
Rumah Mbah Sawal berada di lembah lereng Gunung Ungaran, di sebelah selatan sisi timur obyek wisata Bandungan. Rumahnya terbuat dari kayu dengan pagar papan, layaknya rumah kampung, bersama dengan rumah para tetangganya yang berjumlah sekitar dua puluh rumah. Di sampingnya terdapat kandang sapi, ada dua ekor sapi yang dipelihara di kandang itu. Tentu bau lemi kotoran sapi sangat khas sebagai aroma parfum perkampungan petani. Tetapi tentu warga kampung itu ramah dan sangat menghargai orang lain. Termasuk tiga orang yang datang diantar oleh salah satu warga situ.
"Kulonuwun ..., Mbah Sawal ...!" Bapak pencari rumput yang mengantar tadi mengucap salam di depan pintu rumah Mbah Sawal.
Yang keluar perempuan tua dengan rambut yang sudah putih semua, mengenakan kemben pakaian tradisional perempuan jaman dulu.
"Eeh, kamu to Ji .... Lha kok bawa tamu banyak sekali ...? Nggoleki Mbah-e opo?" tanya wanita tua itu yang ternyata bicaranya masih sangat keras dan tidak kurang apapun. Pasti ini istrinya Mbah Sawal.
"Iya, Mbah .... Ini ada orang anaknya dan saudaranya hilang di Punden Nenek Jumprit .... Mau minta tolong sama Mbah Sawal." sahut bapak yang masih menyunggi rumput itu.
"We la, Mbah-e masih di ladang .... Tulung diundang suruh pulang ...." kata si nenek itu, yang usianya mungkin sekitar seratus tahun.
"Nggih, Mbah .... Saya masukkan rumput ke kandang, nanti langsung ke ladang." sahut laki-laki yang dipanggil Ji tadi oleh si nenek. Lantas ia pun bergegas memasukkan rumputnya di kandang ternak, yang jaraknya hanya beberapa rumah dari tempat Mbah Sawal.
"Monggo, pinarak mriki .... Tunggu sebentar, Mbah-ne biar disusul sama Pek-ne Ji." kata nenek itu mempersilahkan tamunya masuk rumahnya, dan duduk di ruang tamu. Ruangan yang sangat besar. Seperti biasa, rumah kampung memang ukurannya besar-besar.
Jamil, Juminem dan Cik Indra pun duduk di kursi kayu dengan tempat dudukan dan sandarannya terbuat dari anyaman rotan. Khas kursi yang pernah ngetren di zaman dulu. Di tengahnya ada meja bundar yang juga terbuat dari kayu. Di atas meja itu ada asbak yang ada bekas bakaran rokok. Menunjukkan yang punya rumah atau tamunya biasa meroko. Ya, rokok memang kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang daerah pegunungan. Tidak hanya orang tua saja, tetapi juga anak-anak. Katanya untuk menghangatkan tubuh dari hawa dingin angin pegunungan.
Di belakang terdengar suara klitik-klintik, si nenek tadi membuat minuman untuk tamunya. Dan ternyata benar.
"Monggo, minumannya .... Buat hangat-hangat .... Wedang kendel, tidak ada temannya .... Hehehe ...." kata nenek itu yang sudah membawa baki berisi tiga gelas teh panas dan menyuguhkan ke tamunya.
"Terima kasih, Mbah .... Walah, kok malah repot-repot ...." sahut Jamil yang tentu tersipu malu diladeni nenek tua.
Lantas Jamil berbisik ke istrinya. Sebentar kemudian Juminem keluar. Mencari Mas Tarno memarkirkan mobil.
"Weeh, ada tamu to ini .... Sebentar, Simbah mau cuci tangan dahulu ...." selang bebarapa saat Juminem keluar, ada laki-laki tua muncul, Mbah Sawal sampai di rumah. Tentu sambil membawa rumput pakan ternaknya. Dan juga bersama Bapak yang tadi mengantarkan ke rumah itu.
"Ji ..., kene lungguh sik .... Aku tak wijik sedelok ...." Mbah Sawal menyuruh yang mengantar tadi ikut duduk, dan ia berpamitan mau cuci tangan lebih dahulu.
