-kawat bekas untuk mengikat bambu itu sebagai tiang penyangga kincir. Dan kini, yang bekerja justru orang-orang tua. Bahkan untuk menguatkan tiang penyangga, juga ditambahkan bambu lagi. Hingga akhirnya membentuk kaki tiga yang lebih kuat. Sedangkan anak-anak yang tadi membantu Pak Man, kini hanya menjadi penonton saja, yang menunggu hasil yang ingin disaksikan.
Akhirnya, setelah ribut dan saling bahu membahu, kincir air itu kini bisa berputar cepat, sederas lajunya arus Sungai Ciliwung.
"Membuat kincir ini untuk apaan, sih ...?" tanya pemulung yang sudah basah kuyup ikut membantu terjun ke sungai tersebut.
"Tidak tahu ...." jawab Pak Man.
"Lhoh ..., bagaimana sih ...?! Buat kincir repot-repot kok tidak tahu untuk apa ...." kata orang itu lagi yang tentu agak kecewa.
"Lha itu yang buat anak-anak, kok ...." jawab Pak Man lagi.
"Walah .... Ternyata ini hanya mainannya anak-anak ...??!!" orang itu tampak kesal.
"Untuk pembangkit listrik, Pak ...." sahut si anak yang punya ide pertama kali.
"Pembangkit listrik apa ...?? Memang mau buat pembangkit listrik itu gampang ...?! Biayanya mahal, ya ...!" sahut orang tua itu lagi, yang masih jengkel dengan anak-anak.
"Nanti Kak Akbar yang akan membawa alatnya ...." sahut anak itu lagi.
"Sekarang Kak Akbar mana ...?" tanya orang-orang yang akhirnya juga jadi penasaran.
"Kak Akbar masih kuliah .... Sabar sebentar ...." tiba-tiba Melian datang dan memberi tahu.
"Om iya ..., Cik ...." sahut orang-orang yang masih ribut.
"Pulangnya kapan ...?" ada yang menanyakan pulangnya Akbar.
__ADS_1
"Yah, kita tunggu saja .... Bandung Ciliwung itu jauh, Pak ...." jawab Melian.
"O, iya ..., ya .... Akbar kan kuliahnya di Bandung ...." sahut yang lain setelah sadar.
"Tadi pesannya ke saya, pokoknya buat kincir dulu .... Yang penting anak-anak tahu bentuknya kincir air." kata Pak Man yang memang disuruh membuat kincir.
"Pak .... Kalau kincirnya hanya sebesar roda sepeda, tenaga yang dihasilkan juga kecil .... Listriknya juga kecil .... Tidak bisa untuk menerangi kampung kita .... Ini tadi kan pembelajaran untuk anak-anak. Yang penting anak-anak kita tahu bahwa listrik itu dihasilkan dari kincir air yang digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air." kata Melian menjelaskan kepada bapak-bapak pemulung.
"Ooo .... Saya kira bisa menerangi seluruh kampung ...." kata orang-orang, yang memang tidak paham.
"Kak Melian ...! kincir airnya sudah jadi .... Itu di sana ...." kata nak-anak sambil menunjukkan kincir yang sudah terpasang.
"Ayo, Kak Melian .... Kita lihat kincir airnya." ajak anak-anak pada Melian, yang tentunya sambil menyeret tangan Melian menuju ke te[i sungai.
"Ya ...." sahut Melian yang langsung mengikuti anak-anak, menuju ke tepi sungai.
Orang-orang tua pun selanjutnya kembali ke rumah inapnya masing-masing. Ada juga yang ke tempat penimbunan rongsok. Tentu untuk menaruh gerobak-gerobak pengankut barang-barang rongsokan beserta hasil pulungan. Ya, di kampung ini, rongsok sudah dikelola secara bersama. Maka hasil yang didapat, langsung ditimbang, kemudian dimasukkan ke penimbunan sesuai dengan jenisnya masing-masing. Rongsok plastik menjadi satu dengan plastik, besi menjadi satu dengan besi-besi, dan kertas menjadi satu dengan kertas. Setelah ditimbang oleh yang bertugas, para pemulung ini mendapat catatan hasil perolehan hari itu. Nantinya akan ditukar dengan uang oleh bagian pembayaran. Sebagian hasilnya ditabung, dan sisanya untuk keperluan hidup sehari-hari. Itulah yang menjadikan mereka lebih sejahtera.
