
Sore itu setelah ashar, habis memandikan Melian, Juminem mengajak anaknya duduk di depan rumah, sambil menunggu suaminya pulang. Tentu Juminem sambil bersenandung mendendangkan tembang untuk anaknya. Melian pun terlihat senang dengan senyum-senyum yang selalu menempel di bibirnya.
Dan Jamil pun pulang dari kerja dengan mengendarai motor bututnya.
"Hore .... Pak-e pulang ...." kata Juminem sambil menggerakkan tangan Melian, seakan menyambut kedatangan Jamil.
"Melian .... Sayangku ..., manisku ..., cantikku .... Kucik ..., ucik ..., ucik .... Uchm ..., uh ..., uhm ...." Jamil langsung menggoda Melian yang dipangku istrinya. Tangannya langsung mencolek pipi Melian, bayi yang diharapkan akan menjadi anaknya. Tentu Jamil juga sangat sayang dengan bayi cantik tersebut. Bayi yang sudah lama sangat dirindukan bisa menghiasi dan meramaikan rumahnya.
"Eh ..., Kang .... Mandi dahulu ...." kata Juminem yang mengingatkan suaminya.
"Ya ...." sahut Jamil yang segera menuju sumur untuk menimba air.
Juminem mengikuti langskah suaminya. Sambil membopong Melian ia menyampaikan pesan yang tadi siang dikatakan oleh pegawainya Babah Ho.
"Kang ..., tadi ada pegawai Babah Ho yang datang kemari ...." kata Juminem.
"Terus ....?" tanya Jamil yang sebenarnya kaget mendengar berita itu.
"Ya, saya bilang kalau Kang Jamil masih kerja ...." jawab Juminem.
"Terus ....?" tanya Jamil lagi.
"Ya, saya bilang nanti kalau Kang Jamil sudah pulang, kami mau ke rumah Babah Ho ...." jawab Juminem lagi.
"Berarti ...?" lagi-lagi Jamil bertanya sambil tetap menimba air.
"Ya ..., nanti kalau Kang Jamil sudah selesai mandi, ganti pakaian yang baik, kita terus ke rumah Babah Ho .... Nganter Melian .... Katanya Babah Ho kangen sama cucunya. Gitu, Kang ...." jawab Juminem.
Jamil diam tiadak menjawab. Tetapi juga diam tidak melanjutkan menimba air. Tangannya yang masih memegangi tambang timba terhenti. Matanya menerawang jauh. Bukti kalau Jamil agak berat jika diminta datang ke rumah Babah Ho. Ia masih ingat waktu diusir oleh keluarga Babah Ho. Betul-betul menyakitkan hati.
"Gimana, Kang?" tanya Juminem.
"Ya ...." sahut Jamil yang tentu dengan rasa masih sakit hati.
"Ya, sudah .... Kalau begitu saya akan siapkan uborampenya ...." kata Juminem yang langsung meninggalkan suaminya, untuk menata barang bawaannya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Jamil pun bersiap mengajak istrinya untuk mengantarkan Melian ke rumah Babah Ho.
"Sudah siap, Jum ...?" kata Jamil yang menghampiri istrinya di teras rumah.
"Sudah, Kang ...." jawab Juminem.
"Barang bawaannya ...?" tanya Jamil.
"Sudah, Kang .... Ini ..., cuman bawa dot sama pakaian, ganti untuk Melian." jawab Juminem sambil menunjukkan tas kresek yang dicangkingnya.
"Kita berangkat sekarang ...." kata Jamil yang langsung menyetater motornya.
Juminem langsung naik ke boncengan, sambil menggendong Melian.
"Ma ..., ma ..., ma ...." begitu suara Melian yang terlihat senang saat mau dinaikkan motor. Tentu ia bergerak ingin berdiri di jok motor, tidak mau digendong. Pasti ingin melihat suasana jalanan.
Ya, namanya anak kecil yang pintar, kemauannya banyak. Rasa ingin tahunya juga banyak. Kata-kata Ma ... ma ... ma .... pun terucap terus menerus saat ia berdiri di jog motor, yang dijepit antara Jamil dan Juminem.
"Pegangan Jum ...." kata Jamil yang mulai menjalankan motornya.
"Iya, Kang ...." sambil memegangi Melian, Juminem merangkul suaminya.
__ADS_1
Tidak ketinggalan, Melian juga sudah memegang pundak Jamil.
"Ke mana, Mil ...?" tanya tetangga saat berpapasan.
"Ke rumah Babah Ho .... Ngantar Melian ...." sahut Jamil sambil terus melajukan motornya.
"Hati-hati ...!" kata tetangganya itu lagi.
"Ya ...." sahut Jamil.
"Kemana, Jum ...?!" sahut tetangga perempuan yang ada di pinggir jalan.
"Ke rumah Babah Ho .... Ngantar Melian ...." sahut Juminem sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati ...!" kata tetangganya itu lagi.
"Ya ...." sahut Juminem.
