GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 109: PERMOHONAN MAAF


__ADS_3

    Senin pagi, mungkin karena capek keliling Juwana bersama teman-temannya, Melian bangun agak kesiangan. Padahal pulangnya sudah diantar oleh Mas Tarno dengan menaiki mobil baru yang dibeli oleh bapaknya untuk keperluan perusahaan. Tentu waktu mengantar Melian bersama teman-temannya, Mas Tarno ditemani Mas Irul. Itu karena Jamil sangat pengertian, bagaimana Irul sedang didekati Cik Indra. Siapa tahu bisa bersambung.


    Tidak hanya Melian yang terlambat bangun. Tetapi Ivon dan Vanda juga terlambat bangun. Akibatnya, mereka berebut kamar mandi. Maklum di kost itu kamar mandinya cuman ada dua. Beruntung cacik-caciknya yang lain berangkat agak siang, tidak seperti anak sekolah. Akhirnya, mereka bertiga pun mandi cepet-cepetan, agar tidak terlambat ke sekolah. Maklum hari Senin, ada upacara. Kalau terlambat bisa kena hukuman menghormat bendera di tengah lapangan, satu jam pelajaran. Pasti capek dan malu.


    Maka tiga anak itu dipacu seperti berlomba. Tanpa sarapan. Yang penting tidak terlambat. Setelah salin dan siap berangkat, mereka langsung berlari. Lagi-lagi seperti balapan.


    "Ayo, cepat ..., cepat ..., cepat ...." mereka saling mengajak cepat.


    "Teeett .......!! Teeett ......!! Teeett ......!!" bel sekolah sudah berbunyi.


    Tepat saat tiga anak itu sampai di gerbang. Sudah terlihat Pak Satpam berjalan ke gerbang, akan menutup pintu gerbang. Jadi kalau ada anak terlambat tidak bisa masuk, sampai upacara selesai.


    "Syukurlah .... Pas .... " Ivon kembang kempis, nafasnya mau putus karena berlari cepat seperti dikejar anjing.


    Demikian juga Vanda, yang tidak terlatih untuk lari. Beda dengan Melian yang sudah terbiasa latihan pernafasan. Tentu lari jarak seratus meter dari rumah kost ke sekolahan bukanlah masalah yang berat.


    "Sini tasnya, saya taruh di kelasku dahulu ...." kata Melian yang meminta tas Ivon dan Vanda, untuk dimasukkan ke meja kelasnya.


    Maklum kelas Ivon berada paling atas di lantai tiga, sementara kelasnya Vanda berada di lantai dua. Jadi terlalu lama untuk menaruh tas ke kelas, sementara teman-temannya yang lain sudah pada masuk ke lapangan upacara. Maka Ivon dan Vanda langsung saja berjalan menuju lapangan upacara. Berbaris mengikuti teman-teman sekelasnya.


    "Tas kamu kok banyak sekali, Mel ...?" tanya teman sekelasnya yang melihat Melian membawa tiga tas.


    "Tasnya Cik Ivon sama Cik Vanda .... Nitip dulu, daripada naik capek ...." jawab Melian, yang langsung keluar kelas bersama teman-temannya menuju lapangan upacara.


    Di lapangan, murid-murid sudah pada berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing. Murid kelas satu berada di barisan paling kiri, sedangkan kelas tiga berada di barisan paling kanan.


    "Seluruh pasukan ...... Siaaaaappp .......... Grak!!!" komandan upacara sudah menyiapkan barisan. Pertanda upacara akan segera di mulai.


    Seluruh siswa langsung tegap. Diam dan tenang. Tidak ada gerakan maupun kata-kata. Tidak ada yang bicara lagi ataupun bergerak ke sana kemari. Langsung meluruskan barisan. Siswa perempuan ada di depan, sedangkan laki-laki ada di belakang. Yang pendek di depan dan yang tinggi di belakang. Barisan itu terlihat rapi.


