GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 141: MENYIBAK MISTERI KABUT JINGGA


__ADS_3

    Setelah ditemukan dua orang yang ada di puncak Gunung Bugel, yaitu Irul yang posisinya sedang bertapa di bawah pohon beringin di dekat makam Dampo Awang, serta Melian yang posisinya menyandar pingsan di batu bongpai, malam harinya tidak ada lagi cahaya jingga yang bersinar di puncak pemakaman itu. Orang-orang kampung yang tiga malam berturut-turut ditakutkan oleh kabut jingga itu, kini sudah tidak khawatir lagi. Cahaya itu sudah hilang. Kehidupan masyarakat pun kembali normal.


    Namun, tentunya bagi bebarapa orang, peristiwa kabut jingga yang menyelimuti puncak Gunung Bugel itu tetap menjadi tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang terjadi? Lantas apa hubungannya dengan dua orang yang ditemukan di puncak pemakaman itu? Dua orang itu hanya manusia biasa, bahkan terlihat sangat lemah. Yang satu pingsan, dan yang laki-laki juga tidak memiliki kharomah atau aura apapun. Tetapi mengapa dua orang itu berada di atas pemakaman bersamaan dengan munculnya kabut jingga yang menyelimuti puncak Gunung Bugel?


    Kisah tentang jatuhnya sepeda motor ke dalam jurang di Bandungan, adalah awal dari kemunculan peristiwa-peristiwa aneh yang ada di puncak Gunung Bugel. Melian, gadis yang mengenakan gelang dan liontin dari batu giok dengan ukiran naga, adalah titisan dari pewaris Kampung Naga. Sebagai seorang putri titisan pemegang lambang kekuasaan, maka tentu dilindungi oleh para pengawal. Tentunya pengawal-pengawal ini adalah makhluk-makhluk gaib yang tidak bisa dilihat dengan mata manusia biasa. Para pengawal ini juga merupakan orang-orang kepercayaan para penguasa dengan lambang naga dari daratan Tiongkok. Dan tentunya juga termasuh arwah-arwah mendiang para pemimpin Kampung Naga. Terutama adalah pemegang giok berukir naga.


    Peristiwa yang terjadi saat kecelakaan di jurang Bandungan, tubuh Melian yang melayang akan jatuh di dalam jurang, tiba-tiba muncul dua sinar berkelebat, yang satu mengeluarkan cahaya merah, dan yang satu lagi mengeluarkan cahaya biru. Kedua sinar itu langsung menyambar tubuh Melian yang hampir saja menghantam batu di dasar jurang. Aneh, sinar itu sanggung mengangkat tubuh Melian. Lantas tubuh Melian dibawa terbang ke atas oleh dua berkas sinar itu.


    Namun saat dua sinar itu sampai di atas, tiba-tiba dihadang oleh nenek tua.


    "Mau dibawa ke mana anak itu ...?!" tegur si nenek tua itu, yang tidak lain adalah Nenek Jumprit, penunggu lembah Jurang Jumprit di daerah Karang Kadempel, Bandungan.


    "Maaf, Nenek Tua .... Kami adalah utusan dari pengauasa Gunung Bugel, diperintahkan untuk menjaga dan menyelamatkan anak ini. Bukan maksud kami untuk bertindak tidak sopan di kekuasaan orang lain, tetapi anak ini adalah pewaris gelang giok berukir naga dari tanah Yunan di daratan Tiongkok. Mohon maaf jika kami lancang ...." suara yang keluar dari perwujudan makhluk yang hanya terlihat sebagai berkas cahaya itu.


    "Hehehe .... Tan Liong, Sibaha dan Dewi Indu .... Bhre Lasem. Oei Ing Kiat .... Semuanya ikut-ikutan .... Campur tangan urusan orang lain .... Hehehe ...." Nenek Jumprit mulai menerka yang memerintahkan dua makhluk berwujud cahaya tersebut.


    "Mohon maaf, Nenek Tua .... Kami hanya menjalankan perintah ...." dua utusan itu tentu tidak berani sembarangan di wilayah kekuasaan orang lain.


    "Ketahuilah .... Anak ini sudah terkena aura buruk dari Bandungan .... Tinggalah beberapa hari di penginapanku, untuk melepas pengaruh reka daya manusia biadap dari dalam raga dan sukmanya. Biar anak itu sehat lebih dahulu ...." kata Nenek Jumprit.


