GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 105: CERITA SEBELUM TIDUR


__ADS_3

    Melian bersama teman-temannya baru saja sampai di pabrik kuningan, tempat usaha bapaknya, dimana mereka akan tidur malam di tempat itu. Di bangunan belakang pabrik, yang tersedia cukup kamar. Hanya Irul yang tidur di situ. Bapaknya bersama ibunya sudah tiba lebih dahulu, karena berboncengan naik motor. Sedangkan Melian bersama teman-temannya naik becak.


    "Belum tidur, Mas Irul?" tanya Melian yang baru datang, karena melihat Irul masih berada di luar, duduk di kursi plastik nonton mobil lewat.


    "Belum ..., masih sore, ya ...." jawab Irul yang langsung membuka pintu pagar.


    "Melian dan teman-temannya mau tidur sini, Mas Irul ...." kata Jamil yang tentu tidak akan dibantah oleh karyawannya.


    "Nggih, Pak .... Monggo silahkan ...." sahut Irul yang langsung membuka pintu keluar masuk karyawan dan menunjukkan tempatnya. Kamar-kamar yang ada di bangunan belakang.


    Memang lewatnya harus di ruang tengah. Karena bangunan itu dulunya memang jadi satu. Irul menyalakan lampu-lampu, sehingga terlihat terang. Termasuk lampu dapur dan kamar mandi.


    Melian mengajak teman-temannya masuk. Jamil dan Juminem membantu membawakan tas teman anaknya itu. Ikut ke bangunan belakang.


    "Ini, kamarnya .... Kalau mau minum, ada persediaan di kulkas yang ada di dapur itu. Yang itu kamar mandinya." jelas Jamil pada tamunya.


    "Mas Irul jaga di sini?" tanya Cik Indra yang tentu lebih bisa luwes dalam komunikasi, maklum sudah kerja di bagian pelayanan nasabah bank. Pasti sudah biasa berbicara.


    "Iya, betul, Cik .... saya hanya numpang tidur saja kok .... Rumah saya jauh, kalau pulang tidak cukup waktu, capai di jalan." jawab Irul.


    "Rumahnya jauh? Di mana?" tanya Cik Indra lagi yang ingin tahu.


    "Lasem ...." jawab Irul singkat.


    "Dulu Mas Irul ini karyawannya engkong saya .... Tapi sekarang ikut Pak-e." tambah Melian.


    "Memang engkong Melian masih?" tanya Cik Indra yang jadi penasaran saat Melian menyebut kata engkong.


    "Sudah tidak ada. Saat Melian masih bayi." jawab Irul.


    "Mas Irul ..., nanti kalau anak-anak butuh apa-apa tolong dibantu, ya ...." kata Jamil pada Irul.


    "Nggih, Pak .... Nanti saya tidur di ruang tamu saja, biar yang di belakang dipakai teman-teman Melian." kata Irul pada majikannya.


    "Lhah, tidur di kamarmu juga nggak papa, kok ...." sahut Juminem.


    "Tidak, Bu .... Kurang nyaman. Tidak enak dengan anak-anak perempuan." jelas Irul.


    "Ya udah, terserah kamu saja .... Anak-anak silahkan tidur, tadi naik bus pasti capek. Saya tinggal, ya ...." kata Jamil yang berpamitan, akan pulang kembali ke rumahnya.


    "Ya, Pak ...." sahut Melian dan teman-temannya.


    Mereka pun langsung masuk kamar. Ivon sama Vanda milih jadi satu kamar, dan langsung merebahkan tubuhnya, tidur. Otomatis Cik Indra satu kamar dengan Melian.


    Irul mengantarkan majikannya keluar. Tentu sambil akan menutup pintunya. Melian mengikuti keluar. Demikian juga Cik Indra. Sebagai tamu yang paling tua, ia harus tahu diri dan menjaga tata krama.

__ADS_1


    "Ayo, Cik ..., kita ke kamar .... Kita tidur bersama ...." ajak Melian pada Cik Indra.


