GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 74: TIDAK MAU WARISAN


__ADS_3

    Setelah beberapa hari dari waktu ziarah ke makam Cik Lan. Setelah dirasa semua kisah yang diceritakan oleh anaknya puas untuk didengar. Jamil mencoba membicarakan masalah Mas Irul yang disuruh mengelola toko sembako di Pasar Lasem, kios yang dulu merupakan milik Babah Ho. Yang tentu Jamil ingin meminta pendapat anaknya, yang sudah menerima pesan dari mamahnya, terkait hartakekayaan yang dimiliki oleh keluarga Babah Ho. Karena menurut perhitungan silsilah, hanya Melian satu-satunya keluarga atau ahli waris yang masih ada.


    "Sayangku, Melian .... Pak-e mau tanya ...." kata Jamil yang membuka pembicaraan, saat mereka bertiga duduk di ruang keluarga menyaksikan siaran televisi.


    "Tanya apa, Pak ...?" sahut Melian.


    "Setelah tahu kalau dirimu bukan anak Pak-e dan Mak-e yang sesungguhnya, apa Melian menyesal?" tanya Jamil yang tentu ingin tahu sikap anaknya.


    "Menyesal ...?! Kenapa harus menyesal ...?! Justru saya bereterima kasih kepada Pak-e dan Mak-e yang sudah merawat Melian sejak kecil tanpa lelah ...." jawab Melian yang terlihat santai tanpa beban.


    "Tapi kulit kita kan beda ...?! Mata kita juga beda ...." kata Jamil lagi yang masih ingin tahu sikap anaknya.


    "Ya ampun, Pak .... Warna kulit, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk rambut ..., itu kan yang memberi Tuhan. Kita tidak bisa protes, Pak .... Teman sekolah saya juga ada, bapaknya biasa, ibunya putih, anaknya item .... Hehehe ...." sahut Melian yang justru mencontohkan temannya yang lain.


    "Tapi kan sekarang Melian sudah tahu siapa orang tua kamu yang sesungguhnya ...." kata Jamil lagi.


    "Waktu itu Mamah bilang, saya harus tetap ikut sama Mak-e dan Pak-e .... Mak-e dan Pak-e adalah orang yang sudah merawat Melian sejak kecil, maka Melian tidak boleh pungkiri, Mak-e dan Pak-e itulah orang tua Melian yang sesungguhnya. Pokoknya Melian tidak mau pisah dengan Mak-e dan Pak-e .... Terima kasih ya, Mak-e ..., Pak-e ...." kata Melian sambil tersenyum kepada ibu dan bapaknya.


    Tentu muncul rasa trenyuh dalam diri Jamil dan Juminem. Jamil langsung memeluk anaknya, sambil mencium rambutnya. Tanda kasih sayang yang sangat ia dambakan. Demikian juga Juminem, tanpa terasa air matanya sudah menetes di pipinya.


    "Terima kasih, Sayang ...." kata Juminem yang langsung ikut memeluk anaknya.


    Lantas, sambil memeluk anaknya, Jamil mencoba mengungkapkan masalah lain. Tentu terkait masalah anaknya. Meski Melian sudah meyakinkan diri kalau ia tetap menganggap Jamil dan Juminem sebagai bapak dan ibunya. Didikannya selama ini, adalah kesederhanaan dan berbuat baik kepada siapa saja. Tentu karena Jamil maupun Juminem adalah orang desa yang berlatar belakang hidup sederhana, serta berbudi baik dan tolong menolong kepada sesama. Harta benda bukanlah tujuan dalam prinsip hidupnya. Karena Jamil selalu beranggapan bahwa harta benda hanyalah titipan dari Allah semata, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh yang menitipkan.


    Memang pendapat Jamil itu benar adanya. Sejarah dalam hidupnya sudah memberikan pengalaman yang harus dijadikan pembelajaran. Ketika ia dalam keadaan miskin dan tidak punya anak, tiba-tiba saja ada bayi mungil yang cantik yang diberikan oleh orang begitu saja. Bayi itu adalah Melian yang kini sudah dianggap sebagai anaknya asli. Kala itu juga, perekonomian Jamil mendadak berubah. Bisa beli mesin jahit, bisa beli televisi, bahkan bisa membangun rumahnya. Tetapi itu hanya sekejap, karena dalam waktu singkat, rumah seisinya hangus ludes terbakar. Pasti semua itu karena izin Allah semata.


