GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 214: JAKARTA ITU KERAS


__ADS_3

    Hidup di Jakarta itu sangat keras. Tidak hanya keras, tetapi juga kejam. Persaingannya sangat kuat. Maka bagi yang tidak bisa menghadapi, pasti akan tersingkir. Tidak hanya untuk para pengusaha, tetapi juga rakyat kecil. Bahkan diantara para pejabat juga terlihat sekali persaingan yang tidak sehat. Saling mencela, saling mencari kelemahan, saling menjatuhkan dan tentu bisa saling bunuh.


    Walau kehidupan di Jakarta itu sangat keras, namun magnet Jakarta untuk menarik para urban, menggoda para perantau, tetap saja menjadi daya tarik yang memikat setiap orang. Tidak hanya orang-orang pintar atau para pejabat, tetapi juga para pemulung dan pengemis yang tergiur dari manisnya penghasilan di Jakarta. Orang pada bilang kalau uang di Jakarta lebar-lebar dan tebal. Itulah yang menyebabkan orang-orang tetap tergiur untuk berurbanisasi ke Jakarta.


    Sore itu, untuk menghilangkan suntuknya di asrama, karena hanya sendirian setelah selalu ditinggal oleh Putri yang sudah asyik dengan pacarnya, Melian berjalan-jalan menyusuri perkampungan padat penduduk. Kampung-kampung di Jakarta selalu padat penduduk. Kampung yang dilewati oleh Melian ini termasuk kampung yang agak kumuh. Sebut saja sebagai kampungnya rakyat miskin. Di jakarta perbedaan antara yang kaya dan miskin sangat terlihat menyolok. Dan sekat yang memisahkan pun juga terlihat seperti jurang dan gunung. Yang kaya bergedung tinggi dan mewah. Rumahnya dijaga oleh anjing yang selalu menyalak-nyalak. Tetapi yang miskin, rumah hanya sekadar emplek-emplek yang tidak memenuhi standar kesehatan. Tidak ada yang perlu harus dijaga, karena memang tidak ada harta bendanya.


    Melian berjalan santai di kawasan Banjir Kanal, menikmati angin sore yang berhembus menerpa tubuhnya, menyebarkan bau tak sedap dari timbunan sampah di sepanjang bantaran sungai, yang menusuk hidungnya. Sejumlah gubuk liar tampak berdiri di sepanjang jalan inspeksi Banjir Kanal Barat. Tekanan hidup dari himpitan ekonomi membuat orang-orang miskin itu bertahan di kawasan kumuh tersebut. Meskipun Satpol PP bekali-kali memperingatkan dan menggusur, namun orang-orang yang tidak punya tempat tinggal tersebut tetap bertahan dan tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.


    Melian menyaksikan bagaimana tragisnya rakyat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bukan sekadar miskin, tetapi lebih dari menderita terkait masalah ekonomi. Tentu hati Melian langsung tersentuh menyaksikan kondisi seperti itu.


    Melian mulai berpikir, bagaimana caranya mengangkat rakyat kecil ini bisa berdaya, dapat mengubah nasibnya, agar mampu berusaha lebih baik, bukan sekadar hidup, tetapi menjadi layak sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat. Tetapi apakah itu mudah, ketika hanya dilakukan oleh seorang gadis yang tidak punya apa-apa? Melian terus berjalan melangkahkan kakinya. Menyusuri bantaran sungai, sambil mencari apa sebenarnya yang tengah merika nikmati, sehingga orang-orang ini betah tinggal di daerah kumuh seperti itu.


    Namun tiba-tiba, langkah kaki Melian terhenti. Ia melihat dua orang laki-laki yang disebut sebagai orang gagah. Laki-laki yang naik motor bagus, motor yang dimodifikasi seperti motor Harley. Dua laki-laki itu mengenakan celana jean dan berjaket kulit, yang satu berwarna hitam dan yang satu lagi berwarna coklat. Dua-duanya mengenakan kaca mata hitam, tanpa mengenakan helem. Yang di depan mengenakan topi lebar bulat, semacam topi koboi.


    Melian minggir ke tepi saat kehadiran motor yang melintas di daerah yang sebenarnya tidak ada jalannya itu. Hanya bekas lintasan orang lewat saja yang membentuk jalan setapak di tanah pinggir sungai, tanpa ada pengerasan dari batu maupun aspal. Kalau musim hujan, pasti tidak bisa dilewati. Tentu Melian agak mepet dengan rumah kardus yang tidak karuan bentuknya itu, untuk menghindari kendaraan yang lewat.


    Motor itu berhenti di depan salah satu rumah kumuh, yang tertutup pintunya. Lantas dua orang itu turun dari motornya. Kemudian menggedor pintu yang hanya terbuat dari triplek bekas. Sehingga terdengar suaranya dag-dog triplek yang digedor cukup keras.


