GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 179: RUMAH YANG INDAH


__ADS_3

    Sudah satu minggu para tukang yang membenahi rumah Babah Ho itu bekerja untuk menyelesaikan perbaikan. Sabtu siang, Jamil beserta keluarhanya datang ke rumah yang secara langsung menjadi warisan milik Melian tersebut. Tentu Jamil datang bersama Juminem dan Melian. Dan begitu mobil taruna itu sampai di rumah kuno itu, dan masuk ke halamannya, tiga orang yang ada dalam mobil itu terngungun-ngungun. Begitu Jamil menghentikan mobilnya, istri dan anaknya langsung tergesa untuk keluar dari mobil. Tidak sabar melihat perubahan rumah engkongnya itu.


    "Waoooo ........." Melian langsung berdecak kagum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa takjub dengan hasil pekerjaan para tukang.


    Berbeda dengan Melian, ibunya tidak sanggup berkata apa-apa. Juminem hanya melongo. Tentu sangat terheran dengan bangunan yang dulunya tidak terurus itu, kini sudah berubah menjadi gedung megah yang sangat indah.


    Demikian juga dengan Jamil. Begitu turun dari mobil, ia langsung keluar halaman. mengamati bangunan itu dari jalan. Mulai melihat pagar tembok yang sudah diperbaiki dan dicat dengan warna terang. Demikian pula dengan bawah bagar yang juga diplester dengan semen, hingga terlihat halus, dan jalannya pun menjadi lebih gilar-gilar. Kemudian ia kembali masuk. Mengamati halaman rumah yang sudah dipasangi paving block. Sehingga saat mobilnya masuk, seakan tidak mengenai tanah. Halaman itu seakan terlihat menjadi lebih luas. Dan yang jelas bersih dari rumput dan rata. Sungguh terlihat bagus. Apalagi pohon mangga yang dulu terlihat tak tertata, kini setelah dikurangi dahan dan rantingnya, dan dipendekkan, kelihatan lebih bersinar. Tentu karena mataharinya tidak terhalang oleh rerimbunan daun yang terlalu banyak. Demikian juga di samping kanan, kiri dan belakang rumah. Tidak ada lagi rumput maupun perdu liar. Pinggiran rumah yang tergerus air hujan, kini dibuat selasar yang dicor dengan pasir semen. Sehingga lebih rata dan halus. Bisa dipakai untuk berjalan mengelilingi rumah.


    Dan tentunya, mereka lebih terkagum saat masuk ke rumah itu. Lantainya sudah berubah menjadi kinclong. Sangat bersih. Meskipun bukan keramik, tetapi ubin kuno made in RRT. Memang merupakan ubin super yang sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Ubin kuno semacam itu sangat sayang kalau diganti keramik model sekarang. Nilai seninya yang tentu sangat mahal harganya. Ubin-ubin itu ada hiasannya. Itulah, maka para tukang membersihkannya sampai benar-benar mengkilap.


    Lantas mereka mengamati cat pada dindingnya. Mulai dari dinding yang ada di teras, catnya sangat bagus. Warna putih dengan garis tepi warna biru cerah. Sangat serasi. Jendela dan pintunya yang terbuat dari kayu jati kuno, pasti umurnya sangat tua, setelah dibersihkan dan diamplas sampai halus, dicat dengan politur. Tidak diberi warna merah dan kuning seperti bangunan-bangunan Cina pada umumnya. Tetapi dibuat seperti warna kayu jati yang sesungguhnya. Terlihat eksotis. Ruangan dalam juga dicat dengan warna terang, sehingga terlihat lebih nyaman. Di ruang tengah, lampu katrol yang dulunya menggunakan minyak tanah, oleh tukang yang pandai listrik itu diganti dengan neon. Sehingga cahayanya sangat terang. Demikian juga dengan lampu-lampu di ruang kamar, semuanya diganti baru.


