
Anak-anak terlihat amat sangat girangnya, menyaksikan lampu-lampu kecil yang menyala di pinggir sungai. Meski baru lima lampu, tetapi sudah memberi kesan yang menarik. Lampu-lampu yang dinyalakan dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga air, dari kincir air yang mereka buat sendiri. Tentu menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam pikiran dan pengetahuan hidup mereka. Pengalaman yang tidak mungkin akan terlupakan. Itulah kenapa, anak-anak perlu mendapatkan pengalaman berharga saat masih kecil.
Malam semakin larut, tetapi anak-anak belum juga beranjak dari tempat itu. Mereka masih saja bercengkrama dengan teman-temannya. Tentu ada yang berlari-lari, ada yang duduk terkesima di pinggir sungai menyaksikan kincir air yang terus berputar. Ada pula yang berdiri di bawah tiang bambu, menyaksikan lampu yang menyala, kadang terlihat sangat terang, namun kadang meredup. Tentu anak-anak yang cerdas ini bertanya-tanya, kenapa lampu ini bisa kedip-kedip.
Melian duduk bersanding dengan Akbar, di atas tikar yang digelar oleh anak-anak, di pinggir sungai dekat dengan kincir air. Tentu mengamati kincir itu bersama dengan anak-anak yang ramai bermain.
"Kak ..., kenapa lampunya kadang-kadang menyala terang, tapi kadang pula redup?" tiba-tiba seorang anak bertanya kepada Akbar yang duduk bersama Melian. Beberapa anak mengerubung di situ. Tentu pada ingin tahu.
"Kira-kira kenapa ...? Apakah ada yang bisa menjelaskan ...?" Akbar balik bertanya.
Melian tersenyum mendengar kata-kata Akbar. Aneh, anak-anak sudah disuruh mikir.
"Kena angin, Kak .... Ditiup angin terus bergoyang-goyang ...." jawab salah satu anak.
"Oke .... Ada yang pinya pendapat lain ...?" tanya Akbar kembali.
"Arus listriknya tidak stabil, Kak ...." jawab anak yang satu lagi.
"Oke ..., bagus .... Ada yang mau menjawab lagi?" kembali Akbar memberi kesempatan kepada anak yang lain untuk ikut menjawab.
Tetapi anak-anak diam semua. Tidak ada lagi yang bisa berpendapat. Maklum, anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal, tidak pernah masuk sekolahan, tidak pernah belajar bersama guru di kelas. Mereka hanya belajar bersama volunteer-volunteer yang suka rela berdasarkan kemampuan pengetahuannya saja. Tetapi justru itulah ilmu praktis yang sebenarnya yang ada di kehidupan nyata. Bukan teori-teori yang muluk-muluk dari para guru.
"Begini .... Ada yang pernah bermain lampu senter baterai?" tanya Akabar pada anak-anak.
"Ada ...!" jawab anak-anak serempak.
"Nah ..., kalau lampu senter itu baterainya masih baru, maka nyalanya akan terang. Tapi kalau baterainya sudah lama, maka nyalanya akan meredup. Karena apa? Setrumnya sudah mau habis." kata Akbar pada anak-anak.
"Betul, Kak Akbar .... Kalau baterainya habis, lampunya gak mau nyala." sahut anak-anak.
"Nah ..., sama dengan lampu-lampu itu .... Kalau setrumnya kurang, maka dia akan meredup. Tapi kalau setrumnya kuat, dia akan menyala terang." kata Akbar sambil menunjuk ke lampu-lampu yang tergantung di pinggir sungai itu.
"Tapi kan lampu itu tidak menggunakan baterai?" kata salah satu anak.
__ADS_1
"Lhah, kan baterainya menggunakan dinamo ...." sahut yang lain.
"Ah ..., aku tahu .... Kalau dinamo itu berputar kencang, lampunya akan menyala terang. Tapi kalau dinamonya berputar pelan, lampunya akan meredup. Betul, Kak ...?" kata anak yang punya ide membuat kincir air saat belajar dengan Melian tadi pagi.
"Betul .... Nah, yang menggerakkan dinamo siapa?" kata Akbar.
"Kincir air ...!!" teriak anak-anak bersemangat.
"Betul .... Kalau kincir air itu berputar cepat, maka arus listrik yang tercipta juga besar, karena dinamonya berputar cepat. Tetapi kalau aliran air sungai menurun, akibatnya kincir airnya juga akan melambat, dinamonya pun akan berputar pelan. Maka arus listriknya juga akan menurun. Kalau arus listriknya menurun, lampu-lampunya akan meredup." jelas Akbar yang sangat kontekstual sekali.
Anak-anak menjadi puas dengan penjelasan itu. Kini mereka tahu banyak hal tentang pembangkit listrik tenaga air. Tentunya dari hasil ciptaan mereka secara bersama-sama. Dan itu menjadi pengalaman yang paling berharga dalam kehidupannya.
Melian tersenyum memandangi Akbar. Ia kagum dengan penjelasan Akbar yang sangat bisa diterima oleh anak-anak. Bahkan Melian sendiri jadi paham dengan sistem kerja dari pembangkit listrik tenaga air. Dan yang lebih dibanggakan adalah mereka sanggup membuat peralatan itu hanya dari barang-barang bekas.
"Melian kedinginan, ya?" tanya Akbar saat memandangi Melian yang kedua tangannya sudah didekapkan ke dadanya.
"Hemmm ...." Melian tidak menjawab, hanya berdehem saja.
"Ini .... Pakai jaketku ...." kata Akbar yang langsung melepas jaketnya, kemudian mengenakan ke tubuh Melian.
