GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 85: TELUR BUSUK


__ADS_3

    Pagi itu, saat Irul membuka pintu toko, hidungnya mencium bau tidak sedap. Bau busuk yang sangat menyengat. Tentu ia langsung mencari asal bau itu, sambil menutupi hidungnya dengan kaos yang dipakai. Ya, Irul memang yang selalu membuka pintu toko. Karena Irul yang tidur di tempat itu, sekaligus membuka dan menutup pintu. Meski kadang-kadang ada teman karyawan lain yang begadang sampai malam.


    Bau busuk yang sangat menyengat itu sudah tercium sebelum Irul membuka pintu. Artinya dari dalam ruang, Irul sudah mencium bau busuk itu. Tentu dia tengak-tengok, tolah-toleh di sekeliling ruang toko itu. Namun tidak ketemu. Dan ketika Irul membuka pintu depan toko, roling door yang digeser ke kanan dan kiri, bau itu semakin menyengat. Pasti Irul langsung mencari sumbernya. Ibarat pepatah mengatakan, sepandai-pandai orang menyembunyikan barang busuk pasti akan ketahuan juga. Apalagi barang busuk kali ini tidak disembunyikan, pasti langsung ketemu. Langsung saja, Irul tidak jadi membuka pintu itu, tetapi hanya dibuka sedikit untuk bisa keluar. Tentu tujuannya agar bau busuk itu tidak masuk ke toko.


    Ya, Irul langsung tahu sumber bau busuk yang bisa bikin orang muntah-muntah itu. Ternyata adalah telur-telur busuk yang dilempar orang, dan sengaja dihantamkan ke pintu toko Bima Sakti. Hal itu terlihat dari kulit telur yang pecah dan jatuh di dibawah mepet pintu, serta cairan busuk dari telur yang menempel pada pintu dan menyebar ke lantai. Telur busuk atau orang Juwana menyebutnya "ndog wukan", telur yang dikerami induk ayam tetapi tidak jadi. Baunya memang sangat busuk sekali, dan pasti membuat perut jadi mual.


    "Kurang ajar ...! Siapa yang berbuat jahat melempar telur busuk seperti ini ...?!! Hueek .... Baunya bikin mual ...! Hoeeek ...!" gumam Irul sendirian, sambil menghoek akan muntah.


    "Ada apa kok blokekan, Mas Irul ...?" tanya Soleh, karyawan yang baru datang, dan masih berada di luar pintu pagar.


    "Walah, Soleh .... Ini lho, ada yang melempari telur busuk ke pintu toko ...." kata Irul yang langsung melangkah menuju pagar untuk membukakan pintu pagar. Dan memang harus segera dibuka karena sebentar lagi para karyawan akan pada datang.


    Dan setelah pagar dibuka, Soleh yang selalu datang gasik pun langsung masuk.


    "Hueek .... Bau apa ini, Mas Irul ...! Hoeeek ...! Hoeeek ...!"  Soleh pun langsung mual dan mau muntah mencium bau busuk di depan toko itu.


    "Lha ini .... Telur-telur busuk dilempar ke pintu toko ...." jawab Irul sambil menunjukkan telur-telur yang berceceran di pintu itu.


    "Lha kok tidak segera dibersihkan, Mas ...?" tanya Soleh.


    "Nanti saja .... Biar Pak Jamil tahu dahulu .... Sebagai bukti ada orang jahat yang ingin mengotori tempat usaha kita." jawab Irul.


    "O, iya ..., ya .... Biar karyawan yang lain juga tahu ...." Soleh ikut-ikutan dengan Irul.


    "Biar yang blokekan mual-mual ingin muntah tidak cuman kita saja .... Tapi karyawan lain juga biar merasakan." kata Irul yang tentu biar para karyawan tahu semua bagaimana baunya telur busuk.


    "Hehehe .... Seperti itu ya, Mas Irul  .... Setuju ...." kata Soleh.


    Tidak lama kemudian, karyawan-karyawan yang lain pada berdatangan. Dan saat mereka memasuki halaman toko, pasti langsung mau muntah, karena bau busuk yang tidak karuan.


    "Hoeeek ...!"


    "Wah, bau apaan ini ...?!"


    "Walah, baunya ...!"


    "Apa sih, ini ...?!"


    Para karyawan itu saling tanya ingin tahu, ada apa sebenarnya yang terjadi di perusahaannya.

