
Masih sangat terlalu pagi untuk bangun tidur, tetapi Cik Indra sudah bangun dan keluar dari kamar. Tentu langsung menuju kamar kecil. Ada dua kamar kecil yang berjejeran, tetapi yang satu pintunya tertutup dan lampu di dalamnya menyala. Berarti sudah ada yang menggunakan. Maka Cik Indra masuk ke kamar kecil yang satunya. Tentu untuk melepaskan beban dalam perutnya, dan tentu sambil bersenandung.
Setelah selesai, Cik Indra keluar. Kamar mandi di sebelahnya sudah kosong. Pintunya sudah terbuka dan la,punya sudah mati. Sudah tidak ada orang.
"Siapa yang ke kamar kecil tadi ...?" tanya Cik Indra dalam hati.
"Paling-paling Mas Irul ...." batin Cik Indra menjawab pertanyaannya sendiri.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Cik Indra ingin mencari tahu, siapa yang tadi barada dalam kamar mandi. Benarkah Irul? Maka langkah kakinya sudah terayun menuju ruang depan. Setidaknya keruang tamu yang katanya Irul semalam akan tidur di situ. Siapa tahu Irul sudah bangun dan masih duduk-duduk di ruang tamu itu. Maka ia langsung menengok ruang tamu. Tetapi rupanya Irul sudah tidak ada di situ. Ruang itu kosong tidak ada siapa-siapa. Hanya remang pagi saja yang mulai menerangi ruangan.
"Kemana Mas Irul?" Cik Indra bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah sejenak menoleh ke kanan kiri, ia melihat cahaya terang yang masuk. Cahaya dari luar rumah yang melewati pintu yang terbuka. Ya, pintu yang sering digunakan lalu lalang karyawan. Pintu yang semalam ia lewati untuk masuk.
"Mungkin Mas Irul sudah ada di luar ...." pikir Cik Indra.
Entah kenapa, kaki Cik Indra tahu-tahu sudah melangkah membawa tubuhnya ke pintu yang terbuka tadi. Dan ia keluar ruang melintasi pintu itu. Pasti langsung tengak-tengok mencari Mas Irul.
Benar. Cik Indra akhirnya menemukan Mas Irul. Ternyata Mas Irul sedang menyapu halaman perusahaan. Tentu agar terlihat bersih.
"Pagi, Mas Irul .... Ya ampun, rajin sekali .... Sini saya bantu." kata Cik Indra yang langsung menghampiri Irul dan meminta sapu yang dipegangnya.
"Tidak usah, Cik .... Ini pekerjaan saya .... Masak tamu kok nyapu .... Nanti tangannya lecet ...." Irul mencoba mengelak tidak mau dibantu.
"Ndak papa .... Aku sudah biasa nyapu, kok ...." sahut Cik Indra yang sudah mencoba meminta sapu dari tangan Irul.
"Ya ampun, Cik .... Jangan ...." tolak Irul yang merasa tidak enak.
"Ndak papa ...." Cik Indra masih mencoba meminta sapunya.
Akhirnya, tangan Cik Indra sudah memegang tangan Mas Irul, saat mereka berebut sapu. Irul yang bingung jadi bengong memandangi wajah Cik Indra. Tapi Cik Indra yang merasa berhasil meminta sapu itu, ia juga memandangi Irul sambil tersenyum manis.
Entah ada apa, akhirnya dua orang berlawanan jenis itu, perjaka dan perawan itu keduanya saling pandang yang mengisyaratkan ada getaran-getaran gelombang perasaan aneh. Cukup lama tatapan pandangan dua orang yang bak patung dengan tangan saling memegang gagang sapu.
"Mas Irul ...!" tiba-tiba terdengar suara panggilan yang mengejutkan.
"Iya, Melian .... Saya ada di sini ...!" jawab Irul yang langsung melepaskan gagang sapu yang dipegang oleh Cik Indra.
Namun ternyata, di saat yang sama, Cik Indra yang juga mendengar panggilan itu juga ikut melepaskan gagang sapunya. Tentu sapu itu terjatuh di lantai pelataran yang diplester tersebut.
"Klotak ...!" suara gagang sapu yang jatuh di lantai.
"Lho, kok sapunya di lempar ...." kata melian yang tiba-tiba sudah berada di samping Irul dan Cik Indra.
