
Hari-hari Putri menjadi sepi. Kekecewaan yang datang bertubi-tubi, menyebabkan hidupnya menjadi tidak bergairah. Akibatnya, makan dan tidur Putri tidak terkontrol. Putri malas makan. Bahkan sarapan saja sudah tidal lagi mau. Padahal dulu, waktu ada Melian, setiap pagi selalu sarapan bersama. Apapun yang disediakan oleh Melian, Putri langsung menyantapnya. Demikian juga makanan apa yang diingini oleh Putri, yang dibelinya di luar asrama, saat dimakan bersama Melian, mereka berdua pasti menikmati makanan-makanan itu dengan senang. Sehingga pasti, kondisi kesehatan mereka sangat terjaga.
Namun kini, semuanya sudah sirna. Ketika kemarin bisa bersenang-senang dengan Wijaya, itu hanya kesenangan semu yang sudah menghancurkan kehidupannya. Kesenangan yang hanya mengumbar hawa nafsu belaka. Dan saat ini, Putri harus menelan pil pahit kehidupan. Makanya, tubuh Putri kini menjadi lemas dan kurang energi.
"Putri .... Ini Mama, Nak ...." mamanya Putri menelepon dari kampung halamannya di Manado.
"Iya, Ma ...." jawab Putri yang kurang bergairah.
"Napa ngana, Putri? Ngana tiada gairah? Ngana sakit?" tanya mamanya.
"Iya, Ma ...."jawab Putri yang memang terdengar dari suaranya dia tidak sehat.
"Hah ...?! Kalau begitu Mama besok ke Jakarta ...!" kata ibunya yang tentu sangat khawatir.
"Tidak usah, Ma .... Putri baik-baik saja kok ...." jawab Putri yang tidak ingin dijenguk orang tuanya.
"Ngana sakit, Putri .... Mama khawatir ....!" sahut ibunya yang tentu sangat kepikiran dengan keadaan anaknya.
*******
Pagi itu, masih terlalu pagi, mamanya Putri sudah bertolak dari Manado menuju Jakarta. Dengan penerbangan langsung selama tiga jam lebih sepuluh menit, sekitar jam sepuluh mamanya Putri sudah tiba di Jakarta. Lantas ia langsung menyewa mobil, untuk mengantarkan dirinya, dengan tujuan utama ke asrama mahasiswa, dimana Putri berada.
Jalanan Jakarta masih saja mecet. Tidak ada jalan yang lengang. Semua penuh kendaraan. Jalannya mobil kalah cepat dengan orang yang jalan kaki. Tapi itulah ciri-ciri kota metropolitan.
Hampir sekitar satu jam, akhirnya mobil yang ditumpangi mamanya Putri masuk ke halaman asrama mahasiswa, tempat dimana Putri tinggal. Lantas mamanya Putri menuju ruang lobi, untuk menemui petugas keamanan di asrama itu. Sementara itu mobil yang disewa oleh mamanya Putri, diparkir di halaman asrama.
Setelah berkomunikasi dengan pagian penjaga asrama, mamanya Putri langsung mengambil HP. Ia menelepon anaknya. Memang, aturan di asrama tamu tidak boleh masuk ke kamar asrama. Tamu hanya boleh menemui mahasiswa di ruang lobi. Tentu demi keamanan asrama.
"Halo, Putri .... Ini Mama sudah ada di lobi. Bagaimana keadaanmu?" tanya mamanya dalam telepon.
"Iya, Ma .... Sebentar ..., saya akan turun ...." jawab Putri, yang tentu langsung keluar kamar dan turun ke lobi untuk segera menemui mamanya.
"Mama ....!!" setelah sampai di lobi, tentu langsung menubruk dan memeluk ibunya.
Mamanya langsung mencium Putri. Tentu perasaan seorang ibu, tahu kalau anaknya sedang mengalami masalah. Badannya tidak panas. Tetapi anaknya jelas mengalami gangguan kesehatan. Pasti sedang ada sesuatu terhadap anaknya. Maka mamanya pun langsung ingin tahu.
"Kamu kenapa, Putri ...?" tanya mamanya pada Putri.
"Nggak kenapa-kenapa, Ma .... Semalem kan Putri sudah bilang, saya gak kenapa-kenapa, Ma ...." jawab Putri.
"Ya udah .... Eh, Melian mana ...?" tanya mamanya, yang tentu langsung membuat risau anaknya.
