GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 207: GELANG GIOK ANEH


__ADS_3

    Sementara di tempat yang jauh dari perkampungan Lasem, Melian di Jakarta. Sebelum terjadi perampokan di Toko Laris.


    Melian  masih menempuh perkuliahan. Namun hari-hari terakhir ini perasaannya terganggu entah oleh apa yang mengganggunya. Ada yang aneh dalam setiap langkah kakinya. Tetapi yang paling terasa adalah gangguan berkelebatnya bayangan-bayangan yang seakan selalu melintas di dekat dirinya. Entah bayangan apa, tetapi benar-benar berkali-kali melintas di hadapan Melian. Walau setiap kali dicari, tetap saja tidak ada orang atau makhluk lain yang berada di sekitarnya. Meski demikian Melian tetap diam, tidak mau menanyakan kepada temannya.


    Malam itu, saat Melian akan beranjak tidur, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pendar cahaya berwarna hijau. Semacam cahaya dari lampu disko, menyorot bergerak memutar. Melian bingung, sinar apa yang sudah menyorot ke ruangnya? Padahal korden jendela sudah tertutup. Apakah cahaya dari HP? Atau dari lampu yang ada di luar asrama?


    Sejenak Melian bingung mencari. Ternyata cahaya hijau itu bersumber dari gelang giok yang ia kenakan di lengannya. Seketika itu Melian langsung kaget, dan langsung menutupkan selimut ke lengannya. Menutup gelang giok yang mengeluarkan cahaya itu. Tentu Melian khawatir kalau sampai temannya tahu bahwa gelang giok yang ia kenakan bisa mengeluarkan cahaya. Makanya Melian segera menyembunyikan gelang yang bercahaya itu dengan lipatan selimut yang belum sempat dibuka.


    Lantas Melian menengok ke arah Putri, temannya sekamar yang tidur di ranjang sebelahnya. Beruntung Putri sudah tertidur. Sehingga tidak tahu ada cahaya hijau yang muncul di ruangannya tadi.


    Perlahan Melian menengok gelang gioknya, yang ia sembunyikan di balik selimut. Masih ada cahaya hijau yang berpendar di sana. Lantas Melian menutupinya kembali, menyembunyikan lengan yang ada gelang gioknya itu di balik selimut.


    Melian mulai merenung, memikirkan yang terjadi, ada apa kira-kira dengan gelang giok itu? Walau Melian sudah tahu beberapa hal tentang keanehan gelang giok itu, namun baru kali ini gelang aneh yang ada di lengannya itu mengeluarkan cahaya.


    Memang gelang giok yang dikenakan oleh Melian itu punya keanehan-keanehan. Diantaranya, gelang giok itu wujudnya terdapat ukiran berbentuk naga. Jika diamati secara seksama, gelang itu ibarat seekor naga yang melingkar. Pasti sangat sulit untuk membuat ukir-ukiran naga pada sebuah gelang giok. Keanehan yang kedua, gelang giok yang dikenakan oleh Melian ini tidak ada yang tahu siapa yang memasukkan ke lengannya. Bahkan ibunya sendiri juga tidak tahu siapa yang memberi. Keanehan yang ke tiga, gelang giok yang ada di lengan Melian ini tidak bisa dilepas, bahkan waktu Melian masih bayi. Ibunya yang berusaha melepas juga tidak sanggup. Demikian juga bapaknya yang malah marah-marah pada istrinya karena curiga dengan gelang giok itu. Juminem maupun Jamil tidak pernah menghiraukan gelang giok yang ada di lengan Melian. Ia justru mengatakan kalau gelang giok itu adalah tanda kasih sayang dari orang tuanya, maka tidak boleh dilepaskan. Jamil dan Juminem hanyalah pamomong atau orang yang hanya dipasrahi untuk momong Melian.