    Dan setelah tiga orang itu sampai di dapur, alangkah kagetnya mereka, terutama Juminem yang menyaksikan dapur rumah itu menjadi sangat bagus. Semua dinding dan mejanya diganti dengan keramik. Sehingga mudah untuk membersihkannya.


    "Ini baru namanya dapur yang bagus ...." kata Juminem yang tersenyum lebar.


    "Iya, Mak .... Bagus banget ...." sahut Melian.


    Selanjutnya, Jamil, Juminem dan Melian menengok kamar mandinya. Tentu mereka sangat terkesima. Kamar mandi itu sudah diganti semuanya dengan keramik yang bagus. Sehingga kamar mandi itu benar-benar terlihat indah.


    "Pak-e sama Mak-e keluar dulu ...." tiba-tiba Melian mendorong bapak dan ibunya. Lantas menutup pintu kamar mandi. Pasti Melian akan pipis, sekalian nganyari kamar mandi yang baru itu.


    Setelah selesai mengamati seluruh ruang, bahkan juga sudah mencoba untuk menyalakan lampu-lampu yang sudah diganti, Jamil keluar rumah. Menemui tiga orang tukang yang masih sibuk memasang pintu pagar di depan. Pintu pagarnya dipesankan dari besi. Kini tinggal dipasang oleh tukang las. Tetapi untuk engsel-engselnya, tentu harus dibantu oleh tukang batu, karena harus ditanam dalam tiang temboknya. Mau tidak mau, tiga orang tukang itu harus membobok sedikit tembok itu, guna tempat pemasangan besi yang harus ditanam agar kuat. Nanti pintunya akan dibuka ke kanan dan ke kiri. Separo-separo. Sehingga kalau hanya untuk lewat sepeda motor bisa dibuka satu saja, tetapi kalau untuk lewat mobil harus dibuka dua-duanya.


    Jamil ikut menyaksikan pemasangan itu. Tentu untuk masalah logam, Jamil sangat paham. Karena setiap hari pekerjaannya adalah membuat kerajinan logam. Makanya saat memasang pintu itu, Jamil langsung meminta tambahan agar ujung pintu itu diberi laker atau roda, agar tidak menggantung, tetapi ada penahannya. Otomatis untuk tempat jalannya laker harus ada besi leter u yang melengkung dipasang di tempat pintu itu.


    "Waduh ..., kalau ditambahi laker, berarti harus diberi besi melengkung, Pak .... Itu tambah biaya ...." kata tukang las itu.


    "Tidak masalah .... Yang penting pintu ini besoknya mudah untuk membuka dan menutup. Dan tentu akan lebih awet, karena tidak menggantung ...." jawab jamil.


    "Baik, Pak .... Akan saya buatkan dulu. Tapi alat untuk melengkungkan besi ada di tempat kerja saya. Saya pulang dulu." kata tukang pembuat pintu besi tersebut.


    Lantas tukang las itu pun membuatkan rel untak pintu pagar depan tersebut. Pintu besi untuk pagar depan sudah terpasang bagus. Selanjutnya di cat bersama-sama oleh empat orang tukang itu. Tentu menambah keindahan rumah tersebut.

__ADS_1


    Hingga sore tiba. Semua pekerjaan beres. Pembangunan sudah selesai. Kini para tukang yang nglembur bekerja siang dan malam, tinggal istirahat. Dan tentu, harapan mereka, hari itu akan mendapat bayaran dari Pak Jamil.


    "Halo, Cik Indra ...." Jamil menelepon Indra. Ia sudah beli handphone. Melian juga dibelikan. Katanya untuk mempermudah informasi. Dan kenyataannya memang benar, karena Jamil bisa menghubungi kerabat dekatnya tanpa harus menemui secara langsung di tempat yang jauh, yang kalau datang harus membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan Jamil juga sudah bisa berkirim SMS. Tentu latihannya bersama dengan anaknya. Maklum Jamil agak gaptek. Kurang gaul.


