
Pagi sekali Melian sampai di sekolah. Ia langsung menuju ruang kelas I B, mau menemui Mei Jing, untuk memberikan oleh-oleh yang dibawa oleh orang tuanya, sebungkus bandeng presto khas Juwana. Mei Jing sudah ada di dalam kelas, duduk di bangkunya. Melian langsung menuju ke tempat duduk Mei Jing.
"Mei Jing ..., ini ada oleh-oleh dari orang tua saya." kata Melian sambil menyerahkan bungkusan oleh-oleh itu.
"Maaf, saya tidak mau menerima barang dari orang yang tidak jelas garis keturunannya." Mei Jing menolak pemberian Melian.
"Maksud Mei Jing apa?" tanya Melian yang bingung dengan kata-kata temannya itu.
"Pengin ngerti ...? Kamu itu siapa? Anak siapa? Ibumu itu siapa? Bapakmu siapa? Paling-paling dulu ibumu itu babu yang dihamili majikannya .... Makanya lahir kamu yang beda sama orang tuamu." kata Mei Jing sangat sinis.
Melian diam tidak menjawab. Ia sudah tahu arah pembicaraan temannya itu. Pasti Mei Jing ingin menghina orang tuanya. Maka Melian pun berbalik dan pergi meninggalkan Mei Jing, keluar dari kelas itu, sambil membawa kembali oleh-oleh yang akan diberikan tadi.
Namun di wajah Melian, tidak terlihat adanya kemarahan kepada temannya itu. Ia hanya kecewa saja dengan Mei Jing, yang membeda-bedakan warna kulit, suku, ras, dan mungkin juga harta kekayaan orang. Melian mulai bisa menilai, ternyata Mei Jing bukanlah orang yang baik. Mei Jing bukan teman yang bisa dijadikan sahabat.
Kini Melian terdiam mengikuti pelajaran di kelas, memperhatikan guru yang mengajar.
"Krriiiiiing .... Krriiiiiing ....!" bel istirahat berbunyi.
Seperti biasa, saat istirahat anak-anak banyak yang antri ke kamar kecil. Ada juga yang berkumpul di teras kelas. Banyak juga anak yang pergi ke kantin untuk makan dan minum. Tentu ada yang diskusi, dan paling banyak pasti gojekan dengan teman-temannya. Bahkan ada pula yang berlari berkejaran. Yah, namanya juga anak-anak, pasti macam-macam tingkahnya.
Melian juga keluar dari kelas. Langsung menuju kamar kecil. Maklum setelah duduk beberapa jam mengikuti pelajaran, tentu ingin buang air kecil. Namun setelah selesai dan keluar dari mandi, saat melintas di teras kelas, terdengar suara yang tidak enak di telinga Melian.
"Juminem ..., babu meteng .... Juminem ..., babu meteng ...." beberapa laki-laki yang bergerombol di teras, tepatnya di depan kelas Mei Jing berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata Juminem pembantu rumah tangga hamil.
Melian sadar, itu pasti kata-kata yang mengejek dan mencemooh yang ditujukan pada dirinya. Tetapi Melian diam, tidak mau menanggapi kata-kata ejekan itu. Ia pun berlalu begitu saja, ingin langsung masuk ke kelas. Melian sudah tahu siapa yang menyebar kata-kata itu. Pasti Mei Jing. Karena teman-teman satu sekolahan yang sudah tahu ibunya adalah Mei Jing. Dan Pagi tadi, Mei Jing sudah mengucapkan kata-kata itu.
Namun belum juga sampai di kelasnya, masih berada di depan ruang kelas I B, ruang kelasnya Mei Jing, beberapa anak laki-laki, yang tadinya berteriak-teriak mengejek dan diamkan saja, malah menjadi-jadi. Kini mereka sudah mendekat ke Melian dan terus mengejek. Bahkan Melian sudah dikelilingi oleh beberapa anak laki-laki yang terus mengejek, sambil menghadang langkahnya. Bahkan ada juga yang mendorong-dorong tubuh Melian dari belakang.