    Dan yang paling aneh, gelang itu seakan hidup, bisa berkembang seperti halnya yang mengenakan gelang giok itu, yaitu Melian. Yang ia sadari adalah saat kecil gelang itu juga tidak bisa keluar dari tangannya. Gelang itu pas di lengannya.  Artinya ukurannya waktu itu pasti masih kecil. Namun saat Melian bertumbuh menjadi besar, dan lengan tangannya juga membesar, gelang giok itu tidak menjadi sesak, masih saja tetap longgar di lengannya. Melian pun sadar tentang hal itu, tetapi ia tidak memikirkan, karena tahu bahwa gelang yang dikenakannya adalah gelang wasiat. Entah siapa yang memberi, Melian tidak tahu. Yang jelas, pasti kakek buyutnya, yang oleh ibunya, dalam hal ini Juminem, liontin yang menempel di lehernya adalah milik Nenek Amak yang memberi rumah di Kampung Naga itu. Memang ada keanehan dari silsilah atau garis keturunan Melian, yaitu keluarga Engkong dari bapaknya yang tidak terlihat wajahnya saat di foto dalam acara pernikahan ibu dan bapaknya.


    Tapi kali ini, Melian kembali menyaksikan keanehan gelang giok yang dikenakannya. Yaitu bisa memendarkan cahaya. Pasti ini adalah sebuah pertanda akan terjadi sesuatu. Tetapi entah apa, Melian belum tahu.


    Melian teringat saat sekolah di Semarang. Saat pertama kali masuk klenteng, seorang pendeta tua, Pendeta Agung yang mengurusi klenteng itu, berpapasan dengan dirinya, Pendeta Agung itu memegang lengan Melian, mengamati gelang yang dikenakannya, lantas ia mengatakan agar Melian berhati-hati untuk menjaga gelang yang dikenakannya itu.


    Memang sudah umum, sudah wajar, sudah menjadi kebiasaan anak-anak atau gadis maupun perempuan keturunan Cina mengenakan perhiasan dari batu giok. Terutama gelang giok. Katanya giok atau disebut "yu" pleh orang-orang kuno di Tiongkok, sangat dihargai oleh orang Tionghoa sudah lebih dari tujuh ribu tahun yang lalu. Orang tua di Tiongkok sering memberikan gelang giok sebagai hadiah untuk anak perempuannya sebagai simbol cinta dan perlindungan. Bagi orang Tionghoa, giok merupakan simbol yang mewakili kebajikan, belas kasihan, keberanian, keadilan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.


    Di Tiongkok, batu giok diyakini sebagai benda hidup yang mampu melindungi dari gangguan kekuatan jahat dan menyembuhkan penyakit orang yang memakainya. Wanita Tionghoa percaya bahwa gelang giok melindunginya dari bahaya. Kalau gelang giok yang dikenakan itu pecah atau retak, itu sebagai pertanda pemiliknya akan mengalami penderitaan maupun celaka.


    Melian percaya dan yakin, bahwa gelang giok dengan ukir-ukiran naga itu adalah warisan leluhurnya, yang ingin digunakan untuk melindungi dirinya serta menjaga dari gangguan kekuatan jahat yang akan mencelakainya. Itu sudah Melian rasakan berkali-kali. Setiap ada orang jahat yang akan mencelakai dirinya, kenyataannya Melian tiba-tiba memiliki kekuatan hebat yang sanggup mengalahkan orang-orang jahat tersebut.


    Kini Melian berpikir, pasti gelang giok yang mengeluarkan cahaya itu memberi tanda akan ada sesuatu. Ia kembali mengintip gelang gioknya yang disembunyikan di balik selimut. Ternyata sudah tidak mengeluarkan cahaya. Melian menjadi tenang. Ia pun beranjak tidur. Walau demikian, Melian tetap menutupi lengannya yang mengenakan gelang giok itu dengan selimut. Sebab jika nanti suatu saat gelang itu mengeluarkan cahaya lagi, tidak akan diketahui oleh putri. Malam itu, Melian pun tertidur lelap.


    Pagi hari, Jakarta sudah sibuk. Memang julukan sebagai kota tak pernah tidur sangat tepat. Karena dalam pagi buta saja, jalanan sudah ramai oleh lalu lalang penduduknya. Melian yang selalu bangun pagi, kali ini bangun lebih pagi lagi. Berbeda dengan Putri yang anak orang kaya, yang dirumahnya ada pembantu, punya sopir, tidak pernah pegang pekerjaan rumah, yang enak dan santai. Maka bangun tidur pun bisa bermalas-malasan.

