
"Mas Irul nanti tidur sini, kan?" tanya Juminem setelah selesai makan malam.
"Saya suruh tidur di pabrik tidak mau ...." sahut Jamil mendahului.
"Lha kenapa? Takut, ya ...?" tanya Juminem.
"Tidur sini saja, Mas Irul .... Nanti cerita lagi ke Melian ...." kata Melian menimpal.
"Nggih, Bu ...." jawab Irul, yang tentu mengiyakan penawaran Juminem.
"Besok pagi kamar yang di pabrik dibersihkan, ditata yang rapi .... Jadi kalau mau tidur di pabrik, kamarnya sudah nyaman dan enak." kata Juminem menyuruh Mas Irul.
"Nggih, Bu ...." jawab Irul, yang tentubesok harus membersihkan kamar di pabrik.
"Masalahnya di sini, rumah ini kamarnya cuma dua, untuk saya dan Kang Jamil dan yang satu untuk Melian. Kasihan kalau Mas Irul harus tidur di kursi tamu." jelas Juminem.
"Iya, Bu .... Besok akan saya tata kamar yang di pabrik." jawab Irul.
"Jangan sendirian .... Minta bantuan teman lain. Sokor-sokor kalau ada yang mau diajak tidur situ ...." kata Juminem memberi arahan.
"Nggih, Bu ...." jawab Irul lagi.
"Iya, Kang Jamil .... Besok kalau ada karyawan yang senggang disuruh membantu bersih-bersih kamar yang di belakang itu. Biar bisa dipakai. Paling tidak kalau ada tamu bisa dibapai tidur. Atau kalau ada karyawan yang capek atau mengantuk bisa dipakai istirahat. Eman-eman kalau dianggurkan." kata Juminem pada suaminya, yang tentu juga tahu kondisi bangunan kamar-kamar yang ada di belakang pabrik. Setidaknya bisa dimanfaatkan oleh karyawannya.
Memang, waktu Juminem datang ke pabrik, sempat melihat ruang belakang pabrik, yang memang dulu merupakan tempat tinggal keluarga bos-nya Jamil yang lama. Namun saat tempat itu diserahkan kepada Jamil seluruhnya, dan anaknya tidak mau lagi tinggal di tempat itu, kamar-kamar yang ada di belakang pabrik itu benar-benar tidak terawat dan jarang disentuh orang.
Maka ketika ada Irul datang dan ikut bekerja di pabrik itu, setidaknya ada harapan akan ada karyawan yang mau menempati. Paling tidak, kalau kamar yang ada di belakang bangunan pabrik itu ditempati oleh karyawan, ada yang bersih-bersih dan ada sirkulasi udara yang berganti.
"Ya .... Besok biar kerja bakti semua membersihkan bangunan belakang." jawab Jamil yang juga setuju kalau bangunan belakang dibersihkan dan dimanfaatkan.
"Ya, Kang .... Besok saya ke pabrik ikut bantu-bantu ...." kata Juminem yang berniat membantu.
__ADS_1
"Anu .... Siapkan makan-makan saja .... Besok ke pasar belanja bahan, masaknya di sana sekalian. Biar dibantu Mbak Sri." kata Jamil mengusulkan pada istrinya.
"Eh, iya .... Benar, Kang .... Besok antar saya dahulu ke pasar. Belanja bahan masak-masak ...." jawab Juminem.
"Besok pulang sekolah, Melian juga nyusul ke pabrik ya, Pak ...." Melian ikut usul.
"Iya .... Besok saya jemput ke sekolah, diboncengke Pak-e. Kalau jalan sendiri bahaya, kendaraannya ramai." sahut Jamil yang tentu tidak tega kalau anaknya jalan kaki dari sekolah ke pabrik.
"Asyiiiik ...." Melian sangat gembira.
"Ya, sudah .... Pak-e mau tidur dulu, sudah ngantuk dan capek ...." Jamil berpamitan dan langsung masuk ke kamar. Tentu kecapaian setelah seharian kerja menyiapkan pesanan para pelanggan.
"Nggih, Pak ...." sahut Irul.
Juminem ikut masuk ke kamar, lantas keluar lagi membawa bantal.
"Mas Irul, maaf ..., nanti tidur di kursi ruang tamu dulu, ya .... Ini bantalnya." Juminem memberikan bantal itu kepada Irul.
Malam pun mulai larut. Rasa kantuk sudah mulai menciutkan mata. Mereka pun beranjak tidur. Memuju tempat tidur masing-masing. Melian sudah masuk ke kamarnya. Demikian juga Juminem yang langsung menyusul suaminya yang sudah mendengkur.
Sedangkan Irul, menuju ke ruang tamu. Lantas menaruh bantal yang ia bawa pada pinggiran kursi panjang. Nanti ia akan berselonjor di kursi panjang itu, tidur di situ. Irul pun langsung merebahkan tubuhnya di kursi panjang itu, dengan posisi miring. Kakinya menyelonjor, kepalanya disandarkan pada bantal yang menempel di bagian pinggir kursi, sehingga pandangannya bisa menyaksikan ke arah luar rumah, meskipun pada jendela ada kordennya. Namun saat lampu di dalam rumah di matikan, dan lampu teras menyala, maka bayangan yang ada di depan rumah atau dari luar itu bisa terlihat dari dalam.
