
Hari-hari terus berlalu. Juminem merawat Melian dengan penuh kasih sayang. Tentu karena Juminem maupun Jamil sudah menganggap Melian sebagai anaknya sendiri, bukan anak orang lain. Apalagi ia tahu kalau Melian sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayah dan ibunya sudah tidak ada, dengan kematian-kematiannya yang tragis. Demikian juga kakek dan neneknya, yang juga meninggal karena kecelakaan ambulan yang membawanya. Apapun keadaannta, mereka tetap menyayangi Melian dengan cinta kasihnya. Yah, meskipun hanya cinta kasih orang desa yang kehidupannya bersahaja dengan kesederhanaannya. Apalagi kehidupan Jamil yang hanya sebagai buruh di kerajinan kuningan, yang tentu hasilnya hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Setelah peristiwa di puncak makam Cina di Gunung Bugel yang ada di Bukit Lasem, perbukitan yang merupakan kelanjutan dari jalur Pegunungan Kendeng Utara, kini Nenek Amak sudah tidak pernah lagi datang ke rumahnya. Jamil maupun Juminem sudah pasrah dan iklas dengan segala peristiwa yang terjadi dengan Nenek Amak. Bahkan ia juga mengadakan selamatan dengan mengundang para tetangganya, agar arwah Nenek Amak tenang di alam baka. Tetapi tentu Jamil yang juga meminta kepada istrinya, untuk tidak menceritakan peristiwa di puncak Gunung Bugel. Itu hanya menjadi rahasia mereka berdua. Makanya saat acara selamatan, Jamil menyampaikan kalau hajatannya itu bertujuan untuk mengirim doa kepada leluhur-leluhurnya yang sudah meninggal dunia. Termasuk disebutkan, mendoakan arwah bapak dan ibunya Melian, mendoakan kakek dan neneknya Melian, serta leluhur-leluhur semuanya.
Betapa senangnya para tetangga Jamil yang diundang syukuran. Walau warga Kampung Naga itu prural, terdiri dari berbagai etnis dan keyakinan, tetapi malam itu, bapak-bapak yang diundang untuk acara selamatan berdatangan dengan senang dan tidak ada perbedaan. Meski dalam acara itu Jamil meminta Pak Modin yang memimpin doa dengan adat dan tata cara agama Islam. Tidak masalah bagi warga Kampung Naga. Dan tentu Pak Modin yang menyampaikan secara kepercayaan Inslam itu terlebih dahulu mengatakan agar semua yang datang ikut berdoa dengan keyakinan masing-masing.
"Bapak-bapak semua saja yang hadir di rumah Mas Jamil ini .... Di rumah Mbak Juminem serta anaknya, malam ini kita semua diminta oleh Mas Jamil untuk ikut memanjatkan doa. Mas Jamil mengadakan acara selamatan, acara syukuran, dalam rangka kirim doa untuk leluhur-leluhurnya. Semua leluhur, baik orang tua, ayah, ibu, kakek, nenek sampai buyut-buyutnya. Monggo bapak-bapak ikut mendoakan agar para leluhur Mas Jamil, Mbak Juminem, serta anaknya yang bernama Melian ini, semuanya selamat, semuanya diampuni dosa-dosanya, semuanya diampuni kesalahannya, dan diberikan surga yang terbaik. Bapak-bapak, silahkan berdoa dengan cara kepercayaan dan keyakinan masing-masing." kata Pak Modin yang selanjutnya memimpin doa bersama tersebut.
Itulah bukti toleransi yang ada di Kampung Naga. Selanjutnya, setelah acara berdoa bersama itu selesai, mereka makan-makan yang sudah disediakan oleh Juminem, nasi gandul ala Kampung Naga. Tentu di atas nasi itu ada kerupuk udang khas dari Juwana yang enak rasanya. Sedangkan pada sendok yang ditumpangkan di atas nasi, ada sambal kecap yang terlihat sangat sedap. Pasti akan menambah gairah makan para tamunya. Semuanya habis bersih tanpa ada sisa. Itu menandakan kalau masakan Juminem enak dan lezat.
"Mas Jamil .... Selama sampeyan menempati rumah ini, pernah dilihatin apa?" tiba-tiba salah seorang tetangga laki-laki setengah baya yang ikut hadir di situ bertanya.
"Hah ...?! Memang ada apa ...?!" tanya Jamil yang tentu bingung. Memang selama ini ia tidur dan menempati rumah itu semuanya baik-baik saja, tidak ada apa-apa.
"Yaa ..., tidak ada apa-apa, sih .... Hanya ingin tahu saja, karena rumah ini sudah sangat lama kosong .... Tidak ada yang menempati ...." kata orang itu.
"Kok kamu tahu kalau rumah ini sudah lama kosong?" tanya tetangga yang ada di sebelahnya."
