GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 245: DI KAMPUS


__ADS_3

    Melian masuk kampus langsung menuju bagian akademik kemahasiswaan. Ia akan mengambil baju toga untuk wisuda besok lusa. Tentu di kampus itu ramai para mahasiswa yang juga pada mengambil toga. Namun kebanyakan adalah kakak tingkatan Melian yang lulusnya tertunda karena skripnya harus molor. Hanya Melian yang lulusnya paling cepat, belum selesai seluruh waktu, dia sudah bisa wisuda lebih dulu. Hanya menempuh kuliah selama tida setengah tahun saja. Teman seangkatannya belum ada yang lulus. Masih menyusun skripsi.


    "Melian ...!!" tiba-tiba terdengar laki-laki memanggil nama Melian.


    Melian menoleh ke arah suara itu. Suara laki-laki yang membanggilnya. Tidak asing di telinga Melian.


    "Oh, Pak Endang .... Selamat pagi, Pak Endang ...." kata Melian setelah tahu siapa yang memanggilnya. Dosen muda yang pernah menulis tentang dirinya. Dari tulisan Pak Endang itu pula, Kampung Transformer bisa menjadi terkenal dan menjadi obyek wisata yang banyak dikunjungi masyarakat.


    "Pagi, Melian .... Ini sedang ngurus toga?" tanya Pak Endang setelah menyalami Melian.


    "Iya, Pak Endang ...." jawab Melian.


    "Selamat, ya .... Sukses selalu untuk Melian." kata Pak Endang, dosen muda yang lumayan ganteng itu.


    "Terima kasih, Pak Endang .... Ini semua juga karena motivasi dari Pak Endang .... Oh, iya .... Kemarin hari kata teman-teman, Pak Endang ke Kampung Transformer nyari saya, ya ...? Ada apa, Pak?" Melian langsung menanya.


    "Iya, betul .... Tapi katanya Melian mudik .... Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan pada Melian .... Setidaknya menyangkut masa depan. Nanti kita bicara di ruang kantor saya saja. Ini ngurus toganya sudah selesai apa belum?" kata Pak Endang, yang langsung menanya urusan toga.


    "Sebentar, Pak .... Nunggu antrian ...." jawab Melian yang masih mengantri untuk mendapatkan toga.


    "Apa saya perlu masuk, untuk saya ambilkan dari dalam ...?" kata Pak Endang yang tentu bisa saja masuk ke ruang pembagian toga itu.


    "Jangan, Pak .... Kita harus bersabar menanti sesuai dengan gilirannya. Jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain. Itu tidak baik kan, Pak ...." kata Melian yang tidak mau berbuat curang dan merugikan orang lain.


    "Ah, Melian selalu baik. Tidak mau berbuat kesalahan .... Saya salut dengan sikap dan perilakumu. Oke, saya tunggu sambil duduk di situ, ya ...." kata dosen muda itu yang selanjutnya duduk di kursi teras yang ada di pojok kampus.


    "Iya, Pak Endang .... Nanti kalau sudah selesai urusannya, saya temui bapak." jawab Melian.


    Pak Endang, dosen muda yang energik dan kreatif itu pun duduk menunggu Melian. Tentu Pak Endang justru sibuk dengan menjawab sapaan-sapaan mahasiswanya yang berlalu lalang melintas di depannya.


    Sementara itu, di bagian ruang Akademik Kemahasiswaan, masih banyak mahasiswa yang antri mengambil toga. Pastinya pada sabar. Dan tentu dengan rasa gembira. Karena para mahasiswa yang mengambil toga ini, sebentar lagi akan diwisuda. Ada yang jadi sarjana, ada pula yang bergelar sarjana muda.


    Karena kebanyakan yang mengambil toga ini adalah kakak-kakak kelas Melian, bahkan dari jurusan yang berbeda-beda, maka jarang yang kenal dengan Melian. Hanya satu dua orang dari jurusan yang sama, yang tahu presis dan kenal Melian.


    "Kamu Melian, Kan ...? Selamat, ya .... Kamu hebat ...." kata kakak kelasnya yang sudah membawa paket toga wisuda.


