GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 97: RINDU


__ADS_3

    Sudah satu bulan Melian sekolah SMA di Semarang. Belum pernah pulang semenjak diantar oleh bapak dan ibunya saat mau masuk sekolah. Kala itu Jamil nyarter atau sewa mobil station dan disopiri oleh Mas Tarno. Khusus untuk mengantar Melian, tentu dengan membawa berbagai kebutuhan sehari-hari. Bawaannya sangat banyak, terutama pakaian dan perlengkapan sekolah. Maklum Jamil belum punya mobil sendiri. Di perusahaannya yang ada cuman mobil box tinggalan Pak Bos, majikan pabrik yang dulu. Maka ia harus sewa mobil di tempat carteran. Kalau sekarang namanya rental mobil.


    Pasti Juminem sangat kangen. Dan itu tidak bisa dipungkiri saat di akhir-akhir hari, setiap kali pulang kerja, Jamil menyaksikan Juminem yang lebih sering melamun, dan matanya sembab karena habis menangis.


    "Kamu kenapa, Jum ...? Kok kelihatan sedih begitu?" tanya Jamil saat istrinya menyambut kedatangannya di teras rumah.


    Juminem diam. Kepalanya menunduk, untuk menyembunyikan kesedihannya dari tatapan suaminya. Dan tanpa bisa menahan lagi, Juminem sudah menutup mukanya dengan telapak tangannya. Ia justru menangis sesenggukan.


    Jamil yang tahu istrinya sedang bersedih, ia langsung memapah lengannya. Menuntun Juminem masuk ke rumah.


    "Huu ..., huu .., huu .... Kang Jamil .... Aku kangen sama Melian, Kang ...." Juminem menumpahkan rasa kangennya dengan tangisan, membasahi bahu Jamil dengan linangan air matanya.


    "Sabar .... Anak sekolah kok ditangisi .... Nanti anaknya malah tidak krasan, lho ...." kata Jamil sambil mengelus kepala istrinya. Lantas mengajak duduk di ruang keluarga, dan tentu direbahkan di dada dalam pelukan Jamil.


    "Tapi saya kangen banget, Kang .... Huk ..., hu ..., hu ....." sahut Juminem yang kembali menangis.


    "Iya .... Saya tahu .... Saya juga kangen, Jum .... Tidak hanya kamu yang kangen ...." kata Jamil yang tentu ingin menyampaikan bahwa yang kangen itu tidak hanya dirinya. Bapaknya pun juga bisa kangen.


    "Terus ..., gimana .... Kapan Melian pulang? Katanya akhir bulan mau pulang .... Ini sudah sebulan lebih, Kang .... Saya takut Melian kenapa-kenapa ...." kata Juminem yang tentu sangat khawatir dengan anaknya.


    "Jum .... Masak kamu tidak tahu Melian .... Kita dari kecil merawat anak itu, banyak keajaiban yang kita lihat, banyak hal aneh yang kita saksikan. Keanehan selalu menyertai Melian .... Apa Juminem tidak melihat itu ...? Meskipun kita merahasiakan hal itu, bahkan kita tidak menceritakan kepada Melian sekalipun, tetapi itu sudah bukti kalau Melian itu anak ajaib. Apalagi yang kamu khawatirkan ...?" kata Jamil yang mencoba memberi keyakinan pada istrinya.


    "Iya, Kang .... Tapi yang namanya simbok, rindu itu selalu muncul, Kang .... Sejak kecil saya ngeloni anak itu .... Saya tidur bersamanya sejak bayi, Kang." lagi-lagi Juminem mengungkapkan rasa kangennya.


    "Apa kita mau menengok anak kita ke Semarang?" tiba-tiba Jamil memberi kata-kata menyenangkan.


    "Iya, Kang ...!" Juminem langsung membuka lebar mulutnya, tersenyum karena saking girangnya.