Melihat hal itu, tentu Melian mulai tidak senang. Emosinya naik. Wajahnya berubah kaku.
Bersamaan dengan itu, di depannya ada anak laki-laki tinggi besar, teman satu kelas dengan Mei Jing, yang berdiri dengan membusungkan dada, menghadang jalan Melian. Lantas dua tangan anak itu diangkat dan dijatuhkan ke pundak Melian. Ingin menangkap Melian.
Betapa kagetnya musrid laki-laki tinggi besar tersebut, saat tangannya akan menyentuh pundak. Tiba-tiba saja tangan Melian sudah bergerak memukul tangan anak itu. Dan bersamaan dengan itu, kaki Melian juga bergerak naik, menendang bagian dada laki-laki yang sudah mencoba melecehkannya tersebut.
"Glabrught ...!!"
Murid bertubuh besar itu gelangsaran di lantai teras. Mengaduh kesakitan.
Melihat temannya sudah ditendang oleh Melian dan jatuh gelangsaran, beberapa anak laki-laki yang lain tidak mundur. Tetapi malah beramai-ramai mengeroyok Melian. Ada yang berusaha memukul dari belakang, menendang dan berbagai gerakan yang ingin membalaskan temannya yang sudah jatuh. Namun ternyata, tidak mudah untuk menyentuh tubuh Melian. Jangankan memukul atau menendang, menyentuh pakaiannya saja tidak bisa. Dan Melian, langsung merendahkan tubuhnya, tiba-tiba kaki kanannya sudah menjulur dan langsung berputar, menyapu murid-murid yang berusaha melawannya.
"Dues ...! Braaaght ...!!"
Semua anak laki-laki yang tadi berusaha memukul, menendang dan menjambak Melian, disapu oleh tendangan kaki Melian. Semua berjatuhan, gelangsaran. Dan tentu mengaduh kesakitan.
"Ada yang berkelahi ...!! Ada yang berkelahi ...!!"
"Di mana?!"
"Itu, di depan kelas satu ...!"
Mendengar kabar ada anak berkelahi, tentu seluruh siswa di SMA Nasional itu langsung bergerudug mendatangi, ingin melihat dan ingin tahu kejadiannya.
"Pak ..., ada anak berkelahi ....!" kata murid kelas dua yang ruangnya dekat dengan kantor guru.
__ADS_1
"Siapa ...?" tanya para guru.
"Itu, Pak ..., di kelas satu." jawab murid-murid yang sudah tahu.
"Anak-anak kelas satu ...." timpal yang lain.
"Kroyokan, Pak .... Anak banyak ...." tambah temannya.
Tentunya, berita tentang anak berkelahi itu dilaporkan juga ke para guru. Maka tiga orang guru langsung turun menuju ruang kelas satu, untuk menangkap anak- yang berkelahi. Pasti akan disidang di kantor.
"Siapa yang berkelahi?!" tanya guru yang sudah sampai di teras kelas satu, dan masih ramai oleh anak-anak yang ada di situ. Masih bergerombol.
"Banyak Pak ...." jawab anak yang berada dekat dengan guru itu.
"Suruh naik ..., suruh ke kantor BP ...!!" kata guru BP yang sudah siap untuk menangani.
"Ada masalah apa?!" tanya guru yang satu lagi.
"Anu, Pak .... Melian diejek oleh murid-murid kelas I B." jawab anak yang tahu persoalannya.
"Lha, terus ...?!" tanya Pak Guru itu lagi.
"Saat itu Melian diganggu oleh anak kelas I B, kelihatannya Melian dipukul, tetapi dibalas dan anak yang mengganggu itu jatuh gelangsaran. Terus, teman-temannya satu kelas tidak terima. Mereka mengeroyok Melian. Tetapi dilawan oleh Melian dan pada kalah ...." cerita anak yang tahu presis peristiwanya.
