
Peristiwa tentang ditangkapnya copet di Pasar Juwana, langsung ramai menjadi pembicaraan warga. Terutama orang-orang di Kampung Naga. Tentu karena yang menjadi korban pencopetan adalah ibu-ibu dari Kampung Naga. Setidaknya ibu-ibu yang menjadi korban tersebut akan menceritakan kejadiannya kepada suami dan anak-anaknya. Yang pasti dia akan mengatakan jika dirinya bisa menangkap pencopet itu dengan cara menjepit tangan si pencopet di ketiaknya. Lantas orang-orang berdatangan dan memukuli si pencopet itu.
"Wuaah, Ibu memang hebat ...." tentu suaminya memuji istrinya yang sudah mampu menangkap copet.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya anaknya.
"Tidak .... Dompetnya juga tidak jadi diambil .... Tangan copet itu langsung Ibu cepit di ketiak. Ibu dan orang-orang langsung berteriak ada copet .... Copet itu langsung dipukuli oleh orang se pasar." cerita si ibu itu pada suami dan anaknya.
"Walah .... Pasti copetnya babak belur, itu ...." kata suaminya.
"Tidak cuman babak belur, Pak .... Hampir mau pingsan .... Lha wong sak pasar ikut mukulin semua, kok .... Mukanya sudah nggak nampak wajah lagi, Pak .... Bibirnya sampai monyong, mukanya lebam-lebam. Dah, pokoknya gak wujud orang ...." kata sang ibu itu.
"Waah, kalau begitu besok kalau pergi-pergi sama Ibu saja .... Biar gak dicopet .... Hehehe ...." sahut anaknya yang bangga dengan ibunya.
Demikian pula ibu-ibu yang lain. Ia pasti juga bercerita tentang penangkapan copet itu kepada suami, anaknya, bahkan juga tetangganya. Maka, cerita penangkapan copet itu langsung menyebar di Kampung Naga. Pastinya tidak hanya di Kampung Naga, tetapi orang-orang yang ada di pasar itu, pedagang atau pembeli yang tadi ikut melihat penangkapan copet, pasti juga bercerita kepada keluarga dan para tetangganya.
Berbeda dengan para tetangganya, hanya Juminem yang tidak menceritakan penangkapan copet itu kepada suaminya. Menurut Juminem, itu hal biasa yang sering dialaminya bersama suami dan anaknya. Ia tidak kaget dengan kejadian tadi pagi di pasar. Ia yakin pasti semua itu karena Melian yang tadi sempat mengatakan kepada ibunya dan menunjuk copet itu. Juminem ingat, betapa hebohnya dulu ketika ada pencuri yang masuk rumahnya dan tidak bisa bergerak seperti patung. Itu juga karena anaknya yang diyakini punya kekuatan aneh. Maka kalau hanya penangkapan copet, itu adalah hal biasa.
Di tempat lain. Pagi itu, polisi yang membawa copet yang ditangkap di Pasar Juwana, yang selanjutnya dinaikkan ke atas mobil dinas polisi yang berupa mobil bak terbuka, mungkin belum sarapan. Ia merasa lapar, hingga akhirnya harus mampir ke warung makan. Ia berhenti di depan warung sate kambing.
Namun belum juga masuk, tiba-tiba dari dalam warung itu keluar perempuan separo baya, yang mungkin penjualnya, menemui laki-laki berseragam polisi itu dan mengatakan, "Belum siap, Pak .... Nanti siang ...."
"Walah .... Sudah lapar kok .... Ya sudah, nanti siang saja ...." sahut polisi itu.
"Nggih ..., ngapunten .... Mohon maaf ...." kata perempuan itu, yang lantas masuk sambil menutup pintunya, sebagai tanda kalau warungnya belum buka.
Tentu calon pembeli itu kecewa. Lantas ia menengok copet yang dinaikkan ke mobil dinasnya.
"Heh ...! Kamu mau masuk penjara apa mau pulang ...?!" tanya polisi itu pada pencopet yang masih tergeletak di bak belakang mobilnya.
"Mau pulang, Pak .... Kasihan anak istri saya, Pak ...." rengek si pencopet yang masih kesakitan.
"Rumahmu mana?" tanya polisi itu lagi.
"Situ, Pak .... Sudah dekat dari sini ...." kata sang copet.