    Memang, yang namanya ibu kalau sudah rindu pada anaknya, rasanya ingin segera ketemu. Bagi ibu yang baik pikiran khawatir itu selalu ada pada anak yang disayanginya. Apalagi Melian adalah anak satu-satunya. Anak yang setiap hari menemaninya. Anak yang selalu diajak ngobrol. Bahkan juga anak yang selalu dijadikan tempat curhat. Tentu Juminem merasa kesepian ketika Melian tidak ada di rumah. Apalagi ditinggal Melian dalam waktu yang sangat lama tanpa kabar berita. Maklum di masa itu belum ada alat komunikasi yang canggih. Rumah yang punya telepon itu hanya milik orang-orang kaya. Handphone juga belum seramai saat ini. Harganya masih mahal. Bahkan kartu perdana saja lebih mahal dari handphon-nya. Maka tidak semua orang punya handphone. Hanya orang kaya yang punya handphone.


    "Kita sewa mobil lagi, Kang .... Suruh ngantar Mas Tarno. Nanti Mas Tarno disuruh ngajak anak istrinya, sekalian piknik-piknik keliling Semarang." usul Juminem pada suaminya.


    "Ya .... Besok Minggu kita ke Semarang. Jenguk Melian sekalian jalan-jalan." jawab Jamil yang tentu sangat menyenangkan hati Juminem.


    "Asyiiiik ......" Juminem langsung memeluk suaminya karena saking senangnya.


    "Kamu besok ke pabrik, Jum. Temui  Mas Tarno. Kamu yang bilang dan mengajak Mas Tarno. Katakan juga Mas Tarno disuruh ngajak anak dan istrinya." kata Jamil menyuruh Juminem untuk meminta tolong ke sopirnya.


    "Kok saya, Kang ...? Kan, Kang Jamil malah lebih dekat ...." kilah Juminem.


    "Biar Mas Tarno kasihan sama kamu .... Bisa jadi kalau yang menyuruh saya, dia beralasan macam-macam ...." bantah Jamil.


    "Yaaa .... Besok saya membonceng Kang Jamil berangkat ke pabrik." sahut Juminem yang tetap senang karena ingin mengobati rindunya terhadap Melian.


*******


    Hari Minggu pagi, sekitar jam tujuh pagi, di halaman depan rumah Jamil, masuk mobil carry station yang disetir oleh Tarno. Di dalamnya sudah ada istrinya Tarno dan dua anaknya yang masih sekolah SD.


    "Din ...! Diin ...!" bunyi suara klakson.


    "Ya ..., sebentar ....!" terdengar teriakan Juminem dari dalam rumah.


    Jamil keluar dari rumah, sambil membawa dua buah kardus yang tertutup rapat dan diikat dengan rafia sebagai cangkingan. Kardus itu berisi aneka jajanan, ada carang madu, krupuk gayam, krupuk bakso, kacang oven dan lain sebagainya, yang tentu sebagai oleh-oleh buat anaknya. Sedangkan kardus yang satunya lagi, berisi aneka lauk pauk. Ada bandeng presto, dendeng asap, abon, dan tidak ketinggalan pepes waleran kesukaan Melian. Itu semua disiapkan oleh Juminem untuk anaknya, meskipun nanti pasti disuruh membagi ke teman-temannya.


    "Tolong bukakan pintu belakang, Mas Tarno, untuk menaruh kardus jajanya Melian." kata Jamil meminta Tarno untuk membuka pintu belakang.


    "Iya, Pak ...." sahut Tarno yang langsung berlari membuka pintu belakang.


    Selanjutnya, Juminem keluar sambil membawa tas kresek. Juga berisi jajanan. Kali ini yang dibawa makanan basah semua. Ada sayur gandul, soto kemiri, ayam kampung yang digoreng, serta aneka lauk khas dari Juwana. Semua sudah dibungkusi plastik, ada dua kresek. Juminem pun langsung menaruh bungkusan tas plastik kresek itu di bagian belakang.


    "Mas Tarno .... Istinya dan anak-anak diajak turun, kita sarapan dulu." kata Juminem yang mengajak sarapan.

__ADS_1


    "Nggih, Bu Jum ...." sahut Tarno yang langsung mengajak anak dan istrinya sarapan bersama majikannya itu. Mereka sarapan bersama. Tentu agar di mobil bisa tenang dan tidak kelaparan. Karena jaraknya cukup jauh, hingga butuh waktu sekitar dua jam perjalanan jika lancar.


