
Usaha Irul dan Indra dalam mengelola toko sembakonya semakin maju. Tokonya semakin laris. Dagangannya semakin banyak. Bahkan di bagian samping kiri rumahnya, sudah dibangun lagi untuk dijadikan gudang. Dan tentu jaringan usahanya semakin luas. Tidak hanya daerah Lasem. Tetapi pemesanan barang sudah sampai lintas provinsi, yaitu daerah Tuban dan Lamongan. Tentunya Irul mulai menambah karyawan dan armada untuk distribusi barang dagangan. Tentu Irul dan Indra semakin sibuk dengan pekerjaannya mengurusi toko sambako yang besar itu.
Siang itu, Toko Laris sangat ramai, benar-benar laris. Sehingga semua pegawai sangat sibuk. Sibuk meladeni pelanggan. Sibuk melayani pembeli. Bahkan juga pada sibuk mengirim barang pesanan. Tidak ada yang menganggur hari itu. Dari pagi hingga sore hari toko itu penuh sesak dengan orang belanja. Tidak hanya para pembeli yang berdatangan ke Toko Laris, tetapi juga dering suara telepon berkali-kali berbunyi. Tentu banyaknya pesanan lewat telepon.
Belum lagi truk box dari supplier atau pemasok, sales dan distributor, yang keluar masuk datang dan pergi silih berganti. Setiap hari halaman Toko Laris penuh dengan mobil box maupun truk pemasok barang dagangan. Kuli panggul keluar masuk gudang, menurunkan barang-barang dari truk dan memindahkan ke gudang. Bahkan juga ada truk yang mengangkut, mengambil barang dagangan untuk disetorkan lagi ke toko-toko di daerah Tuban dan Lamongan.
Demikian juga para pedagang kampung yang buka warung di rumahnya, banyak yang belanja di Toko Laris. Mereka kulakan untuk dijual lagi. Harganya berbeda dengan eceran. Bahkan kalau dibanding dengan pasar, harga barang-barang di Toko Laris lebih murah. Sehingga kalau dijual ereran masih bisa untuk banyak. Ya, Toko Laris memang agen. Sehingga banyak pedagang yang kulakan di toko itu.
Meski demikian, Irul maupun Indra sudah berjanji dalam diri mereka, tetap akan melayani para tetangga yang beli eceran. Tidak akan menolak siapapun yang akan berbelanja, walau hanya beli sedikit. Menurut cerita Irul, saat masih ikut Babah Ho, kita tidak boleh menolak rezeki sedikit apa pun. Karena dari yang sedikit itu, nantinya akan menghasilkan rezeki yang banyak. Bahkan Irul juga sudah memesan pada istri dan adik-adiknya, seandainya sampai ada tetangga yang hutang beras karena memang tidak mampu untuk makan, harus diberi. Tidak boleh hutang, tetapi diberi beras secukupnya. Dan tentu, Indra maupun adik-adiknya, jika menemui tetangganya yang mengatakan mau hutang beras untuk makan, mereka justru menambahi barang kebutuhan lainnya, seperti telur, minyak dan gula. Setidaknya, itu adalah amalan yang perlu dibagikan kepada warga yang tidak mampu.
Sudah barang tentu, para pembeli tidak akan ragu untuk berbelanja ke Toko Laris. Dan yang pasti, para tetangga Irul yang ada di sekitar tokonya, mereka selalu berbelanja di tempat Toko Laris. Bukan sekadar karena murahnya, tetapi para tetangga ini sudah merasa banyak berhutang budi kepada Irul maupun Indra. Saat mau lebaran saja, warga satu RT diberi sembako semua. Walau hanya berupa beras lima kilo, minyak dan gula. Tetapi itu sudah merupakan kebaikan yang dicatat oleh para tetangganya.
"Kita tidak akan rugi dengan membagikan sedikit harta milik kita kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Harta ini hanyalah titipan dari Tuhan Yang Maha Memiliki. Jika orang yang dititipi itu amanah, murah hati dan baik kepada sesama, maka Tuhan akan menggelontorkan rezekinya kepada kita tanpa pakai hitung-hitungan." begitu ucapan Irul yang melekat di benak istri dan adik-adiknya.
