GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 24: LEDAKAN DI KREMATORIUM


__ADS_3

    Peristiwa kecelakaan di depan Pasar Lasem, yang menelan korban tiga orang meninggal, yaitu saudara Babah Ho yang dari Semarang, membawa duka mendalam bagi keluarga besar Babah Ho. Belum selesai kesedihannya menyaksikan meninggalnya Cik Lan, kini mereka harus beralih meratapi tiga orang saudaranya yang benar-benar mengenaskan. Bagaimana tidak, untuk melihat wajah saudaranya saja sudah tidak bisa lagi karena kecelakaan itu sudah menghancurkan muka dari tiga orang yang terjepit kap mobil dan masih dihantamkan besi-besi truk secara kencang. Tentu saja bagian dada ke atas tiga korban itu remuk.


    Dengan kejadian itu, tentu keluarga Babah Ho beserta saudara-saudaranya yang rencananya masih akan tinggal di Lasem, akhirnya gagal. Mereka langsung mengantar jenazah saudaranya itu ke Semarang.


    Ya, setelah berembuk dengan polisi, ketiga korban kecelakaan itu langsung dibawa ke Semarang, dengan menggunakan mobil minibus layanan kematian dari Jasa Pangrupti Layon, yaitu jasa layanan yang mengurusi kematian.


    Mobil minibus kematian itu langsung mengangkut tiga jenazah korban kecelakaan keluarga Babah Ho tersebut. Mengantarkan jenazah langsung menuju rumah duka di salah satu rumah sakit di Semarang. Beberapa orang saudaranya ikut dalam minubus pengantar jenazah tersebut.


    Keluarga dan saudara-saudara Babah Ho pun mengikuti minibus pengangkut jenazah itu, berangkat ke Semarang. Yang lainnya ada yang naik mobil sendiri, ada juga yang menyewa mobil carteran. Termasuk Babah Ho dan istrinya juga ikut ke Semarang. Mereka harus kembali berduka dengan kematian tiga orang satu keluarga. Tentu sangat menyedihkan hati.


*******


    Tiga hari jenazah ayah, ibu dan anak itu disemayamkan di rumah duka milik rumah sakit di Jalan Citarum. Upacara pemberangkatan pembakaran jenazah sudah dimulai. Tiga orang, suami istri dan anak itu rencananya akan dikremasi. Mayat tidak dikubur, melainkan akan dibakar di tempat krematorium. Ya, kremasi merupakan pilihan bagi warga kota, seperti Semarang, karena biaya penguburan di kota besar sangat mahal. Belum lagi ongkos perawatan setiap tahunnya yang harus membayar kepada pengelola makam. Oleh sebab itulah, banyak orang-orang keturunan Tionghoa yang lebih memilih mengkremasi jenazah keluarganya jika dibandingkan untuk mengubur.


    Tentu banyak pelayat yang ikut. Bahkan ada anak-anak sekolah yang masih mengenakan seragam SMA. Sangat banyak. Mereka adalah teman dari anak laki-laki yang meninggal karena kecelakaan tersebut. Anak-anak SMA itu terlihat bersedih karena kehilangan temannya. Terutama yang anak perempuan, banyak yang menangis karena kehilangan teman tercintanya.


    "Uwiiiiiiing ......!!!"


    Mobil jenazah besar warna biru dari layanan jasa kematian sudah mendengungkan sirine. Pertanda akan berangkat. Mobil-mobil pribadi milik para pelayat langsung bersiap untuk mengikuti. Demikian juga sepeda motor yang akan ikut, sudah distater pemiliknya. Ada dua bus yang mengiring pemberangkatan jenazah ke tempat kremasi yang ada di Bukit Kedungmundu. Para pelayat yang tidak membawa kendaraan naik ke bus tersebut. Tempat kremasi itu tidak jauh dari kuburan Cina yang ada di Bukit Kedungmundu. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumah duka yang dikelola oleh rumah sakit. Iring-iringan itu pun berangkat menelusuri jalan kota.


    "Uwiiiiiiing ......!!! Tuuuut ..... Uwiiiiiiing ......!!"