    Setelah semuanya beres, mobil pun melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Jamil duduk di depan di sebelah Tarno yang menyetir. Juminem berada di jok tengah bersama istrinya Tarno. Sedangkan dua anak Tarno duduk di jok belakang, tentu ribut menunjuk-tunjuk ke luar, karena saking senangnya akan diajak piknik ke Semarang.


    "Piknik ke mana, Mbak Juminem?" tanya tetangga yang kebetulan melintas saat mobil itu mau keluar halaman.


    "Mau nengok Melian, di Semarang ...." jawab Juminem dari dalam mobil.


    "Waah, mau ngantar jatah, ya ...." sahut tetangganya yang lewat itu.


    "Iya, ini mau ngantar bandeng presto sama pepes waleran kesukaan Melian ...." balas Juminem.


    "Sekolah kok jauh-jauh ke Semarang leh, Mbak Jum ...?!" tanya tetangganya itu lagi.


    "Iya .... Melian penginya sekolah SMA di Semarang .... Katanya biar pengalaman .... Sudah ya, Yu .... Saya berangkat dulu ...." sahut Juminem sambil meningglkan tetangganya itu, karena mobil terus berjalan.


    Mobil pun sudah berbelok ke arah barat. Mulai menapak di jalan pantura, menuju ke Kota Semarang. Di kursi belakang, dua anak Tarno masih berbantahan menunjuk dan menyebut apa saja yang dilihatnya di pinggir-pinggir jalan yang dilalui. Sementara di kursi tengah, Juminem berbincang dengan istrinya Tarno. Tidak canggung. Karena memang Juminem berasal dari desa, hanya sebatas rakyat kecil yang sudah terbiasa hidup susah. Sedangkan di depan, Jamil pun menemani Tarno melihat situasi jalan.


    "Pak Jamil ...." kata Tarno sambil menyetir.


    "Ada apa, Mas Tarno?" tanya Jamil yang merasa akan diajak bicara.


    "Lha mbok Pak Jamil itu beli mobil sendiri .... Biar kalau bepergian gini tidak usah sewa ...." tiba-tiba Tarno nyeletuk usul agar pimpinannya itu beli mobil.


    "Uangnya siapa yang untuk beli, Mas Tarno?" sahut Jamil ringan saja.


    "Haalah ..., Pak Jamil itu lho, senangnya kok merendah .... Lha wong pabrik sebesar itu, sudah sangat maju dan laris seperti itu kok uangnya siapa .... Ya uangnya Pak Jamil, to ya ...." kata Tarno sambil tersenyum.


    "Itu uang pabrik, Mas Tarno ...." tiba-tiba Juminem dari belakang ikut menyaut.


    "Lha yo pabrik beli mobil untuk sarana transportasi, Pak .... Jadi nanti Pak Jamil juga bisa pakai. Atau mobil itu untuk dinasnya Pak Jamil .... Lha wong Pak Bos yang dulu saja pabriknya kembang kempis bisa beli mobil, kok ...." kilah Tarno yang membandingkan dengan bosnya yang lama.


    "Lha tapi, Pak ..., kalau kita butuh transport, masak setiap hari sewa. Contohnya saja dulu waktu kita mau melayat Pak Bos, harus nyarter angkot. Kemarin nengok istrinya Soleh melahirkan, juga nyarter angkot. Pak Jamil mau nganter Melian ke Semarang, sekarang ke Semarang lagi mau nengok anak, carter lagi .... Eman-eman uangnya untuk carter terus-terusan, Pak ...." Tarno mulai merayu majikannya.


    "Benar juga ya, Mas Tarno .... Kalau pabrik kita punya, bisa dipakai untuk keperluan-keperluan pergi bersama ya, Mas ...." Juminem mulai mengikuti bujukan Tarno.


    Tentu Jamil pun juga mulai berpikir, kalau dirinya atau keluarganya, kini akan sering butuh mobil untuk bepergian. Paling tidak untuk menjenguk Melian. Masuk akal juga apa yang dipaparkan oleh Tarno. Tetapi berapa harga mobi? Uang siapa yang akan digunakan untuk beli?


    "Yaa ..., besok kalau kita punya uang, kita beli mobil, biar bisa dipakai bersama ...." kata Jamil menjawab santai.