__ADS_1
"Yaa ..., saya kan penduduk asli sini .... Sejak lahir saya sudah tinggal di sini .... Jadi tahu kalau rumah ini kosong. Bahkan kata orang tua saya, dulu rumah ini katanya peninggalan saudagar dari Cina, yang pergi entah ke mana, tidak ada yang tahu." kata orang tadi, yang menceritakan rumah itu.
"Walau tidak ditempati, tapi kan dirawat oleh yang punya ...." sahut tetangga yang lainnya.
"Nenek aneh itu ...?!" kata orang itu lagi, seolah ingin menakuti yang punya rumah.
"Nenek aneh yang mana ...?" tanya tetangga yang lain lagi.
"Itu ..., yang kadang-kadang terlihat dan kadang-kadang hilang .... Nenek tua aneh ...." sahut laki-laki setengah baya tersebut.
"Orang bersih-bersih kok dibilang aneh .... Kamu itu bagaimana to, Lek .... Yang aneh itu yo yang tidak mau bersih-bersih rumah ..., piye leh ...." timpal yang lainnya.
"Ayo, sudah malam .... Waktunya istirahat .... Mau nonto Pendekar Rajawali Sakti ...." yang lain tentu ingin segera pulang untuk nonton televisi sambil leyeh-leyeh.
Mereka pun pada pulang, meninggalkan rumah Jamil. Tentu masih dibawain berkat dalam dus yang sudah disiapkan oleh Juminem.
"Alhamdulillah, Kang .... Sudah selesai acaranya ...." kata Juminem yang tentu capek seharian menyiapkan masakan untuk acara selamatan tersebut. Orang Kampung Naga menyebutnya dengan sitilah kenduren. Meski tidak sendirian, seharian ia masak dibantu oleh Mak Yah, ahli masak-masak di Kampung Naga, yang kerjanya memang membantu masak orang punya kerja. Tentu setelah membantu ia dapat upah.
__ADS_1
"Syukurlah, Jum .... Puas rasanya kita bisa kirim doa, bisa tahlilan. Semoga arwah seluruh leluhur kita dan juka leluhur Melian, khususnya Nenek Amak bisa tenang di alam baka." sahut Jamil yang sambil bersih-bersih, melipat tikar yang tadi digelar untuk selamatan.
"Kang, tadi siang saya ditanyai sama Mak Yah, yang membantu kita masak-masak itu .... Ia tanya apa kita selama tinggal di sini pernah ditemui nenek tua ...." kata Juminem yang juga membantu suaminya beres-beres.
"Terus ..., kamu jawab apa?" tanya Jamil yang ingin tahu.
"Ya tentu saya jawab kalau nenek yang punya rumah ini, pasti ketemu .... La wong waktu itu justru nenek itu yang menyuruh kami membeli rumah ini .... Begitu jawabku ..., Kang." jawab Juminem.
"Ya sudah .... Pokoknya cerita tentang Nenek Amak itu jangan sampai tersebar. Itu rahasia kita, Jum ...." kata suaminya yang melarang Juminem agar merahasiakan kisah Nenek Amak.
"Iya, Kang .... Tapi kata Mak Yah, nenek yang dia katakan itu nenek misterius. Umurnya mungkin sudah lebih seratus tahun. Dia datang tiba-tiba dan hilang juga tiba-tiba. Berarti sebenarnya Nenek Amak itu orang sakti, ya Kang ...." kata Juminem yang tentu masih kagum dengan Nenek Amak yang sudah hilang tersebut.
"Iya, Jum .... Semoga saja cerita-cerita itu benar adanya .... Anggap saja Nenek Amak itu sebagai orang tua kita, setidaknya orang tua yang sudah memberi rumah ini kepada kita. Coba kalau kita beli rumah isi beneran ..., berapa harganya? Atau kalau kita membangun ..., habis uang berapa ini?" kata Jamil pada istrinya.
"Iya, Kang .... Benar .... Kita mesti bersyukur, ya Kang ...." sahut Juminem.
"Yah, setidaknya kita harus merawat rumah ini sebaik mungkin ...." Jamil pun selesai membereskan perlengkapan selamatan tadi. Dan bahkan ia sudah mengepel lantainya yang tentu kotor oleh tumpahan kauah ataupun minuman.
__ADS_1
Demikian juga Juminem yang sudah selesai beres-beres mencuci piring, gelas dan sendok.
Tentu mereka berdua kecapaian. Tetapi rasanya puas sudah bisa melakukan selamatan untuk kirim doa kepada para leluhur. Rasa capek itu tidak terasa sama sekali. Hanya senyum senang yang terlihat di wajahnya. Setelah itu semua, Jamil maupun Juminem langsung menyelonjorkan tubuhnya di sisi kanan dan kiri Melian yang sudah tertidur pulas di kasur. Dan akhirnya, mereka pun tertidur pulas.