Kenyataannya, meskit Irul maupun Indra selalu berbagi kepada para tetangganya, kepada orang yang membutuhkan, bahkan jika ada orang yang belanja sembako bilang mau hutang malah diberi, barang-barang dagangan Toko Laris tidak habis, justru terus bertambah dan bertambah, sehingga semakin banyak. Pembelinya pun semakin banyak dan semakin luas ke berbagai daerah. Dan yang pasti, untungnya juga semakin besar.
Namun tentunya, yang namanya harta benda dan kekayaan, pasti selalu diiri oleh banyak orang. Terutama orang-orang serakah yang hidupnya kadonyan, yaitu orang yang hanya memikirkan harta benda. Serakah disebut juga tamak, yaitu sikap tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dicapai. Tamak itu wujud cinta kepada dunia atau harta benda terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar. Karena ketidakpuasannya itu, segala cara yang tidak benar pun akan ditempuh. Orang-orang serakah ini, kalau dipercaya akan berkhianat. Kalau ia jadi pejabat pasti akan korupsi. Dan kalau ia orang bawahan, pasti akan mencuri. Ciri-ciri orang tamak atau serakah dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari, misalnya, tidak mensyukuri nikmat yang telah dimiliki, selalu merasa kurang padahal ia sudah banyak mendapat nikmat, ingin memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain, suka menghayal dan tidak realistis tentang harta kekayaan, kikir atau pelit dan tidak mau hartanya berkurang sedikitpun, terlalu mencintai harta yang dimiliki, semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi atau harta benda. Biasanya pula, orang-orang semacam ini selalu ngatok atau mencari muka pada atasannya. Tetapi menginjak bawahannya. Tega memakan harta atau barang milik orang tuanya sendiri, apalagi milik orang lain.
Siang itu, waktunya saat istirahat siang. Bagi orang Lasem, begitu mendengar bedug masjid yang dipukul, pertanda waktunya menjalankan ibadah, maka orang-orang muslim akan pergi menunaikan kewajibannya. Walau hanya sepuluh menit, mereka akan meluangkan waktunya untuk berserah diri pada Sang Khalik.
Toko Laris pun mulai pada beristirahat. Ada yang sembahyang, ada pula yang langsung makan siang. Termasuk para pembeli yang sadar diri, mereka akan memaklumi dengan rutinitas yang wajib dilakukan itu. Meski ada juga pembeli yang sering memaksa untuk tetap dilayani. Tentu alasannya sudah tergesa-gesa dan harus cepat.
Siang itu, sebuah mobil truk box tiga perempat, yang lumayan besar, masuk ke halaman Toko Laris. Mobil itu langsung menempatkan diri, parkir di depan pintu gudang. Seakan truk box itu mau menurunkan barang-barang ke gudang. Kebetulan suasana sedang sepi krena pada istirahat. Tidak ada truk barang yang parkir, juga tidak ada mobil-mobil pembeli. Hanya ada tiga motor yang terparkir di situ, yaitu motor-motor prngantar barang. Tetapi para karyawan toko itu masih pada istirahat. Ada yang ke masjid dan ada pula yang makan siang. Hanya Indra dan Nur, adik iparnya yang berada di toko.
"Nur ..., kok itu ada truk box barang datamg lagi? Apa masih ada pemasok yang belum masuk?" tanya Indra pada adik iparnya, yang juga mengurusi barang masuk.
"Klihatannya yang hari ini kok sudah masuk semua ya, Cik ...." sahut Nurjanah yang sejak pagi sudah menerima barang.
"Lhah ..., terus ..., itu truk box mau ngapain?" tanya Indra lagi.
Namun tiba-tiba, ada lima orang laki-laki yang wajahnya ditutup dengan topi penutup muka, hanya kelihatan bagian matanya saja, masuk ke toko itu. Indra dan Nurjanah kaget. Dan tentu ketakutan menyaksikan orang-orang yang bertopeng topi penutup wajah itu datang dengan mengacungkan senjata tajam. Pasti orang-orang ini akan merampok.
