GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 243: PANDAI MERENDAH


__ADS_3

    Mendengar ada ruara ribut di puncak Gunung Bugel, tentu para tukang parkir bersama tukang gali kubur yang duduk-duduk  di bawah, tempat pengelola pemakaman, saling bertanya. Ada apa yang terjadi di puncak Gunung Bugel? Padahal orang yang naik ke puncak untuk nyekar atau mengirim bunga hanya dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Itu saja sepeda motornya masih ada di parkiran. Tidak ada orang lain yang berziarah ke pemakaman. Maklum bukan malam Jumat Kliwon. Kalau malam Jumat Kliwon tempat itu sangat ramai, banyak para peziarah. Dan komplek pemakaman Gunung Begel ini tidak setiap hari ada warga keturunan Cina yang dimakamkan di tempat itu. Jadi komplek pemakaman ini lebih seperti kuburan kuno.


    Para penggali makam dan tukang parkir itu bergegas naik ke puncak bukit. Pastinya, mereka ingin tahu apa yang terjadi di pekuburan bagian atas, hingga suaranya ribut-ribut terdengar sampai bawah. Tentunya mereka khawatir dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Pastinya mencurigai dua orang laki dan perempuan yang naik ke puncak bukit itu, yaitu Irul dan Melian. Ada tujuh orang bersama-sama naik ke puncak bukit, ingin tahu apa yang tengah terjadi.


    Dan setelah sampai di puncak bukit, tujuh orang yang datang untuk mengetahui keributan yang terjadi, ternyata tidak ada apa-apa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada keributan. Mereka hanya mendapati laki-laki dan perempuan yang sedang menyapu dan membersihkan bongpai pemakaman.


    "Cik ..., Koh .... Apakah Cacik-e sama Kokoh-e tadi mendengar ada suara ribut-ribut di sini?" tanya salah seorang laki-laki yang menghampiri Irul dan Melian yang sedang menyapu bongpai.


    "Ribut-ribut apa, ya ....?" Melian balik bertanya.


    "Kok dari tadi, saya menyapu dan bersih-bersih di sini tidak mendengar ada keributan, ya ...? Lha apa asalnya dari sini?" Irul juga bertanya pada tujuh orang yang sudah mengelilingi dirinya tersebut.


    Tujuh orang itu saling pandang. Tentu bingung dengan kata-kata dua orang yang sedang menyapu bersih-bersih di makam keluarganya tersebut.


    "Tapi tadi dari bawah, di tempat parkiran saya mendengar ada suara teriak-teriak .... Sangat gaduh, seperti layaknya ada orang yang sedang berantem .... Kayak geger, gitu ...." kata salah satu dari tujuh orang yang berdtangan ke puncak bukit itu.


    "Iya ..., benar .... Suaranya terdengar dari bawah .... Ribut banget." timpal yang lain.


    "Betul ...! Seperti ada yang lempar-lemparan mercon ...." tambah yang lain.


    Irul dan Melian saling Pandang. Tentu tidak akan membuka rahasia yang tidak mungkin akan dipercaya oleh orang-orang itu. Apalagi kalau dia mengatakan jika di tempat itu baru saja terjadi pertempuran dan pelakunya adalah dia sendiri. Pasti justru akan menjadi bahan tertawaan bagi para penggali kubur dan tukang parkir itu.


    "Koh, Cik .... Memang dari tadi pagi hingga hampir sore begini bersih-bersih di kuburan begini tidak punya rasa takut atau khawatir kalau ditemui hantu?" tanya salah seorang penggali kubur.


    "Hantu ...? Hantu apa ...?" tanya Melian yang berpura-pura ketakutan.


    "Iya, Cik .... Ini kan kuburan .... Komplek pemakaman bong Cina. Di tempat ini banyak kuburan-kuburan tua .... Makam-makam keramat .... Apalagi makamnya para orang-orang sakti .... Sering keluar arwahnya ...." kata laki-laki yang berprofesi sebagai tukang gali kubur tersebut.


    "Memang Bapak-e pernah lihat ...?" tanya Melian pada orang itu.


    "Ada yang pernah dilihati, Cik .... Sampai orangnya itu pingsan." sahut orang itu.

__ADS_1


    "Kalau kami, sih .... Jangankan hantunya ..., mayatnya yang beneran saja saya sering lihat .... Kan, kami ini para penggali kubur .... Hahaha ...." timpal yang lain malah mengajak gojekan.


    "Benar juga, Pak .... Kan yang memasukkan mayat-mayat di sini, sampeyan ...." sahut Irul sambil tersenyum geli mendengar penuturan para penggali kubur itu.


    "Tapi benar, ya ..., di sini tidak terjadi apa-apa, ya?" tany penggali kubur itu ingin meyakinkan.


    "Benar, Pak ...." jawab Irul juga ingin menegaskan.


    "Ya sudah .... Kalau begitu cepetan bersih-bersihnya, kalau mau nyekar juga cepetan .... Ini sudah sore, biar tidak keburu malam. Takutnya nanti kalau sudah gelap tempat ini akan lebih bahaya." kata salah seorang penggali kubur.


    "Kami juga mau pulang .... Motornya di bawah tidak ada yang jaga." timpal si tukang parkir.


    "Iya, Pak .... Ini saya juga sudah selesai, kok .... Ini kami sudah mau turun." sahut Irul bersama Melian.


    "O, ya sudah .... Ini kami juga mau turun .... Kalau di sini kelamaan, khawatir nanti di bawah tidak ada orang." kata penggali kubur.


    Akhirnya, Irul dan Melian meninggalkan makam Cik Lan yang ada di puncak Gunung Bugel. Turun bersama dengan para penggali kubur dan tukang parkir. Tentunya sambil banyak mengobrol tentang kuburan itu. Pasti seputar keangkeran dan misteri-misteri yang ada di Gunung Bugel.