    Ya, meskipun sekolah ini kebanyakan muridnya adalah anak-anak dari keturunan, namun soal nasionalisme jangan ditanya. Namanya saja SMA Nasional, maka jiwa-jiwa patriot nasionalisme harus ditanamkan secara kuat. Maka tidak heran kalau barisan upacara itu sangat rapi. Murid-murid ini sangat disiplin dan tertib. Tidak ada anak yang cengengesan.


    "Upacara pengibaran bendera ...., hari Senin ...., tanggal ..., dua puluh September ..., tahun dua ribu empat, segera dimulai ...." pembawa acara sudah mulai membacakan protokolnya. Upacara bendera siap dimulai.

__ADS_1


    "Semuanya ...... Siaaaaappp .......... Grak!!!" komandan upacara menyiapkan barisan.


    Seluruh peserta upacara terlihat tenang. Seakan murid-murid sudah berubah menjadi patung. Diam dan tidak bergerak. Semuanya mengikuti upacara secara khidmad. Itulah salah satu penanaman nilai-nilai nasionalisme. Guru PMP patut berbangga melihat kedisiplinan anak dalam upacara ini. Bahkan komandan upacaranya pun lantang tegas seperti prajurit ABRI.


    Melian yang berada di sisi kiri kelasnya dan di bagian putri paling belakang, karena cukup tinggi, terlihat diam dan tenang. Namun sebenarnya mata Melian melirik ke kiri. Melihat ke barisan kelas I B. Ia mencari Mei Jing diantara teman-temannya yang berdiri di sisi kirinya, berselang satu kelas. Sudah satu minggu lebih ia tidak ketemu Mei Jing. Tentu ada rasa kangen. Maklum, Melian memang jarang keluar kelas. Apalagi setelah peristiwa diolok oleh anak laki-laki di depan kelas satu, ia tidak nyaman. Terutama dengan teman-teman Mei Jing. Meskipun waktu itu anak-anak yang mengoloknya itu sempat dipukul dan gelangsaran. Tetapi justru karena itu ia jadi tidak nyaman untuk keluar kelas.


    Ya, setelah peristiwa tanding di lapangan wushu, Melian belum pernah ketemu lagi dengan Mei Jing. Bagaimanapun juga, sebenarnya Melian rindu pada Mei Jing. Mei Jing pernah menjadi sahabat baiknya, ngobrol bersama, juga pulang bareng. Mei Jing juga yang mengajarkan wushu pada dirinya. Setidaknya, banyak kebaikan dari Mei Jing yang sudah dirasakannya. Hanya karena masalah kecil, kenapa itu menyebabkan jadi permasalahan?


    Maka, dikesempatan upacara inilah Melian bisa mencari Mei Jing. Setidaknya bisa melihat keadaan Mei Jing. Namun setelah melirik dan mengamati murid-murid perempuan di kelas I B, Melian tidak melihat Mei Jing. Mungkinkah Mei Jing terlambat? Atau Mei Jing tidak masuk sekolah? Kenapa tidak terlihat?


    "John ..., Mei Jing di mana?" Selesai upacara Melian menarik tangan Jonatan, teman sekelas Mei Jing, murid laki-laki tinggi besar yang pernah dipukul jatuh oleh Melian.


    "Aku nggak tahu .... Mei Jing nggak masuk ...." jawab Jonatan ketakutan. Maklum, ia pernah merasakan kesakitan dipukul Melian.


    "Sejak kapan Mei Jing tidak masuk?" tanya Melian lagi, yang tentu ingin tahu.


    "Anu .... Sejak kamu kalahkan itu .... Pagi harinya Mei Jing gak pernah berangkat." jawab Jonatan yang masih ketakutan.


    "Ya." tentu Jonatan yang ketakutan, tidak berani membantah, hanya bisa menurut tanpa alasan. Lalu masuk kelas, diam tanpa bicara. Tentu dalam hatinya ada rasa khawatir setelah Melian menanyakan keadaan Mei Jing. Karena Jonatan sendiri tahu bahwa Mei Jing sudah dikalahkan oelh Melian, dan teman-temannya, termasuk Jonatan meninggalkan Mei Jing tanpa ada yang membantu dan tanpa ada yang perhatian sama sekali. Sehingga Jonatan sendiri tidak tahu seperti apa sebenarnya kondisi Mei Jing.