    "Iya, Pak Jamil .... Bagaimana kabarnya? Ada yang bisa kami bantu, Pak?" jawab Indra dari teleponnya, yang tentu sudah menyimpan nomor Pak Jamil yang dikirimkan beberapa hari yang lalu.


    "Ini kami sudah di rumah Engkong. Bersama Mbak Jum sama Melian .... Saya minta nanti malem kalau senggang, Cik Indra sama Mas Irul bisa kemari .... Pekerjaan sudah beres semua, besok tukangnya mau pulang." kata Jamil ditelepon.


    "Nggih, Pak .... Nanti saya ajak Mas Irul." jawab Cik Indra.


    Tentu para tukang itu melihati Pak Jamil yang sedang telepon. Kala itu memang belum banyak yang punya HP. Hanya orang kaya yang sanggup beli HP. Mereka tahu kalau Pak Jamil termasuk pengusaha kuningan yang sukses. Makanya sangat pantas kalau bertelponan menggunakan HP.


    "Pak tukang ..., ini nanti malam kita tidur di sini dahulu, baru besok pagi saya antar pulang. Masalahnya saya capek, pengin istirahat dulu. Bagaimana ...?" tanya Jamil kepada para tukang yang sudah selesai memberesi semua pekerjaannya.


    "Nggih, Pak .... Ndak papa .... Tinggal pulang saja, kok ...." jawab tukang yang paling tua. Tentu pasrah dengan tuan rumahnya yang membayar. Kalau pulang sendiri pun sudah tidak ada bus yang lewat. Dan tentu juga kasihan kalau Pak Jamil yang sudah capek harus bolak-balik nyetir.


    "Yam sudah .... Kalau memang setuju, nanti malam kita makan bersama di sini, akan saya borongkan makanan yang enak-enak .... Sampeyan penginnya makan apa? Bebek goreng? Pecel lele? atau apa?" kata Jamil menawari para tukang.


    "Ya sudah ..., sana mandi dahulu .... Nanti kita makan sambil jalan-jalan ke alun-alun." kata Jamil yang tentu sangat senang dan puas karena para tukang itu sudah merenovasi rumah dengan hasil yang luar biasa.


    Para tukang itu pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Jamil. Mereka langsung bergegas mandi dan berganti pakaian yang rapi. Pasti, karena akan diajak jalan-jalan. Cuci mata di alun-alun Lasem, sambil menikmati makan malam.


    Matahari belum tenggelam, saat Irul dan Indra yang berboncengan sepeda motor masuk ke rumah yang terlihat gilar-gilar itu. Lampunya sudah dinyalakan semua. Tentu terlihat terang, seperti mau punya kerja.


    "Weee ..., Mas Irul ..., Cik Indra .... Ayo ..., masuk ...." Jamil yang berada di teras, sedang mengamati lampu-lampu yang dipasang di luar, langsung menyambut kedatangan Irul dan Indra.


    "Gilar-gilar, Pak Jamil .... Terang benderang ...." kata Irul yang langsung menyalami mantan pimpinannya itu. Demikian juga Indra, yang langsung berkeliling mengamati bagusnya rumah Engkong setelah dipugar.


    Lantas Irul dan Indra masuk ke rumah. Tentu langsung disambut oleh Melian yang sudah bersiap untuk memeluk Cik Indra dan Mas Irul kesayangannya. Demikian juga Juminem yang sibuk di dapur, keluar untuk menemui Irul dan Indra sebentar.


    "Sedang masak, Mbak Jum ...?" tanya Indra yang langsung ikut ke dapur.


    "Halah ..., ini lho ..., mencoba dapur baru ...." jawab Juminem.

__ADS_1


    "Waah ..... Bagus sekali dapur ini .... Bikin betah masak ...." kata Indra yang terkagum dengan dapur yang sudah direnovasi itu.


    "Ini kok ada kopi, teh, jahe wangi .... Yang ngasih Cik Indra, ya ...?" tanya Juminem.


    "Iya ..., kemarin bawa untuk Pak tukang .... Biar untuk hangat-hangat ...." jawab Indra.