"Hehe .... Terlepas karena kaget ...." sahut Cik Indra yang merasa sudah melepaskan sapu.
"Yaampun .... Jadi Cik Indra yang menyapu?" tanya Melian lagi, yang tentu tidak akan mengijinkan cacik kostnya itu menyapu di pabrik bapaknya.
"Bukan .... Saya yang menyapu, kok. Cik Indra hanya pinjam sebentar." sahut Irul membantu menjawab.
"Melian ngapain panggil-panggil Mas Irul?" tanya Cik Indra yang sudah tenang kembali, sudah tidak salah tingkah.
"Mau tanya, itu warung soto kemiri di depan bukanya jam berapa? Untuk sarapan kita." kata Melian.
"Paling sebentar lagi .... Memang mau sarapan soto? Nanti kalau sudah buka saya pesankan." jawab Irul yang siap memesankan.
"Aku ikut ...!" spontan Cik Indra bersemangat mau ikut pesan, tentu karena Irul.
"Iih ..., Cik Indra .... Maunya ngikut Mas Irul saja ...." sahut Melian yang mengejek.
"Nggak, ya .... Aku cuman mau lihat soto kemiri itu kayak apa .... Hehe ...." sahut Indra sambil nyengenges.
Melian diam, dan kembali masuk. Rupanya ia tahu kalau Cik Indra mulai pendekatan dengan Mas Irul. Ia tidak ingin mengganggu. Biar saja ada cewek yang mendekati Mas Irul. Kasihan sudah tua belum menikah. Siapa tahu ini jodohnya. Setidaknya biar Mas Irul merasakan bagaimana berdekatan dengan cewek.
Benar seperti yang dikatakan oleh Irul, kalau warung soto kemiri di depan pabriknya, yang jadi langganan majikannya dan juga teman-temannya, terutama Melian, kini pintunya mulai dibuka.
"Maaf, Cik ..., saya mau ke warung soto itu dulu .... Mau memesankan sarapan untuk teman-temannya Melian." kata Mas Irul yang sangat sopan pada Cik Indra.
"Aku ikut ......." kata Cik Indra memanja, bahkan sudah memegang lengan Mas Irul.
Mau tidak mau, maka Irul harus berjalan beriringan bergandeng tangan dengan Cik Indra. Apalagi saat mau menyeberang jalan. Meski jalanan masih sepi, belum banyak motor, namun justru itu kesempatan untuk menggandeng, dengan alasan demi keselamatan menyeberang jalan.
"Uwih ..., Mas Irul sudah mau nikahan, ya ...?" belum juga masuk ke warung, masih berada di pintu, bakul soto kemiri itu sudah menanyai Irul dengan agak menggoda.
"Iya, Bu ...." tiba-tiba saja keluar jawaban dari perempuan yang masih menggandeng tangan Irul.
__ADS_1
Tentu Irul kaget dengan jawaban itu.
"Walaaaah, Mas Irul .... Cuantiknya nggak karuan ini calon istri Mas Irul ...." kata simbok penjual soto itu lagi.
"Ini teman-temannya Melian, ya .... Yang sekolah di Semarang itu .... Ini saya kemari mau memesankan soto untuk sarapan Melian sama teman-temannya ...! Ada-ada saja ...!" sahut Irul menepis kata-kata bakul soto itu. Tentu Irul sambil berusaha melepas genggaman tangan Cik Indra. Tetapi rupanya Cik Indra tidak mau melepaskannya. Tetap saja memegang lengan Irul, entah kenapa.
"Ooo .... Cik Melian pulang, to .... Kapan?" tanya bakul itu.
"Kemarin sore .... Sama teman-temannya ...." sahut Irul, yang tetap masih berusaha ingin melepas tangan Cik Indra dari lengannya. Tapi berkali-kali dilepas, Cik Indra sudah menggenggam lagi.
"Walah ..., Juminem mesti seneng iki .... Lha kok pagi-pagi sudah mau pesen soto?" tanya bakul itu.
"Ini Melian sama teman-temannya tidur di sini semua .... Di rumah Kampung Naga kamarnya kurang." jawab Irul.
"Ooo ..., pantesan gasik sekali .... Ini pesen sotonya berapa? Tambah lauk apa saja? Apa seperti biasanya Cik Melian?" tanya bakulnya.
