GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 126: GADIS ANEH


__ADS_3

    Tidak hanya di rumah duka tempat penyemayaman jenazah Jonatan saja yang diceritakan orang ada perempuan aneh. Tetapi di rumah duka tempat penyemayaman jenazah Cung Kek, yang ada di Kawasan Marina, juga terjadi hal aneh. Yaitu munculnya gadis di dekat peti jenazah. Namun di tempat peti jenazah ini perwatakan gadis yang ikut berdiri diantara orang-orang yang datang berdoa, wajahnya sangat sadis. Tampak kemarahan yang tidak bisa disembunyikan. Hal ini tentunya diketahui oleh teman-temannya Cung Kek yang pada berdatangan di rumah duka itu.


    Awalnya, anak-anak murid sekolah dari SMA Majapahit, teman-temannya Cung Kek, tidak menyadari adanya gadis yang berkali-kali ikut rombongan pelayat memberi doa di depan jenazah. Namun salah satu anak-anak yang bergerombol duduk berjejeran itu, rupanya ada yang mengamati orang-orang yang memberi doa. Dan saat anak ini merasa ada yang aneh dengan gadis yang ia lihat sudah beberapa kali ikut berdiri diantara pelayat yang datang memberi doa di depan peti jenazah. Maka, ia pun menyampaikan kecurigaannya itu kepada teman-temannya.


    "Eh, Wi ..., coba kamu perhatikan parempuan itu." kata anak yang melihat gadis aneh itu kepada temannya.


    "Yang mana, Lus?" tanya temannya yang dipanggil Wi tadi.


    "Itu .... Yang pakai celana jean biru panjang, pakai kaos dan ditutup jaket coklat. Gadis dengan rambut lurus sebahu itu. Yang ada di tengah diantara para pelayat yang memberi doa di depan peti jenazah." jelas Lusi, yang berbisik menunjukkan kepada temannya.


    "Iya, saya nelihatnya .... Memang kenapa?" tanya Tji Wi pada Lusi, teman sekelas dengan Cung Kek itu.


    "Saya melihat gadis itu, sudah dua kali dia berdiri di situ. Kan aneh .... Masak melayat sampai memberi doa dua kali. Kamu kenal dia?" tanya Lusi yang mengamati dari tadi.


    "Tidak. Mungkin saudaranya Cung Kek .... Sehingga berkali-kali mengantar saudaranya yang datang dari jauh." jawab Tji Wi.


    "Ah, kok aneh .... Kalau saudara Cung Kek, kenapa wajahnya terlihat sadis. Dia seakan marah. Lihat rautnya yang menakutkan."  sahut Lusi yang terlihat gemas dengan gadis itu.


    "Kamu kan bawa kamera .... Coba kamu foto, besok kita tanyakan ke teman-teman. Mungkin ada yang tahu siapa gadis itu. Kalau tidak cacik atau adiknya Cung Kek, yan mungkin saudaranya." kata Tji Wi yang usul pada temannya itu untuk memotret.


    Setuju dengan usul temannya itu, maka teman sekelas Cung Kek yang bernama Lusi itu langsung memotret dua kali. Tepat diarahkan ke orang-orang yang sedang memberi doa di depan mayat Cung Kek. Tentu yang difokuskan adalah gadis yang ada diantara pendoa itu.


    Kala itu tidak semua orang punya kamera foto. Kamera foto atau yang biasa disebut dengan nama tustel dengan menggunakan roll film itu, masih menjadi barang mewah. Tidak semua orang punya. Roll film beli sendiri untuk negatif film pengambilan gambar. Nanti jika sudah digunakan atau dilakukan pemotretan, selanjutnya harus dicucuikan di stodio foto terlebih dahulu, kemudia dicetak menjadi sebuah gambar foto yang bisa dilihat. Tidak seperti zaman sekarang dimana setiap orang bisa ceprat-cepret memotret pakai HP.


    Maka Lusi yang sengaja membawa tustel, tentu untuk mengabadikan peristiwa yang dianggap penting dan bersejarah. Yaitu peristiwa kematian temannya. Yang pasti sebenarnya akan digunakan besok saat upacara bemberangkatan jenazah. Namun karena rasa ingin tahunya pada gadis yang berkali-kali nongol di tepi peti mati Cung Kek itulah, maka ia setuju dengan usul temannya untuk memotret orang itu.


    "Yuk kita pindah ke tempat Prendes ...." salah seorang teman mengajak berpindah tempat.


    "Iya .... Biar adil." sahut yang lain.


    "Lhah, yang ke tempat Kecik, bagaimana?" tanya yang lain lagi.


    "Besok sebelum upacara pemakaman."


    "Oke lah .... Ayuk ...."


    "Aku ikut ...."

__ADS_1


    "Barengan semua saja ...."


    "Ya, kita bareng .... Biar nanti yang pada berangkat belakangan tinggal di sini."


    "Oke ...."


    Akhirnya sekelompok anak teman-temannya Cung Kek itu meninggalkan ruang rumah duka, untuk berpindah ke tempat penyemayaman Prendes, yang ada di rumah duka daerah Citarum. Cukup lumayan jaraknya. Mereka saling berboncengan naik sepeda motor.


    Ya, memang acara pemakaman dari warga keturunan di daerah Semarang, bahkan daerah-daerah lain, biasanya jenazah disemayamkan di rumah duka yang biasanya disediakan oleh rumah sakit atau yayasan kematian. Hal ini karena kalau di rumahnya sendiri tempatnya terlalu sempit dan tidak punya tempat parkir. Tentu kalau sampai tiga hari dalam penyemayaman jenazah, itu akansangat mengganggu dan merepotkan. Maka pihak yayasan kematian atau rumah sakit menyewakan rumah duka sebagai tempat penyemayaman.