    "Terima kasih, Kak .... Selamat juga untuk Kakak .... Semoga sukses selalu ...." jawab Melian yang tentu dengan senyum manisnya.


    "Hai, Melian .... Selamat, ya ...." kata mahasiswa lain, yang juga kakak kelas Melian.

__ADS_1


    "Terima kasih, Kak .... Selamat juga buat Kakak ...." sahut Melian.


    "Melian ...!" suara panggilan dari yang membagi toga.


    "Iya, saya ...!" sahut Melian yang langsung menuju jendela yang dibuka untuk membagikan toga.


    "Kamu yang bernama Melian?" tanya petugas yang membagikan toga.


    "Betul, Pak ...." jawab Melian.


    "Selamat, ya .... Wah ..., gadis cantik yang pintar .... Cowok kamu pasti senang .... Sudah punya cowok apa belum?" kata bapak-bapak yang bertugas membagikan toga itu, memuji Melian. Pasti dari data wisadawan, petugas itu sudah tahu kalau Melian ini termasuk lulusan yang hebat.


    "Hehe .... Belum, Pak ...." jawab Melian malu-malu.


    "Ah, masak sih ...?! Gadis secantik kamu belum punya cowok?" seloroh petugas toga itu lagi.


    Melian tidak menanggapi kata-kata petugas itu. Hanya tersenyum saja. Lantas menerima toganya. Kemudian meninggalkan tempat itu.


    "Terima kasih, Pak ...." kata Melian berterima kasih, yang tentu dengan senyum manisnya.


    "Ya, kembali kasih .... Cepet-cepet cari pacar, ya ...!" goda petugas itu lagi.


    Melian langsung menghampiri Pak Endang yang sudah menunggunya dari tadi. Lumayan lama.


    "Maaf, Pak Endang ..., sudah menunggu lama ...." kata Melian yang menghampiri dosen muda itu.


    "Ndak papa .... Sudah beres?" sahut Pak Endang yang langsung berdiri dari duduknya.


    "Sudah, Pak .... Tinggal besok selasa, berangkat Wisuda." jawab Melian.


    "Ayo, kita ke kantor .... Ke ruang saya .... Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan untuk Melian." kata dosen muda itu yang langsung melangkah menuju ruang jurusannya, Manajemen Bisnis.


    Melian mengikuti di samping kiri, agak ke belakang sedikit. Melian mengikuti dosennya. Menurut saja setiap langkah kaki sang dosen muda itu. Tidak jauh berbeda umur. Tentu seperti kakak adik. Atau bahkan seperti pacarnya. Tapi Melian tidak sungkan, karena niatan dari Pak Endang itu baik.


    Mereka berdua berjalan beriringan. Tidak jauh. Yang namanya kampus besar, pasti antar fakultas dan antar jurusan tempatnya terpisah-pisah. Tetapi ibarat berjalan sambil olah raga. Maka dalam waktu sekejap juga sudah sampai. Pak Endang langsung membuka pintu, dan mengajak Melian masuk di ruang kantornya.


    "Silakan duduk, Melian." kata Pak Endang yang juga menarik kursinya, dan duduk berhadapan dengan Melian.


    "Iya, Pak .... Terima kasih ...." kata Melian yang langsung duduk menghadapi dosen muda itu. Tentu dengan penuh harap ada sesuatu yang baik akan disampaikan oleh dosennya.

__ADS_1


    "Melian .... Dari kemarin lusa saya mencarimu. Ingin menyampaikan sesuatu padamu ...." kata Pak Endang yang sudah menatap Melian. Maklum, kali itu mereka hanya berdua yang saling berhadapan. Kebetulan kantor sedang sepi.


    "Tentang apa ya, Pak?" tanya Melian ingin tahu.


    "Begini, Mel .... Ini ada beberapa kesempatan yang bisa kamu pilih. Melian kan anak pintar, saya berharap mau melanjutkan studi yang lebih tinggi. Setidaknya nanti bisa meraih gelar kesarjanaan yang lebih tinggi lagi, magister maupun doktoral. Yang pertama, ada tawaran kuliah ke Boston, Amerika Serikat. Melian bisa melanjutkan kuliah di sana dengan biasiswa penuh." kata dosen itu.