"Sotonya empat .... Lauknya komplit untuk empat orang, seperti biasanya yang disukai Melian." jawab Irul yang tentu bingung.
"Pakai pongkrong sama sempol .... Tempe goreng sama bergedel .... Minumnya apa?" kata bakul soto itu lagi.
"Teh hangat saja .... Nanti kalau mau es, biar ambil di kulkas." sahut Irul.
"Oke, siap .... Nanti biar diantar .... Ini masalahnya sambil menata dahulu ...." kata si bakul soto itu.
"Nggih, maturnuwun .... Nanti suruh langsung bawa ke belakang, di meja dapur, ya .... Saya tinggal ...." kata Irul memesan pengantar.
"Oke, Mas Irul .... Tenang saja ...." sahut bakul itu yang masih sibuk menyiapkan dagangannya.
Irul kembali menyeberang. Tentu Cik Indra kembali memeluk lengan Mas Irul. Katanya demi keamanan saat menyeberang jalan. Namun bagi Irul, ia malu saat lengannya digandeng cewek yang sangat cantik itu, yang tentu sangat jauh dari angan-angannya. Bagai pungguk merindukan bulan.
"Uwih ..., uwih ..., uwih .... Cik Indra senangnya bisa bergandengan dengan Mas Irul ...." ejek teman-teman kostnya yang ternyata sudah pada bangun dan sudah berada di depan toko milik bapaknya Melian itu.
Tentu Cik Indra kaget dan langsung melepaskan genggaman tangannya pada lengan Irul.
"Eh, ini tadi aku takut nteberang, ya ...." kilah Cik Indra.
"Ehm .... Orang jalannya sepi gak ada kendaraan kok takut nyeberang. Di Semarang kendaraannya banyak, tapi gak takut nyeberang ...." ledek teman-temannya.
Tentu pipi Cik Indra langsung merona merah karena malu. Tetapi lagi-lagi, karena Cik Indra sudah dewasa, bahkan juga sudah bekerja, maka ia pandai mencari alasan. Ada saja yang dijadikan alasan. Namun pastinya, hatinya tidak bisa dipungkiri, entah kenapa tiba-tiba saja ada rasa aneh tentang dirinya dengan Mas Irul.
"Nanti akan diantar .... Saya suruh ngantar ke dapur." kata Irul yang langsung meninggalkan tempat itu, ingin membersihkan tempat yang lain.
"Makasih, ya ..., Mas Irul-ku Sayang ...." ledek Melian sambil melirik Cik Indra.
Dan sebentar kemudian, seorang perempuan bersama laki-laki agak tua yang mengantarkan soto sudah datang. Tentu membawa pesanan yang cukup banyak untuk makan empat orang. Satu baki dibawa yang perempuan berisi empat mangkok soto yang lengkap ada kecap, sambal dan irisan jeruk pecel. Sedangkan yang laki-laki membawa satu baki lauk pauk beserta minuman.
"Saya antar ke dapur ya, Cik ...." kata pengantar itu, yang sudah biasa meladeni Melian maupun karyawan-karyawan bapaknya. Bahkan kadang kala juga menyuguh tamunya.
"Iya, Yu .... Terima kasih ...." sahut Melian, yang tentu langsung mengajak teman-temannya ikut ke dapur.
Lantas, mereka pun langsung menikmati soto yang masih panas tersebut, beserta dengan lauknya yang di Semarang tentu tidak ada.
"Sotonya aneh, ya .... Tidak seperti soto di Semarang ...." celetuk Ivon.
"Ini namanya soto kemiri .... Sotonya pakai bumbu kemiri dan ada santannya. Ini soto khas Pati. Enak, kan ...?" jelas Melian pada teman-temannya.
"Ya, enak sekali .... Memang lauknya pakai model seperti ini?" tanya Vanda.
"iya .... Ini tempe yang digoreng kering, sehingga seperti kripik. Kalau ini namanya pongkrong ayam .... Asyiknya itu kalau nitili tulang-tulangnya. Rasanya enak. Cobalah ...." kata Melian yang langsung menyodorkan lauk-lauknya ke temannya.
"Nanti habis sarapan kita jalan-jalan, ya ...." kata Melian yang mengajak teman-temannya.
"Ke mana?" tanya Vanda ingin tahu.