    Namun bagi orang-orang yang kaya, yang punya rumah besar dan halaman luas, yang cukup untuk digunakan menerima para tamu pelayat, maka mereka menggunakan rumahnya sindiri untuk kegiatan upacara penguburan. Tentu dengan berbagai acara sebelum pemberangkatan jenazah.Seperti dulu saat kematian Cik Lan, upacara pemakamannya dilaksanakan di rumah Babah Ho sendiri. Karena rumahnya besar dan halamannya luas, tidak perlu menyewa rumah duka.


    Akhirnya anak-anak dari SMA Majapahit, teman-temannya Prendes itu sudah sampai di rumah duka tempat penyemayaman jenazah. Mereka bersama-sama masuk ke ruangan penyemayaman jenazah Prendes. Lantas bersama-sama memberi doa di tepi peti mati yang di dalamnya sudah terbujur jasad temannya itu. Pasti sudah didandani dengan pakaian yang keren, sehingga membuat Prendes tampak ganteng.


    "Sebentar ..., aku mau foto kalian ...." kata Lusi pada teman-temannya yang berdoa di tepi peti mati.


    Lusi langsung melangkah, berpindah ke belakang kursi-kursi yang diduduki para pelayat, menghadap ke peti mati yang ada teman-temannya. Ia akan memotret teman-temannya yang sedang berdoa di hadapan peti mati.


    Namun alangkah kagetnya Lusi yang sedang mengincar teman-temannya menggunakan kamera tustel. Dari lensa kamera, ia melihat sosok gadis yang tadi dilihat di tempat penyemayaman Cung Kek. Jantung Lusi langsung berdebar kencang. Keanehan yang menakutkan.


    Lantas Lusi kembali mengincar dengan kameranya lagi. Gadis itu tetap masih terlihat. Dengan jemari gemetar, Lusi memotretnya. Ia mengambil gambar teman-temannya yang sedang berdoa, sekaligus memotret gadis yang ikut berdiri bersama teman-temannya tadi. Dua kali pemotretan.


    Lemas tubuh Lusi. Ia langsung meletakkan tubuhnya, duduk di kursi, menyandar di tembok belakang. Tentu dengan jantung berdebar karena rasa takutnya.


    Selesai memberikan doa, teman-temannya langsung menyusul ke tempat Lusi yang sudah duduk dan terlihat lemas.


    "Ada apa, Lus?"


    "Kenapa, Lus ...?"


    "Kamu ada apa, Lus?"


    Tentu teman-temannya bingung melihat keadaan Lusi yang sudah menyandar tembok tersebut.


    "Aku melihat gadis itu lagi .... Tadi ia ikut berdiri diantara kalian saat berdoa .... Tapi ia kelihatan marah menatap ke dalam peti Prendes. Apa kalian tidak tahu? Ia berdiri di tengah-tengah kalian ...." kata Lusi yang terlihat masih ketakutan.


    "Masak, sih ...?!"

__ADS_1


    "Di mana?"


    "Kok saya gak lihat ...?!"


    "Tadi posisinya ada di sebelah mana?"


    "Di tengah-tengah, antara kamu sama Tji Wi ...."


    "Ah, gak ada .... Tadi hanya kita-kita aja .... Gak ada orang lain."


    "Besok kita lihat di foto. Tadi saya sudah memotretnya."


    Tentu anak-anak itu ribut masalah gadis aneh yang mencurigakan, seperti yang diceritakan oleh Lusi. Lantas mereka pun berusaha mencari gadis yang diceritakan itu. Mengamati seluruh penjuru ruang duka itu, namun tidak juga menemukan gadis yang dimaksud dan diceritakan oleh Lusi maupun Tji Wi.


    "Jangan-jangan, nanti di tempatnya Kecik juga ada gadis itu lagi?" kata salah satu temannya, yang tentu juga mulai merasakan keanehan.


    "Kalau begitu kita buktikan .... Kita ke tempatnya Kecik .... Cari gadis itu ada di sana apa tidak ...." sahut teman yang lain, yang tentu jadi sangat penasaran.


    "Ah, jangan .... Ini sudah malam. Besok saja." temannya ada yang tidak setuju.


    "Aku mau ke sana .... Ingin membuktikan." sahut yang lain lagi, yang tentu sangat penasaran.


    "Ya udah .... Yang mau ke tempat Kecik silahkan saja .... Tapi yang sudah kemalaman biar pulang. Kasihan anak-anak perempuan, nanti kemalaman.


    "Eh ..., eh ..., eh .... Lihat ...!! Itu .... Gadis itu .... Ya dia ...." tiba-tiba Lusi menunjuk ke arah dekat pintu.


    "Hah ...?! Iya, betul .... Gadis itu .... Yang tadi juga ada di dekat peti jenazah Cung Kek ...." sahut Tji Wi yang sudah melihat sebelumnya.


    "Siapa ...?! Mana ...?!" tanya yang lain, yang langsung melongok ke arah pintu keluar.


    "Itu .... Gadis dengan celana jean, jaket coklat, rambut lurus sebahu itu .... Dia mau keluar ...." sahut Tji Wi sambil menunjukkan.


    "Ayo kita kejar ...!" sahut yang lain, yang langsung bersama teman-temannya melangkah mengejar gadis aneh tersebut.


    Namun, setelah sampai di luar pintu, gadis yang dikejar tadi sudah tidak ada. Menghilang entah ke mana. Mereka tengak-tengok. Namun tidak menemukan.


    "Sudah hilang .... Aneh .... Dasar gadis aneh ...." gerutu mereka yang merasa sudah dikarjain oleh gadis yang aneh itu.

__ADS_1


__ADS_2