    "Terima kasih ya, Cik .... Kok malah ngrepoti ...." sahut Juminem.


    "Ndak papa, Mbak Jum .... Di toko ada kok ...." kata Indra, yang memang itu semua yang dibawa adalah barang dagangannya.


    "Ini cuman buat minum, sama menghangatkan pisang goreng, buat teman ngobrol. Saya tidak masak, katanya mau diajak sama Kang Jamil, makan malam sambil jalan-jalan di alun-alun. Cik Indra sama Mas Irul nanti ikut sekalian, ya ...." kata Juminem yang masih memanasi gorengan pisang, sama merebus air.


    Indra langsung membantu, membawa pisang goreng yang sudah ditata di piring, ditaruh di meja tamu. Pasti untuk disuguhkan kepada Pak Jamil, suaminya, Melian yang sudah duduk di kursi tamu itu, serta para tukang yang juga diajak ngobrol bersama di situ.


    "Monggo ..., ini ada pisang goreng masih panas ...." kata Indra yang langsung menawarkan.


    "Terima kasih, Cik Indra .... Waah ..., kok malah ngrepoti .... Melian ..., sana Cik Indra dan Mak-e dibantu ...." kata Jamil yang langsung menyuruh Melian ikut membantu ibunya di dapur.


    Dan sebentar kemudian, keluar minuman. Ada teh, kopi dan jahe. Beberapa gelas, disuruh memilih sendiri-sendiri. Melian kembali membawa sepiring pisang goreng. Mereka pun menikmati pisang goreng dan minuman hangat, sebagai pengisi perut sebelum makan malam. Tentu sambil ngobrol bersama.


    "Mas Irul ..., Cik Indra .... Ini kan renovasi rumah sudah selesai .... Rencananya besok pagi para tukang ini akan pulang ke Juwana .... Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih sudah banyak dibantu oleh Mas Irul dan Cik Indra .... Dan nantinya, saya tetap minta tolong, untuk mengawasi rumah ini. Karena kami terlalu jauh. Paling menengok ya kadang kala. Dan mohon maaf sudah merepotkan." kata Jamil pada Irul dan Indra.


    "Kami juga, Mas Irul .... Sudah banyak merepotkan Mas Irul dan Cik Indra .... Mohon maaf, terima kasih atas segala bantuannya, kami besok akan pulang ke Juwana .... Monggo kapan-kapan kalau pas ke Juwana silahkan mampir ke tempat saya ...." kata tukang yang paling tua, mewakili teman-temannya.


    "Nggih, Pak Jamil .... Dan Pak tukang .... Sama-sama. Kami juga mohon maaf kalau ada salah dan kurangnya." saut Irul yang tentu juga akan merasa kembali sepi jika tukang-tukang itu sudah tidak di sini lagi.


    "Oh, ya ..., Mas Irul .... Besok minta tolong untuk mematikan dan menyalakan lampu penerangannya. Terutama yang penerangan teras dan jalan. Mungkin adiknya Mas Irul atau siapa yang dipasrahi ...." Jamil memesan untuk masalah penerangan rumah, tentu sore hari harus ada yang menyalakan lampu, dan pagi hari untuk dimatikan.


    "Nggih, Pak ...." jawab Irul.


    "Yo wis, ayo ..., sekarang kita bareng-bareng ke alun-alun, makan bersama-sama." ajak Jamil yang tentu ingin menyenang-senangkan para tukang bersama keluarganya.


    Mereka pun bersama-sama ke alun-alun Lasem. Menikmati kuliner di sana, sambil refresing. Bagi para tukang, tentu bisa jalan-jalan di alun-alun dan diajak makan bersama, pasti sangat menyenangkan, setelah seminggu kerja siang malam, tentu sangat penat. Itulah hiburan sederhana bagi rakyat kecil di malam Minggu yang bisa menghibur diri. Dan tentunya setelah puas bisa menyelesaikan renovasi rumah yang sekarang menjadi sangat indah.

__ADS_1


__ADS_2