    Melian terus memperhatikan. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh dua laki-laki perelente itu. Meski tidak mendekat, masih terlihat jelas. Jaraknya tidak jauh. Hanya sekitar sepuluh meter.


    Setelah beeberapa kali di ketuk pintu itu, tidak ada orang yang membuka ataupun keluar dari gubuk reyot tersebut. Mungkin tidak ada orangnya, atau mungkin juga orang yang ada di dalamnya takut untuk keluar. Mungkin laki-laki yang berkali-kali mengetuk pintu itu sudah jengkel. Maka tentu saja dua laki-laki yang gagah dan keren itu langsung mendobrak pintunya.


    "Brakght ....!!!"


    Sekali tendang, pintu itu pun langsung roboh. Salah seorang dari laki-laki itu langsung membungkukkan badannya, masuk ke gubug itu. Maklum pintunya terlalu pendek, tidak muat untuk seorang yang cukup tinggi masuk ke situ. Sedangkan laki-laki yang menendang pintu itu tetap berdiri di depan pintu.


    "Ampuuunn .....! Ampuuunn .....! Ampuuunn .....!" terdengar teriakan laki-laki dari dalam gubug itu.


    Lantas laki-laki gagah keren yang masuk tadi, sudah menyeret laki-laki yang berteriak minta ampun itu keluar dari gubug. Lantas orang yang minta ampun sambil menutupkan kedua tangannya di muka itu sudah duduk di tanah sambil menyembah-sembah laki-laki yang berdiri di depan pintunya.


    "Pasti ini ada sesuatu ...." begitu batin Melian yang menyaksikan peristiwa itu.


    Meski ada beberapa orang yang melihat, dari gubug-gubug orang-orang di situ, tetapi tidak ada yang berani mendekat atau datang menolong. Bahkan ada juga yang menutup gubugnya, memilih sembunyi dan tidak mau tahu.


    "Ampuuunn ..., Bos .... Ampuuunn ..., Booos ...." laki-laki dengan baju compang-camping itu mengiba ketakutan meminta ampun kepada dua laki-laki yang berdiri di atasnya.

__ADS_1


    "Mana uangnya ...?!!!" teriak salah satu dari laki-laki itu yang sambil menjambak rambut lelaki yang meminta ampun itu.


    "Ampuuunn ..., Bos .... Besok, Bos ...." kata lelaki yang sangat ketakutan itu, karena pasti akan mendapat perlakuan kasar dari dua orang yang sudah menyeretnya.


    "Besok lagi ...!! Besok lagi ...!! Besoknya kapan ...??!!!" bentak laki-laki yang sudah menjambak rambutnya.


    "Kemarin bilang besok lagi ...!! Sekarang juga bilang besok lagi ...!! Nunggu dipukuli, ya ...!!!" kata laki-laki yang satunya, dan langsung melayangkan bogem mentahnya ke kepala orang itu.


    "Puokk ....!!"


    "Wadaauuuh ....!!! Ampuuun ..., Bos ...." teriak laki-laki yang langsung terjengkang karena terkena pukulan.


    "Jdoughk ....!! Gelabrught ....!!" terdengar suara benturan lagi.


    "Wadaauuuh ....!!! Ampuuun ..., Bos ...." teriak laki-laki itu lagi yang kesakitan.


    Kali ini laki-laki gagah yang satunya telah mengayunkan kakinya, menendang punggung orang yang sudah kesakitan tadi, yang langsung tersungkur mengenai pagar gubugnya.


    "Besok lagi, saya kemari ..., awas kalau sampai tidak ada uangnya ...!! Ku bunuh, kau ...!!" kata laki-laki yang menendangnya. Lantas berbalik menuju ke motornya, dan memutar balik meninggalkan tempat itu.


    Tiba-tiba motor yang ditumpangi dua laki-laki perlente itu suaranya meraung dan jatuh. Dua laki-laki itu gelangsaran di tanah. Bahkan yang membonceng langsung memegangi kepalanya, karena terbentur tumpukan besi rongsong yang ada di sebelahnya.


    Sedangkan yang menyetir, begitu motornya terjatuh, ia berguling dan langsung berdiri. Selanjutnya langsung melompat ke dekat Melian yang dari tadi berdiri bersandar di gubug reyot dekat dengan orang-orang itu.


    "Kurang ajar ....!!! Berani betul kamu mengganggu saya ....!!!" bentak laki-laki yang sudah berada di depan Melian. Rupanya laki-laki yang menyetir itu tahu saat motornya melintas di situ, Melian melemparkan potongan besi kecil dan mengenai ruji rodanya, yang mengakibatkan roda motor itu terpalang potongan besi dan mengguling.


