
Malam itu, Cik Indra tidur bersama Melian. Tidur di kamarnya Melian. Seperti yang diminta oleh Melian, yang ingin tidur bersama dengan Cik Indra. Tadinya Melian ingin tidur bersama-sama dengan Cik Indra dan Mas Irul, di rumah yang ada di pabrik. Tentunya Melian masih ingin mendengar banyak cerita dari Cik Indra maupun Mas Irul. Terutama pasti dengan Mas Irul. Karena sudah seminggu Melian tidak diantar jemput oleh Irul saat berangkat dan pulang sekolah. Pastinya Melian sudah sangat kangen dengan kebersamaannya. Ya, walau beda usia antara Melian dan Irul sekitar tujuh belas tahun, tetapi rasa sayang itu melebihi kakak adik.
Dan malam itu, akhirnya Melian hanya tidur bersama Cik Indra, setelah sampai larut malam mereka sekeluarga ngobrol bareng bersama Irul dan Indra.
"Ayo, tidur .... Sudah malam .... Besok pagi kesiangan bisa terlambat sekolah." kata bapaknya yang menyuruh Melian untuk pergi tidur.
"Iya, Pak .... Ayo, Cik Indra ..., kita tidur ...." ajak Melian pada Cik Indra.
Mereka berdua langsung berdiri dari kursi ruang keluarga dan melangkah masuk ke kamar tidur. Kamarnya Melian.
Melian langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Demikian juga Indra, yang sudah diberi bantal dan guling oleh Melian. Ia langsung merebahkan kepalanya di bantal.
Kamar tidur yang sangat besar. Luas sekali, dengan jendela kuno yang dipasangi tralis besi untuk keamanan. Tiga daun jendela kaca yang pastinya sangat bagus untuk fentilasi dan memasukkan cahaya matahari. Ada lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati ukiran. Ada meja rias kuno juga , meskipun tidak ada kosmetik yang dipajang. Hanya handbody lotion dan deodoran. Tempat tidurnya juga besar dengan kasur yang empuk. Masih terlalu besar untuk tidur berdua antara Melian dan Cik Indra. Makanya, Cik Indra dan Melian masih cukup berjauhan jaraknya. Tentu sangat nyaman untuk tidur.
Mereka berdua pun tidur. Melian sudah langsung diam. Cik Indra pun diam, tentu tidak akan mengganggu Melian. Kasihan kalau besok sampai bangun kesiangan. Bisa terlambat sekolahnya. Maka Cik Indra pun berusaha menutup mata, untuk tidur.
Namun entah kenapa, meski matanya sudah dipejamkan rapat, Cik Indra belum juga bisa tidur. Hingga larut malam. Bahkan mungkin sudah bergulir berganti hari. Tidak juga bisa tidur. Entah kenapa. Padahal Cik Indra juga tidak memikirkan macam-macam. Tidak khawatir dengan tas kecil bawaannya, yang hanya berisi dompet dan HP serta buku tabungan. Bahkan dompetnya juga tidak banyak uang. Dan tentunya Indra merasa sangat jengkel karena tidak bisa tidur.
Maka perlahan-lahan Indra mulai membuka matanya, walau tidak terbuka lebar, mencoba melihat Melian yang sudah tertidur pulas. Kebetulan tidurnya dalam posisi miring menghadap ke Melian. Demikian juga Melian yang menghadap ke Cik Indra. Jadi mereka tidur miring saling berhadapan.
Dan saat mata Cik Indra terbuka, alangkah kagetnya dia ketika pandangannya menatap Melian, mata Melian yang membelalak sudah menatap Indra, dengan menyorotkan sinar merah seperti api yang sangat tajam ke arah tepat di mata Indra. Seakan mata Melian yang menyala itu akan membakar mata Indra.
"Hiiiii ...?! Ampuuun ........." Indra yang ketakutan langsung menutup wajahnya dengan guling. Meski sudah membenamkan wajah di bantal dan ditutup dengan guling, namun rasa takut itu masih saja menghantui Indra, yang tentu menjerit ketakutan.
