GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 69: CEMBURU ITU PASTI ADA


__ADS_3

    Setelah pergantian presiden, dari Pak Harto yang mengundurkan diri karena tuntutan rakyat yang mendesak reformasi, yang kemudian dilanjutkan oleh Pak Habibi yang memimpin pemerintahan, nilai rupiah mulai menguat. keuangan negara mulai membaik. Devisa bertambah terus dari berbagai sektor. Terutama usaha-usaha UMKM. Seperti halnya barang-barang kerajinan. Termasuk kerajinan ukir yang dari Jeparan dan kerajinan kuningan dari tempatnya Jamil.


    Tempat usaha kerajinan kuningan yang dikelola oleh Jamil kian maju. Pesanan semakin banyak. Jenis dan modelnya pun bervariasi. Tidak hanya membuat barang peralatan rumah tangga, tetapi sekarang justru lebih banyak membuat kerajinan untuk hiasan dinding, hiasan rumah serta asesoris pakaian. Bahkan permintaan dari luar negeri kebanyakan berupa hiasan-hiasan rumah, seperti lampu taman, tempat CD, tempat buku, nomor rumah, papan nama, serta berbagai pernak-pernik untuk mempercantik rumah.


    Jual beli dengan orang asing itu terus berjalan. Pasti dengan jumlah dan harga yang sangat besar. Itulah keuntungan dari usaha Jamil. Ia tidak mengurus kegiatan eksport. Tetapi urusan ke luar negeri semua dikelola oleh pembelinya. Tentu Jamil serta tempat usahanya sangat nyaman. Semua urusan eksport ditanggung sendiri oleh pembeli asing tersebut.


    Kalau untuk pembeli lokal, yang paling laris adalah asesoris fashion, seperti bros. Tetapi banyak juga yang memesan secara pribadi bros nama atau huruf inisial namanya. Di tempat kerajinan kuningan Jamil melayani semua itu dengan senang hati. Makanya, toko yang dijaga oleh Mbak Ika laris manis. Banyak pesanan dari mana-mana. Bahkan model dan bentuknya, pembeli bisa memesan sesuai yang dikehendaki.


    Dengan keadaan usaha yang demikian ini, maka tentu perusahaan kerajinan kuningan Jamil semakin maju. Karyawan masih tetap delapan orang, tetapi dengan sistem kerja sama saling membantu, ternyata hasilnya justru lebih efektif. Jamil hanya menambahkan Pak Guru Jumari sebagai karyawan "kadang kala", yang kadang-kadang diundang mana kala ada tamu asing yang berbelanja ke tokonya. Atas saran Pak Jumari pula, tempat usaha kerajinan kuningan itu diberi nama "Bima Sakti". Konon Pak Jumari memilih nama Bima Sakti sebagai nama galaksi terkenal yang membentang di alam raya. Harapannya usaha kerajinan kuningan Jamil ini bisa terkenal hingga dibeli oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Dan pemberian nama ini terkait dengan legalitas usaha serta untuk mempermudah membuka rekening perusahaan di bank. Dan tentu yang paling penting adalah untuk memudahkan orang mencari tokonya.


    Kini, barang-barang kerajinan kuningan yang dihasilkan oleh perusahaan Jamil, diberi label atau merek dagang "Bima Sakti". Karyawannya dibelikan kaos seragam yang pada punggungnya terdapat tulisan melengkung "Kerajinan Kuningan Bima Sakti". Bahkan pada atas teras toko juga sudah dibuatkan plat papan nama "Bima Sakti" yang cukup besar sehingga terbaca dari jalan raya. Tokonya pun semakin luas dan tertata rapi.


    Tentu, Bima Sakti kini menjadi perusahaan kerajinan kuningan yang cukup terkenal di daerah Juwana. Dan tentu usahanya sangat menguntungkan. Setidaknya, Jamil bisa menggaji karyawannya tanpa ada kata terlambat. Bahkan karyawan sudah diberi kesejahteraan, dengan cara memberi uang transport dan uang makan siang. Pasti karyawannya merasa senang dengan kesejahteraan itu. Tetapi yang paling menyenangkan menjadi karyawan di perusahaan Bima Sakti adalah kebersamaan para karyawan. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan, serta keakraban itulah yang menjadikan rasa betah di tempat kerja.