Seperti halnya yang dialami Irul pada malam itu. Meski di ruang tamu itu gelap, karena lampunya dimatikan, sebelum mata Irul terpejam, saat ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ia melihat ada bayangan di luar rumah Jamil. Tentu Irul penasaran. Apakah bayangan itu dari sosok manusia, atau dari bayangan dahan pohon yang tersorot lampu jalan. Maka ia tidak jadi merebahkan diri, kembali bangkit lagi, dan mencoba mengamati bayangan yang bergerak-gerak di luar rumah itu. Beberapa lama ia duduk di kursi untuk mencari tahu bayangan apa yang bergerak-gerak di luar rumah bos-nya itu. Tetapi tidak dapat memastikan apa yang bergerak-gerak di luar rumah. Tentu karena terhalang oleh korden jendela.
Akhirnya, karena rasa penasarannya, maka Irul bangkit berdiri, meninggalkan kursi itu, dan melangkah ke jendela. Ia ingin tahu bayangan siapa yang ada di luar rumah.
Irul berjalan perlahan, tentu sambil mengendap-endap, agar tidak menimbulkan suara, dan tidak diketahui oleh orang yang akan diintipnya. Hingga akhirnya sampai di jendela kaca, Irul perlahan menyingkap tabir, korden penutup jendela. Hanya sedikit di pojoknya. Lantas matanya mencoba menyaksikan apa yang ada di luar.
Betapa kagetnya Irul saat matanya mengintip keluar. Jantungnya langsung berdetak keras memompa darah ke sekujur tubuh. Bahkan seakan darah itu mau keluar lewat ubun-ubun. Kakinya bergetar, tangannya ngewel. Seluruh tubuhnya gemetar. Bibirnya ndremimil tanpa tahu apa yang diucapkan. Dan ia semakin ketakutan. Matanya membelalak. Tangannya diangkat seperti orang angkat tangan. Dan sebentar kemudian, Irul sudah menggeletak di lantai karena saking takutnya.
"Mas Irul .... Bangun, Mas ...! Sudah siang ...!" Melian berteriak membangunkan Irul yang masih ngorok di kursi tamu.
__ADS_1
"Hah ...?!" Irul gedandaban kaget. Hari sudah sangat terang benderang. Matahari sudah mencorong menyinari bumi. Di depannya berdiri Melian yang sudah mengenakan seragam merah putih, sudah siap untuk berangkat sekolah.
Irul langsung bergegas bangun dari tidur, turun dari kursi panjang itu, lantas cepat-cepat berdiri.
"Ayo, sarapan dulu, Mas Irul .... Sudah ditunggu Pak-e sama Mak-e ...." kata Melian lagi, yang langsung meninggalkan Irul.
Irul ikut melangkah. Mestinya mau ke kamar mandi, untuk cucui muka dan buang urin.
"Mas Irul ..., ayo sarapan dulu ...." kata Jamil yang sudah duduk di ruang makan menawarkan sarapan.
"Nggih, Pak .... Saya mau ke kamar kecil dulu ...." sahut Irul yang terlihat tergesa.
"Ya ..., cepetan, ya .... Sudah siang ini ...." sahut Jamil.
"Nggih, Pak ...." jawab Irul yang langsung cepat-cepat. Malu dengan tuan rumahnya yang sudah siap, mungkin dari sebelum matahari menyingsing.
Dan setelah itu, setelah buang urin dan cuci muka, Irul bergegas ke ruang makan, mengikuti perintah majikannya.
"Maaf, Pak ..., Bu .... Saya kesiangan ...." kata Irul yang tentu malu dengan majikannya.
"Nyenyak sekali tidurnya, Mas Irul ...." kata Jamil.
"Pasti kecapekan .... Tubuh kalau capek, tidur pasti nyenyak ...." timpal Juminem.
"Mas Irul kalau tidur sampai mendengkur .... Suara dengkurannya lebih keras dari dari ngoroknya Pak-e." timpal Melian.
"Iya .... Jadi malu .... Hehe ...." Jamil tersipu, tentu sangat malu dengan pemilik rumah. Pikirannya juga bingung, apa benar yang terjadi semalam. Apakah Irul hanya mimpi? Benarkah yang ia lihat dari balik jendela? Tapi mengapa kala itu seingatnya Irul tergeletak di lantai, namun saat ia bangun pagi ternyata masih tergeletak di kursi? Apakah semalam itu hanya mimpi? Tapi kenapa mimpi itu seperti kenyataan?
Yah, Irul percaya dengan kata-kata tuan rumah. Berarti semalam dirinya memang tidur terlalu nyenyak. Bisa saja karena tubuh yang capek, maka mimpinya juga tidak karuan. Seperti apa yang ia alami dalam tidur semalam, saat mengintip jendela. Di balik jendela itu ada makhluk tinggi besar dan hitam, tubuhnya berbulu tebal, bibirnya lebar, mulut besar dengan gigi-gigi yang besar-besar serta ada taringnya. Matanya bulat besar merah mencorong, bertatapan dengan mata Irul yang menengok dari balik jendela. Tentu Irul sangat ketakutan. Dan apa yang ia alami itu seakan-akan nyata.
Tetapi kenyataannya, memang ia tertidur sangat nyenyak, hingga harus terlambat bangun.
__ADS_1