__ADS_1


    "Ini, lho .... Pintu toko dilempari telur busuk ...." jawab Irul sambil menunjukkan pecahan-pecahan telur busuk di pintu toko itu.


    "Walah .... Ini yang melepari telur busuk itu siapa ...?! Kok kurang ajar sekali."


    "Satu ..., dua ..., tiga ..., empat .... Walah, empat telur busuk


    "Pasti orang yang tidak suka dengan kita ...."


    "Orang jahat ...."


    "Bisa juga saingan bisnis yang ingin menjatuhkan kita."


    "Jangan-jangan ...."


    "Jangan-jangan apa ...?"


    "Apa ini pekerjaan Pak Bos, ya ...?"


    "Nah ..., saya juga berpikir begitu ...."


    Tentu diantara para karyawan itu langsung bermunculan berbagai pendapat.


    "Ini ada apa, leh ...? Kok ribut-ribut di luar ...?" tanya Jamil yang baru saja tiba di tempat usahanya. Tentu jamil heran dengan para karyawannya itu, yang biasanya langsung masuk ke bagian masing-masing. Tetapi kali ini, para karyawan itu pada ribut di depan toko. Pasti ada sesuatu.


    "Ya, Pak .... Ini baunya busuk sekali ...." sahut karyawan yang lain.


    "Lhah .... Kalau memang ada telur busuk, kalau memang baunya tidak enak .... ya disiram air, dicuci, dikasih sabun .... Bila perlu disemprot pewangi .... Beres kan .... Kok pada ribut ...." kata Jamil yang langsung memberi petunjuk kepada karyawannya.


    "Tapi kita harus tahu siapa yang melempari telur-telur busuk ini, Pak Jamil ...!" kata karyawannya yang tidak rela.


    "Iya, Pak ...! Ini pasti orang kurang ajar ...!" tambah yang lain.


    "Yang melakukan ini orang jahat, Pak ...!" yang lain juga menimpal.


    "Yang jelas, orangnya pasti ingin menghancurkan tempat usaha kita ...!" yang lain lagi menambahi.


    "Ini pasti kelakuan Pak Bos ...!" tiba-tiba yang lain langsung menyebut nama Pak Bos.


    "Sssttt .... Tidak boleh menuduh sembarangan seperti itu. Kalau tidak ada bukti, jangan menuduh orang lain. Itu namanya fitnah. Kalau nanti yang dituduh tidak terima, kalian bisa diperkarakan, bisa dipenjara ...." Jamil mengingatkan anak buahnya, yang tentu tidak boleh sembarangan menuduh orang.

__ADS_1


    Spontan para karyawan itu terdiam. Yang pasti takut kalau apa yang diucapkan itu bisa mengakibatkan masalah. Mereka tahu, kalau mantan majikannya yang dulu itu orangnya galak dan tidak mau disalahkan. Pasti mereka langsung ketakutan.


    "Sudah, biarkan saja siapa yang melakukan ini. Yang penting, sekarang kita kerja bakti membersihkan pintu dan halaman toko. Pintu dicuci pakai sabun, dan lantainya dikosek ...." kata Jamil yang senantiasa pasrah menerima apapun yang dikehendaki Tuhan.


    "Nggih, Pak ...." jawab para karyawannya yang langsung bergerak membersihkan bekas pecahan telur-telur busuk di tokonya.


    Ada yang ganti pakaian kerja terlebih dahulu, tetapi juga ada yang langsung menarik selang air, mengguyur tempat itu. Laki-laki maupun perempuan, sembilan orang karyawan, pagi itu semuanya kerja bakti bersih-bersih. Termasuk Jamil sang pimpinan perusahaan yang ikut mengatur anak buahnya.


    "Pak Jamil, Sampeyan kok sabar banget, sih .... Ini kalau saya, pasti langsung mencari pelakunya ...." kata Mbak Sri sambil ikut ngosek lantai dengan sapu, yang memang punya dugaan pelakunya.


    "Tidak boleh begitu, Mbak Sri .... Ambil saja sisi positifnya. Dengan kejadian ada yang melempar telur busuk ini, akhirnya kita bisa bersih-bersih. Semuanya kita bersihkan. Bahkan kita sabun dan kita beri pewangi. Itu artinya memang sudah saatnya kita membersihkan toko kita. Biar lebih bersih, wangi dan rapi. Sehingga nanti para pembeli akan betah disini." jelas Jamil yang selalu mengambil hikmah dari musibah.