Orang yang disuruh duduk pun menurut dan langsung duduk di kursi tamu. Sebentar kemudian, Mbah Sawal masuk ke ruang tamunya. Hanya bebetan sarung, mengenakan baju batik lengan panjang meski sudah agak lusuh. Maklum yang namanya di desa, baju batik itu tidak hanya untuk kondangan, tetapi dipakai sehari-hari, bukan pakaian istimewa. Kepalanya mengenakan peci hitam. Mbah Sawal ini perkiraan usianya secara fisik masih kelihatan orang yang berusia tujuh puluh tahun. Padahal umur sebenarnya sudah seratus tahun lebih. Tapi masih kuat mencangkul di ladang, bertani dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Tenaganya masih prima. Dan satu hal yang sangat diherankan adalah bahwa Mbah Sawal ini tidak pernah sakit.
"Monggo minumannya .... Untuk penghangat .... Di sini udaranya dingin terus ...." kata Mbah Sawal yang langsung duduk di kursi. Tentu jegrang. Dan tidak lupa, ia mengambil plastik berisi kertas rokok dan tembakau. Lantas melinting rokok. Dan, "Cress ...." korek api sudah menyulut ujung rokok tingwe alias nglinting dewe itu. Asap dari mulut dan hidung Mbah Sawal langsung mengepul membubung ke langit-langit rumah.
Dari dapur, keluar lagi nenek membawa bagi berisi dua gelas teh. Yang mestinya akan diberikan kepada tetangganya yang mengantar tadi dan suaminya, yaitu Mbah Sawa. Namun, bersamaan dengan keluarnya nenek menyajikan minuman itu, masuk dua orang, yaitu Juminem dan Mas Tarno, yang membawa satu kantong kresek berisi oleh-oleh dari Jamil.
"Mbah, ini ada sedikit oleh-oleh .... Dari Pati, Mbah ...." kata Juminem sambil menyerahkan tas kresek itu kepada nenek yang sudah menyediakan minuman untuk para tamu.
__ADS_1
"Walah ..., lha kok repot-repot .... Maturnuwun .... We, lha ..., minumnya kurang ini ...." kata nenek itu yang langsung membawa bungkusan oleh-oleh yang diberikan oleh Juminem. Dan tentu langsung membuat teh lagi.
Kursi tamu sudah penuh. Terisi semua lima orang. Juminemduduk bersama Jamil. Maka Mas Tarno yang mengalah. Mas Tarno duduk di kursi panjang yang ada di sampingnya. Di situ ada meja besarnya, semacam gerobog. Biasa, meja besar dan kursi dari kayu atau yang biasa disebut dingklik panjang. Yang pasti masih bisa ikut menyatu di ruang itu dan mendengarkan apa yang nanti akan disampaikan oleh Mbah Sawal.
"Ada apa ini pada datang kemari?" tanya Mbah Sawal yang tentu masih menghisap rokoknya.
"Anu ..., Mbah .... Anak kami hilang ...." jawab Jamil perlahan.
"Mas Irul juga hilang, Mbah ...." tambah Cik Indra yang tentu tidak ingin kehilangan irul.
"Kapan hilangnya?" tanya Mbah Sawal lagi.
"Tadi, Mbah .... Baru saja .... Ini, Bapak ini yang tahu kami mencari ...." Cik Indra yang langsung nyerocos, takut Irul akan hilang kelamaan seperti Melian.
"Anak kami sudah hilang seminggu yang lalu, Mbah .... Kata teman-temannya, ia boncengan sama temannya yang jatuh ke jurang sana itu, Mbah ...." tambah Jamil.
"Di punden Nenek Jumprit, Mbah ...." tambah orang yang ketemu di kuburan.
"Berarti anak yang terjun ke jurang itu?" tanya Mbah Sawal.
"Walaaaah .... Lha kok iso .... Pasti orang-orang ini melakukan kesalahan .... Sebab Nenek Jumprit itu hanya mencelakakan orang yang berbuat tidak senonoh .... Menghukum orang yang berbuat tidak baik, melanggar adat, melawan hukum, tidak sesuai aturan ...." kata Mbah Sawal yang menjelaskan tentang Nenek Jumprit.
Tentu semua yang ada di situ diam tidak berani bicara. Meskipun ingin memprotes, tetapi tidak berani. Seperti Juminem yang ingin mengatakan anaknya itu baik, ia takut. Buktinya anaknya diambil Nenek Jumprit. Demikian juga Cik Indra, dia belum kenal jauh dengan Irul. Maka ia tidak berani mengatakan kalau Indra itu orang baik.
"Sebentar, ya .... Simbah mau sowan Nenek Jumprit .... Mau menanyakan di mana dua orang ini." kata Mbah Sawal yang bangkit dari duduknya, lantas mengambil bungkusan kertas, entak apa isinya, dan pergi meninggalkan ruang rumahnya itu.