"Terima kasih, Akbar ...." kata Melian setelah diselimuti jaket oleh Akbar. Tentu dengan senyum manisnya. Angannya pun langsung melayang, lagi-lagi Melian membayangkan kebaikan Akbar itu akan diberikan kepada dirinya secara terus menerus.
"Kita masuk saja, yuk .... Udara malam kurang baik untuk kesehatanmu." Akbar mengajak Melian masuk.
"Nanti dulu .... Saya masih ingin menyaksikan kincir air itu ...." kata Melian menolak ajakan Akbar.
"Apa asyiknya ...?" tanya Akbar.
"Kamu luar biasa, Akbar .... Kamu sangat pandai .... Kamu jenius .... Aku bangga padamu." kata Melian yang memuji Akbar.
"Ah ..., Melian yang hebat dan pintar .... Aku biasa saja, kok ...." sahut Akbar yang tentu merendah.
"Lihatlah, Akbar .... Kamu lihat kincir air itu .... Harmonisasi antara sungai dengan kehidupan manusia. Sangat indah dan saling melengkapi .... Aku suka dengan kehidupan yang mengalir indah. Aliran air dari sungai yang memberikan manfaat bagi kehidupan, jika kita bisa mengelola secara benar." kata Melian sambil menunjukkan perputaran kincir yang terus menerus mengikuti dorongan arus air sungai.
__ADS_1
Akbar diam, tidak tahu dengan kata-kata filosofi yang diungkapkan oleh Melian. Akbar orang teknik, bahasanya lugas dan langsung pada inti pembicaraan. Berbeda sekali dengan kata-kata Melian yang sering menggunakan kiasan-kiasan, tentu orang teknik bingung mendengarnya. Namun Akbar tetap meresapi kata-kata Melian itu, sebagai kata-kata indah dari sang pujangga.
"Iya, Mel ...." jawab Akbar yang tidak sanggup mengungkapkan kata-kata indah.
"Simponi alam itu memang indah .... Tapi terkadang, ulah manusia sering mengusik keharmonisannya, sehingga justru berakibat menganggu bahkan merusak tatanan kehidupan." kata Melian yang bicaranya semakin sulit untuk dipahami oleh Akbar.
"Iya, Mel .... Terkadang kepentingan menjadi alasan. Eh, Melian setelah lulus ini mau ke mana?" tanya Akbar yang langsung mengalihkan pembicaraan secara blak-blakan saja. Tentu Akbar ingin bicara yang biasa saja.
"Belum tahu, Akbar .... Paling-paling pulang kampung." jawab Melian.
"Pulang kampung ...? Mau ngapain di kampung?" sahut Akbar yang ingin tahu.
"Nikah, lah .... Anak perempuan mau ngapain lagi ...." jawab Melian ceplas-ceplos.
"Mau nikah ...?! Memang sudah punya jodoh?" tanya Akbar ingin tahu.
"Belum .... Sama kamu, ya .... Hehe ...." Melian meledek, tentu tangannya sambil mencolek pipi Akbar.
Seketika itu, hati Akbar bergejolak. Walau terlihat semacam gurauan, tetapi Akbar yang selama ini sebenarnya mengagumi Melian, saat mendengar kata-kata Melian seperti itu, ingin rasanya ia langsung mengatakan "Ya, aku bersedia". Tetapi Akbar adalah anak baik, yang tidak mungkin membalas kata-kata Melian secara spontan. Tidak etis. Tetapi perasaan Akbar tentang ungkapan Melian itu tetap tersimpan baik dalam hatinya.
"Kapan Melian mau pulang kampung?" tanya Akbar.
"Sebenarnya sambil menunggu wisuda, saya ingin pulang kampung dahulu .... Sudah kangen sama Mak-e dan Pak-e .... Aku juga kangen sama Mas Irul ...." jawab Melian, yang memang sebenarnya sudah ingin pulang.
"Mas Irul itu siapa ...? Katanya Melian anak tunggal ...." tanya Akbar yang tentu ingin tahu.
"Kamu cemburu, ya ...? Mas Irul itu dulu karyawannya engkong, terus jadi karyawannya Pak-e, lantas menikah sama Cik Indra yang .... Namun sayang, Cik Indra meninggal gara-gara dibacok penjahat yang merampok tokonya .... " Kata Melian yang terkenang dengan peristiwa yang menyedihkan itu.
"Itulah kehidupan. Semua sudah ada yang menakdirkan .... Kita tidak bisa meminta, dan juga tidak sanggup menolaknya." kata Akbar, yang tangannya menepuk pundak Melian.
Bergetar hati Melian, begitu merasakan tangan laki-laki yang diam-diam ia kagumi itu menempel di pundaknya. Melian diam tak bergerak. Bahkan tidak bisa mau berucap apa. Tetapi ada perasaan yang aneh. Benarkah ini getaran cinta?
Remang malam semakin mengelam. Suara kincir air yang diputar oleh aliran air Sungai Ciliwung, terus mengalun menimbulkan gemericik syahdu. Lampu-lampu kecil yang terpasang masih saja berubah-ubah kekuatan menyalanya. Terkadang sangat terang, dan terkadang meredup. Seperti kehidupan manusia, yang kadang kala bersinar terang, namun ada kalanya mengalami penurunan semangat.
__ADS_1
Tempat itu sudah sunyi. Anak-anak sudah kembali masuk dan tidur di tempat singgahnya masing-masing. Akbar mengajak Melian untuk kembali, masuk ke rumah unik. Tangan Melian memegangi lengan Akbar, pasti dengan perasaan yang mengembang. Dan tentu penuh dengan harapan. Malam itu, meski hanya disinari remang cahaya lampu-lampu bertiang bambu, namun hati dua insan itu sudah mulai menyatu dan berpadu.