    Batin Irul dan Melian tersenyum. Padahal orang yang dibicarakan ada bersama dengan mereka. Untungnya mereka tidak kenal atau tidak hafal betul dengan wajah orang-orang yang ditemukan oleh warga di puncak bukit itu. Jika mereka tahu, pasti ceritanya akan berbeda. Tidak digondol gendruwo, tetapi mengkin akan mengatakan pertapa sakti.


    "Ooo ..., seperti itu ya, Pak ...." kata Irul pura-pura tidak tahu.


    "Iya .... Pemakaman Gunung Bugel ini terkenal sangat gawat .... Apalagi bongpai-bongpai yang ada di puncak itu, makamnya para tokoh yang dulu pernah menjadi pemimpin Lasem. Tentunya mereka-mereka ini orang sakti. Biasanya, kalau orang-orang demikian, punya banyak aji-aji atau jimat yang biasanya berupa jin atau dedemit. Jadi ..., ya boleh dikatakan tempat ini sangat angker, Koh ..., Cik ...." cerita para penggali kubur itu lagi.


    "Lha kok Bapak-e tidak mengambil aji-aji atau jimatnya, biar jadi sakti ...?!" sahut Melian menggoda.


    "Walah, Cik .... Kami ini orang kecil .... Tidak sanggup untuk mengambil jimat-jimat itu." sahut tukang parkir.


    "Dulu pernah ada, yang katanya menerima wangsit agar bertapa di makam punden .... Boro-boro dapat jimat, dia turun dari punden, eee ..., malah ngengkleng alias gila ...." kata yang lain.


    "Stres, Cik .... Tidak kuat ngelmu ...." sahut temannya.

__ADS_1


    "Mungkin saja ketutan demitnya yang jaga punden .... Lha wong dia itu ngomong semaunya sendiri .... Ya, kayak orang edan itu ...." katanya lagi.


    "O ya, Pak .... Bapak-bapak ini pernah dengar apa belum, tentang tokoh yang katanya penguasa Kampung Naga yang dikubur di sini?" tanya Irul yang ingin tahu, karena penasaran dengan silsilah keturunan Melian.


    "Belum itu, Koh .... Tapi dulu pernah ada yang cerita, itu kakek buyut saya, katanya ada seorang tokoh yang dikubur di puncak bukit, ya ..., dekat dengan bongpai yang dibersihkan tadi .... Konon katanya tokoh itu orang yang datang dari daratan Cina dan membangun perkampungan di Jawa. Lhah yang menjadi penasaran orang-orang adalah katanya, oleh para pengikutnya ia dikuburkan di tempat itu, dengan menggunakan terbelo yang terbuat dari batu giok. Jadi peti matinya itu terbuat dari batu giok. Makanya waktu itu langsnung geger pada mencari kuburannya, yang tujuannya adalah ingin mencuri batu giok yang sangat besar itu. Tetapi tidak ada yang berhasil." cerita salah satu tukang penggali kubur yang sudah turun temurun bekerja di tempat itu.


    Melian dan Irul terkesima mendengarkan cerita orang itu. Mungkin saja itu memang makam kerabatnya Melian. Tetapi suatu saat perlu tanya kepada Pak Jamil, yang mungkin tahu hal itu.


    Memang, dulu saat Melian masih bayi, pernah diajak oleh Nenek Amak ke pemakaman itu. Tapi Melian tentu tidak ingat. Yang ia tahu hanyalah makam ibunya. Dulu kalau ia ingin menengok ibunya, selalu diantarkan oleh Jamil dan Juminem yang kini jadi bapak dan ibunya.


    "Lha, ini ..., Cacik dan Kokoh ini kerabat dari siapa? Kok melakukan ziarah ke makam yang ada di puncak.


    "Saya dulu pegawainya Babah Ho .... Ini cuman pengin saja melihat-lihat makam. Kebetulan ada yang perlu kami bersihkan, maka kami coba untuk menyapunya. Hanya itu saja, kok .... Kami bukan siapa-siapa. Yah, menurut saya, yang namanya ziarah kubur itu sah-sah saja. Bukan begitu, Pak?" kata Irul yang berusaha untuk tidak diketahui identitasnya.


    "Ya, betul .... Tapi kok aneh gitu, lho ...." sahut si tukang parkir.


    Tanpa terasa, sambil bercerita banyak, mereka sudah sampai bawah. Sudah sampai di tempat parkir motor.


    "Walah, sudah sampai .... Maturnuwun, Pak .... Kami mau terusan pulang ...." kata Irul sambil memberikan uang parkir kepada tukang parkir. Tentu ditambahi cukup lumayan. Bahkan Irul juga memberikan uang kepada para penggali kubur itu, katanya untuk beli rokok.


    "Terima kasih, Koh ...!" kata orang-orang yang tentu senang diberi uang rokok.


    Irul berboncengan dengan Melian, meninggalkan komplek pemakaman Gunung Bugel, untuk pulang kembali ke rumahnya. Melian memeluk tubuh Irul, sambil merebahkan kepalanya di punggung Irul.


    "Mas Irul itu lucu ...." kata Melian yang tentu tersenyum lebar.


    "Apanya yang lucu ...?" tanya Irul sambil menyetir motornya.


    "Pandai menyembunyikan rahasia." jawab Melian.


    "Rahasia apa?" tanya Irul lagi.

__ADS_1


    "Pandai merendah .... Tidak sombong, dan tidak mau berpamer .... Tapi aku suka sama Mas Irul ...." sahut Melian yang mengencangkan pelukannya di perut Irul. Sama seperti dulu saat sekolah SMA, jika diantar oleh Irul, mendekapnya sangat kencang.


__ADS_2