__ADS_1


    Melian langsung membuka selimut yang semalam menutupi lengannya. Ia mengintip gelang gioknya, apakah bersinar atau tidak. Dan ternyata tidak lagi mengeluarkan cahaya seperti yang terjadi tadi malam. Tenang hati Melian. Ia pun langsung menuju kamar mandi. Bersih-bersih diri dan mandi. Di tinggal mandi pun, Putri belum juga terbangun.


    Selanjutnya, setelah itu, setelah ganti kaos dan celana kulot. Sudah segar dan nyaman. Lantas Melian mengambil HP-nya. Mengamati SMS dan BBM. Tidak ada kabar berita dari keluarganya. Hanya beberapa SMS dari teman-temannya.


    Merasa penasaran dengan peristiwa semalam, yaitu keluarnya cahaya dari gelang giok yang ia kenakan, maka Melian langsung memencet nomor bapaknya. Menelepon bapaknya. Bapak dan ibunya pasti sudah bangun, seperti kebiasaannya yang selalu bangun pagi dan langsung mengurusi pekerjaan rumah. Ibunya langsung menuju dapur untuk masak menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan bapaknya bersih-bersih rumah. Kalau di rumah, setiap pagi Melian membantu orang tuanya. Melian pun langsung menelepon orang tuanya.


    "Halo, Pak .... Sedang apa, Pak ...?" tanya Melian saat bicara dengan bapaknya melalui telepon.


    "Biasa, Nduk .... Sedang bersih-bersih .... Gimana kabarmu, Nduk? Sehat, kan ...?" jawab bapaknya.


    "Siapa, Kang ...?! Melian, ya ...?!" Juminem yang masih sibuk di dapur langsung menyaut saat mendengar suaminya menerima telepon.


    "Iya ..., Jum .... Melian yang telepon ...!" jawab suaminya.


    Pasti Juminem langsung berlari menuju ke suaminya. Pasti ingin ikut nimbrung telepon. Bicara dengan anaknya.


    "Halo, Nduk .... Bagaimana kabarmu ...? Tumben nelponnya pagi sekali ...?!" kata Juminem di HP suaminya.


    "Ini kok masih pagi sekali sudah telpon, ada apa, Nduk ...?" tanya bapaknya.


    "Cuma mau tanya keadaan Pak-e sama Mak-e .... Syukurlah kalau sehat semua. Tidak ada apa-apa di sana kan, Pak ...?" kata Melian pada bapaknya.


    "Baik-baik semua, Nduk .... Sehat semua .... Alhamdulillah semua pekerjaan lancar .... Usaha Pak-e juga laris ...." jawab bapaknya yang tentu membuat hati Melian jadi tenang. Berarti tidak ada masalah di keluarganya.


    "Syukur, Pak .... Ya sudah, Pak ..., Mak .... Saya mau buat sarapan dahulu ...." kata Melian yang sudah tenang hatinya.


    "Ya .... Hati-hati di rantau ya, Nduk ...." kata bapak dan ibunya, yang kemudian mengakhiri teleponnya.


    Melian pun langsung membuat roti panggang. Roti tawar yang diolesi mentega dan selai, lantas dimasukkan ke alat pemanggang elektrik toaster. Alat ini yang membawa Putri. Tentu untuk mempermudah menyiapkan sarapan jika tergesa-gesa. Hanya beberapa menit sudah keluar jadi roti bakar, dua potong. Roti itu langsung diambil dari alatnya dan ditaruh di piring.


    Selanjutnya Melian mengeluarkan susu kemas dari dalam kulkas. Lantas menuangkan susu itu ke dalam dua gelas. Pasti yang satu untuk dirinya dan yang satu lagi untuk Putri.

__ADS_1


    "Melian .... Uaaahhhh .... Haeeeemmm ...." Putri terbangun, mungkin karena mencium bau harum roti panggang. Lantas menguap dan menggeliat. Selanjutnya turun dari tempat tidur dan langsung menuju meja yang sudah tersedia susu dan roti panggang tersebut. Menemani Melian sarapan.


