GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 246: TELEPON CINTA


__ADS_3

    Setelah bertukar nomor HP, tentu Pak Endang langsung mengirim SMS kepada Melian.


    "Selamat siang, Melian .... Jangan lupa untuk dipertimbangkan tawaran yang saya sampaikan tadi, ya ...." begitu kata-kata yang tertulis dalam SMS yang dikirimkan oleh Pak Endang, dosen muda yang lumayan ganteng itu.


    Melian membacanya berkali-kali. Entah apa yang menarik dari SMS itu. Melian belum bisa mengungkapkan kata-kata, akan menjawab apa untuk membalas SMS dosennya itu. Apalagi tadi saat keluar dari ruang dosen, ada dosen senior yang berpapasan di pintu, dosen senior itu mengatakan "pas, cocok, setuju". Apanya yang cocok, apanya yang pas, dan apanya yang setuju? Dan yang terakhir terdengar, dosen senior itu mengatakan "Kalian adalah pasangan yang serasi, sama-sama pintar dan kreatif". Apa maksud dari kata pasangan yang serasi?


    Melian melamun. Memikirkan kata-kata dosen senior itu. Namun Melian juga melamun, membayangkan wajah Pak Endang. Harus diakui, Pak Endang adalah dosen muda yang cerdas dan kreatif. Tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa. Selalu memberikan motivasi terbaiknya. Memberi ruang kepada mahasiswa untuk mengungkapkan pendapatnya, dan mau diajak berdiskusi. Itu yang disenangi oleh Melian. Dari segi cara menyampaikan materi yang selalu kontekstual, sangat mudah dipahami oleh mahasiswa-mahasiswanya. Melian pun selalu terinspirasi oleh kata-kata dosen muda itu. Walau Pak Endang juga berkali-kali datang ke Kampung Transformer, untuk belajar dari kenyataan yang dibangun oleh Melian bersama teman-temannya.


    "Ah, ngapain, sih ...? Kok aku jadinya malah melamunkan Pak Endang .... Aneh ...." gumam Melian yang langsung menaruh HP-nya dalam tas.


    "Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." dering HP Melian berbunyi.


    Melian kembali mengambil HP-nya yang sudah dimasukkan ke dalam tas. Lantas mengamati nama kontak dalam panggilan. Ternyata telepon dari Pak Endang. Melian bergegas mengangkatnya.


    "Halo ..., selamat siang, Pak Endang ...." jawab Melian saat mengangkat panggilan HP itu. Tapi kata-katanya terdengar agak gemetar. Entah apa yang menyebabkannya. Seakan Melian kelihatan gugup.


    "Halo .... Selamat siang, Melian .... Apakah Melian sudah sampai rumah?" kata Pak Endang yang balas menjawab, dan menanyakan keberadaan Melian.


    "Sudah, Pak .... Ini baru saja sampai. Maklum, saya kan cuman naik BRT, Pak ...." jawab Melian dengan rasa masih gugup. Tentu ada tanda tanya sampai ditelepon Pak Endang.


    "Syukurlah .... Melian, tadi saya kirim SMS .... Tolong dibaca, ya ...." kata dosennya yang menelepon itu.


    "Eh, iya, Pak .... Akan saya baca segera." sahut Melian yang semakin grogi, padahal sudah membaca SMS itu, tapi belum bisa menyusun kata-kata untuk menjawabnya.


    "Oke ..., terima kasih, Melian .... Sampai ketemu ...." kata dosennya, yang mengakhiri panggilannya.


    "Iya, Pak ...." jawab Melian yang benar-benar kelabakan ditelepon dosennya.


    Melian mendekap HP-nya di dada. Perasaannya berubah seketika, saat mendengar telepon dari dosen muda yang ganteng, masih bujang dan menyenangkan itu. Melian bingung sendiri. Lagi-lagi, ia teringat kata-kata dari dosen senior yang sempat melontarkan kata-kata pujian pada dirinya, yang tentu juga didengar oleh Pak Endang.


    "Benarkah saya cocok dengan Pak Endang?" gumam Melian yang selalu mengingat kata-kata dosen senior itu.