    Bahkan Jamil juga mengenalkan anak serta istrinya kepada para karyawan. Demikian juga para karyawan yang sudah berkeluarga. Mereka diminta oleh Jamil, sewaktu-waktu untuk mengajak anak dan istri atau suami ke tempat kerja. Setidaknya para karyawan bisa kenal dengan keluarga-keluarga temannya. Harapannya, kalau ketemu di jalan, di pasar atau di tempat lain, keakraban itu tetap terjalin.


    Dasar Jamil orang dari desa yang dididik oleh orang tuanya untuk selalu tolong menolong dengan orang lain, yang ajari rasa saling sayang, yang dikuatkan dengan rasa untuk saling menghormati dan toleransi, serta dibekali rasa kekeluargaan yang kuat. Maka tidak heran, ketika Jamil sudah berhasil menjalankan amanahnya melanjutkan usaha kerajinan kuningan tersebut, ia ingin seluruh karyawan menjadi sebuah keluarga yang saling tolong menolong, saling menghormati, dan saling toleransi. Itulah kekeluargaan yang kini menjadi landasan perusahaan kerajinan kuningan Bima Sakti, yang dipimpin oleh Jamil.


    Karena semakin banyak pesanan, tentu Jamil harus sesegera mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan. Itu semua dilakukan demi pelayanan pelanggan agar puas dan senang. Hal itu mengakibatkan Jamil dan beberapa karyawan harus lembur. Akibatnya, ia sering pulang terlambat.


    "Pulangnya kok sampai sore, bahkan sering sampai malah sih, Kang?" tanya Juminem yang tentu ingin tahu suaminya.


    "Iya, Jum .... Banyak pesanan .... Harus lembur untuk sesegera mungkin menyelesaikannya." jawab Jamil yang sudah terlihat kecapaian.


    "Lemburnya sama siapa saja ...?" tanya Juminem lagi, tentu ingin tahu siapa saja yang diajak lembur.


    "Ya, banyak .... Ada Soleh, Akbar .... Pokoknya yang terkait dengan pekerjaan apa yang harus diselesaikan." jawab Jamil.


    "Mbak Ika ikut lembur, nggak ...?" tanya Juminem tanpa melihat suaminya.


    "Mak-e cemburu, ya ...? Hehehe ...." tiba-tiba Melian nongol, dan menebak hati ibunya.


    "Iih ..., ngapain cemburu ...?!" sahut ibunya.

__ADS_1


    "Lha, kok ... yang ditanyakan Mbak Ika ...." sahut Melian.


    "Kasihan .... Anak perempuan kok disuruh lembur sampai malam ...." jawab ibunya berdalih.


    "Kasihan ..., apa ..., kasihan .... Hehe ...." kata Melian sambil meledek.


    "Iih ..., kamu itu, lho .... Anak nakal .... Sukanya menggoda Mak-e ...." kata Juminem sambil sewot.


    Ya, kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, pastilah Juminem punya rasa cemburu. Wajar saja, karena sehari-hari suaminya kumpul dengan Mbak Ika, yang selain menjaga barang dagangan juga dipercaya oleh suaminya untuk mengatur keuangan. Apalagi Ika itu masih muda, cantik dan belum bersuami. Wajar kalau Juminem was-was dengan suaminya.


    "Yang dicemburui itu apanya ...?" kata Jamil tiba-tiba nimbrup perdebatan anak dan ibunya.


    "Iih ..., ya ampun, Kang .... Saya tidak cemburu, ya ...." sahut Juminem dengan sangat meyakinkan. Tapi itu sebenarnya hanya untuk menutupi perasaannya saja.


    "Halah .... Paling Mak-e cemburu .... Kemarin juga nanya-nanya ke Melian tentang Mbak Ika .... Iya, kan ...?!" Melian menimbrung lagi menggodai ibunya.


    "Iiih .... Melian ...!!" kata Juminem yang agak jengkel dengan anaknya, karena menggoda terus.


    "Hehehe ...." Melian berlari menghidari ibunya sambil tertawa.


    "Iya, Pak .... Paling-paling Mak-e takut kehilangan Pak-e .... Hehehe ...." Melian menegaskan kata-kata bapaknya, tentu masih sambil tertawa mengejek ibunya.