Tentu Melian masih terus bicara dengan kata ma ...ma ...ma ...ma.
Ya, orang-orang se kampung sudah tahu tentang anak yang ditemu oleh Juminem itu. Bahkan juga paham kalau Melian adalah cucu Babah Ho. Jamil dan Juminem sangat jujur. Tidak perlu ditutup-tutupi tentang keadaannya yang sudah lama belum punya anak. Maka dengan kehadiran Melian itu, Juminem dan Jamil pun hanya mengatakan kalau ia hanya sekadar momong cucunya Babah Ho, karena ayah dan ibu Melian yang sudah meninggal dunia.
Orang-orang kampung, para tetangga Jamil dan Juminem pun ikut senang. Tentunya senang melihat Juminem dan Jamil terlihat bahagia karena bisa momong anak. Apalagi anak perempuan yang cantik. Tetapi para tetangga pun hanya tahu kalau cucu Babah Ho itu hanya dititipkan saja. Tidak masalah, yang penting rumah Juminem kini sudah ramai dengan adanya kehadiran anak kecil yang bisa ditimangnya.
Perlahan tapi pasti. Motor Jamil sudah sampai di depan rumah Babah Ho. Jamil pun menghentikan motor itu di halaman rumah Babah Ho.
Juminem sudah turun, lantas membenarkan selendang yang tadi ia gunakan untuk menyelimuti Melian. Sambil membopong Melian, Juminem melangkahkan kaki menuju teras rumah Babah Ho.
Demikian juga Jamil. Setelah memarkirkan motornya, melangkah di sisi istrinya. Tentu dengan perasaan berdebar.
Dua orang itu tiba-tiba berhenti, di bawah undak-undakan lantai teras. Mereka teringat saat dicaci maki oleh keluarga Babah Ho, sesaat sepulang mengantarkan penguburan jenazah Cik Lan. Rupanya kata-kata hujatan itu masih tersimpan di hati Jamil maupun Juminem.
"Tidak usah takut, Jum .... Kita datang baik-baik kok ...." sahut Jamil menenangkan istrinya. karena ketakutan akan terjadi seperti dulu.
"Iya, Kang ...." kata Juminem yang justru menempelkan dirinya di tubuh Jamil.
"Permisi ...." Jamil uluk salam.
"Ya ..., sebentar ...." terdengar suara perempuan dari dalam rumah. Pasti itu suara istri Babah Ho.
Sebentar kemudian keluar dari pintu rumah, seorang wanita yang mengenakan daster kain batik, sudah lumayan tua tetapi raut cantiknya masih terlihat. Ya, istri Babah Ho atau oleh orang-orang sering dipanggil Cik Jun.
"Sini ..., kemari .... Duduk sini dulu ...." kata wanita itu menyuruh Jamil dan Juminem duduk di kursi teras, lantas perempuan itu masuk ke dalam rumah lagi, memanggil suaminya, "Kong ...!" begitu teriaknya.
"Ya ..., terima kasih." kata Jamil yang membantu Juminem naik tangga trap teras rumah Babah Ho.
Juminem menurut gandengan suaminya. Lantas duduk di kursi karet yang ada di teras itu. Hilang sudah rasa takutnya, yang dari tadi terngiang dalam ingatan, peristiwa sekitar seminggu yang lalu saat ia diusir secara kasar dan menyakitkan hati.
"He ..., he ..., he ...." lelaki tua berambut putih, mengenakan baju putih lengan pendek serta memapai celana olah raga pendek warna abu-abu, keluar dari pintu rumah dan langsung menuju ke tempat Melian dipangku oleh Juminem. Dia adalah Babah Ho, yang tentu sudah kangen dengan cucunya.
Yang wanita, istri Babah Ho juga mendekat ke situ. Tetapi membawa kursi bundar dari kayu dengan kaki besi. Maklum kursi di teras sudah pas untuk duduk tamu dan suaminya.
"Ini Melian, Kong ...." kata Juminem yang langsung menjunjung Melian untuk diberikan kepada Babah Ho.
"He ..., he ..., he .... Me Me ...." kata Babah Ho, tetapi tidak jadi mengangkat cucunya. Hanya menyentuh pipinya saja sambil tertawa terkekeh.
Sedangkan Cik Jun, istri Babah Ho, nenek Melian juga mendekat. Tetapi juga tidak mau menggendong.
__ADS_1
Tentu Juminem bingung. Jauh-jauh diantarkan, katanya kangen, tetapi dua orang tua kakek dan nenek ini kenapa kok tidak mau menggendong atau setidaknya sekadar memangku cucunya?
"Haiya .... Owe cuman mau bilang sama situ olang .... Jamil, ya ...?" kata Babah Ho.
"Iya, Kong ...." sahut Jamil.
"Tolong lu olang lawat si Melian ..., ya ...." kata Babah Ho melanjutkan.
"Bagaimana, Kong ...? Saya kurang paham maksudnya?" tanya Jamil.