    Lagi-lagi, Melian membuka SMS dari dosennya, yang baru saja meneleponnya. SMS itu dibaca berkali-kali. Hanya untuk mempertimbangkan tawaran dari Pak Endang. Padahal hanya tawaran kuliah di luar negeri atau menjadi karyawan di almamaternya. Tidak ada kata-kata aneh lainnya. Tetapi kenapa Melian merasa aneh. Ada kekuatan magis apa yang tertuang dalam SMS itu.


    Tapi Melian langsung mengetik di HP. Ia membalas SMS dosennya itu.


    "Saya bingung, Pak ...." itu kata-kata yang terulis di SMS-nya, menjawab SMS dosennya.


    "Tidak harus sekarang menjawabnya, besok masih ada waktu ...." begitu balasan SMS dari dosennya, yang langsung merespon saat menerima jawaban dari Melian.

__ADS_1


    Jemari tangan Melian langsung menutul tuts HP-nya kembali. Ia mengetik kata-kata lagi, untuk membalas SMS itu.


    "Kalau menurut Pak Endang, sebaiknya saya harus bagaimana?" begitu tulisan SMS Melian.


    Melian pun langsung mengamati HP-nya, ingin segera tahu jawaban yang diberikan oleh dosennya.


    Sang dosen muda itu langsung mengetik. Membalas SMS Melian.


    "Nanti sore aku telepon ...." begitu kata-kata SMS dosennya.


    Melian langsung mendekap HP-nya, dipeluk di dadanya. Tentu dengan senyum dan lamunan membayangkan Pak Endang yang pasti juga mengamati layar HP-nya.


    "Hayo, Melian ...! Ngapain senyum-senyum sendiri ...?! Pasti SMS-an sama pacarnya ...." tiba-tiba saja ada teman volinteer yang masuk ke rumah unik itu. Kebetulan melihat Melian yang senyum-senyum sendirian. Makanya ia langsung menegurnya.


    "Iih ..., apaan sih ...?!" sahut Melian yang tentu malu karena ketahuan temannya. Memang dalam hati kecil Melian sedang memikirkan seseorang.


    "Jangan mungkir .... Orang tuh, kalau sedang jatuh cinta, mudah diamati .... Gelagatnya kentara .... Bisa dibaca ...." kata temannya itu yang tidak mau dibohongi.


    "Iih ..., apaan sih ...?! Ini SMS biasa, ya .... Gak ada apa-apanya .... Bener ...!" kata Melian yang terus berusaha mengelak dari tebakan temannya itu.


    "Kalau iya, juga nggak papa .... Aku juga gak akan cemburu, kok ...." kata temannya itu, yang tentu maklum. Gadis yang sudah besar sudah pantas untuk punya pacar, bahkan juga menikah. Sudah cukup umur.


    "Masih jam dua siang .... Mau apa ...? Persiapan diapeli ...? Kok gak seperti biasanya, tanya jam segala?" sahut temannya yang masih saja menggoda.


     "Iih ..., apaan sih ...?! Ciman tanya jam .... Kok selalu dihubungkan dengan yang enggak-enggak ...." sahut Melian yang masih sensitif perasaannya.


    "Orang di HP-nya juga ada jamnya, masih tanya ke orang lain .... Itu tandanya pikirannya sedang gegana, gelisah, galau dan merana .... Hehe ...." kata temannya yang langsung mengolok Melian.


    "Iih ...!! Dasar ....!! Sukanya meledek temennya ...." kata Melian yang tentu berusaha mengejar temannya yang sudah berlari meninggalkan dirinya itu.


    Dan akhirnya, Melian merebahkan tubuhnya di atas karpet yang ada di rumah antik itu. Tempat yang biasa dipakai untuk berdiskusi bersama teman-temannya. Ia terlentang di situ. Namun, pandangannya mulai melayang. Tentu masih membayangkan SMS dan telepon dari Pak Endang. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah sore hari, yang rwncananya Pak Endang akan meneleponnya.


    Dari lamunan itu, karena capai dan lelah, serta kurang tidur, maka lama-kelamaan mata Melian terpejam. Melian tertidur di ruang tengah rumah antik itu. Tentu mimpi indah.