    "Tapi bagaimana kami harus menyampaikan kepada junjungan kami?" tentu dua utusan itu menjadi bingung.


    "Itu menjadi bagian dari tanggung jawabku. Nanti saya yang akan menghadapi mereka, dan saya sendiri yang akan mengantarkan anak ini kepada tuan-tuanmu. Karena siapa yang melakukan kesalahan di Jurang Jumprit ini, dia sudah terkena balak dari Nenek Jumprit .... Hehehe ...."

__ADS_1


    "Apakah kami harus menyampaikan kepada junjungan kami sekarang?" tanya dua pengawal itu.


    "Tidak usah. Menginaplah di pondokku .... Tunggu saya menyelamatkan anak ini dari guna-guna manusia biadab." kata Nenek Jumprit yang dalam sekejab sudah membawa dua orang pengawal itu serta tubuh Melian yang tak berdaya, sampai di istananya.


    Sebuah bangunan yang megah di alam gaib, bak istana yang dihias dengan berbagai permata. Hamparan permadani yang tebal, menutup seluruh lantai istana itu. Tembok yang terbuat dari marmer, dihiasi dengan aneka warna batu permata. Kamar-kamarnya yang besar dan megah, dengan perabotan tempat tidur yang mewah, pasti sangat nyaman untuk digunakan tidur.


    Di ruang boja loka, terdapat makanan aneka macam. Jenis makanan apa saja tersidia di sana. Segala macam buah pilihan dari buah-buah yang teraik, juga tersedia di keranjang-keranjang buah yang terbuat dari emas murni. Segala macam minuman juga tersaji di atas meja boja loka tersebut.


    Para pengawal itu menikmati hidangan yang disediakan oleh Nenek Jumprit. Tentu dengan senang hati. Selanjutnya, mereka menginap di istana Nenek Jumprit, sambil menunggu kabar berita dari penguasa jurang Bandungan tersebut.


    Namun perlu diketahui, bahwa semua keindahan, semua kemewahan dari istana Nenek Jumprit, serta semua yang ada di dalamnya, bukanlah bentukan fisik yang bisa dilihat oleh manusia. Itu semua hanya ada dalam alam kearwahan. Alam yang di luar nalar manusia normal. Alam fantasi di dunia gaib.


    Nenek Jumprit meletakkan tubuh Melian di atas kasur empuk. Tubuh seorang gadis yang lemas tak berdaya, karena pengaruh obat yang sudah dipaksakan oleh remaja-remaja bejat. Obat-obatan itu akan mempengaruhi raga maupun sukma Melian. Apalagi ketika Melian dicekoki dengan obat perangsang, itu akan berpengaruh pada halusinasi yang tidak karuan. Tentu itu semua akan merusak jiwanya. Beruntung Melian masih dijaga oleh para pengawal penguasa Kampung Naga. Sehingga tidak terjadi perusakan raganya. Melian masih perawan.


    "Uhhukght ....! Uhhukght ....!" Melian yang terbatuk karena diselimuti asap ratus yang sangat tebal menggulung di tubuhnya. Tentu membuat napasnya tersesak.


    "Syukurlah anak manis .... Kamu sudah bangun ...." kata Nenek Jumprit yang kemudian meletakkan angklo kecil berisi bara api itu dibawah tempat tidur Melian. Sudah tidak mengeluarkan kepulan asap tebal lagi, hanya bau wangi dari dupa yang terbakar saja.


    "Di mana, saya ...?" Melian yang sadar langsung bertanya keberadaan dirinya.


    "Di rumah nenek .... Sudah sepasar nenek merawatmu. Kamu mengalami musibah .... Syukurlah para pengawal itu masih bisa menolong dirimu .... Lain kali kamu harus lebih waspada dan hati-hati .... Jangan mudah percaya dengan mulut laki-laki. Minumlah ini ...." kata Nenek Jumprit sambil memberikan cangkir yang terbuat dari emas, entah berisi ramuan jamu apa, diminumkan ke mulut Melian.


    Ya, ternyata Melian sudah tidak sadar selama lima hari. Yang oleh orang-orang jaman dulu disebut dengan istilah sepasar, yaitu mulai dari hari Minggu pasaran Kliwon hingga hari Kamis pasaran Wage. Antara Kliwon hingga Wage, dan akan datang Kliwon lagi inilah yang disebut sepasar.