    "Saya tidak tertarik, Pak ....Terlalu jauh. Orang tua saya pasti tidak setuju." Melian langsung memotong kata-kata dosennya yang memberi penawaran kuliah ke luar negeri.


    "Sayang, ya .... Oke, yang kedua, ada tawaran kuliah di Zhejiang University, China .... Kalau ini mungkin orang tua kamu setuju ...." kata dosen itu, yang tahunya kalau Melian adalah anak orang keturunan Cina. Pasti kalau disuruh balik ke negaranya akan senang.


    "Saya juga belum berfikir ke sana, Pak .... Maklum, saya ini anak tunggal .... Apalagi anak perempuan, orang tua sangat keberatan kalau ditinggal jauh, Pak." jawab Melian lagi, yang juga masih ragu-ragu.


    "Ooo .... Jadi Melian ini anak tunggal ...?" tanya dosen muda itu.


    "Betul, Pak .... Pasti di manja, kan ...." jawab Melian.


    "Orang tua kamu punya usaha apa?" tanya dosen itu lagi, yang setidaknya ingin tahu seperti apa usaha atau pekerjaan yang dilakukan orang tuanya.


    "Cuma pengusaha kerajinan kuningan, Pak .... Tidak besar, tapi yang penting bisa menghidupi karyawannya." jawab Melian.


    "Ooo .... Ya sudah .... Kalau memang agak berat meninggalkan orang tua, bagaimana kalau Melian jadi dosen di sini? Mengabdikan diri untuk alumni. Nanti bisa bersama-sama dengan Pak Endang mengembangkan banyak hal di almamater kita .... Dan saya sangat senang kalau Melian mau bersama-sama saya mengabdikan diri di sini. Nanti sambil kuliah lagi untuk pasca sarjananya." kata Pak Endang penuh harap.


    Melian tersenyum. Mungkin ini tawaran yang terbaik untuk dirinya. Setidaknya Melian tidak harus pergi terlalu jauh ke luar negeri.


    "Bagaimana, Mel ...? Nanti bisa bersama-sama Pak Endang belajar bareng ...." tanya Pak Endang lagi, yang tentunya ingin anak pintar itu tidak terlepas ke orang lain.


    "Saya akan pikir-pikir dahulu, Pak .... Dan nanti akan saya konsultasikan ke orang tua lebih dulu ...." jawab Melian yang tentu masih bingung untuk menentukan niatannya. Meski tawaran itu sudah disampaikan, tetap harus minta persetujuan orang tua lebih dulu.


    "Ya sudah .... Silakan dipikir-pikir dahulu .... Tapi jangan terlalu lama .... Keburu diambil orang. Oh, ya ..., nomor HP Melian berapa? Nanti kita bisa SMS-an atau telepon kalau ada sesuatu yang penting." kata dosen itu yang meminta nomor HP.


    Melian langsung memberikan nomer kontaknya. Tentu penuh harap, agar selalu dapat berita baik dari dosen itu. Selanjutnya, setelah dirasa cukup mengobrolnya, Melian berpamitan untuk pulang.


    "Aha .... Ini Melian, ya ...?!" tiba-tiba saat mau keluar ruang, ada dosen senior yang masuk.


    "Betul, Pak ...." jawab Melian.


    "Wah ..., sama Pak Endang, ini .... Wah, pas .... Cocok .... Saya setuju .... Kalian adalah pasangan yang serasi. Sama-sama pintar, cerdas dan kreatif." kata dosen senior tersebut, yang rupanya menggoda Melian dan Pak Endang.


    Tentu Pak Endang yang masih perjaka dan belum punya pacar itu, langsung tersipu malu. Demikian juga Melian, gadis lugu yang digoda tentang jodoh, pasti langsung menundukkan mukanya, pertanda malu.

__ADS_1


__ADS_2