"Kita ke TPI, pelabuhan ikan di Juwana .... Nanti kita bisa menyaksikan kapal-kapal nelayan yang merapat dan menurunkan ikan hasil tangkapan." jelas Melian yang tentu agar temannya tertarik.
"Asyik ...." sahut Ivon.
"Aku gak ikut, ya ...." tiba-tiba Cik Indra tidak berminat jalan-jalan.
"Ya .... Ini khusus jalan-jalannya anak sekolahan .... Yang sudah bekerja tidak usah ikut, tidak ada pelajarannya. Hehe ...." sahut Melian yang sudah tahu maksud dan tujuan Cik Indra. Apalagi kalau tidak ingin ngobrol bersama Mas Irul.
"Melian ...!" suara ibunya memanggil, dan langsung masuk menuju dapur. "Walah, sudah pada sarapan to ini? Tiwas Mak-e membawa nasi semur ...." Ibunya Melian langsung membuka tas plastik kresek berisi bungkusan nasi semur, yang sedianya untuk sarapan anaknya dan teman-teman Melian.
"Ndak papa, Mak .... Sini buat yang mau nambah ...." sahut Melian yang langsung membuka bungkusan.
__ADS_1
"Bagaimana tidurnya semalam?" tanya Juminem pada teman-teman anaknya.
"Nyenyak, Bu .... Bangun-bangun sudah keduluan matahari ...." sahut teman-teman Melian.
"Yah, di kampung yang keadaannya seperti ini .... Beda dengan di Semarang, yang ramai terus ...." kata Juminem mengisahkan keadaan Juwana yang sepi.
"Tapi saya malah senang, Bu .... Tempatnya nyaman dan tenang ...." kata Cik Indra yang pandai basa-basi.
"Ini nanti mau ke mana? Mau jalan-jalan, kan ...?" tanya ibunya Melian.
"Mau ke TPI, Mak .... Mau nonton nelayan menurunkan ikan. Sama mau lihat kapal-kapal yang berlabuh." jawab Melian.
"Ee, kalau mau ke pelabuhan, ya segera berangkat .... Mumpung masih pagi, kapal-kapal pada berdatangan .... Nanti siang sedikit sudah habis ikannya." suruh ibunya.
"Ya, Mak .... Ini kami segera berangkat. Kecuali Cik Indra yang tidak mau ikut .... Tolong nanti diawasi ya, Mak .... Hehe ...." kata Melian sambil mengejek Cik Indra.
"Uuh, dasar ...!" Cik Indra langsung mencubit Melian.
Mereka bertiga, Melian, Ivon dan Vanda, berangkat dengan naik becak. Satu becak dinaiki bertiga. Tetapi tidak masalah, anak masih kecil-kecil. Pak becak juga maklum. Toh jaraknya dekat dan jalannya juga datar. Jadi tidak berat. Becak itu langsung menuju pelabuhan TPI.
Sementara, Cik Indra yang tidak ikut, bisa berbincang dengan ibunya Melian. Dan yang tidak kalah penting, ia pura-pura bisa membantu Mas Irul bersih-bersih.
"Cik ..., tidak usah ikut bantu bersih-bersih .... Nanti malah kotor lho ...." larang Juminem pada Cik Indra.
"Tidak apa-apa, Bu .... daripada bengong ...." sahut Cik Indra.
"Biar dibersihkan Mas Irul .... Sudah biasa, kok ...." kata Juminem lagi.
"Memang Mas Irul itu masih saudara dengan Ibu?" tanya Cik Indra yang ingin tahu tentang Irul.
"Tidak. Rumahnya saja jauh. Dulu, Mas Irul itu pegawainya Babah Ho .... Engkongnya Melian. Lha dia itu yang sering mengantarkan sembako ke rumah, terutama ngirim susu untuk Melian. Maklum dari kecil Melian itu tidak punya orang tua. Sementara saya sama Kang Jamil itu hanya buruh. Dan waktu saya merawat Melian, otomatis saya tidak bekerja lagi. Jadi ya, nunggu kiriman bahan makan dari Mas Irul itu." kenang Juminem yang bercerita ke Cik Indra.
"Memang ibunya Melian meninggal saat Melian masih bayi, ya?" tanya Cik Indra yang sudah tahu kondisi Melian dari Mas Irul semalam.