    Namun rupanya, Tuhan sudah memberikan yang lebih baik kepada Jamil dan Juminem serta anaknya. Tanpa disangka-sangka, tanpa diduga-duga, ia justru mendapat ganti rumah yang lebih besar dan lebih bagus. Siapa lagi yang memberikan segala sesuatu itu, kalau bukan karena kekuasaan Allah semata. Jamil sangat bersyukur dengan segala hal itu.


    Namun ketika ia harus menyampaikan kebenaran, menyampaikan hal yang sesungguhnya kepada anaknya, Jamil tidak ingin menutupi fakta. Jamil tidak ingin membohongi Melian yang sudah dinyatakan sebagai anaknya sendiri. Maka sudah saatnya Jamil harus menceritakan semuanya.


    "Sayang .... Kemarin waktu kita mampir di Pasar Lasem, Pak-e sempat bertanya kepada seseorang yang saya yakin dia baik .... Namanya Mas Irul. Dia dahulu orang kepercayaan Engkong." kata Jamil untuk mencoba menjajagi sikap anaknya. Dalam dunia pendidikan hal semacam ini disebut dengan istilah assesmen diagnosis.

__ADS_1


    "Memang kenapa, Pak?" tanya Melian.


    "O iya ..., Mas Irul cerita apa, Kang ...?" Juminem juga ingin tahu apa yang dibicarakan.


    Jamil terdiam sejenak. Menerawang sebentar ke langit-langit. Sebenarnya ada rasa tidak ingin menyampaikan. Tetapi sudah terlanjur bicara. Mau tidak mau harus diceritakan.


    "Mas Irul mengeluh ...." kata Jamil, yang lantas diam.


    "Memang kenapa, Kang ...?!" tanya Juminem.


    "Mas Irul sedih? Memang Mas Irul itu seperti apa, sih ...?" tanya Melian.


    "Mas Irul itu dulu karyawannya Engkong .... Orangnya kurus, mbladus, kotor, pakaiannya nggak karuan, nggak pernah salin .... Dia membantu engkong meladeni para pembeli dan mengantarkan pesanan-pesanan ke rumah pembeli, dari pagi hingga sore. Toko Engkong dulu sangat laris. Pelanggannya dari mana-mana. Kerjaannya Mas Irul sangat sibuk. Termasuk mengantarkan jatah susu dan sembako ke rumah Mak-e untuk kebutuhan makan Melian ...." Juminem ikut menjelaskan.


    "Ooo ...." Melian melongo. Lantas katanya, " Berarti Mas Irul kenal Mamah, ya ...?" tanya Melian tiba-tiba.


    "Mestinya kenal .... Kan membantu di kios engkong ..., di pasar .... Jadi, ya pasti kenal Cik Lan dan kenal Melian ...." jawab ibunya.


    "Kok ..., Melian jadi pengin ketemu Mas Irul, ya .... Mau aku tanya tentang Mamah ...." kata Melian yang justru penasaran.


    "Sudah makmur ya, Kang ...." sahut Juminem.


    "Tapi kemarin ia cerita .... Mas Irul tidak betah ..., mau berhenti kerja di kios itu .... Kemarin bilang mau ikut kerja ke saya ...." kata Jamil pada anak istrinya.


    "Lhah, memang kenapa?" tanya Juminem.


    "Mas Irul itu bekerja di kiosnya Babah Ho, Engkong Melian, tetapi sekarang yang mengatur saudaranya yang ada di Semarang. Bayarannya tidak seberapa, tetapi kalau terjadi apa-apa selalu dimarahi .... Makanya ia tidak betah." jelas Jamil pada istrinya.


    "Lhoh ..., itu kan kiosnya Babah Ho ...? Kenapa dikuasai saudaranya? Terus, berarti semua hartanya Babah Ho dikuasai saudaranya?" tanya Juminem.


    "Saya tidak tahu .... Tentu yang bisa menjawab Mas Irul ...." jawab Jamil.

__ADS_1


    "Tapi yang seharusnya dapat warisan kan Melian .... Itu haknya Melian, satu-satunya keluarga Babah Ho yang masih hidup, yang masih ada ikatan darahnya ...." sergah Juminem yang tidak rela.