Lantas polisi itu merogoh kantong celana sang copet, mengambil dompet untuk mengetahui identitasnya. Dompet itu kosong tidak ada uangnya. Berarti copet ini tidak punya uang. Lantas kartu tanda penduduk dilolos dari dompet itu. Ia tahu alamat rumahnya.
__ADS_1
"Kamu sudah berapa kali tertangkap ...?!" tanya petugas itu kepada sang pencopet.
"Baru tiga kali ini, Pak ...." jawab si copet itu.
"Ditahan apa langsung bebas ...?!" tanya petugas itu lagi.
"Yang pertama di tahan tiga bulan .... Yang kedua saya mbayar jaminan ...." jawab si pencopet.
"Ya sudah, saya antar pulang, tapi tolong nanti berikan uang jaminan, ya ...." kata oknum petugas tersebut memberi sinyal kepada pencopet.
"Ya, Pak ...." kata copet itu yang jadi tenang. Dirinya tidak akan ditahan, asal bisa membayar uang jaminan.
Akhirnya, copet itu sudah sampai di rumahnya. Dengan jalan terseok-seok, ia masuk rumah kecil yang tidak begitu baik, bahkan boleh dikatakan rumah yang kurang sehat. Copet itu langsungmerebahkan tubuhnya di tikar yang tergelar di samping pintu masuk, lantas memanggil istrinya.
"Bu ...! Bu ....! Bu ....!" teriak sang copet itu.
"Ya, Pak ...! Sebentar ....!" sahut istrinya yang ada di belakang rumah, mungkin masih menjemur cucian.
Selanjutnya istri sang copet tadi keluar, mendapati suaminya yang babak belur sudah tergeletak di tikar.
"Halah, Pak ..., Pak .... Pasti tertangkap lagi ...." kata wanita yang masih belum terlalu tua itu. Pasti ia sudah tahu pekerjaan suaminya yang tidak benar. Jika pulang babak belur, berarti tadi tertangkap.
Istrinya tidak menjawab, tetapi langsung masuk ke kamar. Wanita itu keluar lagi dengan membawa amplop, pasti berisi uang. Amplop putih itu kemudian diberikan kepada petugas yang mengantar suaminya.
"Ini, Pak ...." kata istri pencopet itu.
Oknum itu langsung membuka amplop, menghitung isinya.
"Lho .... Kurang to, ya ...." kata si oknum berseragam itu.
"Halah ..., punyanya cuma itu, Pak .... Kemarin juga segitu tok, kok ...." sahut perempuan yang sudah mulai membersihkan wajah suaminya itu.
"Yo, wis .... Besok lagi kalau kerja hati-hati ...." kata oknum dengan seragam mentereng itu, yang kemudian pergi meninggalkan copet dan istrinya.
Entah sudah berapa kali copet itu sebenarnya tertangkap. Mungkin sudah tidak terhitung. Tetapi lagi-lagi, ia melakukan pekerjaan haram itu. Kalau istrinya menasehati agar cari pekerjaan yang lebih aman, laki-laki itu mengatakan hanya itu keahliannya. Dengan model hukum seperti itu, tentunya ia tidak pernah jera untuk mencari uang dengan cara mencopet. Maka sebenarnya wajar kalau ada masyarakat yang jengkel ingin menghakimi sendiri copet atau maling yang ditangkap.
Siang itu, sang oknum petugas kembali ke warung sate kambing. Makanan berkelas di kota kecil. Hanya orang yang punya uang banyak yang sanggup membeli sate kambing. Tentu karena harganya yang lumayan mahal. Dan yang biasanya jadi alasan adalah uang untuk beli sate kambing bisa dipakai makan untuk satu minggu. Sayang kalau hanya untuk sekali makan. Makanya, orang yang datang ke warung sate kambing pastilah orang yang punya uang berlebih.
__ADS_1
Seperti halnya oknum petugas itu, dengan mudahnya mendapatkan uang dalam jumlah besar. Hanya sekadar melepas copet yang tertangkap. Jika hal itu dipermasalahkan, katanya ia hanya sekadar membantu orang, menolong orang yang sedang kesusahan. Paling tidak luka-lukanya ada yang merawat, yaitu istrinya.
Namun ia tidak sadar, bahwa kesalahan yang sudah ia lakukan itu akan berakibat fatal dikelak kemudian hari. Setidaknya ia telah membiarkan orang-orang yang telah melakukan pekerjaan-pekerjaan haram. Dan yang lebih parah, ia juga ikut memanfaatkan kesempatan untuk meraub uang-uang haram.