"Ih, Mama .... Baru dateng yang ditanyain orang lain ...." tentu Putri protes.
"Ya, Melian kan sahabat Putri .... Wajar kalau Mama bertanya. Ini, Mama bawa oleh-oleh buat kamu ..., nanti Melian dikasih ...." kata mamanya lagi, yang tentu juga ingin tahu kabar Melian.
"Iya, Ma ...." sahut Putri yang tidak bersemangat.
"Nanti kita makan bersama di luar .... Kita cari masakan yang segar-segar. Sana, jajanannya kamu masukkan ke kamar, sekalian ajak Melian makan bersama kita." kata mamanya.
"Ma ..., Melian sudah tidak ada di sini ...." jawab Putri.
__ADS_1
"Hah ...?! Kenapa ...?! Ada apa ...?! Sekarang di mana ...?!" tanya mamanya.
"Melian meninggalkan asrama .... Saya tidak tahu. Dia tidak berpamitan dengan saya ...." jawab Putri, yang tentu sambil menunduk karena malu dan takut sama mamanya.
"Ada masalah sama Putri, ya ...? Masalah apa ...?" tanya mamanya.
Putri diam tidak bisa menjelaskan. Takut kalau dimarahi mamanya. Dan pasti jika mamanya tahu permasalahannya, pasti akan marah pada dirinya. Dan pasti juga akan menyalahkan dirinya.
"Ma ..., Melian sudah besar .... Dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri." akhirnya Putri hanya mampu menjawab seperti itu, yang tentunya untuk menutupi kesalahannya.
"Tidak .... Mama sudah menduga dari kemarin, pasti kamu punya masalah dengan Melian. Apa sebenarnya yang terjadi ...?! Kamu harus jujur sama Mama ...!" kata mamanya yang tentu langsung naik darah, karena mamanya Putri ini sudah menganggap Melian seperti saudaranya Putri.
"Maafkan Putri, Ma .... Ada salah paham diantara kami." jawab Putri yang masih ketakutan untuk jujur pada mamanya.
"Salah paham ...?! Salah paham masalah apa ...?! Apa tidak bisa saling memaafkan ...?! Sebegitunya masalah ini hingga kamu tega mengusir sahabatmu sendiri? Anak yang sudah saya anggap cocok untuk menjadi saudara kamu .... Tega sekali kamu, Putri ...." kata mamanya yang tentu memarahi anaknya.
"Ada teman kami yang berbohong tentang Melian kepada saya. Saat saya tanyakan, Melian marah pada saya .... Dan pagi harinya, Melian sudah pergi dari kamar." jawab Putri yang tentu masih takut.
"Sekarang Melian tinggal di mana? Kita susul ke sana .... Dan kamu harus minta maaf pada Melian." kata mamanya lagi, yang tentu memaksa anaknya yang keliru itu untuk meminta maaf. Orang tua Putri memang orang baik, maka ia ingin anaknya bertanggung jawab dan harus berani meminta maaf jika bersalah.
"Putri kurang tahu presis, Ma .... Hanya menurut cerita teman-teman, saat ini Melian tinggal di pemukiman kumuh tempat para pemulung di Sungai Ciliwung, Ma ...." jawab Putri yang memang belum tahu tempatnya.
"Hah ...?! Melian tinggal dengan para pemulung di gubug kumuh ...?! Keterlaluan kamu, Putri ...!" tentu mamanya Putri langsung merah wajahnya. Ingin rasanya menampar anaknya sendiri. Beruntung wanita setengah baya itu masih sanggup menahan emosinya.
Sementara Putri semakin menunduk ketakutan. Dan tentunya, tisu ditangannya langsung mengusap air mata yang mulai menetes.
"Ayo ...!! Sekarang kita cari Melian ...!! Kamu kok tidak punya rasa kemanusiaan pada temanmu sendiri ..!" kata mamanya Putri tersebut yang langsung menyeret tangan anaknya, menuju ke mobil yang disewanya.
"Bawa semua .... Nanti kamu harus kembali makan bersama Melian!" kata mamanya.
Putri tidak bisa mengelak. Ia tak sanggup membantah apa yang dikatakan mamanya. Ia menurut saja. Yang tentu masih diselimuti rasa takut dan sedih. Dan tentunya, malu saat nanti harus bertemu Melian.