"Iya .... Kasihan Melian itu. Beruntung anaknya baik, dan menerima apa adanya. Tidak pernah protes dan suka menolong. Dulu waktu sekolah SD dan SMP, teman-temannya banyak yang main ke rumah. Akrab semua .... Melian tidak mau membedakan warna kulit. Malah bapaknya itu yang dipanggil Cina hitam. Hehe ...." jelas Juminem.
"Mas Irul memang belum menikah ya, Bu ...?" tanya Cik Indra yang tentu juga ingin menelisik Irul.
"Ndak tahu itu .... Sudah umurnya kelewat kok tidak mau menikah. Katanya takut ...." sahut Juminem.
"Takut apa?" tanya Cik Indra penasaran.
"Ndak tahu .... Saya nggak berani nanya. Dia akrabnya dengan Melian. Coba saja nanti tanya Melian." jawab Juminem yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
Lantas Juminem pergi ke belakang lagi, menata tempat sarapan. Dan pasti menata barang-barang milik warung soto, agar tidak keliru dengan sendok, piring dan mangkoknya dapur sendiri.
Cik Indra sudah berada di luar. Tentu kembali ingin membantu Mas Irul yang masih bersih-bersih halaman. Pekerjaan rutin yang dilakukan oleh Irul setiap pagi.
"Mas Irul .... Sarapan dulu ..., itu ada nasi semur di meja dapur." kata Juminem yang menghampiri Irul di halaman.
"Nggih, Bu .... Terima kasih." sahut Irul sambil membungkukkan badannya.
"Saya pulang dahulu .... Tolong pintu pagarnya ditutupkan kembali." kata Juminem yang berpamitan, dan langsung naik becak yang tadi mengantarnya.
"Nggih, Bu ...." sahut Irul yang langsung melangkah menutup pintu pagar. Maklum hari Minggu pabrik dan tokonya tutup.
"Mas Irul ..., sana sarapan dulu ...." kata Cik Indra menyuruh Mas Irul agar sarapan.
"Iya, terima kasih ...." jawab Irul.
"Ayo, sarapan dulu .... Yuk aku temani ...." ajak Cik Indra lagi. Tangan Irul sudah digandeng diajak masuk.
"Iya ..., iya ...." akhirnya Irul pun kalah dengan gandengan tangan Cik Indra yang memaksa dirinya.
Kali ini, Mas Irul sarapan dengan ditunggui bidadari yang cantik. Tentu Irul sangat kikuk dan agak kurang nyaman. Apalagi Cik Indra duduk di kursi mepet dengan Mas Irul. Ditambah Cik Indra mengambilkan lauk dan menaruh di piring Irul. Tentu Mas Irul jadi grogi.
"Cik ..., saya bisa ambil sendiri ...." kata Irul yang sungkan.
"Gak papa .... Aku pengin meladeni Mas Irul kok .... Mau dibuatkan minum apa?" sahut Cik Indra yang entah kenapa, tiba-tiba saja seperti sudah sangat akrab dengan Irul.
"Yaampun, Cik .... Tidak usah .... Nanti saya bisa ambil sendiri ...." lagi-lagi Irul menjadi sangat salah tingkah.
Walau Irul menolak, tetapi Cik Indra tetap berdiri dan melangkah menuju kulkas, mengambil segelas air dingin. Lantas diletakkan di dekat piring Mas Irul. Lagi-lagi, Cik Indra duduk disebelah Irul, memandangi dan mengamati secara seksama laki-laki yang sedang sarapan tersebut. Ia tersenyum menyaksikan hal itu. Seakan ada kebahagiaan tersendiri saat ia bisa menunggui dan menyaksikan laki-laki yang baru dikenalnya itu menikmati sarapan pagi.
Cik Indra sendiri heran, kenapa dirinya bisa jadi seperti itu? ada magnet apa sebenarnya dalam diri Mas Irul? Apakah benar getaran cinta itu muncul secara tiba-tiba. Padahal Cik Indra belum kenal siapa Irul, mana rumahnya, apa pekerjaannya. Tapi entahlah, kali ini Cik Indra bisa merasakan menjadi manusia yang lemah dengan buaian perasaan cinta. Bahkan saat ini, hatinya bisa merasakan senang dan ceria.
__ADS_1
"Kapan Mas Irul mau pulang ke Lasem? Aku mau ikut ...." tanya Cik Indra sambil menatap wajah laki-laki itu dengan senyum yang menusuk jantung kalbu.