    "Iiih .... Apaan sih ....?!" Juminem makin kesal digoda, Jamil pun jadi sasaran dipukuli dengan bantal kursi ruang keluarga.


    "Aduuh .... Aduuuh .... Aduuuh ...." Jamil pura-pura mengaduh kesakitan.


    "Terus, Mak ...! Pukul terus, Mak ...! Hahaha ...." kini Melian menyemangati ibunya yang memukuli bapaknya.


    "Ampun .... Ampun ...." Jamil meminta ampun pada istrinya.


    Dan dua wanita ibu dan anak itu tertawa puas menyaksikan Jamil yang minta ampun kepada istrinya. Hingga akhirnya, Juminem pun berhenti sendiri karena kecapaian memukuli suaminya dengan bantal itu.


    "Ampun, Jum .... Sakit semua ini ...." kata Jamil, lagi-lagi minta ampun.

__ADS_1


    "Sukurin ...." sahut Juminem.


    "Ambilkan minum, Jum .... Aku haus ...." pinta Jamil pada istrinya.


    "Ambil sendiri .... Jangan nyuruh saya .... Gak sudi aku ...." sahut Juminem judes.


    "Ini, Pak, minumnya ...." kata Melian yang sudah membawakan segelas air dingin untuk bapaknya.


    "Terima kasih, Sayang ...." Jamil menerima gelas berisi air dingin tersebut, lantas meneguknya hingga habis.


    "Jum ..., saya mau makan .... Laper ini ...." kata Jamil pada istrinya, sambil mengelus perutnya.


    "Tidak ada nasi ...! Saya tidak masak ...! Sana minta makan sama Mbak Ika ...!" jawab Juminem sengol. Api cemburunya rupanya belum padam.


    "Lho ..., lho ..., lho .... Kok begitu?" Jamil kini benar-benar merasa kalau istrinya itu cemburu dengan Ika.


    "Ya, iya ..., lah .... Seharian di pabrik bersama Mbak Ika .... Makan siang juga sama Mbak Ika .... Sampai malam tidak pulang-pulang, di pabrik terus sama Mbak Ika .... Apa tadi belum makan sama Mbak Ika?! Kok sekarang mau minta makan ke saya ...?! Enak saja ...." Juminem kini benar-benar menumpahkan kekesalannya dan rasa cemburunya.


    "Ya ampun, Jum .... Berarti kamu ini benar-benar cemburu, to?" Jamil langsung menanyakan kecemburuan istrinya.


    "Ya iya, lah .... Masak suaminya bersama perempuan lain setiap hari kok istrinya diam saja ...?! Kalau saya membiarkan ini, berarti saya nggak normal ...!" lagi-lagi Juminem menunjukkan kekesalan pada suaminya.


    "Jum ..., Jum .... Suaminya kerja kok dicemburui .... Istri aneh .... Siapa sih yang ngajari kamu cemburu?" Jamil bingung untuk menjelaskan kepada istrinya.


    "Ya tidak usah ditanya-tanya ...! Yang namanya hati wanita itu peka, Kang ...!" Juminem mengeyel.


    "Ya sudah .... Kalau memang tidak masak, tidak ada makanan, saya mau mandi saja ..., lantas tidur ...." kata Jamil perlahan dan beranjak berdiri mau mandi.


    "Tidak boleh tidur di kamar sama saya ...!" Juminem langsung mencegah suaminya tidur di kamar.


    "Kalau tidak boleh tidur sama Mak-e ..., tidur di tempat Melian saja, Pak ...." kata Melian pada bapaknya.


    "Tidak boleh ...! Sana tidur di pabrik saja ...!!" sergah Juminem.

__ADS_1


    "Ya, sudah .... Saya mau mandi dahulu, nanti habis itu saya akan ke pabrik, tidur di sana ...." jawab Jamil dengan nada halus.


    Tentu sebanarnya Jamil tidak ingin ribut. Tetapi ia tidak mungkin mengalahkan istrinya yang sedang marah karena cemburu. Biar saja itu berlalu secara alami. Jangan dimarahi, jangan dinasehati, jangan dilawan. Biarkan saja. Cemburu itu biasa. Yang penting, jangan menambah suasana menjadi ribut. Orang-orang bilang, cemburu itu kembang dalam rumah tangga. Sebagai pemanis, penyedap dan penambah gurih dalam keluarga.


__ADS_2