Dua perempuan ibu dan anak itu sudah masuk ke dalam mobil sewaannya. Mobil avanza warna telor bebek yang masih sangat baru saat itu. Duduk berdua di kursi tengah.
"Diantar ke mana, Bu ...?" tanya laki-laki yang menyopiri mobil sewaannya itu.
"Ke bantaran Sungai Ciliwung, Pak .... Di pemukiman kumuh tempat gubug-gubug para pemulung di sana ...." jawab Putri yang mendengar tempat Melian berada dari dosen maupun teman-temannya.
"Oo .... Ke Kampung Transformer .... Siap ...." kata sopir itu yang melai menjalankan mobilnya.
"Gubug-gubug para pemulung, Pak ...." kata Putri lagi menegaskan tempatnya. Bagi Putri belum pernah mendengar sebutan "Kampung Transformer".
"Iya, Neng ...." jawab sang sopir itu lagi yang sudah tahu maksudnya. Ia langsung melaju terus di jalan raya menuju arah bantaran Ciliwung yang kini sudah menjadi pembicaraan di kalangan para sopir pengantar wisatawan.
Sementara itu, di kursi tengah, Putri terus dimarahi oleh mamanya. Tentu selalu menyalahkan anaknya yang kurang bisa mengendalikan emosi dirinya. Dimarahi karena Putri dianggap tidak mau mengalah dengan Melian. Dan yang paling tidak bisa diterima oleh mamanya, kini Melian harus tinggal di pemukiman kumuh. Itu pasti sangat menyedihkan.
Sopir mobil sewaan itu akhirnya sudah sampai di kawasan bantara Sungai Ciliwung. Mobil itu sudah masuk ke ke lapangan yang sudah diratakan. Dan di tempat itu sudah ada beberapa mobil yang terparkir. Ada tukang parkir yang mengatur. Menata mobil-mobil yang datang ke tempat itu.
Di dekat tempat parkir mobil itu, ada semacam gapura yang terbuat dari berbagai barang bekas. Tetapi tertata sangat bagus. Di gapura itu ada tulisan melengkung "Kampung Tranformer". Tentu Putri bingung. Kok tempatnya aneh. Ini semacam tempat wisata. Kok tidak sesuai dengan yang dikatakan oleh Kim Bo. Ia ragu-ragu. Mengikuti mamanya yang sudah turun dan tentu juga sudah dibukakan pintu oleh sang sopir.
"Benar tempatnya di sini, Pak ...?" tanya Putri pada sang sopir.
__ADS_1
"Iya, betul .... Ini tempatnya kampunya para pemulung di bantaran Sungai Ciliwung. Kalau bingung, kita tanyakan ke juru parkir itu, dia warga sini." kata sang sopir.
"Pak ..., apa benar ini kampung kumuh para pemulung itu?" tanya Putri kepada juru parkir.
"Betul, Neng .... Selamat datang di Kampung Transformer .... Silahkan masuk untuk lihat-lihat sambil berbelanja." jawab bapak-bapak yang menjadi juru parkir.
Putri dan mamanya pun masuk ke pemukiman kumuh itu, tentu dengan ragu-ragu. Kata Kim Bo, tempatnya gubug emplek-emplek yang tidak layak huni. Tapi kenyataan yang ia lihat, di pinggir kali ini sudah tidak ada gubug lagi. Tapi rumah-rumah sederhana dengan desain yang sangat bagus dan artistik. Memang ada tempat penampungan hasil rongsok. Tetapi juga tidak kumuh. Kampung ini benar-benar tertata indah. Bahkan di tempat itu ada banyak pengunjung dengan pakaian bagus-bagus. Pasti wisatawan. Bahkan juga ada bule yang keliling sambil memotret semua yang dilihat. Benar atau tidak Melian tinggal di sini?
"Pak ..., mau bertanya .... Kalau di kampung ini, ada yang tinggal di sini bernama Melian?" tanya Putri yang didampingi mamanya, bertanya kepada salah seorang warga yang sedang memotong barang-barang bekas di rumahnya.
"Aaa .... Neng Melian tinggal di ujung sana. Rumah unik yang jadi tontonan para pengunjung. Dekat warung kreasi itu ...." jawab si bapak yang tentu sangat kenal dengan Melian sebagai penggerak kampungnya.
"Terima kasih, Pak ...." kata Putri bersama mamanya, yang langsung mempercepat jalannya untuk mencapai rumah yang ditunjukkan oleh si bapak tadi.