Jamil, Juminem, Cik Indra dan Mas Tarno hanya bisa memandangi kepergiat Mbah Sawal. Tidak ada yang berani tanya.
"Mbah Sawal mau ke punden Mbah Jumprit .... Berdoa memohon petunjuk ...." kata bapak yang mengantarnya tadi.
"Di tempat kuburan tadi?" tanya Cik Indra.
"Iya ...." jawab bapak itu.
"Sendirian tidak takut?" tanya Cik Indra lagi,
"Mbah Sawal ini juru kuncinya .... Orang yang dipasrahi ngrumat punden itu. Dipercaya oleh warga untuk memimpin doa-doa serta kirim sesaji ke leluhur. Memohon kepada para arwah leluhur agar melindungi kampung kami. Kalau ada warga yang sakit karena sesuatu hal aneh, biasanya juga dimintakan syarat ke Mbah Sawal." jelas bapak itu kepada Cik Indra, karena mata dan kulitnya yang berbeda, pasti pemahamannya beda dengan orang Jawa.
__ADS_1
"Kalau Mbah Jumprit itu siapa?" tanya Cik Indra lagi.
"Itu pepunden desa kami .... Dulunya sebagai tokoh yang mendirikan kampung ini. Maka warga sini mengatakan punden." jelas bapak itu lagi.
"Ooo ...." Cik Indra mulai paham.
Bersamaan itu, setelah beberapa saat pergi ke punden Mbah Jumprit, di mana Mbah Sawal sudah memohon petunjuk. Tentu sambil membakar kemenyan dan menabur bunga. Kini Mbah Sawal sudah kembali masuk ruang tamu yang ditunggu oleh orang-orang susah tersebut.
"Bagaimana. Mbah?" Cik Indra yang langsung bertanya. Tentu karena sangat penasaran dengan keadaan Mas Irul yang tiba-tiba saja menghilang.
Mbah Sawal kembali duduk di kursinya tadi. Tentu sambil jegrang. Belum menjawab Cik Indra. Ia kembali mengambil plastik berisi tembakau dan kertas rokoknya, lantas melinting. Rokok lintingan sindiri itu langsung diselipkan di bibirnya. Lantas menyalakan korek, dan asap kembali mengepul dari mulut dan hidungnya. Pandangannya menerawang ke atas, seakan mengikuti terbangnya asap rokok yang mengepul ke langit-langit rumah. Seperti orang melamun sambil menikmati rokok.
"Ada gadis cantik ...." kata Mbah Sawal membuka penuturan.
"Itu anak saya, Mbah ...." Juminem langsung menyaut.
"Tidak mungkin .... Ini anaknya kulitnya putih, matanya sipit, seperti Mbak-e ini ...." kata Mbah Sawal langsung menolak kata-kata Juminem.
"Iya, Mbah .... Anak yang kami asuh sejak bayi .... Namanya Melian ...." sahut Juminem yang tidak mau kalah.
"O .... Di mana ibunya?" Mbah Sawal berbalik tanya.
"Mamahnya sudah meninggal sejak ia masih bayi, maka anak itu diserahkan ke saya oleh engkongnya ...." jawab Juminem lagi yang tentu sangat ingin tahu kondisi anaknya.
"Ada laki-laki .... Perjaka tua ...." kata Mbah Sawal lagi yang kembali menerawang ke atas.
"Itu Mas Irul .... Dia yang dulu membantu engkongnya Melian." jawab Jamil yang tahu kondisi Irul.
"Di mana rumahnya?" tanya Mbah Sawal.
"Di Lasem, Mbah .... Saya belum pernah ke rumahnya, tapi akan saya cari." jawab jamil.
"Carilah ke rumah laki-laki perjaka tua itu .... Dia yang menolong anakmu. Semoga saja anakmu selamat." kata Mbah Sawal.
Senang rasa hati Jamil mendengar penuturan Mbah Sawal itu. Demikian juga Juminem, ibu yang sudah merawat Melian sejak bayi. Jerih payah dan semua tenaganya untuk membesarkan Melian. Demikian juga Cik Indra, tenang hatinya. Apalagi ia teringat kata-kata Pak Pendeta saat di klenteng, Melian akan ditemukan oleh orang yang terdekat, yang menyayanginya. Tentu Cik Indra juga ingin meyakinkan kata-kata Mbah Sawal itu. Ingin ia ikut menyusul dua orang yang hilang.
Mereka pun berpamitan, dan akan langsung berangkat menuju Lasem. Mencari rumah Mas Irul, seperti yang dikatakan oleh Mbah Sawal tadi, agar segera menyusul ke sana.
__ADS_1