
Melian sudah bersekolah di Semarang. Ia harus kost. Jauh dari orang tua, tidak bisa bermanja. Kebiasaan-kebiasaan saat di Kampung Naga, tidak mungkin bisa dilakukan di tempat kost. Apa-apa harus dilakukan sendiri. Mencuci piring dan gelas kotor, mencuci pakaian, bahkan juga untuk menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah. Kalau dulu saat masih bersama orang tuanya, apa-apa disiapkan oleh ibunya. Tetapi kini, Melian harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri.
Melian kost di Kampung Pecinan. Bapak dan ibunya yang mengantar ke kost itu, atas saran dari guru-guru di sekolahnya. Tidak jauh dari sekolah. Bisa jalan kaki kalau pulang pergi ke sekolah. Jika capai, tidak mau jalan kaki juga bisa naik becak. Tidak mahal. Dan yang paling menarik di Kampung Pecinan ini bangunan-bangunan rumahnya yang kuno-kuno, mirip rumah yang ditempai Jamil di Kampung Naga. Itulah arsitektur Cina pada masa abad ke tujuh belas.
Kampung Pecinan di Semarang, sebenarnya sudah terbentuk sejak lama, yaitu sejak tahun 1740, sejak pemukiman Cina dari daerah Sam Po Kong dipindah oleh Pemerintah Hidia Belanda. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengawasan orang-orang Cina di Semarang, sebagai dampak dari pemberontakan Cina di Batavia. Kala itu pemerintahan Hindia Belanda berada di Kota Lama, maka untuk mempermudah mengawasi gerak-gerik orang-orang Cina, pemukiman mereka di dekatkan dengan benteng-benteng Belanda. Dan Kmapung Pecinan di Semarang itu pun menjadi kampung yang ramai dan sesak dengan berbagai aktivitas manusia. Terutama aktivitas perdagangan.
Daerah Kampung Pecinan itu meliputi wilayah Gang Warung yang dulunya sebagai pusat perdagangan, Gang Lombok yang terkenal sebagai pusat kuliner lumpia pertama di Semarang, kemudian Gang pinggir yang lokasinya berada di pinggir sungai. Kala itum sungai di Gang Pinggir menjadi sarana lalu lintas yang menggunakan perahu dan kapal. Kemudian ada lagi Gang Cilik, Gang Mangkok, Gang Gambiran, dan Gang Baru yang lekat dengan pasar tradisional Pasar Johar. Sedangkan wilayah sebarannya ada di daerah Jagalan, Sebantengan, Kentangan, Kranggan dan Kauman.
Di Kampung Pecinan ini, tentu banyak klenteng untuk tempat persembahyangan bagi orang-orang keturunan Cina. Kelenteng yang terkenal adalah Klenteng Tay Kak Sie yang berupa bangunan megah di Gang Lombok dan Klenteng Siu Hok Bio yang terletak di Jalan Wotgandul Timur. Klenteng tersebut merupakan klenteng tertua di Semarang.
Sebenarnya tidak hanya dua klenteng itu saja. Tetapi masih ada sembilan klenteng lainnya di kawasan Kampung Pecinan Kota Semarang, antara lain Klenteng Siu Hok Bio, Klenteng Tek Hay Bio, Klenteng Tay Kak Sie, Klenteng Kong Tik Soe, Klenteng Hoo Hok Bio, Klenteng Tong Pek Bio, Klenteng Wie Hwie, Klenteng Ling Hok Bio, dan Klenteng See Hoo Kiong.
Melian kost di Kampung Pecinan, satu rumah bersama beberapa orang perempuan yang juga kost di situ. Ada enam orang. Yang masih sekolah ada tiga anak. Kebetulan satu sekolahan dengan Melian. Sedangkan tiga lainnya sudah bekerja, walaupun masih muda dan lajang. Tentu Melian merasa senang punya teman kost yang bisa diajak belajar bersama. Sedangkan yang sudah bekerja tentu memberikan nasihat dan saran untuk anak-anak yang sekolah. Semua teman kostnya baik-baik.
"Dik, kalau sekolah yang rajin. belajar terus, biar pintar .... Kalian jauh-jauh dari kampung disekolahkan oleh orang tua dengan biaya besar, di sini kamu harus sungguh-sungguh, biar nilainya bagus." begitu nasehat Cacik-caciknya yang sudah pada bekerja.
"Iya, Cik .... Terima kasih nasehatnya." begitu kalau Melian dinasehati oleh orang yang lebih dewasa.
Bersyukur sekali Melian dapat teman kost yang baik. Setidaknya bisa membimbing dan menasehatinya. Demikian juga dengan teman-teman yang kebetulan satu sekolahan. Meski dua orang itu semua sudah duduk di kelas dua dan tiga. Setidaknya, Melian bisa tanya-tanya kalau ada masalah di sekolahan. Di rumah kost itu, Melian yang paling kecil.