    "Saya tidak tahu, Jum .... Kita semua tidak tahu .... Saudara Babah Ho kan banyak .... Ada yang di Semarang, di Kudus, di Jakarta, bahkan juga ada yang di luar Jawa .... Dulu kan kita tahu, waktu kematian Cik Lan, banyak saudaranya dari mana-mana yang berkumpul di rumah Babah Ho .... Jadi kita jangan ikut campur, kita tidak ada urusannya, Jum ...." kata Jamil mengingatkan Juminem, istrinya itu.


    "Tapi Melian kan masih ada ...." sahut Juminem.


    "Melian masih kecil ...." kata Jamil.


    Juminem terdiam. Ia merasa salah. Bahkan kata-katanya mungkin keliru. Tetapi sudah terlanjur terucap dan didengan oleh anaknya.


    "Tidak apa-apa, Mak .... Saya tidak diberi warisan tidak masalah .... Yang penting saya nyaman bersama Pak-e dan Mak-e .... Harta tidak kita bawa mati kan, Pak? Begitu kata Pak-e .... Kalau memang itu warisan keluarga, diminta oleh saudara-saudaranya Engkong, ya biar saja ...." kata Melian yang legowo menerima kenyataan.


    "Iya, Sayang ...." kata Jamil, yang kembali mengelus-elus kepala anaknya. Sungguh mulia kata-kata anaknya itu. Tetapi itu justru membuat air mata keluar dari pelupuknya. Jamil bangga, tetapi juga kasihan pada anaknya. Penderitaannya tidak ada akhir. Selalu mengalami kezaliman. Jamil ingat betul, bagaimana ia bersama istrinya yang menggendong Melian, pernah diusir oleh saudara-saudaranya di depan rumah Babah Ho. Sungguh perlakuan yang sangat menyakitkan.


    "Melian juga tidak mau kalau harus balik ke Lasem jualan di pasar, kok .... Melian lebih senang tinggal di Kampung Naga .... Banyak temannya dan menyenangkan." tambah Melian.


    "Berarti Melian tidak mau ngurus dagangan Engkong, kan ...?" tanya Jamil ingin meyakinkan.


    "Nggak .... Melian tidak ingin ribut dengan orang lain. Biar saja dagangan Engkong diurusi orang lain. Diurusi orang-orang yang pengin ngambil hartanya Engkong .... Melian tidak pengin. Yang penting Pak-e sama Mak-e mau ngurus Melian, saya sudah senang." kata Melian yang tentu membuat bapak dan ibunya itu tersenyum bangga.


    "Iya, Sayang .... Pak-e sama Mak-e pasti akan tetap menyayangi Melian ...." sahut Juminem yang ikut merebah memeluk anak cantiknya itu.


    Jamil yang bangga dengan sikap anaknya, meresa senang karena didikannya untuk tidak membanggakan harta, tidak materialistis, sudah bisa tertanam dalam watak anaknya. Walau saat ini, sebenarnya ekonomi keluarga Jamil sudah sangat baik. Tetapi sifat rendah hati dan tidak sombong itu sudah tertanam dalam pribadi Melian. Mencontoh kesederhanaan Jamil maupun Juminem. Dan tentu, Jamil dan Juminem sudah menang, karena dalam surat kelahiran, sebagai legalitas kepemilikan anak, Melian adalah anak dari pasangan suami istri Jamil dan Juminem.


    "Terus ..., Mas Irul mau kerja di sini ...?" tanya Juminem pada suaminya.


    "Saya belum mengajaknya .... Kemarin saya hanya mengatakan agar Mas Irul memikirkan lebih dulu, karena tempatnya kan jauh dari rumahnya .... Kasihan kalau harus melaju. Apalagi pekerjaan di tempat kita kan lumayan berat, tidak sekadar duduk-duduk jaga kios." kata Jamil.


    "Suruh kerja ikut Pak-e saja .... Biar nanti tinggal di pabrik, sekalian menjaga pabriknya Pak-e .... Kan banyak kamar kosong di sana ...." kata Melian memberi pendapat.


    "Benar, Kang .... Kasihan itu Mas Irul .... Saya yakin majikannya pelit itu ...." tambah Juminem.

__ADS_1


    "Iya .... Besok kalau Pak-e kirim barang ke Tuban, saya akan mampir untuk menawarkan ke Mas Irul .... Semoga saja mau." jawab Jamil.


    Melian tersenyum. Ada keinginan yang diharapkan dari seorang Mas Irul. Pasti ia ingin tahu banyak tentang keluarganya.


__ADS_2