    "Sebentar ya, Mel .... aku belum ngantuk, mau ngobrol dulu sama Mas Irul .... Sana kamu ke kamar dahulu, nanti aku nyusul." jawab Cik Indra, yang memang penasaran ingin tahu tentang Melian.


    "O, ya .... Hati-hati Cik .... Mas Irul perjaka tua itu .... Hehe ...." sahut Melian sambil meledek Irul yang takut nikah.


    Irul sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu pembeli. Cik Indra juga ikut duduk di situ. Pasti duduknya tidak terlalu jauh dengan Irul, agar bisa mengobrol leluasa.


    "Berarti Mas Irul sudah kenal Melian ini sejak kecil?" tanya Cik Indra yang masih penasaran, ingin tahu ceritanya.


    "Iya .... Bahkan sebelum ibunya Melian menikah, saya sudah jadi karyawannya Babah Ho, engkongnya Melian." jawab Irul jujur.


    "Sekarang Babah Ho ada di mana?" tanya Cik Indra penasaran.


    Irul terdiam. Sulit untuk berterus terang, menceritakan masa lalu Melian yang penuh derita. Irul menunduk, tidak bisa mengungkapkan ceritanya. Ia teringat peristiwa-peristiwa tragis yang sangat menyedihkan.


    "Kenapa diam? Ada yang dirahasiakan, ya?" tanya Cik Indra pada Irul.


    "Bukan rahasia, tetapi kami sangat bersedih jika mengingat semua kejadian yang dialami keluarga Babah Ho." kata Irul sambil tertunduk, terlihat sedih.


    "Memang ada apa?" tanya Cik Indra yang justru semakin penasaran. Mungkinkah ibunya Melian itu pembantu yang diperkosa oleh majikannya? begitu yang bergelanyut dalam benak Cik Indra.


    Irul tidak menjawab. Masih menunduk, tapi kali ini terdengar ada suara isak tangis, meski pelan namun didengar oleh Cik Indra. Irul sudah meneteskan air mata, karena teringat kesedihan-kesedihan masa lalunya.


    Hati wanitanya bergejolak, merasa iba kepada Irul yang tiba-tiba menangis itu. Tiba-tiba saja Cik Indra langsung mendekat ke Irul. Tangan lembutnya sudah menyentuh bahu Irul. Dan wajah cantik itu sudah mendekat memandangi wajah irul yang tertunduk.


    "Hayoo .., pada ngapain ...!!! Ada apa, hayo ...!!" tiba-tiba terdengar suara membentak dari belakang.


    Cik Indra kaget, langsung melepas tangannya yang tadi menempel di bahu Irul. Lantas duduknya juga agak menjauh dari Irul.


    Demikian juga Iru, yang mendengar suara itu langsung terjingkat. Membenahi posisi duduknya, serta mengusap air matanya.


    "Pasti Pacaran .... Hehehe ...." Melian yang tiba-tiba datang itu sangat mengagetkan mereka berdua.


    "Iih ..., Melian ...!!!" bentak Cik Indra yang merasa terkejut dengan kedatangan Melian yang tanpa diketahui sama sekali, dan tentu jengkel karena dituduh pacaran.


    "Ada apa, Mel ...?" tanya Irul yang juga kaget dengan kedatangan Melian tiba-tiba.


    "Gak papa .... Aku belum bisa tidurm gak ada temannya .... Cik Indra masih di sini ...." kata Melian seakan memanja. Ya, memang Melian sangat dimanja oleh Jamil maupun Juminem.


    "Ya sudah, duduk sini dulu, ngobrol bareng ...." sahut Cik Indra yang sebenarnya masih menyelidiki asal-usul Melian.


    "Melian ikut duduk di sini mengganggu, ndak?" tanya Melian pura-pura.


    "Tidak .... Mengganggu apa? Orang kita juga cuman ngobrol biasa ...." kilah Cik Indra.

__ADS_1


    "Bukan pacaran ...?" tanya Melian.


    "Iih ..., siapa yang pacaran ...?!" kilah Cik Indra lagi.


    "Oh, kirain ...." Melian tersenyum mengejek. Karena tahunya tadi, tangan Cik Indra ada di bahu Mas Irul. Makanya Melian menduga, mereka berdua sedang pacaran.