"Kalau begitu, panggilkan Melian .... Suruh ke ruang BP." suruh guru BP itu.
"Tidak berani, Pak .... Bapak saja yang mengajak Melian sendiri. Orangnya sudah masuk di kelasnya." jawab anak yang disuruh memanggilkan, tentu ia tidak berani karena takut kalau jadi sasaran pukulan Melian.
Akhirnya guru BK itu masuk ke kelas Melian. Di ruang kelas I D sudah ramai teman-temannya Melian yang mengerubung. Tentu ingin tahu persoalannya. Paling tidak, teman-temannya satu kelas itu punya rasa solidaritas sebagai bagian dari anggota kelasnya. Namun tentu teman-temannya di kelas I D itu juga bangga, karena Melian bisa mengalahkan banyak orang yang sebut saja anak-anak nakal.
"Melian tidak salah, Pak! Mereka yang mengejek Melian ...!!" kata teman-temannya berusaha membela Melian.
"Iya ..., tapi kami perlu penjelasan .... Ayo, Melian ikut ke BP dulu sebentar ...." kata guru BP itu.
Melian langsung berdiri, dan melangkah untuk pergi ke ruang BP, seperti yang diminta oleh gurunya.
"Tapi, Pak .... Melian tidak salah ...!!" teriak teman-temannya.
"Sudah, kalian tidak usah khawatir .... Saya tidak akan apa-apa ...." kata Melian menenangkan teman-temannya.
Di ruang BP sudah ada banyak murid. Tentu yang tadi sudah terpukul dan tertendang oleh Melian. Mereka masih terlihat kesakitan. Di ruang itu sudah ada guru yang menanyai persoalannya. Pasti menurut versi mereka, Melian yang disalahkan dan dia yang benar.
Namun guru BP punya cara lain untuk mengusut akar permasalahan. Maka Melian dibawa ke ruang kepala sekolah, yang terpisah dengan anak-anak yang sudah ditaklukkan tadi. Di ruang itu, hanya ada kepala sekolah.
"Ada masalah apa sebenarnya?" tanya ibu kepala sekolah yang gemuk itu.
"Sebenarnya saya tidak ingin membuat masalah, Bu .... Ini pasti gara-gara Mei Jing yang menghasut teman-temannya." jawab Melian.
"Mei Jing ...?! Kenapa ...?!" tanya ibu yang gendut itu.
"Mei Jing yang menghina keluarga saya, menghina ibu saya .... Tapi sebenarnya saya sudah diam dan tidak menggubris. Rupanya Mei Jing menyebar berita fitnah kepada teman-temannya. Akhirnya teman-temannya pada mengejek dan menghina saya. Saya sudah diam dan mengalah. Tapi saat ingin berlalu melewati kelas I B, saya dihadang dan dikeroyok. Saya hanya membela diri. Ternyata mereka berjatuhan saat saya tendang." tutur Melian menceritakan kisahnya.
"Sekian banyak anak laki-laki itu kamu kalahkan semua?" tanya ibu kepala sekolah tersebut.
__ADS_1
"Mungkin saja ...." jawab Melian ringan.
"Bu ...! Tolong panggilkan Mei Jing kemari ...!" pinta kepala sekolah itu pada gurunya.
"Ya, Bu ...." jawab salah atu guru.
Sebentar kemudian, Mei Jing datang dan masuk ke ruang kepala sekolah.
"Kamu jangan sombong, ya ...! Jangan sok menang ...!" tiba-tiba kata Mei Jing saat masuk di ruang kepala sekolah itu, langsung membentak Melian.
"Sudah, diam dulu ...! Kalian ini kan sahabat .... Kenapa tiba-tiba bermusuhan ...?!" tanya ibu kepala sekolah tersebut.
"Ternyata selama ini saya keliru memilih teman, Bu .... Melian ini ternyata anaknya babu yang dihamili majikannya." Mei Jing langsung membeberkan aib orang.