    Pengalaman hidup Jamil sudah sarat dengan musibah-musibah, yang akhirnya justru membawa berkah. Ibarat kata seperti cerita "Sengsara Membawa Nikmat". Ya, Jamil sudah mengalami berkali-kali. Dan semua kesengsaraan itu berakhir dengan kenikmatan. Mulai dari dihina oleh keluarga Babah Ho, rumahnya dibakar orang, bahkan akan dibohongi mantan majikannya itu saat harus melunasi utang di bank. Tetapi Jamil selalu pasrah dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan kenyataannya, Jamil selalu diberi keajaiban-keajaiban yang tidak bisa diterima oleh nalar manusia lumrah.


    Kalau saat ini, hanya sekadar dilempari telur-telur busuk, itu bukan masalah yang berat. Oleh Jamil justri dianggap sebagai isyarat bahwa tempat itu memang harus dibersihkan biar terlihat lebih rapi dan nyaman. Para karyawan pun setuju dengan kata-kata pemimpinnya tersebut. Dan itulah hikmah yang harus disyukuri.


    "Walah ..., walah ..., walah .... Rajin sekali para karyawan pabrik kuningan ini .... Pagi-pagi begini semua sudah pada bersih-bersih. Pasti ada telur busuk yang pada pecah di toko kalian, ya .... Hahaha ...." tiba-tiba saja Pak Bos berdiri bertolak pinggang mengejek para karyawan yang sedang bersih-bersih tersebut.


    Tentu para karyawan yang sedang bersih-bersih itu kaget. Apalagi saat mendengar kata-kata Pak Bos yang menyebut "Pasti ada telur busuk yang pada pecah di toko kalian, ya". Itu merupakan kata-kata pengakuan, kalau dirinya tahu dan yakin pasti Pak Bos yang melakukan.


    "Kok Pak Bos tahu kalau kami membersihkan pecahan telur busuk ...?!" tanya Irul sambil mengosek lantai, yang memang belum paham karakter Pak Bos. Makanya ia berani menanyai.


    "Ya pasti tahu, lah .... Pabrik ini besok mau jadi seperti apa saja saya tahu, kok .... Hahaha ...." jawab Pak Bos itu yang masih tolak pinggang mengejek para karyawan.


    "Kalau Pak Bos tahu, saya tanya, siapa yang melempari telur-telur busuk ini ...?" tanya Irul lagi.


    "Heh, kamu ...! Siapa namamu?! Berani sekali kamu nanyai saya ...!" mendengar pertanyaan Irul begitu, Pak Bos langsung marah.


    "Irul .... Nama saya Irul, dari Lasem ...! Sekarang katakan, siapa yang sudah melempar telur busuk ke toko kami?" tanya Irul lagi.


    "Beraninya kamu menanyai saya ...! Kamu belum tahu siapa saya, ya ...?! Saya itu yang punya tempat usaha ini, tahu!!!" Pak Bos membentak Irul.


    Jamil yang mendengar ada suara ribut, langsung keluar. Dan ternyata yang ribut adalah Pak Bos dan Irul. Jamil langsung memegang tangan Irul dan menyeret masuk. Lantas katanya, "Sudah ..., jangan emosi. Sana kamu ke dalam ...."


    Irul menurut saja apa yang diperintahkan oleh Jamil. Karyawan-karyawan yang ada di luar, tetap melanjutkan bersih-bersih. Tidak menghiraukan Pak Bos yang ngomel-ngomel di jalan depan toko. Dan toh akhirnya, Pak Bos itu pergi dengan sendirinya.


    Tidak hanya bersih-bersih. Tetapi Mbak Ika juga minta tolong kepada karyawan laki-laki, untuk menata ulang etalase-etalase tempat menaruh hasil-hasil kerajinan Bima Sakti tersebut. Kini, toko pun benar-benar terlihat bersih dan rapi.


    "Mas Tarno .... Mbak Sri .... Sana beli jajanan, untuk tambah-tambah energi teman-teman ...!" kata Jamil yang meminta Tarno sang sopir itu bersama Mbak Sri untuk mencari makanan di pasar.

__ADS_1


    Inilah yang disenangi oleh para karyawan dari kepemimpinan Jamil. Enak, menyejahterakan, dan selalu mengorangkan para karyawan.


    Lantas, siapa yang sebenarnya sudah melempari telur-telur busuk ke tempat usahanya?


__ADS_2