    Melian diam tanpa ekspresi. Tidak menggubris kata laki-laki yang sudah membentak disinya.


    "Lobak Shanghai ini, Bro ....!" teriak temannya yang masih memegangi kepalanya yang terbentur, sambil mendekat ke laki-laki yang sudah berada di depan Melian.


    "Kita makan ...??? Hahaha ....!!" sahut temannya yang sudah semakin mendekat ke Melian.


    "Ciak ..., Bro ....!!!! Mak nyus ..., ini Bro ...!!! Hahaha ...." tambah yang masih mengelus kepalanya.


    Tentu dua laki-laki ini kaget menemukan gadis secantik Melian berada di tempat timbunan kardus. Mereka pasti langsung tergiur dengan kemolekan Melian.

__ADS_1


    "Kita bawa apa di sikat di sini saja ...?!" tanya laki-laki yang sudah membentak Melian tadi pada rekannya yang masih memegangi kepalanya yang benjut.


    "Ciak di sini saja, Bro ..... Lumayan ..., bisa untuk melampiaskan kekesalan kita .... Hahaha ...." sahut temannya.


    Melian sudah siap. Dan pasti sudah memperkirakan, kalau dua orang laki-laki itu pasti akan marah karena sudah dijatuhkan dari motor. Dan tentu tidak rela kalau dirinya dianggap remeh oleh siapapun. Apalagi di daerah kumuh yang baru saja ia memukuli orang. Masak Laki-laki gagah dan ditakuti semua orang itu diam saja ketika dijatuhkan oleh gadis cantik yang menggiurkan itu. Tentu dua laki-laki itu tidak mau diam. Melian harus berurusan dengan dirinya. Setidaknya nanti akan dijadikan mangsa pelampiasan nafsunya.


    Dan dugaan Melian itu benar. Laki-laki yang berhadapan dengannya mulai mengulurkan tangannya, akan memegang tangan Melian. Tentunya tidak hanya memegang tangan saja, tetapi akan menyentuh bagian tubuh yang lainnya. Dan laki-laki itu sudah ngiler saat matanya menatap Melian yang justru tersenyum saat akan ditangkap.


    "Ayo ..., layani gue ...! Puaskan gue ...!!" kata laki-laki itu pada Melian.


    Senyum Melian kembali menggoda laki-laki yang sudah semakin bernafsu itu. Namun tiba-tiba, sesuatu terjadi pada laki-laki itu.


    "Gelabrught ....!! Blug!" suara orang terjatuh.


    "Wadaoouuuwh ....!!" teriak laki-laki itu.


    Laki-laki yang akan memegang tubuh Melian itu jatuh tersungkur di depan temannya. Dua tangannya memegangi barang rahasianya. Rupanya dua telur puyuh miliknya sudah terkena tendangan kaki Melian. Laki-laki itu mengerang kesakitan.


    Melihat temannya jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan, maka laki-laki yang satunya, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, langsung maju. Tangannya langsung mengepal, dan tentu secara ngawur memukul-pukulkan tangannya itu ke arah Melian. Bahkan tidak hanya tangan yang berkali-kali memukul tanpa arah, tetapi kakinya juga ikut menendang-tendang. Pasti juga ngawur. Namun pikulan maupun tendangan itu tak satupun yang mengenai tubuh Melian. Padahal Melian diam tak bergerak.


    Setelah beberapa kali memukul dan menendang tanpa ada yang kena, tiba-tiba saja, terdengar suara aneh.


    "Proooghk ....!!!" suara papan kayu yang terbentur dengan kepala.


    "Wadaoouuuwh ....!!" teriak laki-laki yang jatuh tersungkur kerobohan gubug.


    Ya, saat laki-laki itu memukul dan menendang secara ngawur, pandangannya tidak fokus. Kaki Melian menendang pantatnya, seketika laki-laki itu terjerembab dan menubruk papan gubug di depannya. Kepalanya yang sudah benjut kembali terbentur dengan tiang gubug. Gubug itu akhirnya roboh dan menimpa laki-laki yang menubruknya.


    Temannya yang tadi sudah ditendang telurnya, sambil meringis dan terpincang-pincang, berusaha menolong temannya yang kerobohan gubug. Meski tidak seperti kerobohan rumah, setidaknya badannya pasti terasa sakit dan ngilu semua.


    "Awas, elo ..., ya ...!!" ancam dua laki-laki itu, yang kembali mengangkat motornya, pergi dari tempat itu.


    Melian tersenyum melepas kepergian dua orang yang kesakitan tersebut.


    "Jakarta itu keras, Bang ...!!" teriak Melian membiarkan dua laki-laki itu pergi sambil mengancam.

__ADS_1


__ADS_2