    "Lhah .... Besok kapan, Pak?" kejar Tarno.


    "Kalau sudah punya uang ...." tegas Jamil.


    "Halah .... Pak Jamil, ki lho .... Lha wong sekarang saja ke dealer langsung dibayar, kok .... Gayanya itu, lho .... Wis, gak nguati babar blas ...." ledek sopir itu.


    Jamil diam saja. Hanya tersenyum mendengar kata-kata Tarno yang lucu. Namun dalam hati Jamil, ia mengatakan memang mobil itu sekarang dibutuhkan untuk memenuhi sarana transportasi.


    "Le ..., itu Masjid Demak, Le ...." kata Tarno yang menunjukkan Masjid Demak kepada anak-anaknya.


    Tapi tidak ada suara jawaban atau reaksi dari anak-anaknya. Semuanya diam. Bahkan istrinya juga diam. Ternyata mereka sudah tertidur semua. Tinggal Tarno dan Jamil yang masih terjaga.


    "Sudah pada tidur semua, Mas Tarno ...." kata Jamil pada sopirnya, agar tidak kecewa karena tidak ada yang menyaut.


    "Nggih, Pak ...." jawab Tarno sambil meringis.


    "Santai saja .... Tidak usah tergesa. Jangan ngebut. Sudah dekat, kok ...." tambah Jamil yang meminta agar sopirnya agar pelan-pelan saja.


    "Nggih, Pak ...." jawab Tarno yang terus menyetir, santai karena memang sudah dekat untuk masuk ke Kota Semarang.


    Dan memang, tidak lama kemudian, sekitar jam sembilan lebih sedikit, mobil carry sewaan yang dicarter oleh Jamil itu sudah masuk ke komplek Jurnatan, daerah Pasar Johar. Lantas berbelok ke kiri memasuki jalan yang ramai dan sesak aktivitas para pedagang dan pembeli. Kanan kiri semuanya ramai dengan toko-toko berbagai macam kebutuhan. Termasuk truk yang bongkar muat barang. Belum lagi becak yang lalu lalang, yang menambah semrawutnya jalan. Tentu Tarno harus ekstra hati-hati dalam menyetir mobilnya.

__ADS_1


    Sebentar kemudian, Tarno sudah membelokkan mobilnya ke kiri, melewati jembatan, di mana sungai itulah yang dahulu dikenal dengan Kali Semarang. Selanjutnya membelok ke kiri sedikit, terus ke kanan. Mas Tarno sudah sampai di Kampung Jagalan.


    Namun seperti biasa, yang namanya perkampungan di kota besar, rumah-rumahnya tidak memiliki halaman untuk parkir. Maka Tarno meminggirkan mobilnya di tepi jalan, di depan rumah tempat kost Melian. Sudah tiga kali ini, Tarno mengantarkan majikannya itu ke rumah kost tersebut.


    Jamil langsung membangunkan istrinya. "Jum .... Bangun, sudah sampaik ...." kata Jamil.


    Tentu Juminem kaget. Karena tahu-tahu sudah sampai di tempat kost anaknya. Ia pun segera bergegas turun dari mobil, karena ingin segera menemui anaknya, tanpa menghiraukan barang-barang bawaannya. Juminem langsung menuju depan pintu rumah kost anaknya.


    "Permisi ...! Melian ...! Melian ...!" Juminem memanggil anaknya.


    Seorang perempuan muda yang cantik, membuka pintu dan keluar menemui Juminem. Dia teman kost Melian, tetapi yang sudah bekerja.


    "Ini ..., ibunya Melian, ya?" tanya perempuan cantik itu.


    "Iya .... Melian di mana?" kata Juminem yang berbalik menanyakan anaknya.


    "Melian sedang latihan wushu di klenteng .... Dekat kok, tempatnya .... Itu di sana ...." jawab perempuan itu.


    Tentu Juminem agak kecewa, karena anaknya pergi.


    "Di mana Melian, Jum ...?" tanya Jamil yang sudah sampai di depan pintu itu dengan membawa kardus oleh-oleh.


    "Sedang latihan wushu, Pak .... Disusul saja, Bapak dan Ibu naik becak ke klenteng. Kalau jalan kaki nanti capek ...." kata perempuan yang menerime kedatangannya.