"Ampuuun ........ Ampuuun ........ Ampuuun ........" begitu jerit Indra yang sungguh-sungguh ketakutan.
"Cik Indra .... Cik Indra .... Bangun Cik .... Cik Indra mengigau, ya ...." tiba-tiba Melian menghoyok tubuh Cik Indra yang tidur disebelahnya, dibangunkan dari tidurnya.
__ADS_1
"Hah ...?! Ada apa ...?! Kenapa ...?!" Indra yang tergagap, langsung duduk di kasur dengan wajah bingung. Menatapi wajah Melian, yang tentu penuh dengan tanda tanya.
"Makanya kalau mau tidur berdoa dulu .... Biar nggak mimpi buruk." Kata Melian yang tentu mengingatkan Cik Indra yang tentu tidak berdoa saat mau tidur.
"Saya kenapa ...?!" tanya Cik Indra yang masih bingung mengingat kejadiannya.
"Cik Indra mengigau .... Jerit-jerit sempai membangunkan tetangganya." kata Melian yang tentu terbangun gara-gara jeritan Cik Indra.
"Hah ...?! Masak, sih ...? Jadi ..., ini tadi saya menjerit-jerit, begitu? Ya ampun ...." kata Cik Indra yang langsung turun dari tempat tidur. Lantas memegangi kedua pundak Melian dengan dua tangannya, sambil mencermati wajah Melian, terutama mengamati pada matanya.
"Ada apa, Cik ...?!" tentu Melian bingung dengan apa yang dilakukan oleh Cik Indra.
"Ah ..., tidak apa-apa ...." sahut Cik Indra. Lantas pergi keluar kamar, untuk menuju kamar kecil. Setidaknya untuk buang urin. Cik Indra juga cuci muka, biar segar.
Saat cuci muka di kamar mandi, berkali-kali Cik Indra mengamati wajahnya di cermin. Lalu menepuk pipinya beberapa kali. Ingin tahu kalau dirinya sadar dan tidak dalam mimpi. Bahkan ia juga memencet hidungnya, ingin membuktikan kalau yang ada di depan cermin itu adalah benar-benar dirinya.
Indra mencoba kembali mengingat, apa yang dialaminya tadi, seakan benar-benar nyata. Tetapi mengapa saat Melian membangunkan dirinya, seakan memang tidak ada apa-apa. Melian nampak biasa saja. Tidak ada hal yang mencurigakan. Benarkah dirinya hanya mimpi?
Namun rupanya hanya harapan saja Indra untuk bisa tidur nyenyak. Karena ternyata, saat ia membujurkan tubuhnya di kasur, sudah membelakangi Melian agar tidak lagi melihat wajah Melian, tiba-tiba tubuhnya terasa ada yang merabanya. Ada tangan yang meraba ke sekujur tubuh, mulai dari telapak kaki, bergerak ke atas, hingga sampai di ubun-ubun kepala. Rabaan itu benar-benar terasa. Entah tangan siapa yang merabanya.
Tentu Indra kaget. Dan pasti takut. Namun karena takut, ia tidak berani membuka matanya. Indra menahan rasa takutnya itu tanpa mau melihat apa yang terjadi. Ia tidak ingin tahu siapa yang meraba. Ia tidak mau tahu makhluk apa yang menggerayangi tubuhnya. Ia terus menahan rasa takutnya itu.
Namun, saat Indra mencoba untuk menahan rasa takutnya itu, ternyata tangan yang meraba tubuh Indra itu tidak berhenti. Tangan itu mulai lagi meraba. Sekarang mulai dari kepala, lantas turun di lehar, ke pundak, lengan tangan, bahkan ke pantat, berlanjut ke paha, betis dan berhenti di telapak kaki. Sangat perlahan jalannya rabaan itu. Dan sangat terasa sekali. Apalagi di malam yang udaranya dingin, rasa dari rabaan tangan itu seakan menembus hingga sampai ke tulang. Tentu Indra semakin takut.