    Sekitar tiga puluh menit, ambulan pembawa jenazah yang menderu membunyikan sirine akhirnya berhenti di sebuah bangunan kuno yang ada di pinggir Bukit Kedungmundu. Ya, itulah rumah krematorium yang dimiliki oleh yayasan kematian Kedungmundu. Di tempat ini tiga jenazah anak dan orang tuanya akan dikremasi. Petugas layanan jasa kematian langsung membuka pintu belakang. Selanjutnya mengangkat peti masuk ke ruang kremasi. Tiga peti akan dibakar secara bersama.


    Bagian depan rumah kremasi ini hanya berupa gedung terbuka tanpa ada pagar, tanpa ada kursi. Ya, tempat ini disediakan untuk para pengantar jenazah yang akan dikremasi. Hanya berdiri saja waktu menunggu hasil kremasi. Kalau mau para pengantar ini duduk, biasanya pihak keluarga yang berduka menyewa kursi sendiri.


    Namun kali ini tidak ada kursi. Maklum, yang meninggal tiga orang sekaligus dalam satu keluarga. Saudara yang ditinggalkan mungkin tidak siap segalanya. Makanya orang pelayat yang sampai ke tempat krematorium itu hanya berdiri saja. Tidak hanya di ruang tunggu itu saja, tetapi juga banyak pelayat yang berdiri di luar gedung, bahkan ada pula yang duduk-duduk di bongpay.


    Tetapi pihak keluarga yang berduka, mereka banyak yang mendekat ke tempat pembakaran mayat. Tentu karena mereka ingin menyaksikan secara langsung proses kremasi saudaranya itu. Terutama adalah keluarga dari Babah Ho, yang benar-benar merasa kehilangan dan menyaksikan tragisnya kecelakaan saat terjadi.


    Tidak ketinggalan, laki-laki gemuk dengan istrinya yang pernah mengusir Jamil dan Juminem saat akan menyerahkan Melian. Ya, saat itu dua orang ini mencaci dan memaki, mengata-katai Jamil dan Juminem dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati Jamil dan Juminem. Dua orang suami istri ini sangat memandang rendah dan menganggap Jamil dan Juminem serta bayi yang dibawanya itu sebagai orang jelek dan menjijikkan.


    Kini dua orang itu berada di tempat paling depan. Mereka ingin menyaksikan secara langsung bagaimana saudaranya itu dikremasi. Tentu ia ingin melepas kepergian arwah saudaranya itu lewat pembakaran mayat. Ia ingin melihat asap yang mengepul itu mengkin membawa arwah saudara-saudaranya. Tentu mereka sangat kusuk memandapi ruang kremasi tersebut. Perasaan mereka hanyut dalam bayang-bayang asap yang mengepul dari tungku krematorium.


    "Koh ...!! Cik ...!! Jangan dekat-dekat ....!!!" teriak petugas kremasi. Petugas itu tentu berteriak keras karena suara gemuruh dari api yang ada di ruang kremasi sangat keras.


    Ya, meskipun krematorium yang ada di Bukit Kedungmundu ini sudah termasuk bagus dengan peralatan yang baik, namun petugas tetap melarang pelayat mendekat. Hal ini demi keamanan. Dan suhu panas dari dalam ruang pembakaran itu kurang baik untuk tubuh. Bahkan asap yang keluar pun juga tidak baik untuk kesehatan. Demikian juga suara gemuruh yang memekakkan telinga.

__ADS_1


    Orang-orang mulai mundur menjauh. Memang di dekat tempat itu terasa panas. Maka mereka pun mencari tempat yang nyaman.


    Namun apa yang diteriakkan oleh petugas untuk meminta mundur, rupanya didengar berbeda saat masuk ke telinga dua orang suami istri itu. Yang mereka dengar justru kebalikannya. Ia merasa justru diteriaki oleh petugas untuk disuruh mendekat.


    "Ya, terima kasih .... Ini saya mau mendekat lagi ...." kata laki-laki gemuk berkulit putih itu.


    Keduanya, laki-laki gemuk dan istrinya itu langsung melangkah maju, mendekat pintu ruang kremasi.


    Jangan mendekat ...!!" petugas itu mengulangi teriakannya, melarang dua orang itu mendekat.