__ADS_1


    "Huk ..., hu ..., hu ..., hu .... Mamah .... Saya pengin ketemu Mamah .... Pak-e .... Mak-e .... Huk ..., hu ..., hu ..., hu ...." Melian menangis.


    "Eee .... Sudah besar tidak boleh menangis .... Malu ...." kata Nenek Jumprit yang mengelus dan membelai Melian dengan penuh kasih sayang.


    "Saya kangen sama Mamah, Nek .... Sejak kecil saya ditinggal Mamah .... Huk ..., hu ..., hu ..., hu ...." Melian masih saja menangis.


    "Ya sudah .... Nanti saat matahari terbenam, kamu akan diantar oleh para pengawalmu untuk menemui Mamah kamu .... Sudah, jangan menangis terus, anak Manis ...." kata Nenek Jumprit yang terus mengelus Melian.


    Matahari sudah lengser ke arah langit bagian barat. Menurut perhitungan penanggalan Saka, itu pertanda hari sudah berganti. Malam Jumat Kliwon. Nenek Jumprit memanggil para pengawal dari Gunung Bugel, lalu menyampaikan pesan-pesannya. Terutama menitip salam untuk para penguasa Lasem, dan juga memohon maaf karena tidak tahu kalau salah satu anaknya mengalami musibah di Bandungan. Nenek Jumprit juga mengatakan, kalau anak ini ingin ketemu dengan orang tuanya. Setidaknya berikan sedikit waktu untuk memberikan kesempatan agar anak yang sangat rindu dengan orang tuanya itu bisa dipertemukan. Namun pesan dari Nenek Jumprit, anak ini harus dijaga agar tidak diganggu manusia.


    Setelah berpamitan, dan tentunya sinar matahari sudah tidak mungkin kembali, di malam yang gelap gulita, hanya kerlip bintang yang menghiasi langit, para pengawal yang berupa makhluk dengan wujud cahaya itu, membawa tubuh Melian.


    "Plassss .....!"


    Cahaya itu melintas di langit yang sudah sangat gelap. Seperti bola api yang melayang di langi, terbang dari barat daya menuju timur laut. Dari arah lereng selatan Gunung Ungaran menuju Gunung Bugel.


    Tentu kemunculan bola api itu sangat mengejutkan dan menakutkan bagi orang yang melihatnya. Namun bagi orang-orang jahat yang ingin memanfaatkan kekuatan gaib, pasti mereka akan mengejar dan mencari tempat jatuhnya cahaya tersebut. Tentu mereka akan memanfaatkan kekuatan itu untuk niat jahatnya.


    Oleh sebab itulah, Nenek Jumprit memesan agar tubuh Melian ini dijaga ketat. Itulah sebabnya, di puncak Gunung Bugel, pada malam Jumat Kliwon memendar cahaya jingga, yang berasal dari para penguasa Gunung Bugel beserta seluruh prajuritnya yang menjaga raga Melian. Sedangkan sukmanya, dibawa ke nirwana untuk menemui mamahnya.


    Sementara itu, jauh dari Gunung Bugel, orang-orang yang sedang melakukan nepi, tirakat, mencari ilmu untuk mendapatkan kesaktian maupun kekayaan, bahkan ada juga yang ingin menjadi pejabat, yang secara kebetulan pada malam Jumat Kliwon, malam yang biasa ditunggu untuk mendapatkan ndaru ataupun kekuatan tertentu, menyaksikan perjalanan cahaya di langit yang berjalan dari arah barat ke timur itu, langsung mengejar ke arah tempat jatuhnya cahaya tersebut. Dan banyak para pencari kekuatan gaib itu yang datang ke puncak Gunung Bugel. Entah itu dukun santet, dukun nujum ataupun orang awam yang mencoba keberuntungan. Meskipun masyarakat di sekitar Gunung Bugel justru takut untuk naik danb tidak ada yang berani mendekat.


    Dan dugaan Nenek Jumprit memang benar. Orang-orang jahat yang akan memanfaatkan kekuatan gaib pasti akan mencarinya. Beruntung para penguasa Gunung Bugel sudah bersiap untuk menjaga tubuh Melian. Maka orang-orang yang datang dengan niat tidak baik itu, orang yang datang diangan niat untuk melakukan kejahatan. satu persatu hilang ditelan oleh prajurit setia penguasa Kampung Naga. Musnah tanpa bekas.

__ADS_1


__ADS_2