    Siang setelah pulang sekolah, dengan mengendarai RXZ, motor yang cukup keren kala itu, Jonatan memboncengkan Melian dari halaman parkir. Banyak teman yang melihatnya. Terutama teman-teman satu kelas Jonatan. Tentu menjadi ramai, Jonatan dianggap sudah pendekatan dengan Melian.


    "Asyik ..., asyiiik ...!"


    "Suwit ..., suiiiit ...!"


    "Tempel terus ...!"


    "Lawan jadi sayang ...."


    "Tangannya nylurit .... Pegang perut!"


    Bagi Melian, diledek seperti itu sudah biasa. Tidak dimasukkan dalam hati, dianggap angin lalu saja. Namun bagi Jonatan, yang takut dengan Melian, digarap teman-temannya seperti itu justru menjadi tekanan batin. Maka wajahnya berubah merah karena malu.

__ADS_1


    "Sudah ..., ndak usah keder .... Jalan saja biasa ...." kata Melian menyuruh Jonatan yang diboncengi.


    Jonatan tidak menjawab. Takut dan malu. Apalagi banyak yang menyaksikan ia memboncengkan Melian. Pasti terlihat sangat aneh. Minggu yang lalu dirinya yang  bertubuh besar itu sudah dirobohkan oleh Melian, kini justru memboncengkannya. Hal yang sangat aneh.


    Namun setelah keluar dari halaman parkir, Jonatan mulai tenang dan tidak gugup lagi. Maka dalam mengendarai sepeda motornya pun sudah stabil. Namun demikian, karena motor RXZ itu agak pendek bagian depan, otomatis tubuh Jonatan agak membungkuk ke depan. Maka Melian yang membonceng, tubuhnya juga ikut membungkuk ke depan dan merebah menempel pada punggung Jonatan. Tentu kalau disaksikan teman-temannya, seperti anak yang pacaran.


    Untung rumah Mei Jing tidak jauh dari sekolah. Tidak lama Jonatan memboncengkan Melian. Lega rasanya setelah menurunkan gadis yang diboncengkan itu.


    "Ini rumahnya." kata Jonatan pada melian.


    Melian tidak menjawab. Begitu turun dari motor langsung masuk ke halaman rumah Mei Jing. Selanjutnya mengetuk pintu rumah yang tertutup.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." suara pintu di ketuk.


    "Ya ..., siapa ...?!" suara perempuan tua dari dalam rumah, yang kemudian membuka pintu.


    "Saya Melian, temannya Mei Jing .... Apakah Mei Jing ada di rumah?" tanya Melian kepada nenek tua itu.


    "Siapa ...?!" terdengar suara anak perempuan dari dalam.


    "Melian ...." sahut Melian menjawab suara dari dalam rumah, yang menurut pendengaran Melian adalah suara Mei Jing.


    Terdengar langkah kaki keluar. Ternyata benar dugaan Melian. Yang keluar adalah Mei Jing. Dan begitu ketemu Melian di pintu, Mei Jing langsung memeluk Melian sambil menangis.


    Melian terkejut, bingung dengan sikap Mei Jing. Ada apa dengan Mei Jing? Melian pun memeluk erat sahabat yang pernah kurang baik sejenak.


    "Mel ..., maafkan saya, ya .... Aku kilaf .... Aku terlalu emosi .... Maafkan aku, Mel .... Huk ..., hu ..., hu ...." Mei Jing meminta maaf kepada Melian.


    "Tidak apa-apa, Jing .... Saya sudah maafkan dirimu dari dulu, kok .... Ayo bangkit .... Lihat aku, tersenyum ...." kata Melian pada Mei Jing yang masih membenamkan kepalanya di bahu Melian.


    "Benar, Melian mau memaafkan kesalahanku ...? Aku menyesal, Mel ...." kata Mei Jing yang ingin benar-benar dimaafkan oleh Melian.


    "Benar, Jing ..... Pasti aku maafkan ...." sahut Melian, yang langsung dipeluk erat kembali oleh Mei Jing.

__ADS_1


__ADS_2