"Tolooooong ........!!!!" Indra sempat menjerit minta tolong.
"Diam ...!!! Jangan bergerak ...!!! Atau golok ini yang akan merobek mulutmu ...!!!" dua wanita itu langsung dibentak oleh salah seorang dari perampok itu sambil mengacungkan golok kepada dua wanita yang ketakutan itu.
Indra dan Nurjanah langsung gemetar. Ngoplok sekujur tubuhnya karena ketakutan diancam dengan golok besar dan sangat tajam. Ia tidak berani melawan, dan tidak berani apa-apa lagi.
"Mana kunci gudangnya ....?! Serahkan ...!!!" laki-laki bertopeng yang mengancam dengan golok itu memaksa meminta kunci gudang.
Indra dan Nur saling pandang dan ketakutan.
__ADS_1
"Cepat serahkan .......!!!! Atau mau aku bunuh ......!!!" kata perampok yang mengancam itu.
Karena ketakutan, Nur menyerahkan kunci gudang yang ada di kantongnya. Begitu tangan Nur mengeluarkan kunci, langsung direbut oleh perampok yang mengancamnya itu.
"He ..., ini .... Kunci gudangnya .... Angkut semua barang ...!!! Gerak cepat .......!!!" kata perampok itu sambil memberikan kunci pada perampok yang lain.
Tiga orang perampok langsung membuka gudang, mengangkuti barang-barang yang ada dan langsung dimasukkan ke dalam truk box.
Sedangkan perampok yang satu lagi ikut menodong penjaga toko, dan mengawasi situasi, kalau sampai ada masalah yang diluar dugaan.
"Heh ...! Kamu jaga yang ini ...." kata perampok yang menodongkan golok itu.
"Lha terus ..., kamu mau ke mana ....?!" tanya temannya yang juga memegang golok besar, pasti ingin tahu.
"Hhhhmm .... Ini bagianku .... Hahaha ....." kata perampok itu yang memegang tangannya Indra, dan menyeret ke belakang.
"Tolooooong .........!!!" Indra langsung berteriak menta tolong, sambil berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh salah satu perampok itu.
"Diam ....!!!" bentak perampok itu sambil menempelkan mata pedang di dekat lehernya.
Perampok itu pun terus memegangi tangan Indra dan diseret ke arah belakang. Indra akan diperkosa.
"Nanti gantian, Bos ...! Hahaha ...." kata perampok yang masih menodongkan golok kepada Nurjanah. Ia pun sudah mencolek janggut Nurjanah, pertanda juga tergiur dengan godaan wanita. Bahkan tangannya langsung mampir ke leher, menarik kalung hingga putus. Lantas memasukkan kalung itu ke kantong saku celananya.
Di belakang tempat dagangan, perampok itu sudak menarik pakaian yang dikenakan oleh Indra. Ditarik hingga rok yang dikenakan Indra robek. Sehingga bagian tubuh bawahnya terlihat.
"Hahahaha ..... Hhmmmm ......Lplplh .... Cleguk ...." Perampok itu pasti sudah ngiler menyaksikan kemolekan korbannya.
Indra yang sadar kalau dirinya akan diperkosa, ia pun langsung menjerit-jerit minta tolong.
"Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!!" Indra berteriak berkali-kali meminta tolong. Harapannya akan ada orang yang mendengar dan akan menolongnya.
"Diam ....!!! Atau golok ini yang akan menutup mulutmu ...!!!" perampok itu sudah kembali mengacungkan goloknya ke wajah Indra.
"Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!!" namun Indra yang sudah kehabisan akal, kembali berteriak meinta tolong dengan suara yang semakin keras dan kencang.
"Diam ...!!!" sang perampok pun menjadi jengkel. Lantas menggerakkan goloknya, berniat mengancam. Golok itu seakan mau disabetkan ke tubuh perempuan yang akan diperkosanya.
Namun rupanya Indra juga berusaha ingin melepaskan diri dari genggaman perampok itu. Indra melawan semampunya. Meski ia kalah tenaga, kalah kuat dan kalah senjata. Tetapi Indra tidak mau konyol diperkosa oleh manusia-manusia biadab itu. Indra berusaha sekuat tenaga melawan perampok. Ia mulai menendang, mulai memukul, bahkan memberontak sekuat tenaganya.
"Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!!" dan yang pasti, Indra terus berteriak minta tolong.
__ADS_1
Perlawanan Indra itu mengakibatkan laki-laki perampok yang akan memperkosanya jadi gedandapan. Bingung untuk menenangkan suasana. Ia pun mencoba menggerak-gerakkan golok yang dipegang. Diobat-abitkan ke sana kemari. Tujuannya sebenarnya ingin menakut-takuti perempuan yang jadi korbannya itu. Agar perempuan itu takut, lantas diam dan menurut.
Namun hal lain terjadi. Indra yang merasa akan dilecehkan, menjadi korban perampokan dan pemerkosaan, maka ia tetap berusaha melawan. Indra seperti kesetanan. Menyaksikan perampok yang mengayunkan golok mengancam dirinya, Indra tidak menjadi takut, tetapi justru melawan perampok itu. Berkali-kali Indra menerjang sabetan golok, dan berusaha melawan perampok itu. Akibatnya, tangan Indra yang berusaha menangkis babatan golok harus terluka. Tidak hanya tangan, tetapi juga kaki, bahkan badannya juga. Tidak hanya satu luka. Tetapi banyak luka. Sekujur tubuh Indra terluka. Darah mengucur dari berbagai bagian tubuhnya. Dan akhirnya Indra jatuh, terkapar lemas, tergeletak di lantai.
Perampok yang akan memperkosa Indra, saat tahu korbannya luka parah tak berdaya, langsung berlari keluar.
"Lari ....!!!! Cepat lari ....!!!" perampok itu mengajak temannya untuk segera lari meninggalkan toko itu, dan langsung menuju ke mobil truk box yang masih diisi barang-barang rampokan.
"Ada apa ....??!!" temannya bingung, dan tentu langsung ikut berlari menuju truk.
"Cepat masuk ....!!!" orang itu menyuruh yang lain segera masuk ke box truknya.
"Belum selesai ...!!" sahut yang mengangkut barang dari gudang.
"Sudah ....!!! Ayo masuk semua ....!!!" laki-laki itu sudah menjalankan truknya, yang dari tadi sengaja mesinnya tidak dimatikan.
Truk perampok itu langsung melaju kencang meninggalkan halaman Toko Laris. Ngebut ke arah barat.
"Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!! Tolooooongng ......!!!!" Nurjanah berlari ke luar toko dan berteriak keras minta tolong kepada siapapun yang mendengarnya. Tentu sambil kebingungan.
Begitu mendengar teriakan Nur minta tolong, orang-orang langsung pada berdatangan, ingin tahu apa yang terjadi. Terutama para tetangga yang dekat dengan Toko Laris.
"Ada apa ...?!"
"Ada apa ...?!"
"Apa yang terjadi ...?!"
Orang-orang langsung menanyai Nur yang bingung dan menangis.
"Perampok ...." Nur hanya bisa mengucap kata perampok. Lantas lemas dan jatuh duduk di halaman toko.
"Walah .... Ada perampok ...?!"
"Mana perampoknya ...?!"
Nur diam saja, tidak bisa menjawab apa-apa. Lantas pingsan.
Beberapa orang langsung masuk ke toko. Begitu masuk ke dalam toko, mereka kaget, ada bekas tetesan-tetesan darah. Lantas orang-orang itu mencari asalnya. Diikuti jejak tetesan darah yang menempel di lantai. Hingga akhirnya, mereka dikagetkan.
"Hah ...??!! Cik Indra ............!!!!" beberapa orang menjerit, begitu menyaksikan tubuh Cik Indra yang terkulai tak berdaya di lantai, bersimbah darah yang teramat banyak.
__ADS_1
"Tolooooongng ......!!!! Cik Indra terluka parah ...!!! Tolooooongng ......!!!! Cik Indra terluka parah ...!!!" orang-orang yang menemukan Cik Indra langsung meminta tolong. Tentu agar Cik Indra yang bersimbah darah itu bisa segera ditolong.