"Kang Jamil, Mbakyu Juminem .... Gini, lho .... Kami ini kan repot ngurus kios di Pasar Lasem .... Tentu bingung kalau ditambah harus momong Melian. Sementara saudara-saudara kami masih berduka. Kemarin dari sini mau pulang, itu ada yang kecelakaan, sekeluarga meninggal tiga orang .... Jadi kami ini mau minta tolong Kang Jamil dan Mbakyu Juminem mau membantu kami momongkan Me Me ...." jelas si nenek.
"Tapi, Cik .... Saya kan kerja ...." sahut Jamil.
"Nanti saya bayar .... Untuk makan, pakaian, susu .... Semua kebutuhan Me Me, saya beri. Kamu juga saya bayar. Idep-idep kamu jadi tukang momong. Juminem sekarang kerja apa?" kata si nenek itu, dan menanyakan pekerjaan Juminem.
"Saya ikut jadi buruh menjahit krudung di tempatnya tetangga ...." jawab Juminem.
"Bayaranmu berapa?" tanya si nenek itu lagi.
"Borongan kok, Cik .... Sehari paling bisa dapat sepuluh ribu ...." jawab Juminem lagi.
"Nah ..., sekarang kamu tidak usah buruh jahit .... Kamu momong Me Me, saya bayar. Gampangnya kamu jadi pembantu saya untuk momong Me Me, tapi di rumahmu sendiri. Tahu maksudku?" kata si nenek itu.
"Iya, Cik .... Tidak apa-apa ...." jawab Juminem yang tentu senang mendengar kata-kata akan dibayar.
Jika Juminem langsung paham kalau dirinya disuruh momong Melian di rumahnya, tapi bagi Jamil mendengar hal ini justru bingung. Pasalnya dia itu datang ke rumah Babah Ho pengin mengembalikan Melian, tetapi lagi-lagi anak itu justru disuruh membawa pulang lagi, disuruh momong di rumahnya. Kok aneh. Ada apa sebenarnya?
Sebentar kemudian wanita tua istri Babah Ho itu masuk ke rumah, dan sebentar kemudian sudah membawa kantong bagor kecil yang penuh berisi barang.
"Ini nanti untuk kebutuhan hidup kamu dan Me Me .... Ini saya kasih beras, gula dan susu ...." kata si nenek itu, yang langsung menaruh bungkusan bagor kecil itu di depan Jamil.
"Terima kasih, Cik ...." kata Jamil.
"Sudah ..., sana pulang .... Nanti keburu malam jalannya gelap." kata wanbita itu lagi yang seakan ingin para tamunya itu cepat-cepat pulang.
"Lha ini, Melian saya bawa pulang lagi ...?" tanya Juminem yang berubah bingung.
"Iya .... Pokoknya Me Me kamu rawat di rumahmu .... Tidak usah khawatir, nanti tiap bulan saya bayar." kata si nenek itu yang sudah berdiri di pinggir teras, pertanda meminta Jamil dan Juminem segara pulang.
"Ya sudah ..., nyuwun pamit pulang dulu ...." kata Juminem yang langsung turun dari teras.
"He ..., he ..., he .... Dadah, Me Me ...." kata Babah Ho melepas kepergian cucunya.
Jamil mengangkat barang pemberian istri Babah Ho, bagor yang berisi sembako. Lantas menaruh dibagian tengah motornya. Selanjutnya menyetater motor itu dan meninggalkan halaman rumah Babah Ho.
Dengan rasa senang Jamil meninggalkan rumah Babah Ho. Demikian juga Juminem. Tidak hanya senang karena diberi sebagor sembako, tetapi yang paling menyenangkan adalah Melian yang disuruh merawat di rumahnya. Itu artinya Melian benar-benar akan menjadi anak dari mereka, walaupun hanya sekadar anak titipan.
"Kok aneh ya, Kang ...." kata Juminem di perjalanan.
"Aneh gimana?" tanya Jamil.
"Saya tidak tahu, Kang .... Tapi seperti ada sesuatu yang aneh yang tidak bisa saya pahami ...." kata Juminem.
"Bagaimana kamu bisa paham, SMP saja kamu tidak lulus .... He ..., he ..., he ...." sahut Jamil meledeki istrinya.
"Bukan itu, Kang .... Tapi sikap Babah Ho sama istriny pada Melian .... Katanya rindu sama cucunya, kok tidak ada yang mencium Melian .... Itu piye leh ...." sahut Juminem dengan logat Lasem.
__ADS_1
"Tidak apa-apa .... Ini yang namanya rezeki untuk kita. Kita belum punya anak, Tuhan memberikan anak kepada kita .... Iya kan ...." kata Jamil pada istrinya.
"Iya, ya ..., Kang .... Kita malah diberi anak cantik seperti ini .... Melian sayang .... Sayangku ..., manisku ..., cantikku .... Kucik ..., ucik ..., ucik .... Uchm ..., muach ...." sahut Juminem yang langsung menciumi Melian.