"Nhaa ...! Itu Kak Akbar datang ...!!" teriak salah seorang anak yang melihat kepulangan Akbar dengan mengendarai sepeda motor dan menyangklong tas di punggungnya.
Tentu teman-temannya yang tadi asyik menyaksikan kincir air yang berbutas indah, langsung pada menoleh mengamati kedatangan Kak Akbar.
"Kak Akbar ...!! Kincirnya sudah jadi ...!!" teriak salah satu anak dengan lantang memberi tahu kepada Akbar yang saat ini mereka tunggu-tunggu.
"Iya ..., sebentar ....!" sahut Akbar, yang tentunya akan meletakkan sepeda motornya lebih dahulu.
Dan setelah menaruh sepeda motornya, Akbar yang masih mengenakan jaket, helem, dan mencangklong tas punggung yang terlihat berat itu, langsung menuju ke tempat anak-anak yang sudah tidak sabar akan menyaksikan kincir air itu menjadi sebuah pembangkit listrik.
"Es jeruk saja ...." jawab Akbar yang terlihat lelah.
"Sudah makan belum?" tanya Melian lagi.
"Makannya nanti saja." jawab Akbar yang sudah menurunkan tasnya.
"Oke .... Nanti aku temani makan." sahut Melian sambil tersenyum. Lantas pergi ke cafetaria untuk membelikan es jeruk buat Akbar.
"Kak Akbar .... Ini kincir airnya .... Tadi masangnya ramai-ramai pada terjun ke sungai." kata anak-anak yang menceritakan.
"O, ya ...?" sahut Akbar.
"Ini ..., pakaiannya masih pada basah." jawab anak-anak yang tadi ikut terjun ke sungai.
"Wao ..... Keren .... Bagus banget ...." kata Akbar yang kagum dengan kincir yang dibuat oleh Pak Man.
"Ini tadi masangnya lama, Kak Akbar .... Karena harus mencari posisi agar kincirnya bisa berputar cepat." kata anak-anak yang tentu juga ikut membantu.
"O, ya ...? Sekarang tolong panggilkan Pak Man lagi .... Sambil membawa potongan pambu ya ...." pinta Akbar kepada anak-anak.
"Iya, Kak ...." anak-anak yang tidak sabar ingin menyaksikan hasil karyanya langsung berlari.
__ADS_1
Sementara itu, Akbar sudah membuka tasnya. Ia mulai mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tas. Pasti itu peralatan dan bahan-bahan untuk pembangkit listrik.
"Akbar .... Minum dahulu .... Ini es jeruknya ...." Melian yang datang membawa segelas es jeruk untuk Akbar.
"Sebentar, Melian ...." sahut Akbar yang sudah berjongkok menata barangnya.
"Ini .... Aku pegangin gelasnya .... Nih, diminum ...." Melian sudah menyuapkan gelas es jeruk kepada Akbar. Terlihat sangat penuh perhatian dan kasih sayang. Tentu Akbar menurut saja karena memang sangat haus.
"Makasih, Mel ...." kata Akbar setelah meneguk es jeruk itu beberapa kali.
"Gimana, Kak Akbar ...?" tiba-tiba Pak Man datang dan tentunya siap kembali membantu.
"Pak Man, tolong dibuatkan pijakan dari bambu menuju ke kincir, untuk saya lewat memasang dinamo." kata Akbar pada Pak Man.
"Oo, semacam jembatan penghubung ...?" tanya Pak Man.
