
Sudah satu bulan Melian belajar wushu. Perkembangannya sangat pesat. Dasar anaknya sudah SMA, tentu pikirannya sudah lebih maju dari pada anak-anak kecil yang kemarin-kemarin latihan bersamanya. Apalagi Melian sangat aktif dalam berlatih. Ia tidak mengenal lelah dan tidak patah semangat. Selalu mencoba dan mempraktekkan apa yang diajarkan oleh pelatih-pelatihnya.
Menyaksikan kelebihan Melian, tentu sang guru yang biasa dipanggil suhu oleh anak-anak, langsung memberikan latihan-latihan tambahan. Gerakan-gerakan yang diberikan untuk remaja. Bukan latihan dasar lagi bagi anak-anak pemula. Namun Sang Suhu melihat bahwa Melian punya bakat istimewa. Maka Melian sering dilatih secara khusus oleh suhu tersebut. Makanya, kelihaian Melian langsung berkembang pesat.
Kali itu, Melian mengenakan pakaian wushu. Semacam pakaian khas Tiongkok. Warnanya merah dengan hiasan gambar naga warna kuning, yang di baju gambar naga itu menghias mulai bagian bawah meliuk-liuk hingga ke bagian bahu. Sedangkan pada celananya, di bagian kanan terdapat gambar naga dari bagian bawah dan memutar hingga bagian atas lutut. Sungguh indah dan anggun. Baju wushu itu belinya bersama Mei Jing. Tentu juga atas masukan dari Mei Jing. Tetapi yang memilih gambarnya Melian sendiri. Baju itu akan dicoba untk dikenakan saat latihan bersama Mei Jing.
Melian sangat luwes dalam memainkan jurus-jurus wushu. Loncatan, tendangan, pukulan, seluruh gerakan tubuhnya terlihat indah. Seperti gadis yang sedang menari balet. Dasar anaknya cantik, dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter, cukup tinggi untuk anak perempuan. Perawakannya langsing, kulit kuning cenderung putih, bersih dan mulus, serta bentuk wajah yang agak sedikit lonjong. Tidak bundar seperti umumnya anak-anak keturunan Tionghoa, ditambah dagunya yang panjang serta lehernya juga jenjang. Mata sipit dengan bulu mata yang lentik, serta alis yang melengkung indah, ditambah rambutnya yang dikucir ke belakang, namun rambut depan yang menjuntai di pelipis kanan dan kiri, menambah pesona kecantikan Melian.
Setiap kali Melian meloncat ke udara, dengan kaki kanan menekuk serta kaki kirinya melentang ke belakang, serta kedua tanganya yang terlentang dari depan hingga belakang, seolah-olah Melian tampak seperi burung foniks atau yang dalam mitologi Tiongkok disebut burung phoenix. Ditambah dengan juntaian rambut yang ikut melayang di pelipis hingga leher, seakan mengatakan bahwa Melian adalah gadis yang cantik seperti burung foniks.
Tentu sang suhu sangat terkesima menyaksikan gerakan Melian. Dan ia pun ingin melatih anak didiknya itu menggunakan pedang.
"Mei Jing .... Coba Melian kamu ajak berlatih dengan menggunakan pedang ...." kata suhu itu menyuruh Mei Jing.
"Siap Suhu." jawab Mei Jing yang langsung mengambil empat bilah pedang latihan. Dua bilah pedang diberikan kepada Melian, sedang dua bilah pedang yang lain dipegang untuk dirinya sendiri.
"Melian ..., hari ini kita berlatih menggunakan padang. Kita latihan jurus-jurus pedang." kata Mei Jing yang sudah bersiap memainkan pedangnya.
"Terima kasih, Mei Jing. Saya sangat senang sudah kamu latih terus menerus." jawab Melian.
"Hati-hati dalam menggunakan pedang ini. Meski tidak tajam, tetapi bisa melukai orang." kata Mei Jing.