"Mei Jing ...!! Kok bicaramu seperti itu ...! Itu namanya penghinaan, tahu ...!!" cegah kepala sekolah, tentu agar muridnya berkata sopan.
"Memang begitu ...! Saya tahu sendiri .... Kemarin saya ketemu ibunya Melian .... Ia benar-benar babu, Bu ...!! Masak ibunya kulit hitam, bapaknya kulit hitam, anaknya jadi Cina." Mei Jing masih mengeyel.
"Mei Jing ...!! Kamu ini keterlaluan ...!! Itu namanya menghina teman ...!!" bentak ibu kepala sekolah.
"Kalau Ibu tidak percaya, silahkan tanyai sendiri orangnya ...!" Mei Jing masih membantah.
"Sudah ...!! Sekarang kamu diam!! Ibu yang bicara ...!" bentak kepala sekolah itu lagi, menyuruh Mei Jing agar diam.
Mei Djing diam dan menunduk, takut dibentak oleh kepala sekolah.
"Melian, apa benar kata-kata Mei Jing?" tanya Ibu kepala sekolah itu kepada Melian, ingin mencari kebenaran.
Melian yang dari tadi diam, kini harus menjawab. Ia sangat tenang, karena memang dirinya tidak seperti yang dikatakan temannya itu.
"Maaf, Ibu .... Biarlah nanti Mei Jing sendiri yang tahu. Saya tidak akan membela dan membenarkan diri saya. Niat saya ke Semarang hanya untuk belajar, untuk sekolah. Tidak untuk mencari masalah maupun musuh. Mohon maaf atas kesalahan saya, dan mohon bimbingan Ibu untuk sikap dan perilaku saya." kata Melian yang sangat lembut.
"Kamu mau memaafkan kata-kata Mei Jing?" tanya kepala sekolah.
"Saya akan memaafkan siapa saja .... Dan saya juga minta maaf kepada semuanya." jawab Melian.
"Mei Jing .... Kamu sudah melakukan kekeliruan, sudah menghina Melian. Kamu harus minta maaf kepada Melian ...." kata kepala sekolah itu menyuruh Mei Jing untuk meminta maaf.
"Saya tidak akan minta maaf ...! Untuk apa minta maaf kepada anak babu yang tidak jelas keturunannya itu!" lagi-lagi, Mei Jing tetap tidak mengakui kesalahannya.
"Kok begitu ...??!!!" Ibu kepala sekolah itu kaget dengan kata-kata Mei Jing yang semakin kelihatan jeleknya.
"Tidak apa-apa, Ibu .... Biarlah, itu kehendak Mei Jing .... Saya juga tidak keberatan, kok Bu." kata Melian menahan amarah ibu kepala sekolah.
"Benar ya, Melian tidak apa-apa ...?" tanya Ibu kepala sekolah itu lagi.
"Benar, Bu .... Tuhan itu Maha adil dan Maha memberi petunjuk. Nanti semua akan ditunjukkan kepada Mei Jing. Semoga saja sahabat saya ini cepat sadar." kata Melian, yang sebenarnya secara tidak langsung sudah memukul muka Mei Jing.
"Oke kalau begitu .... Saya tidak ingin ada keributan lagi di sekolah ini .... Silahkan sekarang masuk kelas, untuk mengikuti pelajaran." kata ibu kepala sekolah itu menasehati dua murid perempuan tersebut.
Melian dan Mei Jing keluar dari ruang kepala sekolah. Tentu akan kembali ke kelasnya masing-masing. Tadinya diam. Tetapi ketika sampai di luar ruang, Mei Jing membisikkan kata di telinga Melian.
"Nanti kita bertarung satu lawan satu, untuk membuktikan siapa yang benar." bisik Mei Jing.
__ADS_1
"Tunggu di tempat latihan, saya siap untuk memberikan bukti." balas Melian.