    Juminem terdiam karena agak kecewa. Jamil tahu watak istrinya. Maka ia berniat mengajak Juminem untuk menyusul anaknya.


    "Ya sudah, Cik .... Saya nitip barang-barang ini dulu di sini .... Oleh-olehnya Melian .... Saya mau menyusul anak saya dahulu ...." kata Jamil yang langsung menaruh kardus jajanan di ruang tamu.


    "Ya, Pak .... Taruh saja di sini ...." kata perempuan cantik tersebut.


    "Ayo, Jum .... Kita naik becak menyusul Melian di klenteng." ajak Jamil pada istrinya.


    "Saya bantu pesan becaknya, Pak .... Biar nanti diantar ke klenteng ...." kata perempuan itu yang langsung memanggil tukang becak yang banyak mangkal di daerah situ. Tentu si tukang becak dipesan untuk mengantar penumpangnya itu ke klenteng, di mana Melian sedang berlatih wushu.


    Jamil pun menemui Tarno yang masih ada di mobil bersama anak dan istrinya. Menyampaikan kalau ia akan menyusul Melian di klenteng. Jamil memberi uang dan membolehkan Tarno untuk jalan-jalan dahulu mengajak anak dan istrinya menyaksikan Kota Semarang.


    Jamil naik becak bersama Juminem, dan diantarkan ke klenteng oleh tukang becak sesuai pesan dari teman kost Melian. Dan hanya sebentar, becak itu sudah berhenti di depan klenteng.


    "Ini, Pak, Buk ..., klentengnya. Melian latihan di dalam. Anak itu sering naik becak saya, kok .... Langsung saja masuk terus, nanti sampai di tempat anak-anak latihan wushu."


    "Iya, Pak .... Terima kasih .... Ini ongkosnya." kata Jamil yang membayar ongkos becak.


    Lantas seperti yang dikatakan tukang becak itu, Jamil dan Juminem pun langsung masuk. Tentu Juminem yang paling tergesa, karena ingin segera bertem dengan anaknya. Rindunya sudah sangat keterlaluan. Dan benar seperti yang dikatakan oleh tukang becak tadi, di halaman dalam terdapat anak-anak yang berlatih semacam pencak silat.


    Juminem berhenti. Kepalanya gelang-geleng mencari anaknya. Namun ia bingung, karena wajah anak-anak di situ rata-rata hampir sama. Berkulit putih dan bermata sipit. Beda dengan di kampungnya, waktu SD atau SMP, Juminem sangat mudah mencari anaknya, karena beda sendiri. Tapi di sini, hampir mirip semua.


    "Melian ....!!" tiba-tiba Juminem berteriak. Ia memanggil nama anaknya, agar Melian yang dipanggilnya tahu kalau ibunya datang di situ.


    Sontak anak-anak yang berlatih menengok asal suara panggilan itu. Dan seorang anak gadis dengan pakaian warna merah, menghentikan latihannya, berlari menuju suara panggilan itu.


    "Mak-e ....!!" teriak gadis berpakaian merah itu, yang tidak lain adalah Melian.


    Melian langsung memeluk ibunya. Demikian pula Juminem, yang sangat rindu pada anaknya, ia langsung memeluk erat, tentu sambil meneteskan air mata. Dua orang anak dan ibu itu saling berpelukan dan seakan tidak mau dilepaskan.


    Mei Jing yang tadi berlatih bersama Melian, ikut datang menghampiri dan menyaksikan Melian memeluk ibunya. Namun Mei Jing melongo, ada keheranan yang bergelut dalam pikirannya, saat melihat ibu dan bapaknya Melian yang kulitnya coklat hitam, bukan seperti layaknya dirinya dan keluarganya.


    Setelah cukup lama berpelukan, akhirnya Melian melepas ibunya. Sadar di situ ada Mei Jing, yang sangat pas kalau disebut sahabatnya, ia pun langsung mengenalkan bapak dan ibunya.


    "Mei Jing ..., ini Mak dan Pak saya ...." kata Melian.


    Mei Jing diam. Tidak menjawab. Hanya memandangi tiga orang itu dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2