"Iya, hanya untuk lewat saja .... Cukup kecil saja. Yang penting bisa untuk lewat." sahut Akbar.
"O, ya ...." Pak Man langsung membuat dua bambu yang dipaku dengan potongan-potongan papan. Pasti memudahkan untuk melintas menuju tempat kincir, sehingga tidak harus mencebur ke sungai. Selanjutnya dipasang dari tepi sungai ke tiang kincir. Pak Man langsung mencoba melintasinya.
"Begini, Kak Akbar ...?" tanya Pak Man.
"Betul, Pak Man .... Terima kasih. Terus saya minta tolong pasangkan tiang dari bambu di pinggir sungai ini ya, Pak .... Nanti untuk mengikatkan kabel dan lampu. Tidak usah banyak-banyak, Pak .... Lima lampu saja." pinta Akbar lagi untuk memasang lampu percobaan.
"Oooh, iya Kak Akbar .... Seperti tiang lampu listrik itu, ya ...." sahut Pak Man yang tahu maksudnya.
"Anak-anak ..., bantu Pak Man megangi kabel ini, ya .... Ditarik bareng Pak Man ...." Akbar meminta anak-anak membantu.
Akhirnya, Pak Man bersama anak-anak sudah memasang tiang lampu. Tidak besar, hanya lampu kecil, sebesar lampu sepeda. Jaraknya pun tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga meter. Itu pun hanya lima lampu yang tergantung di tiang-tiang yang dipasang.
Sementara itu, Akbar masih sibuk memasang pemutar dinamo yang ditempelkan pada kincir yang terus berputar didorong arus Sungai Ciliwung. Pemutar dinamo itu menempel pada karet ban bekas yang ada di kincir itu. Tentunya dicarikan posisi yang paling baik, agar perputarannya juga lancar. Memang prinsipnya sama dengan dinamo sepeda ontel. Tetapi dinamo yang dibawa oleh Akbar ini ukurannya lebih besar. Sebesar mesin pompa air. Selanjutnya, kabel dari dinamo itu disalurkan ke kabel yang terpasang ke bola-bola lampu.
Berkali-kali Akbar mengamati peralatannya itu. Memastikan apa yang dipasang sudah benar. Sementara itu, anak-anak tetap sabar menanti keajaiban. Demikian juga Melian yang tetap sabar menemani Akbar.
Waktu terus bergulir, hingga matahari mulai meninggalkan langit. Hanya semburat sinar lembayung yang menghias angkasa. Sebentar lagi hari akan gelap. Anak-anak tak mau beranjak, meski orang tuanya sudah menyuruh pulang untuk masuk rumah. Melian yang berharap cemas, hanya sanggup memandangi Akbar yang mulai terlihat seperti siluet yang menawan di matanya.
"Byarrr ....." tiba-tiba bola lampu yang tergantung di tiang-tiang bambu yang tertancap di tepi sungai itu menyala.
"Horeeeee .....!!!" anak-anak langsung bersorak kegirangan, menyaksikan lampu-lampu yang menyala dari kincir yang mereka buat.
Seketika itu, seluruh warga berdatangan menyaksikan keajaiban tersebut.
"Sekarang mandi dahulu .... Nanti habis mandi nonton lagi." kata orang-orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mandi, karena hari sudah terlalu malam bagi anak-anak.
Anak-anak pun langsung berlarian pulang untuk mandi. Menuruti kata-kata orang tuanya. Tetapi, kini justri gantian orang-orang tua yang menyaksikan lampu-lampu yang menyala itu. Lampu dari kincir air milik mereka.
Akbar melangkah melintasi bambu, menuju tepi sungai, dimana Melian sudah menantinya di situ.
"Kamu hebat, Akbar .... Sudah menyalakan lampu-lampu itu di hatiku." kata Melian yang tentu tersenyum bangga pada Akbar.
__ADS_1
"Terima kasih, Melian .... Ini semua untuk kamu." kata Akbar yang juga tersenyum puas menatap Melian.