    "Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." dering HP Melian berbunyi. Melian kaget. Ia tergagap bangun, mencari HP-nya yang tadi didekap di dadanya. Ternyata HP itu ada di genggaman tangannya.


    "Pak Endang ...." Melian langsung mengangkat panggilan di HP.


    Melian tengak-tengok dahulu. Memastikan tidak ada teman yang berada di situ, agar teman-temannya tidak mendengar telepon itu.

__ADS_1


    "Halo ..., iya, Pak ...." Suara Melian lirih. Hanya menempel di HP. Tentu khawatir kalau diketahui temannya.


    "Halo, Mel .... Sedang ngapain?" sahut Pak Endang dalam telepon itu.


    "Gak ngapa-ngapain, Pak .... Biasa saja, kok .... Bagaimana, Pak?" tanya Melian yang tentu bingung dan grogi. Kata-katanya tidak tertata dan mungkin agak gemetar.


    "Itu, Mel .... Terkait tawaran saya tadi .... Sebenarnya kamu akan sukses kalau mau belajar ke luar negeri .... Tetapi kalau Melian merasa berat karena jauh dari orang tua, saya menyarankan Melian bekerja saja di kampus kita ...." kata Pak Endang mulai memberi pilihan kepada Melian.


    "Maksud Bapak, saya bekerja jadi apa?" tanya Melian yang bingung.


    "Melian sebaiknya jadi dosen di kampus kita .... Saya senang kalau kamu mau jadi dosen di sini. Setidaknya saya bisa selalu dekat dengan Melian." kata dosen muda yang ganteng itu.


    Tentu kata-kata itu menjadi kata-kata yang terasa beda di hati Melian. Angan-angan Melian sudah beranggapan kala Pak Endang pasti ingin berdekatan dengan dirinya. Kalau misalnya Melian menerima tawaran Pak Endang, agar dirinya menjadi dosen bersama dengan Pak Endang, pastilah rasa bersama itu selalu terlaksana. Melian diam. Bingung untuk menjawab.


    "Eh ..., Melian .... Kamu sudah punya pacar apa belum?" tanya Pak Endang yang langsung menyasar ke hati Melian.


    "Memang kenapa, Pak?" tanya Melian.


    "Nggak papa .... Cuman ingin tahu saja .... Kalau sudah punya, besok malam Minggu pasti ada cowok yang ngapelin ...." kata Pak Endang yang sebenarnya juga mencari-cari celah untuk nembak Melian.


    Melian bingung menjawab. Tentu sangat hati-hati untuk memberikan jawaban. Namun harus segera menjawab, karena dirinya sendiri juga ingin ngobrol dengan Pak Endang. Setidaknya kalau urusan akademik, terkait dengan pengetahuan, yang bisa diajak ngobrol ya orang yang punya pendidikan dan pengetahuan yang sepadan.


    "Maaf Pak Endang, Kalau gak ada yang ngapelin ..., bagaimana ...?" tanya Melian mencoba memberanikan diri.


    "Mosok, sih ...?! Masak gadis secantik Melian belum punya pacar ...?" kata Pak Endang yang meragukan, tetapi juga senang mendengar jawaban Melian itu.


    "Mungkin belum ketemu jodoh, Pak ...." sahut Melian yang lebih melegakan hati dosennya.


    "Eh, Mel .... Kalau misalnya malam Minggu kita jalan-jalan bagaimana?" tanya Pak Endang yang tentu langsung merespon jawaban Melian tadi.


    "Ke mana, Pak ...?" tanya Melian yang tentu dengan senyum senang.


    "Yaa .... Sekedar jalan-jalan saja, cari angin sambil ngobrol ...." jawab Pak Endang.


    "Tapi jangan malam-malam ya, Pak ...." jawab Melian yang tentu sangat senang.


    "Oke ...." jawab Pak Endang yang tentu juga sangat gembira.


     Melian langsung mendekap HP-nya di dada. Ia peluk erat HP itu. Tentu dengan senyum senang. Hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


    "Hayo .... Teleponan sama siapa ...? Pasti telepon cinta ...." tiba-tiba temannya keluar, dan lagi-lagi memergoki Melian yang sedang melayang angannya.


__ADS_2