    "Ini, Melian ..., Cik Indra nanyai rumah Mas Irul .... Katanya mau dolan ke Lasem ...." kata Irul tiba-tiba, mencoba mengelabuhi Melian.


    "Ke Lasem ...? Melian ikut ..." sahut Melian yang langsung senang mendengar kata Lasem.


    "Ngapain ke Lasem?" tanya Cik Indra yang tidak tahu menahu, dan tidak ngerti kalau Irul hanya mengalihkan pembicaraan.


    "Kan rumah Mas Irul di Lasem .... Dekat tempatnya engkong." sahut Melian.


    "Memang engkongnya Melian tinggal di Lasem?" tanya Cik Indra, lagi-lagi ingin tahu kerabat Melian.


    "Dulu, Cik .... Aku masih bayi .... Mas Irul yang tahu semuanya." sahut Melian yang sudah duduk diantara Irul dan Cik Indra, membatasi agar tangannya Cik Indra tidak pegang-pegang Mas Irul.


    "Memang iya, Mas Irul ...? Ayo kita ke Lasem ...." tanya Cik Indra.


    "Sekarang sudah tidak ada siapa-siapa .... Saya saja jarang pulang." sahut Irul.


    "Lhah, terus pada ke mana?" tanya Cik Indra penasaran.


    "Engkong sudah tidak ada .... Amak juga sudah meninggal .... Mamah malah paling pertama kali .... Mas Irul saja sudah ke sini, ikut Pak-e." kata Melian yang menjawab pertanyaan Cik Indra.


    Lega bagi Irul, karena semua sudah dijawab oleh Melian sendiri. Jadi tidak ada beban untuk menceritakan. Irul memang ingin menutupi semuanya, agar tidak terdengar lagi kesedihan-kesedihan yang membuat dirinya menderita.


    "Oo, jadi Mamah Melian ini sebenarnya sudah meninggal?" tanya Cik Indra lagi, ingin lebih dijelaskan.


    "Iya .... Sejak saya masih bayi. Mak-e sama Pak-e itu yang merawat Melian dari bayi sejak ditinggal mamah. Makanya, mereka berdua itu yang saya anggap orang tua sungguhan, orang tua yang membesarkan saya, Cik ...." jelas Melian pada Cik Indra.


    "Beruntung kamu ya, Mel .... Ada orang yang tulus merawat dan menyayangi kamu .... Mau apa-apa dikasih, mau ini itu tinggal bilang .... Enak kamu, Melian ...." kata Cik Indra yang jadi iri. Dan tentunya setelah tahu yang sebenarnya, Cik Indra sudah tidak penasaran lagi dengan kata-kata anak babu. Ternyata itu semua salah dan hanya fitnah. Lega rasanya hati Cik Indra. Pasti nanti bisa tidur pulas.


    "Sudah malam, ayo tidur ...." ajak Cik Indra pada Melian, yang sekarang justru bermanja dengan Irul.


    "Bentar Cik ...." sahut Melian yang masih berbisik-bisik pada Irul.


    Entah karena apa, melihatmelian bermanja pada Irul, tiba-tiba saja perasaan Indra jadi berubah. Ada rasa iri yang muncul di pikirannya. Ingin rasanya ia bermanja kepada Irul seperti Melian itu. Ingin ia mengulang kembali menyentuh tubuh Irul seperti tadi sudah meletakkan tangan di bahunya. Bahkan mungkin juga ada rasa cemburu. Apakah ini tanda-tanda seorang wanita yang mulai jatuh cinta? Tapi kenapa secepat ini?


    "Ah, kenapa juga aku ini ...?!" pikiran Cik Indra bergelora.


    "Baru saja ketemu .... Baru saja kenal, kenapa jadi begini?" Hati Cik Indra semakin gusar.


    "Ayo tidur ...!!" Cik Indra berkata keras mengajak Melian.

__ADS_1


    "Iya ..., iya ..., iya ....!" Melian pun menuruti ajakan caciknya yang suka mengatur di rumah kost itu.


__ADS_2