"Iya, akan saya jaga baik-baik." jawab Melian.
"Perhatikan dahulu cara memegangnya. Begini cara menggenggam gagang pedang. Buat keseimbangan tangan dalam menggenggam, sehingga nanti saat dimainkan teidak terlepas dari pegangan." tutur Mei Jing yang mempraktekkan cara memegang gagang pedang.
Lalu Melian pun mulai mempraktekkan. Berkali-kali dibenarkan oleh Mei Jing. Tentu agar mendapatkan cara yang benar dalam menggenggam pedang tersebut.
__ADS_1
"Coba, sekarang pergelangan tanganmu digerakkan ke atas dan kebawah, kemudian ke kanan dan ke kiri. Cobalah dilekak-lekukkan." kata Mei Jing yang menyuruh Melian untuk mencoba menggerakkan pedang itu.
"Seperti begini, ya?" tanya Melian yang sudah mencoba menggerakkan pedang yang digenggamnya.
"Ya, betul .... Bagaimana? Apakah masih terasa akan lepas dari pegangan?" sahut Mei Jing yang langsung menyanyakan keadaan pegangannya.
"Enak .... Dan terasa nyaman." jawab Melian.
Namun tiba-tiba, Mei Jing menghantamkan pedang yang dipegangnya ke pedang Melian.
"Craang ....!!!" suara benturan pedang tersebut.
Melian kaget. Tentu kaget, karena Mei Jing tidak bilang-bilang dulu kalau mau memukul pedangnya. Namun beruntung pegangan Melian pada pedang itu masih cukup kuat, sehingga pedangnya tidak terpental jatuh.
"Nah, kalau kita akan bermain wushu dengan mengenakan pedang, biasakanlah kedua tanganmu ini untuk memegang tanganan pedang seperti ini. Yang kuat. Sehingga nanti pedang kamu tidak akan terlepas dari genggaman saat berbenturan dengan benda lain, seperti toya ataupun tombak." kata Mei Jing menjelaskan kepada Melian.
"Dan satu hal lagi, kita harus selalu siap dan waspada dengan segala hal. Untuk menjadi diri kita jika terjadi serangan tiba-tiba yang tidak kita ketahui asal usulnya." Mei Jing menasihati Melian.
"Terima kasih, Jing .... Kamu sangat baik buat saya." jawab Melian.
"Ayo, kita mulai latihan jurus-jurus pedang. Melian ikuti gerakan saya ...." kata Mei Jing yang langsung memperagakan gerakan jurus pedang secara perlahan-lahan.
"Siap ...." Melian langsung mengikuti gerakan Mei Jing.
Ya, tempat latihan wushu di klenteng itu, lebih mengajarkan wushu jenis taolu, yaitu wushu yang khusus memainkan jurus-jurus serta keindahan seni gerak dari orang yang memperagakannya. Maka bentuk gerakan serta permainan jurus-jurusnya sebagian besar latihannya serupa dengan orang yang melakukan senam lantai. Hanya saat menekankan pada taiji, yaitu jurus-jurus dengan menggunakan senjata, seperti pedang, toya dan tombak, bahkan ada juga tombak yang ujungnya berupa pedang besar, itu memang harus berlatih secara khusus, karena sangat berbahaya. Sebenarnya, semua gerakannya memakai gerakan-gerakan dasar, yaitu tendangan, pukulan, keseimbangan, lompatan, sapuan dan juga lemparan. Hanya dalam memainkan jurus dan senjata pada wushu taolu ini lebih ditekankan pada seni keindahannya. Tentu untuk memperindah gerakan-gerakan dalam memainkan jurus itu diperlukan latihan yang lebih matang.
Mei Jing dan Melian mulai berlatih memainkan jurus pedang. Mei Jing yang mengenakan pakaian warna biru dengan hiasan burung phoenix terlihat sangat anggun dengan bentuk badannya yang agak gemuk. Sedangkan Melian mengenakan pakaian warna merah dengan hiasan gambar naga, terlihat sangat lincah dan menawan, senada dengan badannya yang tinggi langsing.