__ADS_1
"Rumah Melian aslinya mana?" tanya teman kostnya, yang juga kakak kelasnya itu, disela waktu luang sore hari. Tentu sambil mengerjakan yugas-tugas.
"Saya dari Juwana, Cik .... Pati." jawab Melian.
"Wah, pengusaha bandeng, ya?" tanya kakak kelasnya itu lagi, yang namanya adalah Vanda.
"Bukan .... Bapak saya bikin kerajinan dari kuningan. Kalau Cik Vanda asalnya dari mana?" jawab Melian yang bailik bertanya.
"Saya dari Purwodadi." jawab Vanda.
"Cik, kalau masuk pertama di sekolah memang harus digojlok, ya?" tanya Melian pada Vanda, yang memang pada hari-hari pertama masuk sekolah, di kampusnya ada kegiatan masa orientasi sekolah. Biasanya kakak-kakak kelasnya yang tergabung dalam pengurus OSIS mengadakan kegiatan macam-macam, semacam gojlokan. Lamanya satu minggu. Nanti di akhir pertemuannya biasanya diadakan malam inagurasi. Semacam malam pentas seni.
"Ih ..., baik bagaimana, Cik ...?! Ini tugasnya sak abrek ...." jawab Melian.
"Ya, kan hanya tugas-tugas saja .... Dulu jaman saya masuk pertama kali, malah ada yang disuruh push up, lari-lari, baris berbaris .... Macam-macam." jelas Vanda.
"Saya takut kalau kena hukuman, Cik ...." kata Melian yang tentu sebagai murid baru harus patuh dengan segala perintah seniornya.
"Jangan takut ...!" tiba-tibu muncul temannya yang satu lagi, yang sudah duduk di kelas tiga SMA. Melian memanggilnya Cik Ivon. Orangnya kecil, tetapi tas-tes, cekatan dan rajin.
__ADS_1
"Takut di hukum sama senior, Cik Ivon ...." sahut Melian.
"Pokoknya semua tugas-tugas dikerjakan. Perintah apa saja dilakukan. Sudah beres. Kalau ada hukuman, dinikmati saja .... Anggap sebagai hiburan. Pasti enjoi." kata Cik Ivon.
"Gitu, ya Cik ...." sahut Melian.
"Iya .... Pokoknya kamu bersenang-senang saja. Tidak usah khawatir. Itu nanti kalau ada senir kamu, anggota OSIS yang keterlaluan dalam memberi hukuman, nanti dia akan dipanggil kepala sekolah dan diberi sanksi. Dulu sudah pernah terjadi, kok ...." jelas Cik Ivon.
"Halo semuanya .... Waaah, rajin bener ini murid baru ...." sapa Cik Indra yang baru pulang kerja. Ia bekerja di bank, kantornya ada di Gang pinggir. Tentu menyaksikan keakraban murid-murid SMA yang kost jadi satu rumah dengan dirinya itu, ia sangat senang.
"Iya, Cik Indra .... Ini buat tugas untuk besok. Takut kalau dihukum sama senior ...." jawab Melian yang masih membuat papan nama dari kardus bekas, kemudian diberi tali rafia, untuk dikalungkan pada lehernya. Karena di situ Melian yang paling kecil, maka ia terlihat manja. Dan memang, bawaan dari rumah yang sering dimanjakan oleh bapak dan ibunya.
'Gak papa .... Dapat hukuman itu untuk pengalaman. Kalau hidup itu mulus-mulus saja, gak ada kenangannya, gak ada bumbu penyedapnya. Anggap hukuman itu sebagai pemanis dalam pengalaman hidupmu. Dengan membuat kreasi-kreasi semacam ini, itu akan menambah kreativitas Melian. Jadi tidak sekedar beli ..., beli ..., beli ..., tetapi juga ciptakan, buat dan temukan. Ambil hikmah baiknya sebagai pengalaman yang berharga." kata Cik Indra yang menasehati Melian.
"Iya, Cik .... Betul juga kalau kita berfikir dengan akal sehat. Ini untuk pengalaman hidup." jawab Melian.
Tentu Melian merasa beruntung, punya kawan-kawan baru dalam kostnya, yang semuanya baik. Dari nasehat-nasehat yang disampaikan, hingga cintih perilaku yang patut diteladani. Bahkan Melian merasakan jauh melebihi dengan ibunya. Kawan-kawan seatapnya ini benar-benar memberi pencerahan, memberi pengalaman, bahkan juga pelajaran-pelajaran dalam kehidupan. Yang pasti karena teman-temannya dalam rumah kost itu jauh lebih dewasa dari Melian. Tentu pengalaman dan lika-liku hidupnya lebih banyak dari Melian. Hingga malam, mereka saling bercerita berbagi pengalaman.
"Sudah larut malam, ayo pada pergi tidur supaya besok tidak terlambat. Sebelum tidur, jangan lupa berdoa, biar mendapat berkah dan rahmat dari Tuhan." kata Cik Indra yang menyuruh anak-anak tidur.
__ADS_1