Mungkin secara sepintas itu tidak bermasalah selama tidak ada yang tahu. Namun ia lupa bahwa di luar pengamatan manusia, ada mata yang lebih waspada dan siap akan memberikan hukuman-hukuman berupa karma.
"Buk ..., sate saya mana ...?" tanya oknum berpakaian seragam itu kepada penjual sate yang tadi pagi sudah ditemuinya.
"Walah .... Sudah habis, Pak ...." sahut perempuan penjual sate itu.
"Lho, bagaimana to, kamu ini ...?! Tadi pagi saya kan sudah ke sini ..., katanya belum buka .... Sekarang saya ke sini lagi, katamu habis ...! Kamu ini bagaimana ...?!!!" polisi itu membentak bakul sate.
"La tadi kan tidak pesan .... Ini sudah dibeli orang ...." jawab bakul sate itu yang agak ketakutan.
"Mau dibeli satenya kok rewel ...!! Apa warungnya mau ditutup selamanya ...?!" kata oknum itu mengancam.
"Yo jangan, to ..., Pak .... Mohon maaf, saya tidak tahu ...." kata perempuan penjual sate itu semakin takut.
"Sudah, Bu .... Ini pesanan saya yang satu bungkus berikan saja kepada polisi itu ...." tiba-tiba seorang lelaki yang juga beli sate di situ memberikan salah satu bungkusan satenya kepada ibu penjual itu, agar diberikan kepada oknum yang marah-marah itu.
"Oh, nggih .... Terima kasih, Pak ...." kata ibu penjual sate itu sambil menerima kembali bungkusan sate yang sudah dimasukkan ke dalam plastik kresek. Lalu memberikan bungkusan itu kepada polisi yang marah-marah itu, "Ini, Pak .... Mohon maaf, ya ...." kata penjual itu kepada petugas yang barusan memerahinya.
Tanpa berkata apa-apa, orang berseragam dinas itu langsung menyaut bungkusan sate, lantas pergi begitu saja.
"Uangnya mana, Pak ....?! Lho kok pergi begitu saja .... Tidak mau bayar ...?!" perempuan bakul sate itu berteriak, tetapi tidak digubris oleh oknum petugas yang langsung membawa pergi satenya.
"Sudah, Bu .... Biarkan saja petugas itu .... Tidak usah khawatir, nanti saya yang membayar." kata laki-laki berpakaian rapi yang sudah rela bungkusan satenya dikembalikan ke bakulnya, kini setelah sate itu dibawa lari oknum petugas, ia justru rela membayarnya. Sungguh laki-laki yang berbudi baik.
Selepas membawa pergi sate kambing yang tidak dibayarnya itu, ia melajukan mobil dinasnya keluar, menuju jalan raya ke arah timur. Pastinya, di dalam mobil itu ia melolos sate kambing dari bungkusannya, lantas memakan sate itu sambil menyetir. Enak, itu yang ia rasakan. Sudah enak tidak membayar. Pasti rasanya lebih menantang.
Ya, memang warung sate kambing itu terkenal akan kelezatannya. Maka wajar jika buka jam sebelas, jam satu siang dagangannya sudah habis. Saking larisnya.
Tidak heran kalau oknum petugas itu langsung memakannya dalam perjalanan. Dan saking merasakan enaknya, maka ia langsung memasukkan dua tusuk sate ke dalam mulutnya, dimakan secara bersamaan. Dasar petugas nggragas.
Namun, bersamaan itu, tiba-tiba di jalanan ada kucing hitam yang melompat ke ara mobilnya. Oknum itu kaget, dan spontan ia menginjak rem secara mendadak. Mobil yang dikendarainya itu berhenti tiba-tiba.
Karena hentakan tiba-tiba, maka oknum yang menyetir itu terpental ke depan. Ia tidak mengenakan sabuk pengaman. Maka kepalanya langsung membentur ke kaca depan. Dan yang lebih tragis, dua tusuk sate yang sedang dinikmati tadi masuk ke tenggorokan dan menembus ke lehernya.
__ADS_1
Oknum petugas itu mati dengan mata terbelalak serta dua tusuk sate yang menancap dari bibir hingga merobek leher. Itulah Karma yang ia terima.