Kini rabaan itu kembali dirasakan. Sekarang mulai dari telapak kaki. Berjalan naik. melewati betis, kemudian ke paha, dan terus berlanjut secara perlahan. Dan saat sampai di pantat, tangan itu berhenti di pantat. Bahkan seakan menekan bagian pantat itu. Indra langsung menahan napas. Tentu rasa takutnya semakin memuncak. Takut kalau-kalau tangan itu akan meraba atau masuk ke tempat yang lebih dirahasiakan oleh Indra.
Ternyata tidak jadi menelusup ke tempat lain. Rabaan tangan itu berjalan kembali. Naik ke lengan Indra yang memang diletakkan pada pinggangnya. Jemari yang meraba itu menggeriming di lengan Indra. Dan pada saat jari-jari tangan entah makhluk apa yang sudah mulai meraba lengan Indra, tiba-tiba saja muncul niatan Indra untuk menangkap dan membanting makhluk itu. Ibarat kata kalau di pasar, menangkap tangan copet yang sedang merogoh kantong.
__ADS_1
"Hiyaaa .......!!" tangan Indra langsung menangkap tangan yang meraba tubuhnya, lantas membanting apa yang ditangkapnya tersebut.
"Glabruuughk ...!!"
Saking kencangnya Indra menarik tangan dan membantingnya, makhluk yang ditangkap tanganya dan dibanting itu terlempar ke lantai. Tentu Indra langsung membelalakkan matanya, ingin tahu siapa yang dibantingnya. Yah, makhluk besar hitam dengan bulu lebat, seperti kingkong. Tentu Indra ketakutan. Apa ini yang namanya mkhluk genderuwo itu?
Namun, belum sempat Indra bergerak untuk menata tubuhnya, tangan makhluk hitam besar itu sudah menyeret tangannya. Dan tentu, Indra yang hanya merebag di tempat tidur, langsung ikut terjatuh ke lantai. Menimpa makhluk yang menyeramkan itu.
Indra tidak mau diam. Ia langsung memukuli makhluk besar berbulu lebat menyeramkan itu, yang sudah tertindih tubuhnya.
"Uch ...! Uch ...! Uch ...!" suara Indra yang terus melawan genderuwo itu.
"Puock ..., puock .... Puock ..., puock ...!!!" makhluk itu dipukuli terus menerus.
"Cik Indra ...! Cik Indra ...!! Ada apa ...?!" Melian terbangun mendengar suara gaduh yang dilakukan oleh Cik Indra.
"Ini ..., ada makhluk menyeramkan mau memperkosa saya ...!" jawab Cik Indra yang masih memukuli makhluk yang ditindihnya.
"Makhluk apa, Cik ...?! Mana ...?!" tanya Melian yang sudah mendekat ke tempat Cik Indra.
"Ini .... Aku pukuli, biar kapok ...." sahut Cik Indra yang tangannya terus memukul.
"Ya ampun, Cik Indra .... Itu guling yang terbungkus selimut ...." kata Melian memberi tahu Cik Indra, tentu sambil menunjukkan apa yang dipukulinya.
"Hah ...?! Jadi ...?!" Cik Indra melenggong menyaksikan apa yang dilakukan. Ya betul, hanya guling yang terselubung selimut.
"Aah ..., Cik Indra payah ...." kata Melian yang langsung meninggalkan Indra yang masih terbengong mengamati guling dan selimut yang ditindihnya. Melian kembali merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidur.
__ADS_1
Tentu Indra merasa heran. Tadi benar-benar seperti nyata. Namun kenyataannya, apa yang ia lihat, apa yang ia amati, semuanya hanyalah mimpi. Tapi semua itu memang seperti nyata. Bahkan Indra tidak percaya kalau yang ditindihnya itu hanyalah guling dan selimut. Lantas, di mana makhluk menyeramkan tadi?
Indra tidak berani tidur lagi. Ia takut kalau hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi lagi, akan muncul dalam tidurnya lagi. Ia pun memutuskan tidak akan tidur sampai pagi.