    "Ya ....! Ini sudah mendekat ....!" kini ganti yang perempuan paras cantik itu yang berteriak menjawab.


    Lagi-lagi, apa yang dikatakan oleh petugas kremasi malah didengar terbalik oleh pasangan suami istri tersebut. Mereka justru melangkah lagi untuk lebih mendekat.


    "Oeee .....!!! Jangan mendekat ....!!!" petugas kremasi itu berteriak lebih keras, sambil melambaikan tangannya meminta dua orang itu pergi dari tempatnya berdiri.


    Entah apa sebenarnya yang dirasakan, didengar maupun dilihat oleh pasangan suami istri setengah baya itu. Mereka tidak menggubris larangan petugas, tetapi justru maju lagi mendekat pintu. Dan bersamaan dengan dua orang itu melangkah mendekat ke pintu, tiba-tiba ....


    "Dhuaaaar ........!!!"


    Ada ledakan dari dalam ruang kremasi. Ledakan yang sangat kuat. Saking kuatnya ledakan dari ruang kremasi itu, pintu ruang kremasi ikut terhantam dan jebol dan terpental. Bersamaan dengan jebolnya pintu, keluar api besar menjilat-jilat. Sangat menakutkan.


    "Eeee ....!!!"


    "Waduh .... Apa yang terjadi ...?!"


    "Gimana ini ...?!"


    "Koh Han sama istrinya bagaimana ...?!"


    "Huk ..., huk ..., huk ...."


    "Ada apa ...?!"


    Orang-orang langsung panik. Yang ada di depan ruang kremasi langsung lari berhamburan. Demikian juga yang ada di tempat tunggu. Mereka takut.


    Namun para pelayat yang ada di luar gedung, yang ada di pekuburan, yang tadinya duduk-duduk di bongpay, meskipun mereka juga kaget, mereka justru berlari ke arah suara ledakan. Ingin tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


    Sesaat setelah ledakan, api dan asap menghilang. Suasana terkendali.


    "Tolooong ...!! Tolooong ...!!" teriakan pegawai krematorium.


    Beberapa orang laki-laki langsung datang siap untuk membantu. Sedangkan yang perempuan masih menjauh dari gedung. Apalagi keluarga Babah Ho, mereka sudah ketakutan dengan semburan api yang besar tadi.


    "Ada apa?" tanya orang yang sudah sampai di depan pintu.


    Terlihat pintu ruang yang sudah lepas terlempar jauh. Betapa dahsyatnya ledakan itu.


    "Ini .... Ada korban ...." kata pegawai itu sambil menunjuk dua orang yang tergeletak di depan pintu yang sudah menganga itu.


    "Hah ...?!"


    "Waduh ...."


    "Ayo langsung dibantu ...!"


    Beberapa orang sudah datang untuk membantu. Dua orang itu sekujur tubuhnya gosong tersembur api dari ruang kremasi yang meledak.


    "Orangnya terbakar ...!" teriak salah seorang yang ada di situ.


    "Lhoh ...?!"


    "Parah ...!"


    "Pingsan ...!"


    "Yang satu masih bisa melihat ...!!"


    "Waduh ...."


    "Ayo cepat ditolong ...!"


    "Langsung dibawa ke rumah sakit ...!"


    "Ambulannya belum pulang, kan ...?! Langsung saja pakai ambulan ke rumah sakit ...!"

__ADS_1


    Akhirnya, dengan digotong menggunakan meja dorong milik ambulan, yang biasanya dibakai untuk mengangkat jenazah, dua orang suami istri itu langsung dibawa ke rumah sakit.


    Ya, laki-laki gemuk putih, yang oleh saudaranya dipanggil Koh Han itu bersama istrinya mengalami luka bakar yang sangat parah. Sekujur tubuhnya terbakar api. Bahkan rambut dan pakaiannya semua terbakar. Kulitnya gosong semua. Tidak hanya gosong, tetapi juga sudah pada terkelupas mengerikan. Bau sangit dan amis dari kulit dan darah yang terbakar sangat menyengat. Kasihan sekali orang itu.


__ADS_2