    "Ayo, dimakan dulu rotinya .... Mumpung masih hangat ...." kata Melian yang menyuruh Putri yang sudah duduk berhadapan di meja yang biasa diapakai belajar.


    "Terima kasih ya, Melian ...." kata Putri yang beruntung punya teman Melian.


    "Kembali kasih .... Nanti kuliah, nggak ...?" tanya Melian.


    "Ada .... Tapi siang .... Melian kuliah jam berapa?" jawab Putri dan langsung balik tanya.


    "Sebenarnya ada kuliah jam sembilan. Tapi ini nanti saya berangkat agak awal, mau ke perpustakaan dahulu." jawab Melian.


    Memang dalam kuliah, masing-masing mahasiswa bisa memiliki jadwal yang berbeda. Biasanya tergantung dari saat registrasi dan pemilihan jadwal dosennya. Dan di jurusan itu dibagi menjadi dua kelas, untuk memudahkan perkuliahan. Makanya pembagiannya tergantung dari mahasiswa saat daftar ulang. Karena itulah ada beberapa mata kuliah yang tidak sama antara Melian dan Putri.


    Pagi itu, dengan terpaan hangatnya sinar mentari yang masih banyak mengeluarkan rangsangan produksi vitamin D dalam tubuh, sinar yang mampu meningkatkan imunitas tubuh, sinar yang bisa mencegah depresi, sianar yang dapat mengatasi penyakit kulit serta menurunkan risiko penyakit kanker, Melian berjalan kaki menuju kampus. Ingin ke perpustakaan terlebih dahulu, tentu untuk mencari referensi-referensi kuliahnya. Namun baru saja menapakkan kakinya di jalan, oa kembali dikejutkan oleh cahaya hijau yang keluar dari gelang gioknya. Melian buru-buru memasukkan lengannya yang ada gelang gioknya itu ke dalam saku jas yang dikenakannya. Melian tidak mau ada orang lain yang melihatnya.


    Lantas melian buru-buru masuk ke gedung perpustakaan. Di sana ia langsung masuk ke ruang kamar kecil. Yah, Melian ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan gelangnya itu. Beruntung waktu masih pagi, sehingga ruang perpustakaan belum ramai. Dan tentunya di kamar kecil pun belum ada orang.


    Melian langsung masuk ke salah satu kamar kecil yang ada di situ. Lantas menutup pintunya dan mengunci dari dalam. Setelah itu, Melian menarik lengan kirinya dari saju jas, mengamati gelang yang dikenakannya. Cahaya itu terus memendar, seperti layaknya lampu neon flex yang melingkar di lengan Melian.


    Melian terus mengamati gelangnya yang aneh itu. Dan semakin lekat saat mengamati gelang itu, semakin terlihat bentuk naga kecil yang melilit di lengan Melian. Dan seolah, naga itu hidup dan bergerak memutari lengan. Bahkan dari gelang itu, seolah-olah kaki-kaki naga tersebut bergerak berjalan menapaki lengan Melian yang dililitnya. Dan beberapa kali setiap putaran naga itu menghadap tepat ke wajah Melian, seolah kepala naga itu mengangguk-angguk mengajak komunikasi dengan pemakai gelang itu. Melian menatapi wajah naga itu, yang seolah terlihat sedih.


    Benarkah naga ini sedang dalam kesedihan? Ataukah ada sesuatu yang terjadi, sehingga naga ini memberi kabar? Atau mungkin naga ini dalam kebingungan?


    "Tok ...! Tok ...! Tok ...!" suara pintu kamar mandi diketuk orang.


    "Siapa di dalam ...?!" suara orang menanya pada yang ada di dalam kamar mandi.


    "Saya ...! Sebentar ...!" Melian menjawab dari dalam. Seketika itu cahaya yang keluar dari gelang giok itu langsung meredup dan hilang.


    Tenang pikiran Melian. Ia langsung membuka pintu kamar mandi, dan keluar dari situ. Orang yang menunggunya pun langsung masuk ke kamar kecil itu. Syukurlah, tidak ada yang tahu tentang keanehan yang dialami Melian dengan gelang gioknya itu.

__ADS_1


__ADS_2