Memang benar seperti yang dikatakan oleh bapak yang ditanya tadi. Paling ujung terdapat rumah yang sangat unik. Rumah yang artistik dan aneh. Seperti kastil mini yang dihuni para peri. Tetapi cukup besar untuk sebuah rumah manusia normal. Rumah itu benar-benar menjadi onbyek kunjungan yang paling ramai. Terutama para wisatawan ini ingin tahu keunikan rumah itu, dan ingin tahu bahan yang digunakan untuk membuatnya. Semuanya berasal dari barang-barang bekas. Bahkan termasuk perabor yang ada di dalam rumah itu, juga terbuat dari barang bekas. Putri dan mamanya pun terkesima menyaksikan rumah unik tersebut.
"Maaf, Bang .... Abang tinggal di sini?" tanya Putri pada salah seorang pemuda yang berdiri di dekat rumah unik tersebut.
"Iya, betul ...." jawab pemuda itu.
"Mau tanya, Bang .... Abang kenal sama Melian ...?" tanya Putri lagi.
"Ya, pasti kenal, lah .... Dia gadis yang membangun kampung ini .... Ya, memang dibantu oleh para mahasiswa dari berbagai universitas .... Tapi ide, gagasan dan terwujudnya semua bangunan di Kampung Transformer ini tidak lepas dari Cik Melian. Bahkan nanti ada rencana wisata pinggir sungai, yang belum selesai pengerjaannya." jawab pemuda itu.
"Hah ...?! Berarti semua ini yang membangun Melian ...?!" tanya mamanya Putri. Tentu sekarang wajahnya berubah menjadi hingar bingar. Gembira mendengar kabar itu.
"Iya, Bu .... Tanpa Cik Melian, mungkin tempat ini masih berupa gubug-gubug kumuh. Beruntung tempat kami mendapatkan kiriman seorang dewi dari kahyangan." kata pemuda itu lagi yang membanggakan Melian.
"Eh, Bang .... Kalau saya mau ketemu Melian, ada di mana?" tanya mamanya Putri yang sudah tidak sabar ingin ketemu Melian.
"Hari ini tidak bisa, Bu .... Maaf, karena Cik Melian sudah dijadwalkan untuk kegiatan-kegiatan di beberapa tempat." jawab pemuda itu.
"Hah ...? Tidak bisa ketemu ...? Kalau misalnya kami menunggu dia pulang apakah bisa ...?" tanya mamanya Putri lagi.
"Saya tidak bisa menjawab, Bu .... Cik Putri tidak bisa diprediksi datang dan perginya. Itu saja ada banyak wartawan yang sudah menunggu dari kemarin, juga belum bisa ketemu." jawab pemuda itu.
"Kalau misalnya saya menunggu di sini, boleh tiduran di sini?" tanya mamanya putri lagi, yang tentu benar-benar ingin bertemu dengan Melian.
"Ma .... Putri ada kuliah, Ma ...." Putri langsung meprotes sikap mamanya.
"Kamu, sih .... Masak Melian yang baik seperti ini kok kamu masalahkan .... Coba lihat ini .... Semua orang pada kagum dengan apa yang sudah diciptakan oleh Melian. Kamu malah tidak mempedulikannya." kata mamanya yang tentu kembali marah pada Putri.
"Iya, Ma .... Putri minta maaf ...." kata Putri yang semakin merasa bersalah dengan Melian.
"Kamu kalau mau kuliah, sana pulang duluan .... Mama mau menunggu Melian sampai pulang .... Mau memintakan maaf kesalahan kamu .... Dasar ...!" mamanya langsung tegas ingin tetap menunggu Melian.
"Ih ..., kok Mama begitu ...?! Kok tidak sayang sama anaknya sendiri ...." Putri menyaut, yang tentu agak kecewa dengan sikap mamanya.
"Kalau Putri tidak mau meminta maaf pada Melian, maka Mama yang akan mewakili kamu .... Dosa itu, Put ...!" mamanya semakin marah.
"Iya, Ma ...." akhirnya, Putri tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terpaksa ia harus menemani mamanya untuk menunggu kedatangan Melian. Inilah akibat dari kesalahan yang harus segera ditebus, yaitu dengan meminta maaf.
__ADS_1
Semoga kunjungan orang tuanya mampu mengurai sebagian masalahnya.