__ADS_1
Mei Jing mulai merendahkan badannya. Tangannya sudah menjulurkan pedang. Kemudian bergerak merubah posisi tubuhnya, miring ke kanan, miring ke kiri, sambil tangannya memegang pedang mengikuti gerakan tubuh yang meliak-liuk.
Melian yang berada di belakang Mei Jing, mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Mei Jing. Tentu gerakan-gerakannya masih kaku. Masih patah-patah. Belum lemah gemulai seperti yang dibayangkan sebelumnya.
"Pelan-pelan, Jing .... Masih sulit ...." kata Melian meminta Mei Jing untuk bergerak lebih pelan.
"Iya .... Kalau masih awal, memang agak sulit .... Tapi lama kelamaan nanti akan terbiasa. Ini tidak sulit kok .... Hanya Melian baru pertama kali. Jadi masih harus melakukan penyesuaian. Apalagi dibebani dua bilah pedang yang lumayan panjang. Pasti ada rasa agak takut .... Biasa saja, tidak usah ragu-ragu ...." kata Mei Jing menyemangati temannya.
"Iyah .... Hah ..., hah .... Ternyata menghabiskan napas .... Padahal gerakannya cuman seperti itu, ya .... Huh ...." jawab Melian yang sudah terengah-engah mengikuti gerakan-gerakan Mei Jing.
"Kita harus memperkuat latihan nafas .... Karena taolu ini walau lemah lembut, tetapi menarik badan ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, serta naik turun tubuh, itu memang benar-benar menguras tenaga. Makanya kita harus memperbanyak latihan pernafasan." kata Mei Jing yang tentu menghendaki Melian untuk melatih pernafasan.
"Iyah .... Besok aku diajari pernafasan, ya ...." kata Melian yang tentu ingin diajari latihan pernafasan.
"Tentu .... Kita nanti latihan bersama. Masalahnya itu, Melian masih sebentar berlatih, jadi belum terbiasa. Nanti kalau sudah terbiasa, maka semuanya akan terbentuk dengan sendirinya. Otomatis .... Hehehe ...." kata Mei Jing yang terus menyemangati Melian.
"Betul juga .... Tapi saya akan terus berlatih .... Biar bisa seperti dirimu .... Ayo, kita berlatih lagi ...." kata Melian yang justru meminta kepada Mei Jing untuk kembali berlatih.
Mereka berdua pun mulai kembali memainkan jurus-jurus pedang. Dan tentu, Melian semakin menguasai apa yang diajarkan oleh Mei Jing. Gerakan-gerakannya tidak pelan lagi, tetapi semakin dipercepat. Mulai gerakan normal. Melian terus mengikuti gerakan Mei Jing.
Cukup lama mereka berlatih memainkan pedang-pedang yang ada di tangannya. Kini gerakan pedang itu sudah melebihi kecepatan nyamuk terbang. Sehingga hanya terlihat kilatan-kilatan cahaya dari dari pedang yang yang seakan berterbangan kian kemari. Dan kilatan pantulan cahaya dari pedang yang terus berkelebat itu, sangat menyilaukan orang yang melihatnya.
Sang guru yang mendapat julukan suhu itu, diam-diam menyaksikan latihan jurus-jurus pedang yang dimainkan oleh Mei Jing maupu Melian. Sang suhu terkesima dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Melian.
"To liong to .... Pedang naga sakti ...." gumam sang suhu.
Ya, kisah pedang naga sakti yang kala itu cukup terkenal, yang disiarkan di televisi, sudah membius sang suhu. Apalagi saat menyaksikan pakaian Melian yang bergambar naga, maka pantas kalau Melian dijuluki sebagai "Pendekar Pedang Naga Sakti".
__ADS_1